Mark menunggu Ceri di depan lobi kantor bergegas menuju ke restoran. Untuk menghemat waktu, sebelumnya Mark sudah melakukan reservasi dan memesan menu utama jadi tidak akan memakan waktu lama untuk menunggu makanan keluar. Bagaimanapun ia memikirkan tanggung jawab Ceri sebagai staf di perusahaan agar jangan sampai nantinya jadi batu sandungan untuk calon istrinya itu. Sejak kembali ke Jakarta dan bertemu dengan tunangannya, sikap Mark pada Ceri semakin menjadi bahkan tidak lagi malu memperlihatkan sisi liarnya sebagai seorang laki-laki toh pikirnya sebentar lagi Ceri akan menjadi istrinya dan anggap saja sekarang sebagai masa latihan biar istrinya tidak kaget lagi saat malam pertama. Sekonyol itu pikiran seorang Mark. Ceri menggerutu ketika sampai ke restoran yang dituju tidak seperti du

