Sally terkejut seolah Ben yang sedang bicara dengannya melalui telefon. Ia menatap layar ponselnya memastikan nama penelpon yang masih belum ia ganti nama kontaknya, Papa Sion. Pasti Ben bertanya demikian karena mendengar suara parau Sally memanggil nama orang lain.
“Kamu sedang menunggu telepon dari orang lain?”
Perkataan Ben menyadarkan keterkejutan Sally sekaligus menyadarkan kebodohannya yang sedang menepuk keningnya berulang-ulang.
“Oh iyah Pak. Maaf, saya pikir teman lain yang tadi menelpon tadi saya tidak lihat lagi namanya.”
“Ck, status kamu akan jadi tunanganku kenapa masih panggil pak sih. Panggil saja aku Ben, bukan juga papa Sion.” Protes Ben soal panggilan Sally kepadanya.
“Hem, iyah. Maaf masih harus dibiasakan dulu.”
“Kamu kenapa? Apa habis menangis? Apa kamu menyesal jadi tunangan pria berwajah cacat?” Tanya Ben membuat Sally melotot terkejut.
“Hah! Oh, bukan gitu. Hanya teringat masa lalu yang kurang menyenangkan saja makanya agak sedih tapi bukan karena tunangan ini.”
“Masih ada waktu kalau kamu berubah pikiran, Sally. Aku tidak akan marah apalagi tersinggung, cukup sadar diri sama wajah buruk rupa ku ini memang tidak mudah diterima semua orang.”
“Bukan. Bukan begitu, Pak eh maksudnya Ben. Maaf kalau aku buat kamu tersinggung. Iyah memang benar kalau wajah kamu seperti itu tapi aku yakin kamu juga tidak mau kan punya wajah seperti itu.”
“Kenapa harus minta maaf? Kamu ngak salah kok. Malah aku senang ternyata ada cewek tulus yang masih mau nerima aku meskipun dijodohkan. Ehm, sebenarnya aku nelfon hanya ingin mulai kenal kamu saja. Bolehkan mulai sekarang kita telfonan begini, ngobrolin apa saja biar saling kenal.”
“Iy-iyah, boleh kok. Ngak masalah.” Jawabnya canggung.
Hening hampir satu menit tidak ada yang berani memulai obrolan mendadak ini sampai akhirnya Sally mencoba membahas hal lain yang bukan tentang mereka berdua.
“Aku boleh nanya?”
“Pasti soal Sion.”
Sally terkekeh karena apa yang ada dalam benaknya tertebak oleh Ben.
“Iyah, boleh tahu kenapa Sion tidak ada mamanya. Apa kamu pernah bercerai dan mama Sion meninggalkan kalian. Ehm, maksud aku apa kamu pernah patah hati atau mungkin karena sebuah kecelakaan yang buat wajah kamu begitu dan membuat mama Sion ninggalin kamu?”
“Mama Sion namanya Michelle. Dia teman dekatku sejak kecil. Kami menikah dan saat Sion lahir Michelle meninggal dunia.”
“oh, maaf. Aku ngak kepikiran sampai kesana.”
“Fokusnya ke muka aku terus sih.” Ledek Ben terkekeh mulai berani membuka diri.
“Ish, ngak gitu juga. Namanya juga penasaran dan ngak kepikiran mama Sion meninggal dunia.”
“Hem, dia meninggal beberapa hari setelah melahirkan Ben.”
“Maaf…”
“Tidak apa-apa, aku senang kamu bertanya soal Sion. Ngomong-ngomong soal Sion, aku juga mau minta maaf pernah nuduh kamu yang tidak-tidak. Tapi aneh juga yah kenapa kamu benar-benar jadi calon istri aku. Apa jangan-jangan memang kamu sudah tahu mau dijodohin sama aku.”
“Enak aja. Aku ketemu kamu saja baru hari ini. Lagian yah kamu itu jutek banget kemarin di telepon main nuduh-nuduh sembarangan. Lihat muka kamu saja aku belum pernah, aku fokus ngajar ke Sion mana sempat mataku jelalatan nyari-nyari foto kamu atau mamanya Sion. Ngaco!”
“Ngatain aku jutek sendirinya barusan itu apa.”
Ucapan Ben membuat Sally terdiam namun selanjutnya mereka berdua tertawa membuat kejadian tidak mengenakkan itu menjadi banyolan obrolan mereka malam ini. Mana pernah mereka duga kalau ternyata Sion adalah penghubung awal mereka berkenalan meskipun tidak terlalu menyenangkan. Terlebih lagi Sean, dialah yang paling senang sudah berhasil mengikat Sally. Selanjutnya tinggal menjalankan rencananya saja membalas rasa sakit hatinya pada Sally.
Tanpa terasa obrolan pertama mereka selama tiga puluh menit terasa menyenangkan. Setelah menyudahi percakapan mereka, Sally yang masih memegang ponselnya kembali mencari aplikasi foto, mencari dan menatap foto-foto Sean yang selalu ia terima dari Ceri melalui Mark. Jemarinya mengusap wajah pria cinta pertamanya menyayangkan akhir kisah mereka berdua yang akhirnya tidaklah berjodoh.
“Apa aku harus melupakanmu dan menyimpannya, Sean? Apa bisa aku melakukan hal itu?” Ucap Sally bermonolog sambil mengusap wajah Sean di layar itu.
Pikiran Sally tertuju pada kisah masa lalu pertemuan awal dirinya dengan Sean. Kisah manis sekaligus kisah pahit yang terukir dalam dirinya.
Sama halnya dengan Ben, pria itu kini tengah melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Sally. Sean memiliki alasan sendiri kenapa harus menyamar sebagai Ben untuk meminang gadis itu. Meskipun tahu perbuatannya salah namun tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan Sally dari cengkeraman ibu tiri Sally. Antara benci dan cinta, ditengah perasaan Sean tidak rela kalau Sally disakiti. Anggaplah dirinya munafik, Sean menjadikan kedekatan Sion dengan Miss Lili-nya juga sifat matre Briana itu sebagai alasan baginya memaksakan perjodohan ini. namun ia tidak akan rela kalau Sally harus menikah dengan pria lain. Cinta pertama yang terjalin sejak sepuluh tahun lalu.
Kisah 10 tahun lalu
Sean Rolando adalah murid SMA tingkat akhir. Ia adalah anak seorang pengusaha tambang terbesar di Indonesia. Namun ayahnya, Samuel tidak ingin membuka identitas Sean di depan umum, karena Sean adalah anak dari hubungan gelapnya dengan sekretaris pribadinya Reina. Demi melindungi putranya agar tidak dicap sebagai anak dari hubungan perselingkuhan maka identitas mereka berdua disembunyikan.
Demi menjaga nama baik Reina dan Sean baru diperkenalkan ke publik setelah setahun Samuel sah menikahi Reina secara diam-diam. Walaupun kehadiran Sean diartikan jelek oleh kedua putri Samuel namun Samuel mencintai Reina dan berjanji menjadikan Sean penerus perusahaan miliknya. Karena Samuel tidak memiliki anak laki-laki dari pernikahannya dengan istri pertamanya yang bernama Camilia. Istri pertamanya itu lebih memilih karier dan meninggalkan suami serta kedua putrinya demi laki-laki lain dan berakhir meninggal.
Sean dan ibunya tinggal bersama dua putri Samuel di sebuah mansion besar di tengah kota. Meskipun sudah memiliki limpahan harta dan menjadi penerus perusahaannya, Samuel sangat keras mendidik Sean dari kecil bahkan sering mengajaknya bertemu dengan beberapa kerabat bisnisnya agar Sean terbiasa dengan dunia bisnis jika ia dewasa kelak.
Bahkan sejak menginjak bangku SMA, Sean sudah mulai bekerja dengan ayahnya setelah pulang sekolah. Sean benar-benar dididik untuk mempunyai pengalaman dari hal-hal yang paling sederhana seperti Samuel yang merintis usahanya dari nol.
Oleh karena itu, Sean jarang sekali bergaul dengan teman-teman sekelasnya meskipun ia seorang murid yang cerdas disekolahnya. Sejak dulu rapotnya selalu berada dalam satu dari 3 urutan terbesar.
Wajah tampan dengan siluet mirip ayahnya serta mata indah menawan dan tajam seperti ibunya, membuat Sean menjadi salah satu idola para teman perempuan disekolahnya.
Sayangnya, Sean tidak mempedulikan perhatian para gadis yang mendekatinya secara terang-terangan. Namun ada satu teman sekelas yang berhasil mendekati diri Sean tepatnya menebalkan muka demi bisa dekat-dekat dengan anak baru tampan di kelas, namanya Mira.
Sean tidak pernah menganggap Mira apalagi menanggapi gosip Mira adalah pacarnya, namun asumsi teman sekolah berpikir mereka pacaran karena hanya Mira yang mampu mendekati Sean dan bisa mengajak bicara dengannya. Namun agar tidak lagi diganggu dengan surat-surat kaleng yang sering datang di kolong meja belajarnya ataupun ultimatum teman pria lain yang merasa Sean sudah merebut gadis pujaan mereka, akhirnya Sean membiarkan gosip yang beredar tanpa berusaha mengkonfirmasikan kebenarannya.
Di sekolah baru itu Sean memiliki sahabat, namanya Mark. Bila dekat dengan Mark, Sean dapat bertingkah menjadi dirinya sendiri dan tertawa bebas. Mark juga mengetahui latar belakang orang tua Sean dan Mark sangat menghargai Sean begitupula sebaliknya.
Teman-teman Sean sering meledek dirinya seorang laki-laki yang tidak normal alias bengkok karena hanya dekat dengan Mark bahkan ketika dengan Mira, Sean hanya menjawab singkat dan masih terlihat canggung berusaha menghindar.
Hari pertama awal tahun ajaran sekolah, Sean sekarang sudah duduk di kelas 3 SMA. Semua murid kelas 3 SMA jurusan IPA itu sudah terkenal dengan anak-anak pintar dan juga bengal luar biasa dengan kadar kepedasan mulut yang terkadang membuat para guru hanya bisa menggeleng kepala mereka.
"Hei lihat! Anak ngak normal datang dengan pasangan sesama jenis. Mesra bener sampe datang ke sekolah aja mesti bareng-bareng."
"Hahaha, jangan-jangan tiap pulang sekolah mampir dulu nih ngecas di toilet pom bensin."
Olokan teman-teman kepada Sean dan Mark membuat keduanya hanya mendengus kesal namun malas meributkan hal yang tidak berguna. Meskipun ingin sekali Mark memutilasi bibir-bibir pedas yang senang sekali mengolok-olok mereka.
"Gua pingin tonjok mulut mereka kalau bukan karena loe yang nahan, Sean. Otak doang anak IPA, mulut sama kelakuan bobrok ngak berakhlak." Geram Mark menatap sengit siswa laki-laki yang masih menertawakan mereka.
"Sabar, Mark. Buat gua mereka ngak tahu apapun soal loe apalagi gua. Umur udah bangkotan tapi tingkah laku kaya bocah. Loe kagak mau kan mirip dia orang, yah diemin aja lah. Tunjukkin pake prestasi aja." Canda Sean menenangkan Mark sambil merangkul bahunya membuat yang lain semakin bersiul kencang menggoda keduanya.
"Kita sarapan aja ke kantin yuk." Sean mengajak Mark untuk sarapan karena jam masuk kelas masih lumayan lama.
Mark yang tidak kalah konyol malah sengaja merangkul lengan Sean memperlihatkan wajah kemayu. “Ayo, Mas.”
“Gua tabok loe!” Seru Sean sewot mengangkat kepalan tangannya membuat gelak tawa Mark membahana.
Baru saja menikmati bubur ayam andalan di kantin, seorang gadis cantik mendekati dan duduk di meja mereka tanpa permisi. Yah siapa lagi kalo bukan Mira.
"Hai, Sean. Liburan kemarin gimana? Pasti keliling-keliling luar negeri dong.” Ucap Mira berbasa-basi dan mengacuhkan Mark seakan pria yang sering bertengkar dengannya itu lenyap seketika.
"Biasa aja." Jawab Sean singkat dan malas-malasan.
"Aku dengar kamu keluar negeri sama mama kamu kan?"
"Hem."
"Ke mana?"
"Bukan urusanmu."
Sean menjawab singkat tiap pertanyaan Mira membuat Mira mendengus kesal dan akhirnya memilih diam.
“Loe ganggu sarapan gua, sana pergi-pergi. Macam laler aja nguing-nguing di sini.” Cetus Mark makin membuat Mira mendelik kesal kemudian berdiri dan akhirnya meninggalkan Sean dan Mark..
Selesai sarapan, Sean dan Mark berjalan santai ke kelas. Namun pandangan Sean justru terarah pada gadis yang baru dilihatnya tengah berjalan tanpa melihat ke depan sedang tersenyum. Bahkan entah dorongan dari mana dia sengaja membiarkan dirinya ditabrak oleh gadis itu.
“Aduh!”