Bab 9. Manis Dari Hongkong

1595 Words
Sally Minela seorang gadis sederhana, ia masuk di SMA yang sama dengan Sean, bedanya ia adalah siswi baru di sekolah itu. Sally tidak pernah tahu siapa ayah kandungnya. Yang dia ingat dirinya sudah tinggal dengan papa tirinya yang bernama Raka. Ternyata Papa Raka sudah beristri ketika menikah dengan mama nya yang bernama Carol. Kehidupan Carol dan Sally bagai di neraka karena Briana bersikap semena-mena pada mereka. Tidak tahan dengan sikap dan perlakuan dari istri pertama Raka yang bernama Briana juga kakak tiri Sally yang bernama Dania. Carol memutuskan keluar dari rumah itu membawa Sally meskipun Raka tidak mau menceraikan Carol. Saat itu Sally baru naik SMP. Raka lebih banyak menghabiskan waktu di rumah Carol dan hal ini membuat Briana marah besar dan mengancam akan menyakiti Carol jika Raka masih berkeras memilih istri mudanya itu. Akhirnya Raka mengalah dan menjauhi Carol juga Sally. Sally sendiri yang sudah mengerti kalau Raka bukan ayah kandungnya, sempat bertanya pada Carol siapa papa biologis Sally dan mengapa papa mereka harus meninggalkan mamanya. Carol hanya bercerita bahwa papa kandung Sally bernama Steven Minela dan sudah meninggal karena kecelakaan. Carol pun bercerita alasan dibalik dirinya memutuskan menerima cinta dari Raka. Demi menyekolahkan Sally ditempat terbaik, Raka memindahkan Sally ke sekolah baru agar tidak terus-terusan diganggu oleh Dania. Dan jadilah ia menjadi murid baru di salah satu sekolah terkenal yang berlokasi di daerah Jakarta Selatan. Meskipun Raka masih memberi uang jajan, Sally memilih untuk berangkat ke sekolah naik angkot. Menjejakkan kakinya di depan gerbang besar sekolah tersebut, Sally menghembuskan nafasnya sambil berseru menyemangati dirinya sendiri. "Ayo Sally, semangat di sekolah baru loe." Sally memberi semangat pada dirinya sendiri dan melangkah masuk ke gerbang pintu sekolahnya. Tempat pertama yang ia kunjungi adalah kantin. Perjalanan dengan angkot membuatnya merasa haus dan bodohnya ia lupa membawa bekal apalagi botol minumnya. “Masih ada 5 menit sebelum ke kelas. Beli minum dulu ah.” Sally yang memang pemalu berjalan sambil melihat ke segala arah dan matanya terkesima pada suasana lapangan luas yang dikelilingi oleh jajaran kelas 3 lantai. Kekagumannya pada lapangan modern itu membuatnya lupa melihat ke depan sampai kepalanya merasakan menabrak benda kenyal kokoh. “Aduh!” Serunya perlahan dan lembut. Sally merasa kepalanya menabrak tubuh seseorang dan mata bulat sayunya segera mendongak ke atas karena orang itu lebih tinggi darinya. “Eh sori, sori.” Seru mark yang malah meminta maaf. Sally menaikan pandangan menaikkan satu alis menunjukkan rasa kesal sambil meringis memijit kecil kepalanya sedangkan Sean meringis memegang dadanya yang terasa ngilu dihantam kening gadis itu. Bukannya marah Sean malah menurunkan padangannya menatap lekat wajah gadis yang diyakini sebagai anak SMA baru di sekolah ini. Saat keduanya saling menatap keduanya seperti merasakan seperti sengatan dalam hati mereka disertai irama jantung semakin cepat seolah terhipnotis oleh keindahan binar mata masing-masing. Tatapan keduanya beradu cukup lama hingga Mark menyenggol lengan Sean dan memecah kekikkan yang terjadi. “E-hem..” Pria itu hanya berdeham tanpa sedikitpun berniat membantu gadis yang dibuatnya jatuh itu, dipikirnya bukan salah dia juga gadis itu jatuh. Meski sedikit terhenyak membuatnya membeku namun dengan cepat ia menormalkan lagi reaksinya. "Eh! Maaf aku ngak sengaja, Kak." Seru Sally perlahan masih meringis menyentuh keningnya namun ada yang aneh, keningnya yang tertabrak memang sakit tapi sekarang perutnya juga ikutan bergejolak terasa aneh di sana. Sean tidak menanggapi permintaan maaf Sally hanya mengangguk lalu berjalan melewatinya dengan cuek, Mark juga bersikap sama mengikuti Sean sambal terus mengulum senyuman. Sikap dingin Sean itu membuat Sally kesal melihat cowok sok arogan itu. Setidaknya meskipun kesal tapi mulutnya masih bisa membalas permintaan maafnya kan. "Hei kamu yang aku tabrak! Aku kan sudah minta maaf, kenapa diam saja! Setidaknya dijawab, lebih tua tapi kok ngak ngasih contoh yang benar." Sally bicara ketus sambil beranjak dan menggerutu. Pikirannya sudah buruk karena baru masuk sekolah sudah bertemu orang menyebalkan. Langkah Sean terhenti dan memutar melihat ke arah gadis cantik berambut ekor kuda tinggi itu dengan wajah datarnya. Ia hanya merespon singkat. "Oke, dimaafkan." Sambil mengacungkan jempol dengan bonus seringai senyuman pelit diwajahnya. Sally menangkap senyuman tipis dari wajah pria itu membuat pipinya merona, baru sadar ia menabrak pemuda tampan dengan senyum manis andai saja senyum itu lebih tulus lagi. Sally berbalik dan membeli air mineral secepatnya sebelum terlambat masuk ke kelasnya. Di dalam kelas, Sally mencari-cari kursi yang masih kosong. Pandangannya terarah pada seorang siswi yang sedang melambaikan tangan ke arahnya sambil tersenyum. Sally menghampirinya juga tersenyum ramah. "Hai, duduk sini saja sama gua." Tanpa ragu sambil tersenyum Sally menghampiri gadis yang wajahnya cantik dan imut itu. "Oke, makasih yah." "Hallo, nama gua Ceri. Loe pasti anak baru kan?" "Halo, nama gua Sally. Iya gua anak baru. Salam kenal yah." Sally dan Ceri menjadi teman baik karena obrolan mereka yang sefrekuensi bedanya Ceri lebih mudah bergaul dibanding Sally yang lebih pendiam jika dalam lingkaran baru dan perbedaan ini justru membuat keduanya cepat akrab. Si banyak cerita dan si pendengar. Ceri juga mengenalkan Sally pada teman-teman lainnya. Memiliki wajah yang cantik, manis dan mata indah sayu membuat Sally cepat mendapatkan teman apalagi sifat pendiam yang terkesan cuek pada tampilan wajahnya membuatnya cepat memiliki penggemar dikelasnya. Selama tiga hari mengikuti masa pengenalan lingkungan dasar sekolah, semakin membuat Sally dan Ceri menambah daftar penggemar para kakak kelas. Kelas satu SMA diharuskan mengumpulkan tanda tangan dari para senior dan setiap kali keduanya mendekati kakak senior kelas dua dan tiga baik Sally maupun Ceri pasti ditanya-tanya soal data diri mereka mulai dari rumahnya dimana, nomor ponselnya berapa, sudah punya pacar apa belum ke sekolah sama siapa bahkan ada yang dengan beraninya langsung mengajak ingin pergi dan pulang sekolah bersama-sama. Sally yang pendiam tentu saja merasa tidak nyaman dan berusaha menghindar. “Cewek yang loe tabrak belum minta tanda tangan sama loe, Sean?” Tanya Mark meledek. “Ngak penting.” Mark mendecih terkekeh melihat kelakuan temannya itu, mulut bilang tidak penting tapi lehernya sudah hampir sepanjang soang mencari seseorang yang tidak kunjung datang menghampiri untuk meminta tanda tangan. Saat anak-anak kelas satu SMA datang bergiliran baik Mark maupun Sean memasang tatapan galak membuat para siswa merasa sungkan dan ingin cepat-cepat pergi dari mereka padahal keduanya adalah pria idaman karena ketampanannya. Lebih baik menghampiri kakak kelas lain yang tidak kalah tampannya tapir amah sekali bahkan rela bertukar nomor kontak dengan mudahnya pada adik kelas. Namanya John, kulitnya tidak terlalu putih lahir dari darah campuran Jawa dan ibunya Belanda. Meskipun banyak penggemarnya karena keluwesannya cepat akrab dengan murid perempuan, Sally dan Ceri justru merasa canggung dan risih berdekatan dengan John. Pucuk dicinta orangnya datang. Sally dan Ceri terlihat berjalan menghampiri mereka. “Tapi kayaknya mereka nyamper ke arah kita tuh.” Tentu saja Sean tahu, dia juga punya mata. Jelas-jelas gadis itu sedang berjalan menghampiri dirinya dengan wajah sama datar dengannya. Entah kenapa ada rasa lega dihatinya melihat wajah jutek gadis yang menabraknya itu. “Minta tanda tangannya dong, Kak.” Ucap Ceri lebih dulu memulai. Dan anehnya Mark mengubah tatapan galaknya seketika berganti dengan senyuman lembut hanya pada dua adik kelasnya ini. Sedangkan Sean masih memasang wajah dingin acuh tak acuh. “Namanya siapa?” Sahut Mark. “Nama saya Ceri, ini teman saya, Sally.” “Pendiam yah orangnya.” Ujar Mark. Sadar tengah disindir, Sally segera mengenalkan dirinya meskipun kikuk. “Halo, Kak. Saya Sally. Minta tanda tangannya yah.” “Teman gua ngak sekalian dimintain?” Goda Mark melirik Sean sambil menyikut lengannya. “Boleh, Kak kalau ngak keberatan ehm.. namanya siapa Kak?” Sahut Ceri yang terlihat ceria. Pesona teman Sally itu menarik perhatian Mark. Sedangkan Sally ikutan mengangguk seolah memberi pernyataan yang sama seperti Ceri, lebih tepatnya enggan memulai bicara lebih dulu meskipun dia membutuhkan tanda tangan Sean. “Aku Mark, dia Sean. “ Ucap Mark yang kali ini mendapatkan perhatian Sean karena tiba-tiba mengganti sebutan gua dengan aku pada Ceri. Tanpa basa-basi, Sean menarik buku Sally juga pulpen ditangan Sally dan menandatangani buku gadis itu tanpa bicara sedikitpun kemudian menyerahkannya pada Sally lalu melakukan hal yang sama dengan Ceri. Sedang Sally masih terus menatap apa yang gerak-gerik Sean sampai buku itu dikembalikan. “Makasih, Kak.” Ucap Sally basa-basi tapi tidak mendapatkan balasan membuat dirinya tambah mendongkol. ‘Sombong banget nih orang, untung ganteng gimana kalau jelek nambah empet aja liatnya.’ Setelah seminggu sekolah murid kelas dua dan tiga SMA semakin gencar melirik kecantikan anak baru ini terlihat dari beberapa orang yang menyapa Sally mengajaknya berkenalan lebih dekat lagi saat istirahat kelas setelah . Sally menanggapi semua yang berkenalan dengannya dengan senyuman ramah, kecuali pada seorang pemuda yang sudah membuatnya kesal pagi-pagi tadi. Rasanya seperti memiliki dendam karena jiwa mengocehnya pada pria itu belum tersalurkan. Bahkan saat mata mereka bertemu lagi, senyuman Sally luntur begitu saja berganti rengutan di bibirnya masih mendendam dengan sikap pria itu. Namun lucunya, mata dan otaknya justru bertentangan. Dalam hatinya terus merutuk tapi mata dan otaknya justru berkhianat penasaran memperhatikan cowok yang dia tahu bernama Sean. Namun yang membuat Sally bertambah kesal lirikan matanya selal saja ketahuan karena Sean juga sering mencuri pandang meliriknya sekilas dan membuat wajah keduanya merona. “Udah banyak penggemarnya tuh anak baru, cewek sebelahnya pasti teman baik dia sama-sama cakep, manis lagi. Jadi pingin kenalan gua sama temennnya.” Seru Mark sambil melihat ke arah Sally dan Ceri yang sedang berbicara ramah menanggapi kakak kelas dan beberapa teman yang sedang mengajak mereka bicara sepanjang jam istirahat sekolah. “Manis dari Hongkong, jutek kayak gitu loe bilang manis.” Cibir Sean yang juga menatap fokus pada Sally namun dalam hatinya justru sedang menenangkan detak jantungnya yang berdebar tak karuan hanya karena tabrakan tadi pagi. Entah kenapa tangannya gemas ingin menarik kuncir kuda gadis itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD