Saat hendak kembali ke kelas setelah sarapan di kantin pandanganku terarah ke depan gerbang menatap gadis asing yang berhasil menarik perhatianku. Ada yang lucu didirinya yang membuat sesuatu dalam diriku bergejolak memaksaku untuk tersenyum tipis, lihat saja dia bicara komat kamit lalu menaikkan kedua tangannya memberi tanda semangat pada dirinya.
“Loe liatin siapa?” Tanya Mark yang melihatku berjalan melambat.
Meski mendengar aku tidak menggubris ucapan Mark malah terus memperhatikan gadis berkuncir kuda itu. Cantik, gumam dalam batinku memuji dengan kesadaranku. Tambah konyol lagi saat dia berjalan ke masuk bukannya menatap kedepan lurus malah menoleh kesamping entah apa yang menarik perhatiannya itu sampai dia sudah semakin dekat kearahku. Bukannya menghindar aku malah sengaja membiarkan dia menabrakku bahkan Mark yang mencoba menarikku tidak mampu membuatku mundur dan benar saja gadis itu benar-benar cantik meskipun sedang merengut kesal karena aku acuhkan.
Ada perasaan aneh yang membuatku bertingkah menyebalkan dihadapan Sally sejak bertemu dengannya. Namun aku mencoba untuk menjaga jarak dengan perempuan karena sebentar lagi aku harus berangkat melanjutkan kuliah di luar negeri dan aku malas untuk memiliki hubungan jarak jauh dengan siapapun. Hanya saja rasanya sulit sejak berurusan dengan gadis bernama Sally itu. Dorongan dalam diri ini jauh lebih besar dibanding keinginanku untuk menjaga hati.
Pertemuan kedua kami disaat kelas Sally disuruh meminta tanda tangan, hampir semua murid kelas satu SMA sudah meminta tanda tanganku dan Mark tapi kenapa dia masih belum menghampiriku padahal jelas-jelas aku sengaja berdiri di tempat yang mudah terlihat. Sampai akhirnya dia menghampiriku, jantung ini mulai tidak bisa diajak kerja sama. Debaran kencangnya membuatku panik seperti orang yang tengah ketahuan mencuri padahal aku hanya mencuri pandang saja ke Sally.
Sayangnya sejak bertemu dengan Sally setiap hari disekolah membuat dinding pertahananku perlahan melemah meskipun Sally tidak berusaha untuk menarik perhatianku. Sejak tabrakan kemarin wajah Sally selalu melekat dalam pikiranku bahkan bibirku sering tersenyum sendiri setiap kali membayangkan dia sedang cemberut kesal dengan sikapku kepadanya. Argh… Tidak bisa, aku harus fokus dengan sekolah jangan seperti John yang pecicilan.
Dan tadi siang adalah puncak runtuhnya pertahananku. Tumben-tumbennya gadis itu keluar dari kelas sendirian sedangkan aku terpaksa pulang sendiri juga karena Mark harus pulang lebih dulu. Aku mendengus ketika mendengar nama Sally dipanggil dan gadis itu menoleh ke belakang. Ada saja yang usil kepadanya dan anehnya membuatku tidak suka. Aku melihat dia menggerutu namun malah membalikkan badan dan berjalan mundur tanpa menyadari kehadiranku.
Seperti pertama kali aku pun sengaja tidak bergerak dan benar saja dia menabrakku sekali lagi.
***
Sally termasuk anak yang cerdas, ia cepat sekali menerima pelajaran dari sekolah barunya. Otomatis Ceri sangat suka dengan menjadi sahabatnya yang punya otak encer dibanding dirinya yang lebih lemot dalam menangkap pelajaran. Ceri tidak bodoh bahkan ia termasuk dalam sepuluh besar peringkat kelas, hanya saja ia perlu waktu lebih banyak dari orang lain untuk menangkap pelajaran yang diajarkan oleh guru..
Sally dan Ceri sering pulang berdua, kebetulan rumah mereka satu komplek. Tidak heran mereka cepat menjadi sahabat, mereka selalu bertemu dan bermain baik di rumah ataupun saat di sekolah.
Suatu hari Ceri sakit dan harus ijin pulang lebih awal dari sekolah, terpaksa Sally pulang sendiri sambil memasang wajah cemberut merasa kehilangan teman jalan bareng. Saat dia melangkah keluar sekolah, ada yang memanggil dirinya
"Sally..."
Spontan Sally melihat kebelakang mencari, namun tidak didapati seorangpun yang memanggilnya. Dan dia tahu sedang dikerjai meskipun entah oleh siapa. Karena belakangan ini dia sering mendapatkan perlakuan usil seperti ini.
"Hais! Anak iseng!" Gerutunya sambil berjalan mundur masih penasaran ingin mencari tahu siapa pelakunya.
Terus melangkah mundur sampai ia menyerah dan berbalik untuk keluar dari sekolahan.
“Aduh!” Merasakan kepalanya menabrak sesuatu lagi. Sungguh sial hari ini tanpa Ceri gumamnya dalam batin.
Namun bukannya mundur, Sally malah bergumam dalam batinnya sendiri.
‘Perasaan kok kayaknya sama posisi nubruknya. Apa jangan-jangan….’
Dengan cepat Sally mendongak dan menatap orang yang bertabrakan dengannya. Hanya melihat wajahnya saja jantung Sally mulai menderu bak gendering namun bukan mau perang.
"Kamu lagi! Apa ngak bisa gitu jalan jangan suka nabrak orang." Tahu dirinya salah, Sally melakukan pembelaan lebih galak duluan sebelum diomeli Sean.
Entah kenapa juga sejak berjumpa Sean, keduanya sudah memakai bahasa aku kamu berbeda dengan memanggil teman lainnya dengan loe gua. Sama seperti Mark pada Ceri. Meskipun awalnya canggung dan aneh namun Sean lebih senang menyebut dirinya aku daripada memakai bahasa gua jika kepada Sally.
"Hah! Aku?" Sean mengerutkan dahinya dengan emosi mulai naik sambil menaikkan telunjuk menunjuk kedirinya. Dalam hatinya merutuk kesal, dia yang sakit ditabrak malahan jadi yang disalahkan. Susah payah menghindar tapi gadis ini selalu saja memiliki cara menarik perhatiannya.
"Iya kamu! Sakit tahu ngak kepalaku. Udah dua kali nih!" Sahutnya sengit bercampur kesal juga menyembunyikan rasa malunya.
Tidak mau memperpanjang masalah, Sean lebih memilih mengalah. "Oke, maaf sudah menabrak kamu. Puas kan. Sekarang aku bisa pergi kan."
Tiba-tiba Sally mendengar namanya dipanggil dan kali ini ia mengenali pemilik suara itu.
"Sally!" Teriak John dua kali.
Sally melihat John memanggil namanya dari atas balkoni depan kelas kemudian melangkah turun untuk menghampirinya terburu-buru.
John terang-terangan memperlihatkan rasa sukanya pada Sally dan selalu mendekatinya sejak hari pertama, namun Sally tidak sekalipun memberi harapan. Saat ini dia hanya ingin fokus belajar dan tidak mau pacaran terlebih lagi dengan sikap pendekatan John yang terlalu berani malah membuatnya risih.
Takut dan panik kalau John memaksa menemaninya pulang karena tidak ada Ceri, tanpa sadar Sally menggenggam tangan Sean menariknya dan berlari.
"Ayo cepat pergi, bantu aku kabur dari teman kamu itu."
Sally berlari dengan cepat sambil memegang tangan Sean yang terpaksa lari mengikuti langkah gadis itu. Dan lucunya sambal berlari Sean malah melirik tangannya yang tengah digenggam erat oleh tangan dingin gadis itu sambil tersenyum kecil.
Dirasa sudah berlari jauh Sally berhenti bersembunyi di balik pohon besar sebuah rumah, sengal nafasnya tidak beraturan sedikit terbatuk mencoba menghirup udara bersih. Bahkan tanpa sadar ia melepaskan genggaman tangannya dengan Sean.
"Kenapa kamu malah narik aku lari-larian gini sih! Masih dendam? Tadi kan aku sudah minta maaf.” Protes Sean ikut tersengal mengingat betapa cepatnya mereka berlari tadi. Dia bukannya tidak sadar tapi pura-pura kesal senang saja ingin membalas gadis jutek cantiknya ini.
"Ma-af, maaf kali ini aku yang minta maaf. Diam dulu lima menit!" Balas Sally yang terdengar kurang tulus di telinga Sean namun dia malas cari masalah dengan gadis itu. Malahan mengulum senyum berusaha memperlihatkan raut kesal seolah tidak senang diseret-seret berlari kabur dari John. Dan mana ada juga orang minta damai lima menit, apa Sally pikir dirinya polantas apa diminta damai.
"Kenapa kamu lari dari John? Memangnya dia kenapa?"
“Aku risih sama dia, ngak nyaman aja sama cowok yang kelewat agresif nunjukkin perasaannya gitu.” Jawab Sally setengah merajuk kesal sendiri.
“Memangnya dia pernah bilang suka ke kamu?” Cecar Sean penasaran.
Anggukkan Sally membuat Sean mengumpat dalam hati karena kalah langkah dengan John, dia lupa kalau Sally banyak penggemarnya di sekolah.
Sally mengusap keringat dikeningnya namun karena telapak tangannya basah rasanya percuma saja. Sean yang melihatnya spontan mengambil saputangan dari kantung saku kirinya dan menyeka keringat di dahi Sally. Tindakannya membuat wajah Sally mendongak, wajah yang tadinya sedikit pucat kelelahan berubah menjadi rona kemerahan di pipinya dan lebih parahnya lagi kondisi jantungnya ikut terganggu. Bagaimana tidak, itu tangan main sembarangan nempel di kening orang saja tanpa permisi. Tidak tahu apa jantung Sally hampir lepas dari cangkangnya gara-gara perbuatan Sean.
"Kamu sakit yah? Tadi pucat sekarang merah pasti kepanasan deh gara-gara lari. Aku haus, ayo cari warung beli minum dulu. Aku ngak mau kamu pingsan ditengah jalan, berat ngangkatnya." Ucap Sean membuat Sally melotot kesal tapi tidak berani balik protes.
Mereka mencari kedai tidak jauh dari sana dan membeli teh dalam botol dingin yang kebetulan tersedia di kedai kecil itu.
"Ahh, seger banget.” Seru Sally setelah dahaganya disiram minuman dingin. “Oh iya, kita belum saling kenal loh. Aku Sally." Tuturnya sambil menjulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Aku Sean. Bukannya udah kenalan kan waktu MPLS."
"Tapi belum secara resmi, waktu itu yang jawab juga Kak Mark.”
Lihat kan, selalu saja ada alasannya gadis ini. “Tadi kenapa kamu minta maaf, untuk apa? Hanya karena mengajakku berlari?” Sean penasaran seakan curiga ada hal lainnya lagi.
"Karena aku narik kamu lari dari John, otomatis dia bakal ngira aku dekat sama kamu. Makanya aku minta maaf kalau kamu jadi risih atau mungkin diganggu sama John besok di sekolah."
"Memangnya John begitu?” Tanya Sean semakin penasaran. John dan Sean satu angkatan hanya beda kelas makanya Sean tidak terlalu dekat dengannya. Dan John juga salah satu yang sering meledeknya dengan Mark di sekolah.
“Iyah, kakak kelas sebelas ada yang diancam sama dia supaya ngak dekatin aku. Padahal kita cuma kerja kelompok pas di MPLS. Makanya aku minta maaf kalau sampai besok dia berulah ke kamu.” Seru Sally dengan ringisan di wajahnya.
“Tidak apa-apa, aku suka kalau gitu." Jawab Sean santai sambil melihat mata Sally dengan mata teduhnya.
"Maksudmu?" Tanya Sally bingung setengah merona takut salah menganggap ucapan Sean.
"Jangan salah paham, aku suka membuat cemburu orang lain apalagi kayak si John, hahaha." Sean tertawa lepas geli sendiri dengan ucapannya.
Sally memperhatikan wajah Sean yang tertawa ceria berbanding terbalik dengan wajah yang selalu dilihatnya di sekolah setiap hari. Gadis itu mengulum senyum sejenak setelah puas diberi pemandangan indah yang tidak pernah dilihat gadis lain di sekolah.
"Kamu itu ganteng, tapi jauh lebih ganteng waktu lihat kamu tertawa." Sahutnya kelepasan begitu saja membuat wajahnya merona sendiri dan kemudian merutuki diri karena malah memuji seolah sedang merayu saja.
Sean terdiam karena tertegun mendengar ucapan Sally sedangkan gadis itu jadi salah tingkah sendiri sudah kelepasan bicara.
"Eh, jangan salah paham yah, aku memang suka ceplas ceplos kalo bicara. Tapi beneran aku lebih suka lihat kamu tertawa begini daripada diam kayak kulkas. Jutek banget tahu."
"Baiklah kalo gitu, aku akan tertawa hanya didepanmu dan Mark saja."Sahutnya membuat Sally menatapnya bengong.
“Ganteng tapi error.” Celetuk Sally membuat gelak tawa Sean semakin membesar.