Dalam hati aku merutuk karena kebodohan atas ucapan spontanku barusan namun justru terdengar seperti sedang merayu Sean. Saking malu sendiri sampai pipiku terasa panas dan aku yakin kulitku merona, mau di sembunyikan dimana sekarang. Hais, kenapa juga harus reflek megang tangan dia dan mengajaknya kabur dari John. Belum selesai berkutat dengan rasa maluku, jawaban Sean malah semakin membuatku salah tingkah membuatku mengumpat kesal dan malah ditanggapi dengan gelak tawanya lagi. Meskipun aku suka melihatnya tertawa lepas tapi tetap saja masih terasa tebal wajahku menahan rasa malu. Yah sudahlah terlanjur basah sekalian nyebur.
"Kenapa harus di depan aku dan Mark saja? Memangnya ada daftar nama orang yang boleh melihat tawa? Kita kan tertawa karena merasa senang dan itu ngak bisa dipaksain." Mengeluarkan isi pikiranku yang juga penasaran apa maksud perkataan nyelenehnya barusan.
"Tidak apa-apa. Oh iya, kalo kamu punya kesulitan pelajaran kamu bisa tanya ke aku. Gini-gini otakku encer juga."
Astaga, semakin kelihatan wujud asli si kotak es batu ini. Tapi setelahnya aku bisa melihat dia salah tingkah sendiri dari tangan Sean yang sedang menggaruk belakang lehernya sambal terkekeh dan aku menangkap guratan merah di pipinya. Ternyata si es batu bisa malu-malu kucing juga.
"Dih, pede sama sombong kadang beda tipis, Kak. Tapi boleh juga nanti kalau aku bingung aku tanya ke kamu deh. Lumayan irit biaya les juga kan." Jawabku mencoba untuk membuatnya nyaman entah apa dia hanya basa-basi menawarkan bantuan atau serius dengan ucapannya.
"Mana HP kamu?" Tanya Sean sambil mengulurkan tangannya meminta dihadapanku membuatku menautkan kedua alis.
"Mau ngapain?"
"Yah sini dulu kasih aku, biar kalau kamu mau nanya-nanya tahu kemana harus hubungi." Sekali lagi memajukan telapak tangannya kepadaku.
Aku pikir ada benarnya juga, kapan lagi datang kesempatan bisa bertanya sama kakak kelas yang tidak genit seperti si Sean ini. Meskipun aku juga belum mendapatkan kesulitan soal pelajaran di kelas, bukannya sombong aku juga lumayan berprestasi soal pelajaran meskipun tidak selalu tiga besar. Akupun memberikan ponselku pada Sean, laki-laki itu mulai menekan nomor di layar ponsel milikku lalu menyimpan nomornya di ponselku dan juga ponsel miliknya barulah mengembalikannya ke tanganku dan menyeringai membuatku curiga tapi aku bersikap acuh. Pikirku nanti saja aku lihat.
"Aku sudah simpan, tadi sengaja misscal ke nomorku. Jadi aku tahu ini nomor kamu juga."
“Hem…”
Meskipun harus lelah berkeringat demi menghindari John tapi aku tidak mengelak kalau hari ini aku senang sekali. Entah rasanya aneh, canggung tapi juga gembira bercampur malu saat bicara dekat dengan Sean. Aku tahu belum seharusnya aku memiliki keinginan berpacaran tapi aku sendiri tidak tahu kenapa perasaan aneh itu datang sendirinya tanpa ijin setiap kali bertemu dengan Sean, seperti ada sesuatu yang memaksa dalam diriku mengeluarkan rasa bahagia dan menginginkan lebih meskipun otak ini memperingatkanku untuk menjaga jarak dengannya.
Keesokan harinya di sekolah aku dan Sean bersikap seolah-olah kemarin kami tidak pernah kabur bersama. Seperti kata Sean, dia tetap menunjukkan wajah dingin ala kotak es batu yang datar juga irit senyuman. Sedangkan aku juga tidak berusaha memperlihatkan kesiapapun tentang kedekatan kami berdua kemarin dan aku menjalani kehidupanku. Seperti biasa setiap ada jam kosong ataupun waktu istirahat ada saja kakak kelas yang datang menghampiriku dan Ceri. Meskipun kadang risih tapi aku selalu membuka pintu berteman dengan siapapun karena sejak kecil aku merasa sendiri bahkan hanya di sekolah saja terasa lebih menyenangkan daripada di rumah.
Saat jam istirahat tiba tanpa sengaja pandangan mataku tidak sengaja bertemu dengan Sean, namun Sean di sekolah dengan Sean yang aku kenal kemarin siang sangat berbeda seperti orang yang memiliki dua kepribadian. Teringat dengan ucapan Sean kemarin membuatku tidak berpikiran aneh dan menikmati makan siangku dengan Ceri juga teman kelas yang lain.
Pulang sekolah hari ini seperti biasanya aku langsung masuk ke kamar lalu mengerjakan tugas sekolah. Hanya keluar kamar untuk makan malam lalu membantu mamaku sebentar membereskan meja makan dan mencuci piring kemudian bergegas lagi beranjak ke kamarku untuk bermain dengan ponselku. Seperti yang kukatakan tadi kalau aku lebih senang berada di sekolah karena di rumah ini justru aku merasa seperti orang asing atau benalu kata keluarga baru mamaku. Mereka menunjukkan rasa tidak suka atas kehadiranku dan mama di rumah ini dengan terang-terangan. Aku mengerti perasaan mamaku yang merasa bersalah dan bodoh mau menikah dengan pria yang ternyata sudah berkeluarga dan akhirnya menyeretku dalam jerat penderitaan di keluarga Papa Raka. Bayangkan saja sekarang kami harus tinggal bersama dengan istri pertama dan anak dari istrinya itu. Sudah pasti meski tidak tahu sejak menikahi Papa Raka, status mamaku bisa dikatakan sebagai perusak rumah tangga orang.
Baru saja tengkurap di atas kasur membuka ponsel milikku, suara pintu kamarku digedor begitu kencang hingga bahuku tersental dan aku sudah tidak kaget lagi siapa pelakunya. Dengan langkah gontai dan wajah lunglai berdengus aku melangkah untuk membuka pintu.
“Heh! Anak pelakor! Loe kira ini hotel udah makan langsung balik kamar. Bantu nyokap loe bebenah, temen gua ntar mau dateng awas aja sampai dia masih dibawah dalam 10 menit!” Bentak Dania yang sekarang menjadi kakak tiriku.
“Iyah, Kak.” Jawabku menekan kesabaran meskipun ingin mengamuk mendengar panggilannya tadi. Juga tidak protes meskipun aku sudah membantu mama berberes. Dania hanya ingin mengusir mamaku dari sana supaya saat teman-temannya datang mama tidak terlihat di bawah sana.
“Siapa yang ngasih ijin buat manggil gua kakak! Gua sama mama ngak pernah ngakuin loe berdua yah. Loe diterima disini karena belas kasihan doang, tahu diri dong!”
Meski sudah terbiasa tetap saja ucapannya membuat mataku berkaca-kaca menahan ucapan pedas Dania. Andai saja bisa ingin rasanya aku kabur dari rumah mewah ini secepatnya. Tanpa menjawab lagi karena tahu apapun ucapanku pasti jadi bumerang bagi Dania untuk membentakku lagi, lebih baik mengangguk menutup pintu bergegas turun ke bawah mencari mama.
Mama menoleh begitu melihat kedatanganku lagi di dapur, dia sedang mengeringkan piring basah untuk dimasukkan kedalam lemari piring seperti perintah Dania. Padahal hal itu bisa dilakukan besok pagi namun ada saja kelakuan jahat mereka untuk membuat posisi mama dan aku seperti kerbau yang dicucuk hidungnya oleh mereka.
“Teman Dania mau datang dia ngak mau lihat Mama ada disini katanya. Tapi piring-piring ini juga harus kering katanya nanti temannya datang piring masih basah bikin dia malu.” Tutur mamaku menjelaskan sebelum aku bertanya.
Hanya helaan nafas panjangku menanggapi perkataan mama dan aku ikut membantu mama agar pekerjaan konyol ini cepat selesai. Setelahnya kami keluar dapur bersama dan mama mengusap punggungku dengan wajah sendu penuh penyesalan sebelum dia masuk ke dalam kamarnya yang berada di lantai bawah.
“Maafin Mama yah, Sal.”
“Sudah terjadi, Mom. Ngak perlu minta maaf terus, aku juga ngak marah sama Mama kan. Anggap saja kita sedang membayar karma buruk di masa lalu seperti kata mama dulu kan.” Jawabku terdengar sedikit ketus lalu bergegas naik kembali masuk ke dalam kamar tidurku meninggalkan mama yang masih berdiri menatapku.
Bukannya aku sengaja bersikap kurang ajar pada mama, sebenarnya dialah yang paling terluka perasaannya. Bayangkan saja merasa ditipu dan merasa bersalah karena sudah menyeretku masuk dalam lingkungan toxic di rumah ini ditambah lagi hinaan dari keluarga Papa Raka yang terus memasangi mamaku dengan label pelakor. Nasi sudah jadi bubur lembek mau bagaimana lagi, aku hanya pasrah bertahan sebisaku. Semoga saja ada jalan keluarnya nanti. Aku pernah memberi ide ke mama untuk mencari pekerjaan dan kami pindah mengontrak saja supaya tidak lagi hidup tersiksa dengan rasa bersalah yang bukan karena perbuatan kami. Mama setuju dan sedang mencoba melamar kerja di beberapa restoran, semoga saja dia cepat diterima bekerja.
Dengusan kasar nafasku terdengar jelas saat masuk ke dalam kamar tidur bersandar di pintu sambil memejamkan mata. Entah sampai kapan aku bisa keluar dari sini, keegoisan Papa Raka bukan hanya melukai mamaku tapi juga ikut menyeretku dalam situasi yang tidak menyenangkan. Padahal baik aku dan mama sama-sama tidak bersalah.
Lamunanku terpecah oleh suara dering ponsel di atas kasur. Sambil melangkah malas aku naik ke kasur mengambil ponsel milikku dan menatap layer melihat siapa yang menghubungiku. Biasanya Ceri yang suka mengajakku mengobrol jam segini namun bola mataku membelalak kala melihat nama yang tertera di layar itu. ‘My boy friend’.
Keningku mengernyit dalam, seingatku tidak pernah merasa memasukkan nomor kontak dengan nama itu. Lagipula dari nama pemanggilnya saja sudah ngaco, sejak kapan aku punya pacar. Tidak ingin berlama-lama penasaran, aku mengangkat panggilan tersebut dengan nada panjang.
"Hallo? Ini siapa yah?"
Detik kemudian lagi-lagi mataku melotot serasa mau keluar ketika mengenali suara laki-laki tegas dan lembut membalasku di seberang sana.
"Hai, Sal, ini aku Sean."
"SEAN!!" Aku berteriak kaget bukan main.
"Aduh, aku masih orang Sal, bukan hantu. Jangan teriak kencang gitu. kupingku sampai berdengung sakit tahu."
Barulah aku teringat saat dimana Sean meminjam ponselku dengan dalih kalau butuh bertanya soal pelajaran dan dia memasukkan sendiri nomornya ke dalam kontak ponselku. Dan bodohnya sampai sekarang aku belum sempat mengecek nomor Sean karena dia juga tidak menghubungiku lagi.
"Yah kamu juga ngeselin, ngapain pake nama my boy friend segala simpen nomor kamu di hp aku. Ngagetin aku aja tahu ngak. Gimana kalau sampai pas ada mama aku disini bisa jadi salah paham!" Ketusku nyerocos salah tingkah menebak apa maksud Sean memakai nama itu pada kontak ponselku.