Emily memandangi langit malam yang terlihat mendung dari balik jendela kamarnya. Napasnya berhembus kencang, dia tengah memikirkan permasalahan yang sedang dia alami sekarang. Dia sangat bingung menentukan pilihannya saat ini. Dia tidak ingin menikah dengan Reymond, apalagi pria itu sudah mempunyai istri yang tengah hamil besar. Jika istrinya mengetahui apa yang akan dilakukan Reymond, pasti hati istrinya akan terluka.
Jika istri Reymond tahu akan hal itu, yang Emily takutkan istri Reymond akan menyerangnya dan menyiram wajahnya dengan bubuk cabe seperti di berita-berita.
Tetapi di lain sisi dia juga harus memikirkan kondisi perekonomian keluarganya. Perusahaan ayahnya akan benar-benar gulung tikar tanpa bantuan Reymond. Dia tidak ingin kehilangan ayahnya, hanya ayahnya satu-satunya yang di miliki saat ini. Belum lagi para karyawan yang bekerja dengan ayahnya, semua karyawan ayahnya akan menjadi pengangguran. Para karyawan itu mempunyai keluarga yang harus mereka biayai tiap bulannya.
Emily mengatur napasnya yang terasa sesak, dengan mata terpejam sesaat dia memutuskan sesuatu yang dia pilih, meskipun sangat berat untuknya. Kemudian dia mengambil ponselnya dan mencari nama Reymond di kontak ponselnya. Sebelum dia menekan tombol panggil, dia mengigit pelan bibir bawahnya.
Semoga ini adalah pilihan yang terbaik-batin Emily. Lalu dia menekan tombol panggil untuk menghubungi Reymond.
“Halo Rey, ini aku Emily…,” kata Emily ketika suara disebrang sana terdengar, “aku siap menikah denganmu…,” ungkapnya lantang.
***
Sementara itu,
“Aku siap menikah denganmu…,” ungkap Emily dengan suara lantang.
Mendengar itu Reymond tersenyum tipis. Sedetik kemudian dia berdehem sesaat, “baiklah aku akan segera mengurusnya dan aku ingin kau menemuiku besok di kantorku…,” balasnya dan mematikan sambungan teleponnya.
Reymond meletakan ponselnya di atas meja, kemudian punggungnya bersandar pada sofa empuk. Senyumnya semakin mengembang lebar, akhirnya Emily mau menikah dengannya dan jujur saja itu membuatnya senang. Lalu Reymond menuang minuman kerasnya kedalam gelas berukuran kecil, dia mengangkat kedua kakinya dan meletakannya di atas meja. Tidak lama dia melamunkan sosok Emily sambil menyesap minuman kerasnya. “Emily Johnson….,” ucap Reymond menyebut nama Emily dengan senyuman tipis.
“Rey,” panggil seseorang tiba-tiba membuat Reymond menoleh.
“Come here,” perintah Reymond mendapati sosok wanita yang tengah hamil besar.
Wanita itu menghampiri Reymond dan duduk di samping Reymond. Reymond tersenyum tipis memandangi wanita itu.
“Bagaimana keadaanmu, Bell?” tanya Reymond sambil menghusap perut wanita bernama Bella.
“Sangat baik,” jawab Bella tersenyum, “terimakasih banyak atas semuanya Rey,” katanya.
Reymond hanya mengangguk, lalu dia mengecup kening Bella dan membawa Bella ke dalam dekapannya.
Wanita bernama Bella membalas pelukan Reymond dan merebahkan kepalanya di d**a bidang Reymond. Bella begitu nyaman disana.
***
Keesokannya…,
Pagi-pagi sekali Emily tiba di kantor milik Reymond. Dia diminta datang oleh Reymond ke kantornya karena ada sesuatu yang dibicarakan oleh Reymond tentang pernikahan. Sebelum tiba diruangan Reymond, sekretaris Reymond menyambutnya hangat dan memintanya untuk meninggalkan kartu identitas diri. Pengawasan di kantor Reymond sangatlah ketat. Lalu sekretaris Reymond mempersilahkan Emily untuk masuk ke dalam ruangan Reymond.
Emily menghela napasnya membuka pintu ruangan Reymond. Disana dia melihat Reymond yang sedang menatapnya dingin dan juga Sam asisten Reymond yang sedang tersenyum hangat kepadanya. Emily hanya menatap mereka dengan pandangan sulit diartikan.
“Silahkan duduk, Emily…,” kata Reymond mempersilahkan. Dia memandangi Emily dengan mata menyipit.
Emily menghampiri meja Reymond dan duduk dihadapan pria itu. Emily berdehem sesaat ketika Reymond terus menatapnya tajam dan dingin.
“Sam, berikan amplop yang berisi dokumen itu kepadanya,” perintah Reymond tanpa menatap Sam.
Sam mengangguk, lalu dia memberikan amplop itu kepada Emily. Emily menerimanya dengan ragu.
Emily membuka amplop itu dengan wajah bingung menatap Reymond, dia membukanya dengan raut penasaran. Sedetik kemudian keningnya berkerut saat membaca lampiran surat tersebut. Disana tertulis jelas surat perjanjian pernikahan.
“Apa ini?” tanya Emily tidak mengerti memandangi Reymond.
“Silahkan baca terlebih dulu,” jawab Reymond dengan tangan melipat.
Emily menghembuskan napasnya sebal, lalu dia kembali membaca surat itu dengan wajah serius. Tidak dia lewatkan satu kata pun yang tertulis di sana.
Setelah selesai membacanya dia menatap Reymond kembali. Dia benar-benar tidak mengerti dengan Reymond, pria itu membuat surat perjanjian pernikahan yang harus mereka tandatangani. Dan isi dalam surat itu membuat Emily hampir terkena kejang-kejang.
Isi dalam surat itu selama mereka menikah nanti, pertama dilarang jatuh cinta satu sama lain apapun alasannya, kedua Emily sebagai pihak kedua harus menurut semua apa yang diperintahkan oleh Reymond sang kepala keluarga, ketiga pihak kedua yaitu Emily tidak boleh menuntut apapun kepada Reymond, keempat Emily harus siap terbagi waktunya, dan masih banyak lagi. Surat perjanjian ini tidak lah harus dibuat oleh Reymond.
“Kau tidak perlu membuat surat ini, karena aku terpaksa melakukan ini demi ayahku…,” kata Emily begitu gusar.
Reymond tersenyum tipis, dia memajukan wajahnya, “kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya Emily, surat itu hanya untuk berjaga-jaga saja…, apalagi aku sudah memiliki istri,” balasnya dengan salah satu alis terangkat, “sebelum kita menikah, aku hanya ingin memberitahumu satu hal, aku tidak bisa memberikanmu kebahagian jika kau memintanya suatu hari nanti…,” katanya dengan wajah serius.
Emily kontan tertawa kecut mendengarnya, “aku tidak membutuhkan kebahagian darimu, hidupku sudah sangat bahagia! Apalagi sebelum bertemu denganmu!” balasnya dengan tatapan sinis.
Reymond hanya mengangguk mengerti, lalu dia mengambil surat itu dari hadapan Emily dan mentandatangani surat itu. Kemudian dia menyuruh Emily untuk mentandatangani surat itu.
Dengan hembusan napas kesal Emily mentandatangani surat perjanjian itu. Setelah selasai mentandatanganinya, dia menatap sinis Reymond yang sedang tersenyum penuh kemenangan disana.
Reymond merasa lega karena Emily telah menandatangani surat perjanjian itu. sebentar lagi Emily akan menjadi miliknya.
Sementara itu Sam merapikan surat itu dan membisikan sesuatu kepada Reymond. Reymond hanya mengangguk. Lalu Sam pergi begitu saja dari ruangan Reymond.
Emily hanya menatap Sam, ingin sekali dia menahan Sam untuk tetap disini, berdua dengan Reymond sangat menakutkan untuk Emily dan dia tidak nyaman.
Setelah Sam menutup pintu ruangan, Reymond bangkit dari duduknya. Dia berjalan pelan mendekati Emily. Saat dihadapan Emily dia menatap Emily dengan senyuman tipis. Emily hanya menatapnya.
“Apa kau ada waktu hari ini?” tanya Reymond, Emily menatapnya dengan alis saling bertautan, “jika ada aku ingin mengajakmu makan bersama sekaligus membicarakan rencana pernikahan kita yang akan segera ku selenggarakan secepatnya….,” katanya membuat Emily tercengang.
“Secepatnya?!” pekik Emily.
Reymond mengangguk, “yah secepatnya, aku ingin segera menikahimu dalam waktu satu bulan lagi…,” ungkapnya.
Emily semakin tercengang mendengarnya, “apa itu tidak terlalu kecepatan Rey?!”
Bagi Emily, waktu pernikahan mereka sangat cepat sekali. Masih banyak yang harus Emily persiapkan.
Reymond menggeleng, “tidak, itu malah terlalu lama untukku…, malah aku ingin menikahimu hari ini juga jika bisa…,” jawabnya membuat Emily membuka mulutnya lebar, “jujur saja aku sudah tidak tahan, istriku sedang hamil, jadi aku sudah beberapa hari tidak mendapatkan jatah darinya….,” ucapnya santai.
“Apa?!” pekik Emily mendengar perkataan Reymond yang sangat m***m, “jadi kau menikahiku hanya karena hal itu?!” tanyanya kesal setengah mati.
Reymond mengangguk dengan senyuman jahil.
Emily bangkit dari duduknya, dia menatap Reymond lekat-lekat wajah Reymond, “dengar, aku tidak akan memberikan semua yang aku punya kepadamu meskipun kita sudah menikah sekalipun!” ucapnya penuh penekanan menunjuk wajah Reymond.
Reymond hanya menatap Emily yang tengah marah kepadanya, dia tidak mendengarkan apa yang dikatakan Emily, dia tidak peduli Emily marah kepadanya. Baginya Emily terlihat menggemaskan ketika sedang marah.
“Kau masih perawan?” tanya Reymond tiba-tiba.
Kontan wajah Emily langsung berubah padam, “Y-ya tentu saja!” jawabnya gugup.
“Baguslah, setidaknya pernikahan kedua ku ini aku mendapatkan wanita perawan lagi…,” kata Reymond tanpa tahu malu.
Emily hanya menatap Reymond dengan pandangan tercengang untuk kesekian kalinya. Dia sudah kehabisan kata-kata menghadapi Reymond.
Kemudian Reymond berjalan melewati Emily, “ayo ikut aku untuk sarapan,” perintahnya.
Dengan hati kesal Emily mengikuti Reymond. Perutnya terasa sangat lapar sekarang, jika sedang dalam keadaan lapar, otaknya tidak bisa berpikir dengan jernih.
***