Bagian 6 : Married? No!

2035 Words
Tiga hari kemudian... Saat ini Emily tengah menceritakan permasalahannya kepada kedua sahabatnya Dion dan Febby di sebuah restoran. Emily benar-benar pusing menghadapi Reymond, pria itu membuat hidupnya tidak tenang. Setelah kedatangan Reymond ke rumah orangtuanya membuat Emily tidak pernah berhenti memikirkan Reymond. Gara-gara Reymond kini ayah Emily sering menggoda Emily tentang pernikahan. Sepertinya ayahnya sangat menyukai sosok Reymond. Seandainya saja ayahnya tahu seperti apa sosok Reymond yang sebenarnya. Pria yang sudah membuat kehidupannya jauh dari kata damai. "Aku tidak bisa menebak jalan pikiran Reymond," ucap Emily sambil menganduk teh hangatnya dengan sendok berukuran kecil, "dia ingin menikah denganku dan menjadikanku istri kedua, lalu dia datang kerumah orangtuaku dan membuatku berpikir yang tidak-tidak tentangnya. Dia telah membuatku malu setengah mati di hadapan ayahku," keluhnya dengan napas berhembus kencang, "baru bertemu kembali dengannya, dia sudah meminta hal yang aneh-aneh!" Dion mengangguk memandangi Emily yang begitu depresi, "aku sangat yakin dia hanya ingin membalaskan dendamnya padamu, dia sengaja mengatakan ingin menikahimu jika ingin dia memaafkanmu. Lagipula aku tidak percaya Reymond sudah mempunyai istri, aku sangat yakin dia membohongimu!" duganya membuat Emily memandanginya dengan wajah serius, "saat kemarin kita mencari tahu tentang riwayatnya, dia itu masih lajang!" serunya memandangi Emily dan Febby secara bergantian. "Mungkin saja, Reymond menutupi pernikahannya dengan istrinya demi bisnisnya...," sahut Febby. Dion berdecak sebal, "untuk apa dia menutupi pernikahannya demi bisnisnya?!" tanyanya menatap Febby, wanita itu hanya mengangkat bahunya, "aku sangat yakin dia hanya ingin mengerjaimu Em... dugaanku tentangnya selalu benar!” Emily langsung memijit kepalanya yang terasa pusing, Reymond telah membuatnya pusing setengah mati. Perkataan Dion dan Febby ada benarnya, namun, Emily tidak ingin menebak sembarangan. Lalu Emily mengalihkan pandangannya ke luar restoran. Tiba-tiba sepasang mata almondnya menangkap sesuatu, kedua matanya menyipit dengan kening berkerut. Emily melihat sosok pria yang di kenalnya bersama seorang wanita yang perutnya terlihat membesar. "Reymond...?" pekik Emily pelan saat melihat sosok Reymond. Reymond, wajah pria itu terlihat bahagia disana, dia begitu menjaga wanita yang sedang berjalan bersamanya. Sekali-kali pria itu menyentuh perut wanita itu. Sementara wanita itu juga terlihat sangat bahagia mendapati kasih sayang dari Reymond. "Dugaanmu salah Ion, Reymond benar sudah mempunyai istri!" seru Emily, wajahnya terlihat terluka disana. Dia menunjuk keluar jendela. Febby dan Dion kontan menoleh keluar restoran, mereka berdua begitu terkejut melihat Reymond dengan seorang wanita berperut buncit disana. Lalu Emily mengambil botol air mineral dan meremasnya begitu kuat sehingga air dalam botol tersebut tumpah mengenai celana panjangnya. Dia benar-benar marah dan kesal melihat pemandangan yang menyakitkan itu. Sedetik kemudian Emily menghembuskan napasnya, dia merasa dia sangat bodoh sekarang! Bisa-bisanya dia marah dan kesal melihat Reymond dengan wanita itu. Seharusnya dia tidak mempunyai perasaan seperti ini kepada Reymond. "b******k!" umpat Emily membuat kedua sahabatnya menatapnya, "dia benar-benar b******k! Sudah punya istri masih menginginkanku untuk menjadi istrinya?! Dasar pria sialan!!" makinya menunjuk Reymond. Para pengunjung di restoran ini kontan memandangi Emily yang tengah marah-marah disana. Febby dan Dion langsung berusaha menenangkan Emily, mereka tidak ingin membuat Emily malu. Dion tersenyum ramah kepada para pengunjung atas tingkah konyol Emily saat ini. "Istri sedang hamil begitu, dia malah masih mencari istri lagi!!" maki Emily kembali, suaranya sangat tinggi. "Emily, tenangkan dirimu!" seru Dion, lalu dia meminta Febby untuk membawa Emily ke toilet di restoran ini. Dengan gerakan cepat Febby langsung membawa Emily pergi, sebelum kemarahan Emily semakin meledak-ledak. Saat Febby membawanya menjauh dari pemandangan Reymond, Emily masih mengomel dan marah-marah. Para pengunjung di restoran ini hanya menatap Emily dengan pandangan penuh tanda tanya. "Reymond, sialan! Dia telah mempermainkan perasaan sahabatku!" umpat Dion menatap sengit Reymond yang masih berbincang mesra dengan wanita itu. Dia tidak akan membiarkan Reymond menyakiti hati sahabatnya. *** Keesokannya... Emily baru saja tiba di kantornya, saat tiba di ruangannya dia melihat tiga bucket bunga mawar di atas mejanya. Emily berjalan menuju mejanya dan mengambil salah satu bunga itu. Keningnya berkerut saat menemukan sepucuk surat berwarna biru di antara bunga itu. Emily mengambilnya, membukanya dan membacanya. 'Semoga harimu menyenangkan Emily... -Reymond-' Napas Emily berhembus kencang saat mengetahui bunga-bunga pemberian ini dari Reymond. Lalu dia mengambil semua bunga pemberian Reymond dan membuangnya ke tempat sampah. Dia sudah tidak ingin berurusan kembali dengan pria sialan itu. Dia harus menjauh dari Reymond, apalagi pria itu sudah mempunyai istri dan sebentar lagi mereka akan mempunyai anak. Dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran Reymond, bisa-bisanya pria itu menggodanya dan ingin menjadi istrinya yang kedua, tidak kah pria itu pikirkan perasaan istrinya. Sekarang Emily sudah tidak peduli, Reymond akan memaafkan kesalahannya atau tidak. Dia tidak ingin mengenal sosok Reymond kembali. Reymond yang sekarang dia kenal adalah pria b******k, bukan hanya b******k tetapi juga pria sialan. Lalu Emily berjalan keluar ruangannya menuju foto gambar dioramanya di masa lalu bersama Reymond. Dia menatap marah gambar diri Reymond saat masih kecil. "Jangan kau pikir kau bisa melakukan apapun dengan wajah tampan dan kekayaan yang kau miliki sekarang!! aku bisa merusak wajah tampanmu itu sekarang dan membuatmu seperti dulu lagi!!" umpat Emily penuh amarah, dia masih marah dengan apa yang dia lihat kemarin. Hatinya terasa sesak melihat Reymond dan istrinya kemarin. Seharusnya dari awal dia tidak jatuh cinta pada pandangan pertama pada Reymond. Tiba-tiba Emily mendengar suara orang tertawa tepat dibelakangnya, dia kontan menoleh. "Astaga!" pekik Emily terkejut saat melihat Reymond berdiri tepat di belakangnya. Dia tidak percaya melihat kedatangan Reymond di tempatnya bekerja. Pria itu tertawa kencang memandangi Emily, lalu dia menghampiri Emily, "jadi menurutmu aku tampan yah?" tanyanya melipat kedua tangannya. Emily menggeleng pelan, wajahnya terlihat kesal melihat kedatangan Reymond. "Untuk apa kau datang kesini?!" tanyanya sinis. "Untuk bertemu denganmu, Emily..." jawab Reymond tersenyum, lalu dia menatap sekeliling studio foto galeri milik Emily, "jika aku perhatikan, jarang ada yang datang ke studio galerimu ini?" tanyanya tanpa menatap Emily, "kau tidak berniat menutup studio galerimu ini?" tanyanya terang-terangan. Emily tercengang mendengar pertanyaan Reymond, dia tidak percaya bisa-bisanya pria itu bertanya hal menyebalkan seperti itu! Dan parahnya pria itu mengatakan untuk menutup studio galerinya? Studio galerinya adalah hidupnya. "Mau ada yang datang atau tidak itu bukan urusanmu!!" teriak Emily kesal. "Bagaimanapun juga ini urusanku Emily, studio galeri ini satu gedung dengan perusahaan ayahmu..." jelas Reymond membuat Emily menatapnya tidak mengerti, "ayahmu sudah menjual saham perusahaannya lima puluh persen kepadaku, berarti segala yang ada di gedung kantor ini menjadi urusanku juga...," ucapnya tersenyum. "Oh Tuhan," seru Emily miris, dia lupa jika ayahnya sudah menjual sebagian sahamnya kepada Reymond. "Satu lantai kau gunakan untuk menampilkan karya-karya senimu itu dan jarang ada yang datang membuat perusahaan ini merugi," ujar Reymond membuat Emily menatapnya marah. "Merugi?! Apa maksudmu merugi hah?!" Emily tidak terima dengan perkataan Reymond, itu adalah penghinaan untuknya. Baginya karya seni yang dimilikinya adalah harga mati dan sudah mengalir deras dalam darahnya. Dia tidak terima dengan perkataan Reymond. "Sekarang kau pikir saja, ayahmu mempunyai gedung yang terdiri dari dua puluh lima lantai. Ada sepuluh lantai yang kosong dan satu lantainya kau pakai untuk studio galerimu ini. Kau terlalu focus dengan hobbymu, tanpa memikirkan perusahaan ayahmu...," ucap Reymond menatap Emily. "Jika saja kau tidak terlalu focus dengan semua ini, perusahaan ayahmu tidak akan mempunyai hutang triliunan rupiah dan tidak akan di tipu oleh siapapun. Kau membuat karya seni tetapi kau tidak menjualnya sama sekali, lalu kau untuk apa membuat semua ini?" Tanya Reymond menunju semua karya Emily, raut wajahnya terlihat marah. "Untuk kesenangan pribadimu? Sedangkan hidup terus berjalan! kau membuka studio galeri ini pasti banyak biaya pengeluaran dibandingkan pemasukan. Dan aku sudah mencari tahu bahwa studio galerimu ini tidak ada pemasukan sedikitpun! Kau membayar gaji Amira asistenmu itu menggunakan uang perusahaan ayahmu, belum lagi semua fasilitas yang berada di dalam studio ini menggunakan uang perusahaan ayahmu." Jelas Reymond membuat Emily terdiam. Emily tidak membalas perkataan Reymond, semua yang Reymond katakan benar. Emily terlalu fokus dengan kehidupan pribadinya tanpa memikirkan keadaan di sekitarnya. Reymond telah mempelajari apa yang terjadi di perusahaan milik ayah Emily. Banyak sekali kesalahan dan peraturan yang tidak jelas di perusahaan ini. Jika terus seperti ini perusahaan ayah Emily akan benar-benar gulung tikar. Dan kemungkinan besar ayah Emily akan di tuntut oleh pengadilan karena tidak bisa membayar hutang-hutangnya, bukan hanya dituntut, kemungkinan ayah Emily akan masuk jeruji besi. Semua asset kekayaan milik keluarga Emily pasti akan di sita. Lalu Reymond menyentuh kedua bahu Emily membuat wanita itu menatapnya, "maaf jika perkataanku tadi membuatmu marah dan sakit hati," ucapnya, "aku hanya ingin membantu yang terjadi, jadi kau jangan salah paham kepadaku Em..." lanjutnya kembali, "Jika kau ingin perusahaan ayahmu kembali seperti semula berkerjsama lah denganku," pintanya. Emily terdiam, dia memandangi wajah Reymond yang begitu dekat dengannya. Jika menyangkut nama ayahnya, Emily akan melakukan apapun. Perkataan Reymond membuatnya cemas memikirkan ayahnya, dia juga merasa tidak enak hati terhadap ayahnya. Meskipun dia sudah lulus berkuliah, dia masih saja membebani ayahnya. Saat dia mengatakan kepada ayahnya untuk membuka studio geleri, ayahnya langsung menyetujuinya demi kebahagiannya. Bahkan disaat ayahnya mengalami kesulitan, dia tidak mengetahui akan hal itu. Dia begitu egois memikirkan dirinya sendiri. Lagipula Emily tidak mengerti dan tidak paham dalam menyelesaikan sebuah permasalahan perusahaan, dia adalah anak satu-satunya di keluarganya. Emily juga tidak memiliki pengalaman dalam mengurus perusahaan. "Apa yang bisa ku bantu untuk menyelamatkan perusahaan ayahku Rey?" tanya Emily dengan mata mengembang. Dia tidak ingin kehilangan semua apa yang telah ayahnya bangun selama ini. "Menikahlah denganku dan aku akan membuat semuanya menjadi lebih mudah..." ucap Reymond menatap Emily penuh arti. Emily menggeleng, "aku tidak ingin menikah dengan pria yang sudah mempunyai istri..." tolaknya marah. "Kau tidak perlu memikirkan hal itu Em, anggap saja kau menikah denganku untuk membantu ayahmu..." Ujar Reymond. "Rey, yang sedang kau bicarakan itu adalah pernikahan! Pernikahan itu adalah hal yang sakral dan sebuah janji terhadap Tuhan! Aku tidak mau main-main dengan itu!" seru Emily marah, "kau sudah mempunyai istri Rey! Bagaimana perasaan istrimu jika kau menikah dengan wanita lain?! Tidak kah kau memikirkan hal itu?!" tanyanya berteriak, bagi Emily tidak ada satupun wanita yang mau di duakan. Reymond menghela napasnya, lalu tangannya merengkuh wajah Emily dan menatap Emily begitu dalam, "aku sudah memikirkannya dan aku sangat yakin istriku tidak akan marah...," ucapnya membuat Emily tertawa miris. "Istrimu pasti akan marah Rey, jika tahu suaminya ingin menikah dengan wanita lain!" sahut Emily marah dan menepis tangan Reymond. Reymond menggeleng dan kembali merengkuh wajah Emily, "percayalah padaku, Em... ini semua demi ayahmu...," ucapnya menyakinkan Emily, jemarinya menghusap bawah bibir Emily. Sepasang mata elangnya terus memandangi bibir indah milik Emily. Emily menepis jemari Reymond, "bagaimana dengan istrimu?" tanyanya lirih. "Seperti yang sudah ku bilang percaya padaku..., semua ini akan berjalan lancar..." jawab Reymond tersenyum. "Bagaimana jika istrimu tahu?" tanya Emily memandangi Reymond begitu dalam. Sungguh dia tidak mau menyakiti istri Reymond. Reymond tersenyum tipis, "dia tidak akan tahu, selama aku dan kau merahasiakannya...," jawabnya. Emily mengangguk pelan, dia akan melakukan apapun demi ayahnya. "tetapi aku ingin kau menikahiku secara resmi...," pintanya. Reymond tertawa pelan, "tentu saja aku akan menikahimu secara resmi Emily, aku akan datang bersama keluargaku untuk melamarmu...," ucapnya bersungguh-sungguh. "Kau ingin melamarku bersama keluargamu?!" tanya Emily memekik dengan tidak percaya, Reymond hanya mengangguk, "apa istrimu tidak akan tahu hal itu nantinya? Kau bilang kau ingin merahasiakannya dari istrimu?!" tanyanya bingung. Dia tidak mengerti dengan jalan pikiran Reymond. "Sudahlah Emily, itu urusanku..., yang penting kau setuju untuk menikah denganku demi ayahmu dan menyelamatkan perusahaan ayahmu...," ujar Reymond menyentuh wajah Emily kembali. Emily menghela napasnya, "kau membuatku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu Rey...," ucapnya dan berbalik dari hadapan Reymond. Ketika Emily ingin melangkahkan kakinya, Reymond menarik lengan Emily dan membuat wanita itu berbalik kembali kearahnya. Lalu Reymond memeluk Emily membuat Emily terkejut. Jantung Emily berdebar kencang saat merasakan pelukan hangat yang diberikan oleh Reymond. Wangi maskulin dari tubuh Reymond tercium jelas. "Em...," "Yah?" Reymond menggeleng dan tidak lama melepaskan pelukannya, lalu dia menatap Emily yang masih terkejut. Kemudian dia menepuk kedua bahu Emily, "persiapkan dirimu untuk menikah denganku...," ujarnya tersenyum lebar. Emily hanya menatap Reymond heran, pria itu sangat sulit di mengerti dengan jalan pikirannya. Baru saja tadi pria itu memeluknya dan sekarang pria itu bersikap aneh. "Kau sangat beruntung menikah dengan pria sepertiku Em, kau tidak akan bisa menemukan pria sepertiku di manapun...," ucap Reymond penuh percaya diri. Emily bergedik ngeri mendengarnya, "terserah apa katamu saja...," ujarnya tidak peduli dan pergi dari hadapan Reymond. Reymond hanya tersenyum melihat kepergian Emily, "Emily..., wanita itu--- sudahlah...," ucapnya dan pergi begitu saja. Lama-lama berdekatan dengan Emily tidak baik untuknya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD