Bagian 5 : Mr. Annoying!

1933 Words
Seminggu kemudian... Hampir setengah jam Emily memandangi salah satu diorama foto di galeri seni studio miliknya. Napasnya berhembus kencang memandangi foto yang bergambarkan diorama dirinya dan juga Emon. Jika saja dia tahu akan seperti ini kehidupannya di masa depan, dia tidak akan melakukan kesalahan kepada Emon. Setelah pertemuannya dengan pria itu kembali membuat Emily tidak bisa berhenti memikirkan pria itu. Selain itu, Reymond juga meneror kedua sahabatnya Dion dan Febby. Asisten Reymond yaitu Sam datang ke kantor Dion untuk menawarkan kerjasama, jika pihak Dion tidak ingin menjalin kerjasama dengannya, dia tidak segan-segan menjatuhkan martabat dan harga diri perusahaan milik keluarga Dion. Terpaksa Dion menyetujui permintaan Reymond, sebelum pria itu berbuat yang tidak-tidak dengan perusahaan milik ayahnya. Dan Reymond juga datang ke toko kue milik Febby selama tiga hari berturut-turut. Reymond memesan semua kue terbaik milik Febby, kemudian mencicipinya dan berkomentar pedas tentang rasa kue buatan Febby di depan pelanggan. Karena kejadian itu pengunjung yang datang ke toko kue Febby mengalami penurunan drastis, Febby sempat depresi. Namun, Reymond menawarkan kerjasama kepada Febby untuk mengembalikan nama baik toko kue itu. Reymond ingin membeli toko kue milik Febby dan tentu saja Febby harus menjadi anak buahnya. Febby tidak ada pilihan lain, dia menyetujuinya dan sekarang dia menjadi anak buah Reymond. Reymond benar-benar kejam! Balas dendamnya begitu parah. Berbicara tentang Reymond alias Emon, pria itu tidak lagi menghubungi Emily setelah terakhir mereka bertemu. Meskipun begitu Emily tidak boleh merasa tenang, dia sangat yakin Reymond akan kembali menganggu hidupnya. Apalagi pria itu menginginkannya untuk menikah dengannya dan menjadi istri kedua pria itu. Menikah dengan Reymond tidak pernah terpikiran dan terbayangkan oleh Emily, apalagi harus menjadi istri kedua pria itu?! Yang benar saja! Tubuh Emily merinding seketika memikirkan hal itu. Tiba-tiba suara ponselnya berbunyi, Emily langsung mengangkat panggilan itu ketika mengetahui ayahnya yang menelponnya. "Halo pa?" "Emily, kau masih di studio?" tanya ayahnya. Emily mengangguk, "yah, ada apa pa?" "Pulanglah lebih cepat nak, ada yang ingin papa bicarakan...," ucap ayahnya. "Iyah pa...," balasnya dan langsung mematikan sambungan teleponnya. Kemudian Emily kembali ke dalam ruangannya untuk mengambil tas dan blazer miliknya. Dia ingin segera pulang menemui ayahnya. Sepertinya ada sesuatu yang penting, yang ingin dibicarakan oleh ayahnya. Sebelum dia menggunakan lift, Emily memberitahu Amira untuk segera menutup kantornya dan menyuruh Amira untuk pulang. *** Satu jam kemudian... Emily baru saja tiba di depan kediamannya, alisnya saling bertautan ketika melihat sebuah mobil mewah di halaman rumahnya. Emily keluar dari mobilnya dan berjalan menghampiri mobil itu, dia memperhatikan mobil mewah yang terparkir di halaman rumahnya, baru kali ini dia melihat mobil mewah itu terparkir di halaman rumah. Lalu tidak lama dia melangkahkan kakinya masuk kedalam kerumah orangtuanya. Saat memasuki rumah, Emily mendengar jelas tawa ayahnya dengan seseorang. Kening Emily berkerut saat melihat sosok pria yang duduk membelakanginya, tengah berbincang dengan ayahnya. "Emily," panggil ayahnya membuat Emily tersenyum memandangi ayahnya. Sedetik kemudian senyum Emily menghilang begitu saja ketika melihat sosok Reymond yang tersenyum lebar kepadanya. "Reymond?!!" pekik Emily terkejut setengah mati. Reymond melambaikan tangan kanannya dengan senyuman, "Hai Emily!" sapanya begitu antusias. Wajahnya terlihat santai, seakan tidak terjadi apapun. "Apa yang kau lakukan disini hah?!" tanya Emily dengan mata melebar mengampiri Reymond. Wajahnya terlihat tidak suka melihat Reymond berada di kediaman ayahnya Reymond tersenyum, "sedang membicarakan sebuah bisnis dengan ayahmu," jawabnya santai, "duduklah Emily...," perintahnya. "Ini rumah orangtuaku, dan kau tidak berhak untuk menyuruhku duduk di rumah orangtuaku sendiri!" seru Emily kesal menunjuk wajah Reymond. Reymond hanya mengangguk mengerti, lalu dia mengambil cangkir yang berisi teh hangat dan menyesapnya. Emily menatap Reymond dengan pandangan semakin tidak suka. Ayahnya tertawa pelan melihat perdebatan itu, "Emily, kenapa kau tidak bilang jika Reymond teman masa kecilmu kembali?" tanyanya menatap Emily. Ayahnya sangat mengenal sosok Reymond, ayahnya dan ayah Reymond yang bernama Edwind Beily adalah teman bisnis. Mereka sering melakukan kerjasama. Kadang mereka sering membicarakan anak-anak mereka. Emily tersenyum, "itu tidak penting, pa..." jawabnya malas. "Lihat sekarang Reymond, Em! Dia telah menjadi pria muda yang sukses!" seru ayahnya penuh kebanggaan kepada Reymond. Ayahnya terus memuji Reymond dengan pandangan takjub. Emily yang mendengarnya hanya menatap Reymond jengah. Sedangkan Reymond tersenyum lebar mendengar pujian ayah Emily untuknya. "Semua yang ku dapatkan sekarang karena Emily, om" ucap Reymond membuat Emily menatapnya tidak mengerti, "karena Emily aku menjadi semangat untuk mengubah hidupku menjadi lebih baik, agar tidak ada lagi yang merendahkanku..." ujarnya kemudian seakan menyindir Emily. Namun, Emily tidak peduli akan hal itu. Dia ingin segera menyingkirkan Reymond dari kediaman orangtuanya. "Sebenarnya apa tujuanmu datang kerumah orangtuaku Rey?!" tanya Emily sinis dengan tangan melipat. Emily merasa Reymond mempunyai tujuan yang jahat datang kerumahnya. "Emily, yang sopan sedikit berbicara dengan tamu!" seru ayahnya, "Reymond datang ke rumah kita, dia ingin menawarkan kerjasama dengan papa...," jelasnya kemudian. "Kerjasama apa, pa?!" tanya Emily dengan mata melebar. Dia tidak percaya begitu saja, Reymond tidak mungkin menawarkan kerjasama dengan ayahnya. Pasti pria itu hanya ingin menjebak keluarganya. Jika itu terjadi Emily akan mencari perhitungan kepada Reymond. Apalagi Reymond sudah membawa ayahnya ke dalam masalah ini. Ayahnya menghela napasnya, "perusahaan milik ayah mengalami pailit nak," ucapnya membuat Emily terkejut. "kenapa papa tidak menceritakan hal itu padaku?" tanya Emily kecewa, “papa bisa mendiskusikan hal ini denganku, sebelum menyetujui kerjasama dengan Reymond...,” Ayahnya tersenyum, "papa tidak ingin membuatmu bersedih dan memikirkan permasalahan ini..., papa tidak ingin membebanimu..." ucapnya bangkit dari duduknya dan menghampiri Emily, "saat ini papa sedang berusaha mati-matian untuk mempertahankan perusahaan papa, jika perusahaan papa bangkrut ada ribuan pekerja yang akan menjadi pengangguran. Dan papa tidak ingin itu terjadi," jelasnya tertunduk. Emily langsung memeluk ayahnya, dia paling tidak bisa melihat ayahnya bersedih seperti ini. Kebahagian ayahnya adalah kehidupannya, hanya ayahnya yang dimiliki oleh Emily. Ibu Emily telah pergi meninggalkannya lima tahun yang lalu. Emily sempat terpuruk ketika ibunya pergi untuk selamanya. "Perusahaan papa, memiliki hutang 1,3 triliun... akibat salah satu orang kepercayaan papa manipulasi keuangan perusahaan papa. Untuk menutupi biaya produksi dan gaji para karyawan, papa menghutang...," ungkap ayahnya membuat Emily semakin sedih mendengarnya. Emily melepaskan pelukannya dan merengkuh wajah ayahnya yang terlihat sendu, "Emily akan membantu papa, apapun akan Emily lakukan agar perusahaan papa terlepas dari hutang...," ucapnya membuat ayahnya tersenyum dan mengecup pipinya. Reymond yang melihat itu hanya tersenyum, dia agak sedikit terpesona dengan kepedulian Emily kepada ayahnya yang sedang mengalami kesulitan. Ternyata dugaannya salah kepada Emily, Emily bukanlah anak manja, Wanita itu sangat menyayangi ayahnya "Reymond, yang mengetahui keadaan papa saat ini tanpa disangka dia datang menawarkan bantuan...," ucap ayahnya membuat Emily memandangi Reymond, "dia ingin perusahaan papa menjalin kerjasama dengan perusahaan miliknya," "Lalu apa papa menyutujuinya?" tanya Emily tanpa menatap ayahnya, dia masih memandangi Reymond yang tengah menatapnya. Ayahnya mengangguk, "yah papa menyutujuinya demi ribuan karyawan papa...," jawabnya membuat Emily menggeleng. "Oh Tuhan, jika papa menyutujuinya aku harus menikah dengannya!" seru Emily menunjuk Reymond. Emily sangat yakin ini adalah rencana Reymond, agar pria itu bisa menikahinya dengan cara masuk ke dalam permasalahan yang tengah dihadapi oleh ayahnya. Reymond benar-benar pintar dan licik! Ayahnya menatap Emily tidak mengerti, "menikah dengan Reymond?!" tanya ayahnya dengan salah satu alis terangkat, Emily mengangguk mantap. Sedetik kemudian tawa ayahya dan tawa Reymond meledak. Emily hanya menatap mereka dengan pandangan heran. "Kenapa kau bisa berpikir sampai sejauh itu nak?!" tanya ayahnya di sela tawanya, "anakku sangat lucu Rey, dia berpikir aku akan menikahkannya denganmu karena kau dengan sukarela membantuku!" serunya tertawa menatap Reymond yang juga tertawa kencang. "Hentikan!" teriak Emily kesal, dia benar-benar kesal sekarang. Sungguh dia malu sekali. Tidak lama tawa mereka terhenti begitu saja. Reymond langsung merapikan kerah kemejanya, dia masih tertawa pelan. "Emily, Reymond membantu papa karena ayahnya telah lama ingin menjalin kerjasama dengan perusahaan papa. Meskipun papa harus menjual lima puluh persen saham perusahaan milik papa kepada perusahaan milik Reymond untuk menutupi hutang-hutang papa. Reymond membantu papa tanpa ada maksud dan tujuan tertentu. Papa menyujui kerjasama itu agar perusahaan papa tidak bangkrut Em..." jelas ayahnya menepuk bahu Emily, "kau terlalu jauh berpikir jika papa menyetujui kerjasama itu dengan cara menikahimu dengan Reymond, meskipun papa bangkrut sekalipun papa tidak akan pernah menjual anak papa..," ujarnya kembali membuat Emily malu setengah mati. Bagaimana Emily tidak berpikir kesana, jika terakhir kali bertemu dengan Reymond pria itu mengatakan ingin menikahinya dan akan melamarnya kepada orangtuanya. Memikirkan itu sepanjang waktu membuatnya merinding. "Jangan-jangan kau berharap menikah dengan Reymond yah Em?!" goda ayahnya. Reymond yang mendengar perkataan ayah Emily kontan tawanya meledak kembali. Emily langsung menatap pria itu sebal. Reymond, pria itu telah mempermalukan Emily dihadapan ayahnya. *** "Rey!" panggil Emily ketika Reymond ingin membuka pintu mobilnya. Reymond berbalik, "yah ada apa?" tanyanya dingin. "Kenapa kau melakukan ini?!" tanya Emily berteriak. Reymond menaikan alis kirinya, "melakukan apa?" Emily berdecak sebal, "jangan pura-pura tidak mengerti!" serunya marah, "Seminggu yang lalu kau mengatakan ingin menikahiku dan datang kerumah orangtuaku untuk melamarku! Sekarang kau benar-benar datang kerumah ayahku dan membuatku seperti orang bodoh karena berpikir kedatanganmu ingin melamarku dan menikahiku dengan cara menjalin kerjasama dengan perusahaan ayahku!" makinya panjang lebar. Ingin rasanya dia membunuh pria dihadapannya saat ini. Reymond tertawa dengan tangan melipat, "kedatanganku memang ingin melamarmu," ucapnya membuat Emily terkejut, "apalagi dengan situasi yang sedang dihadapi oleh keluargamu, sangat dipastikan ayahmu akan setuju jika aku ingin kau menikah denganku. Tetapi aku tidak mau gegabah, bagaimana pun aku harus mencari tahu tentang dirimu lebih dalam sebelum aku memutuskan untuk menikahimu...," jelasnya membuat Emily menggeleng kesal mendengarnya. "Dalam ingatanku, kau adalah nenek lampir yang selalu menyiksa hidup indahku di masa kecil. Sekarang kau pun masih sama...," ujar Reymond tersenyum kepada Emily yang sedang menatapnya penuh amarah, "lagipula aku sudah mempunyai istri yang jauh lebih sempurna darimu," lanjutnya menggoda Emily agar wanita itu marah. "Kalau memang istrimu sudah sempurna, kenapa kau menginginkanku untuk menjadi istrimu hah?!" tanya Emily tidak habis pikir. Reymond berpikir dengan tangan melipat, "entahlah," jawabnya menyengir, "meskipun kau tidak sempurna dari istriku, tapi aku bisa membuatmu sempurna dengan kehadiranku di sampingmu...," ujarnya penuh percaya diri. Perkataan Reymond membuat Emily mendengus kesal, "terserah apa katamu," serunya seakan menyerah menghadapi Reymond, “Kau tahu gara-gara ucapanmu itu aku tidak tenang selama seminggu terakhir ini! Kita baru saja bertemu dan seenaknya saja kau memintaku menjadi istri kedua! Kau bahkan tidak bertanya padaku, apa aku sudah mempunyai kekasih atau belum!!” makinya. Reymond mengulum senyumnya, “Baiklah jika begitu, aku akan bertanya padamu sekarang. Apa kau sudah punya kekasih? Sehingga kau menolak?” tanyanya dengan salah satu alis terangkat. “Tentu saja sudah!” balas Emily bertolak pinggang. “Siapa nama kekasihmu itu?” “Untuk apa kau tahu?!” tanya Emily balik, “itu urusan pribadiku! Kau tidak berhak tahu!!” Reymond menghela napasnya, “tentu saja aku harus tahu, aku akan menemui kekasihmu itu untuk menyerahkanmu padaku!” jawabnya menyengir, “aku menjamin kekasihmu tidak sempurna sepertiku…,” Emily berdecak kesal dan menatap sengit wajah Reymond, ingin sekali dia mencabik-cabik wajah tampan pria di hadapannya sekarang. Tingkat kepercayaan dirinya begitu tinggi dan itu sangat menyebalkan. Kemudian Reymond memajukan wajahnya dengan mata menyipit, Emily kontan memundurkan wajahnya, “jangan katakan jika kekasihmu itu Dion, si mulut comel?” tanyanya menduga. Jika dugaannya benar, selera Emily sangat rendahan sekali. Sepasang mata Emily kontan melebar, “jangan menghina sahabatku ya!” protesnya tidak terima jika sahabat terbaiknya di hina. Baginya Dion adalah lelaki sempurna, karena selalu ada untuknya. “Aku tidak menghina, tetapi itulah kenyatannya…,” balas Reymond. Emily hanya menatap Reymond, dia sudah kehabisan kata-kata. Lalu dia berbalik, menghadapi Reymond bisa membuatnya gila. "Emily!!" panggil Reymond ketika langkah Emily ingin memasuki kediaman orangtuanya, "aku akan datang kembali menemuimu!!" teriaknya dengan wajah bahagia. Emily hanya menghela napasnya dan tidak peduli dengan teriakan Reymond. Dia masuk ke dalam rumah dengan hati kesal. Jika dia bisa memutar waktu, dia tidak akan meminta Tuhan untuk mempertemukannya dengan Reymond. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD