Setelah pengakuan yang Emily dengar dari pria bernama Sam yang mengaku dan berperan sebagai Emon, hati Emily tidak tenang dan gelisah. Emily tidak percaya jika pria bernama Reymond adalah Emon sebenarnya. Reymon, pria itu kembali dengan cara seperti ini.
Jika memang Reymond adalah Emon, lelaki itu telah tumbuh menjadi seseorang yang berbeda. Tubuh pendek, gendut, bermata kuda tidak lagi dimiliki oleh lelaki itu. Sekarang lelaki itu tumbuh menjadi pria yang sangat tampan, mempunyai tubuh tinggi menjulang dan tidak lagi menggunakan kaca mata. Emon telah berubah menjadi pria tampan yang membuat Emily terpesona dengannya pertama kali mereka bertemu. Mungkin Emily merasa jatuh cinta pada sosok Reymond pada pandangan pertama. Namun, Emily langsung menepis perasaannya itu ketika tahu jika Reymond adalah Emon.
Emily tidak mengerti, mengapa Reymond tidak berkata jujur kepadanya bahwa dia adalah Emon? Mengapa pria itu menyembunyikannya?
Saat ini Emily sedang menunggu Reymond di lobby kantor pria itu, sudah sangat lama dia menunggu Reymond selesai dengan pekerjaannya. Dia ingin mengetahui alasan Reymond melakukan hal ini kepadanya. Emily butuh penjelasan.
Setelah Emily mengetahui kebenaran bahwa Reymond adalah Emon, pria itu menghilang begitu saja dari restoran. Sedangkan kedua sahabat Emily, Dion dan Febby, mereka telah pergi setengah jam yang lalu. Dion ada rapat yang harus di hadari, sedangkan Febby dia harus mengurus sebuah pesta klien yang memesan kue buatannya. Sepertinya kedua sahabatnya mencari alasan untuk bisa melarikan diri dari Reymond, kedua sahabatnya begitu ketakutan setengah mati saat mengetahui Emon yang dulu mereka bully kini berubah menjadi sosok pria yang menakutkan. Dan pada akhirnya Emily seorang diri menghadapi Reymond. Kedua sahabatnya benar-benar tega dengannya dan membiarkannya menemui Reymond seorang diri.
Emily terus memandangi lift, dia tidak ingin lengah dan kehilangan jejak Reymond. Dia harus bertemu dengan Reymond dan meminta penjelasan dari pria itu.
Tidak lama pintu lift terbuka, Emily kontan berdiri saat melihat Reymond keluar dari dalam lift itu bersama Sam dan dua orang penjaga. Emily mengatur napasnya, wajahnya terlihat tidak nyaman.
Reymond yang melihat Emily berdiri yang tidak jauh darinya menghentikan langkahnya, salah satu alisnya terangkat ketika tatapannya bertemu dengan Emily. Reymond tidak percaya Emily masih berada disekitar kantornya.
Tidak lama Emily berjalan menghampiri Reymond, jantungnya berdebar kencang sekarang. Tatapan Reymond sangat mematikan untuknya dan dia tidak bisa berlama-lama menatap sepasang mata elang yang kini tengah menatapnya dengan sorotan tajam. Tatapan Reymond seakan mengintimidasinya.
"Aku ingin bicara...," ucap Emily mengangkat kepalanya sedikit. Tingginya hanya sebahu Reymond, padahal dulu sewaktu mereka kecil tinggi Reymond hanya sebahunya. Tetapi sekarang tubuh pria itu begitu tinggi dan Emily kalah telak! Tubuh dan tinggi Emily terlihat kecil jika berdiri berjajar dengan Reymond.
"Bicara apa?" tanya Reymond dingin.
Emily mengigit bibir bawahnya, dia benar-benar gugup berbicara dengan Reymond. "bicara yang terjadi di antara kita..." jawabnya.
Reymond tersenyum samar sambil melipat kedua tangannya, "memangnya apa yang terjadi di antara kita?" tanyanya lagi. Senyumnya mengembang tipis, dia sedang menggoda Emily saat ini.
Emily menatap Reymond dengan pandangan tidak mengerti, pria itu benar-benar membuatnya kesal setengah mati. Pria itu bersikap santai, seakan tidak terjadi apapun diantara mereka saat ini, "Oh c'mon Rey!!" serunya berteriak frustasi.
Reymond tertawa, lalu dia menarik lengan Emily membuat wanita itu memekik terkejut. Emily hanya terdiam dan mengikuti langkah besar Reymond ketika pria itu membawanya keluar dari gedung. Reymond membawanya ke sebuah taman indah yang terletak di halaman kantor milik pria itu.
Setelah berada di taman itu, Reymond melepaskan cengkramannya dari lengan Emily. Lalu pria itu menatap tajam Emily tajam. Emily hanya menatapnya.
"Silahkan bicara," ujar Reymond dengan tangan melipat.
Emily menghembuskan napasnya dan menatap Reymond, "mengapa kau tidak jujur kepadaku dari awal, jika kau adalah Emon?" tanyanya.
"Jika aku mengatakan padamu, bahwa aku adalah Emon. Apakah kau akan percaya?" tanya Reymond balik.
Emily terdiam dan tidak menjawab pertanyaan Reymond. Dia terus memandangi wajah pria itu. Jika Reymond berkata jujur bahwa dia adalah Emon, Emily tidak akan percaya begitu saja. Perubahan Emon sangat luar biasa untuk Emily, bahkan hingga detik ini Emily masih belum bisa mempercayai jika Reymond adalah Emon, anak lelaki yang sering dia bully dulu. Emily meneliti setiap detail wajah Reymond, pria itu begitu sempurna sekarang. Emily mengigit bibir bawahnya, ingin sekali dia menyentuh wajah Reymond dan meminta maaf kepada pria itu.
Tiba-tiba tawa Reymond terdengar, "sudah ku duga, kau tidak akan percaya...," ujarnya seakan mengetahui pikiran Emily.
Emily menghembuskan napasnya berat, kemudian wajahnya tertunduk lirih, "aku minta maaf Rey, atas kesalahanku padamu dulu...," ungkapnya kemudian, lalu dia menatap Reymond kembali, "aku tahu kau sangat membenciku dan juga membenci Dion dan Febby. Tetapi aku benar-benar minta maaf padamu Rey...," ucapnya bersunguh-sungguh.
"Bagaimana jika aku tidak ingin memaafkanmu?" tanya Reymond dengan senyuman samar.
"Itu hakmu jika kau tidak ingin memaafkan kami..., aku sangat mengerti itu," jawab Emily tersenyum lirih.
Sedetik kemudian Reymond menundukan kepalanya dan mendekatkan wajahnya kepada Emily. Reymond menatap wajah Emily, sehingga dia bisa melihat bola mata berwarna hazel milik wanita itu.
"Boleh aku bertanya satu hal padamu?" tanya Reymond, Emily hanya mengangguk dengan mata mengembang, "mengapa kau membuat foto diorama masa kecil itu?" tanyanya kembali. Dia sangat penasaran akan hal itu.
"Karena aku merasa bersalah kepadamu Rey, aku sangat bersalah... Seharusnya aku tidak membullymu dan membuatmu pergi...," ungkap Emily lirih, "maka itu, aku membuat foto diorama itu untukmu. Jika suatu hari nanti aku bertemu denganmu, aku ingin memberikan foto itu untukmu sebagai ucapan permintaan maafku...,"
Reymond tersenyum tipis mendengarnya, "aku merasa tersanjung dengan apa yang kau ucapkan barusan," ujarnya menjauhkan wajahnya dan kembali melipat kedua tangannya, "meskipun kau memberikan foto diorama itu untukku, itu belum cukup agar aku memaafkanmu Emily...," ucapnya membuat Emily tercengang mendengarnya.
"Lalu aku harus bagaimana agar kau memaafkanku Rey?" tanya Emily dengan kening berkerut. Sungguh dia ingin semua permasalahan yang terjadi antaranya dan Reymond terselesaikan. Dia sudah tidak tahan dengan rasa bersalah yang selalu menganggu pikiran dan hatinya selama bertahun-tahun.
"Jika kau ingin aku memaafkanmu, kau harus menikah denganku dan menjadi istri keduaku...," Ujar Reymond membuat Emily terkejut setengah mati mendengarnya.
"Kau sudah gila Rey?!" pekik Emily dengan mata melebar. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
Emily tidak percaya Reymond bisa mengatakan hal itu kepadanya dan yang membuatnya lebih terkejut lagi Reymond sudah memiliki istri?! Itu tidak mungkin! Mana mungkin pria seperti Reymond sudah menikah?!
Reymond tersenyum lebar, "aku sedang tidak gila, aku sekarang dalam keadaan sehat dan waras. Maka itu, aku menginginkanmu untuk menikah denganku dan menjadi istri keduaku...," ucapnya bersungguh-sungguh.
Emily menggeleng pelan, "kau sepertinya tidak waras Rey!!" serunya kesal, "aku tidak mau menikah denganmu dan aku juga tidak ingin menjadi istri keduamu!!" tolaknya penuh amarah. Lalu dia berbalik, dia ingin pergi dari hadapan Reymond segera mungkin. Berada di dekat Reymond bisa membuatnya gila.
Reymond yang melihat itu langsung menarik lengan Emily, sehingga kini wanita itu berbalik kearahnya kembali. Reymond menahan Emily, agar wanita itu tidak pergi darinya.
Napas Emily tercekat ketika Reymond semakin menarik pinggangnya kedalam dekapannya. Sedetik kemudian Emily merasakan lumatan hangat pada bibirnya, kontan sepasang mata Emily melebar saat merasakan ciuman tiba-tiba dari Reymond. Emily tidak percaya, Reymond bisa melakukan hal ini kepadanya. Tangan kanan Reymond merengkuh wajah Emily, lalu Reymond mencium bibirnya begitu lama dan lembut, hingga tanpa sadar Emily membalasnya. Tidak lama Reymond melepaskan ciumannya dan menatap Emily dengan mata menyipit. Jantung Reymond berdebar, begitu juga dengan Emily.
"Kau---" perkataann Emily terputus begitu saja ketika Reymond menempelkan jari telunjuknya di bibirnya. Ingin rasanya dia menampar wajah tampan dihadapannya itu, tetapi dia tidak bisa melakukan hal itu karena Reymond sedang mengkunci kedua tangannya. Lagipula marah pun percuma, karena dia menikmati ciuman yang diberikan oleh Reymond untuknya.
"Ini belum seberapa Emily, aku bisa melakukan hal yang lebih kepadamu jika kau tidak menuruti semua permintaanku...," bisik Reymond seakan sedang mengancam Emily.
"Kau tidak bisa mengancamku!!" desis Emily.
Reymond tertawa, "aku tidak mengancammu," ujarnya, "tapi itu akan aku lakukan jika kau tidak menuruti permintaanku...," lanjutnya mengedipkan mata kirinya.
"Kau tidak bisa melakukan hal ini kepadaku, Rey!" teriak Emily, "hanya karena kesalahan di masa kecil kau tidak bisa mengacaukan hidupku!!" serunya penuh amarah menepis tangan Reymond dari kedua tangannya. "Jika aku tahu akan seperti ini, aku tidak akan pernah ingin bertemu denganmu kembali!!" teriak Emily kembali.
"Terserah apa katamu, aku akan segera melamarmu kepada kedua orangtuamu...," kata Reymond kemudian sambil merapikan jas biru tuanya.
Emily membuka mulutnya lebar, "orangtuaku pasti akan menolak lamaranmu itu dan akan mengusirmu secara tidak hormat!!" serunya, "lagipula orangtuaku tidak akan mungkin menerima lamaran dari pria yang sudah beristri!!" teriaknya kembali.
Reymond tersenyum, "kita lihat saja nanti...," balasnya dan berjalan menjauh dari Emily, "bye Emily Johnson!!" serunya melambaikan tangan kanannya tanpa menoleh kearah Emily.
"Kau benar-benar b******k Rey!!!" maki Emily menangis sambil melemparkan batu krikil kearah Reymond yang semakin terlihat menjauh. "Astaga!! Hidup aku hancur sudah!" tangisnya menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia benar-benar menyesal bertemu dengan Reymond jika kenyataannya seperti ini.
***
Sementara itu, Reymond meninggalkan Emily begitu saja yang tengah memakinya sekarang. Senyumnya mengulum, dia sangat senang melihat Emily menderita karenanya.
Apalagi ketika dia meminta Sam untuk berpura-pura menjadinya dan berpenampilan aneh, Emily dan kedua sahabatnya yang bodoh itu terlihat ketakutan. Tawanya ingin meledak tadi ketika menyaksikan drama komedi yang dia lihat tadi. Namun, dia menahan tawanya di restoran dan pergi dari restoran begitu saja.
Sebelum memasuki mobilnya, dia kembali menoleh kebelakang untuk melihat keadaan Emily saat ini. Dia menggeleng pelan melihat Emily menangis. Wanita itu begitu pembarani dan pantang menangis ketika kecil, tetapi setelah tumbuh menjadi wanita dewasa, wanita itu menjadi cengeng. Namun, sifat pemarah Emily masih belum hilang dan dia menyukai sifat pemarah Emily.
Dan jujur, Reymond tertarik dengan Emily. Wanita itu terlihat cantik dan mempesona dimatanya. Dan dia sangat menyukai sepasang mata hazel milik Emily.
“Tuan Beily, silahkan masuk, mobil anda sudah siap…,” kata salah satu pengawalnya ketika supir pribadinya menyalakan mesin mobilnya.
Dia hanya mengangguk dan masuk kedalam mobilnya. Setelah berada di dalam mobilnya dia tidak bisa melepaskan pandangannya dari Emily.
***