Bab 10 : Dibawa pergi

1109 Words
Moza heran ketika melihat Niki membawakannya gaun sederhana berwarna merah maron dengan hiasan bunga-bunga cantik disekitarnya. Jangan lupakan sweater putih yang dia bawa dan pakaian mereka berganti saat itu juga. Mata gadis itu menyipit kearah Niki, "Niki, dapet dimana baju-baju ini?" Tanya Moza yang saat ini belum mau mengenakan pakaian yang dibawa Niki. "Pakai aja, jangan sungkan." Moza mengernyit, "Siapa yang sungkan? Cuma Moza takut aja kalau Niki ngambil baju ini dari rumah orang, saking frustasinya gak ada baju ganti." Niki mendengus. Namun setelahnya dia tertawa kecil melihat reaksi Moza yang terkejut. "Jadi bener?!" Tukas Moza, seraya mengedipkan matanya beberapa kali. Niki segera menggeleng, kemudian mengambil kembali gaun merah maroon itu, memberikannya pada Moza. "Ini aku beli, kamu pake aja." Moza cemberut, "Niki, kebiasaan banget gak jawab pertanyaan Moza." Keluhnya. Niki menyentuh kedua pundak gadis itu dan tersenyum, "Ini beneran aku beli, kamu percaya aja." Moza mendengus namun setelahnya percaya apa yang Niki katakan. Moza segera masuk kedalam rumah dan menutup pintu dari dalam. Sengaja supaya Niki gak bisa masuk, karena Moza ingin mengganti pakaiannya. Sementara itu, Niki berdiri sembari menatap gubuk kecil itu. Tak lama seorang pria datang dan membawakan kembali barang-barang seperti kasur, kompor, kulkas dan semacamnya. Dia ingin mengubah gubuk kecil ini sebagai kediaman kecil. Tanda kalau Niki dan Moza bertemu disini. "Semuanya sudah siap, Tuan." Niki berdehem pelan, "Laksanakan tugasmu." Pria itu mengangguk patuh kemudian menyuruh orang suruhannya untuk mulai bekerja. Tak lama setelah itu Moza keluar dan dikejutkan dengan kasur dan kulkas yang hendak dimasukan kedalam gubuk tersebut. "Lho, ada apa ini?" Ucap Moza bertanya-tanya, kemudian mendekat kearah Niki. "Kenapa ini, Niki?" Tanya Moza. Niki tersenyum, "Mau diperbaiki, supaya pas kita tidur gak sakit lagi, Sama gak terlalu gelap." Jawaban Niki belum urut membuat Moza puas. "Niki dapet darimana?" Tanya Moza. "Kok bisa, padahal kita kan tersesat." Tak lama pria yang merupakan asisten kepercayaan Niki, datang kearah mereka. "Semua sudah dipersiapkan, dan mereka sedang mengerjakannya." Niki mengangguk puas. "Bagus, lanjutkan lah pekerjaan kalian." Moza kembali bersuara, "Niki ini siapa?" Tunjuk Moza pada Pria yang berada disamping Niki. Niki kemudian menarik tangan Moza untuk ikut dengannya. Niki membawa Moza berdiri ditepi danau. Dibawah pohon rindang tempat mereka pertama kali dipertemukan. "Kamu cantik, za." Gadis itu mengerjabkan matanya pelan, kemudian tersenyum malu dengan wajah merona. Siapa yang tidak malu kalau seorang lelaki tampan baru saja memujinya. "Jangan gitu nik, Moza malu." Moza memanyunkan bibirnya. Niki menegang, lalu menggeleng kecil dan berusaha melepaskan pikirannya tentang memiliki Moza. Karena gadis itu berhak bebas. "Cantik gaunnya, za." Moza berdecak, "Dasar! Udah nerbangin tinggi, malah dihempas!" Protes Moza. Niki tertawa kecil kemudian mendekat kearah Moza. "Setelah ini, mungkin kita gak akan bertemu lagi." Moza cemberut, "Niki mau pergi ya?" Tanya Moza. Gadis itu terlalu polos untuk tidak menyembunyikan raut wajahnya yang sedih. Niki baru saja menjadi temannya, tapi kenapa sekarang berubah? "Niki mau ninggalin Moza?" Niki mengangguk, "Aku harus pergi, karena ada hal yang harus aku lakukan." Moza menunduk. "Niki mau ninggalin Moza sendiri disini?" Niki kembali mengangguk. "K-kenapa?" "Aku gak mau bikin kamu dalam kesulitan." Moza menghela nafas, "Yaudah, terserah Niki. Moza gak bisa larang karena itu bukan hak Moza. Tapi jangan lupa sama Moza ya?" Pintanya. Niki tersenyum kecut, padahal dia akan mengira Moza tidak akan pernah bisa bertahan tanpa dirinya. Tapi dugaannya salah besar, Moza justru tidak mengatakan apapun selain melepaskannya pergi. Tanpa Moza ketahui, Niki tersenyum satu sudut. Apa yang Moza katakan saat ini akan membuat Moza menyesalinya dengan segera. *** Moza merasa kepalanya berat dan susah untuk menormalkan penglihatannya. Yang Moza ingat, dia baru saja selesai mengantarkan Niki untuk pergi, tapi kenapa dia merasa tak ingat apapun setelah itu? Moza bangkit, kemudian menoleh kebelakang. "Sejak kapan gubuk punya ranjang sebagus ini?" Pikirnya. Bahkan ketika Moza menatap dirinya sendiri, dia masih mengenakan gaun merah maroon pemberian Niki. Gadis itu mulai menelusuri ruangan tempatnya berada. Dilihatnya jendela persegi panjang yang besar. Kalau diteliti lagi, ruangan tempat Moza sekarang terlihat seperti kamar seorang tuan putri. "Ini Moza masih mimpi, atau gimana?" Moza segera menggelengkan kepalanya. "Gak, Gak mungkin mimpi." "Aw!" Moza meringis ketika merasakan sakit karena dicubit. Bukankah itu punya arti kalau Moza benar-benar tidak mimpi, dan ini sangat nyata. "Moza dimana?" Gumam gadis itu, menatap polos kearah jendela. Ruangan itu kembali terlihat sangat mewah. Ranjangnya cukup besar, Moza bahkan bisa berguling dengan bebas diatas sana. Ceklek! Moza berbalik untuk melihat siapa yang datang. Seorang pria yang tampak tidak asing dimatanya. Bukankah pria itu adalah orang yang membantu memperbaiki gubuk. "Selamat pagi, Nona Moza." Sapa pria tersebut. Moza membulatkan matanya, kemudian berkedip beberapa kali untuk menormalkan kebingungannya. "Bagaimana dia tau namaku?" Gumam Moza pelan. Pria tersebut tersenyum kecil, "Maaf menganggu waktu anda nona, saya adalah Alex. Asisten kepercayaan Tuan Muda." Moza menelan ludahnya kasar, "T-tuan muda siapa?" Tanya Moza dengan polosnya. Alex hanya tersenyum singkat dan mempersilahkan Moza untuk ikut sarapan. Moza awalnya menolak, karena dia masih tidak paham dengan situasi ini. Namun Alex akan menjelaskan sembari mereka berjalan menuju tempat sarapan. Moza akhirnya setuju dan sekarang mengikuti Alex dari belakang. Moza kembali dibuat takjub dengan interior yang mewah ketika mereka melewati koridor panjang. Moza bertanya-tanya, "ini bukan istana kan?" Alex tersenyum tipis, kemudian mengangguk kecil, "Ini memang istana." Jawab pria itu ketika tak sengaja mendengar ucapan Moza. "Benarkah, bagaimana bisa aku dibawa ke istana?" Moza kembali bertanya sembari menyamakan langkahnya dengan Alex. "Rumahku adalah istana, sepertinya Nona tidak asing dengan ucapan itu. Maka saya bisa simpulkan dan membenarkan ucapan nona, karena berada di istana kediaman keluarga Ranggi." Moza tampak tak paham, sementara Alex hanya tersenyum simpul. Bukan kehendaknya untuk menjelaskan secara detail, karena ada seseorang yang sudah menantinya untuk sarapan. "Silahkan masuk, Nona." Moza menelan ludahnya kasar, ketika mereka sekarang berdiri tepat di depan pintu kayu dengan ukiran sulur yang khas. "A-aku harus masuk?" "Kamu tidak ikut?" Tanya Moza lagi. Alex tersenyum tipis, "Tempat saya bukan di dalam, silahkan masuk. Karena Tuan Muda sudah menunggu kedatangan anda." "Ini orang bicara Tuan muda terus, tapi gak tau Tuan Mudanya itu siapa?" Keluh Moza kemudian masuk dengan hati was-was. Moza melangkah masuk dan memejamkan matanya setelah itu. Dia benar-benar takut bertemu dengan keluarga kerajaan atau semacamnya. Tapi menurutnya sekarang sudah tidak ada kerajaan, karena sistem pemerintahan sudah berganti. "Moza." Moza yang masih memejamkan mata, sedikit terganggu dengan suara yang terdengar familiar dan sedang memanggil namanya. "Moza, apa yang sedang kamu lakukan. Mendekatlah dan duduk di tempatmu, kita sarapan bersama." Ketika Moza membuka kelopak matanya, Gadis itu terkejut melihat Niki yang duduk dengan ekspresi penuh karisma. Apalagi pakaiannya membuat Niki semakin terlihat tampan. Tunggu, Moza benar-benar tidak sedang bermimpi kan? ### Komentarnya dong bun ehehe Tap Love jangan lupa hayo!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD