Bab 9 : Pria asing lagi?

1133 Words
Moza merasa bajunya sudah terlalu lama tidak dicuci. Dia ingin menggantinya tapi bingung menggantinya dengan apa? Hei! Dia tinggal di hutan yang dia saja tidak tau sampai kapan dia bisa tinggal disini. Moza hanya bisa mendesah pasrah ketika bau menyengat dari bajunya tercium. Baju Niki juga sedikit bau, Moza tidak tau bagaimana caranya dia menegur Niki dengan bau seperti itu. Niki mendekat ketika melihat Moza yang dari jauh terlihat gelisah. Lelaki tampan dengan rambut hitam legam itu tersenyum dan menepuk pelan bahu, Moza. "Ada apa?" "Huh!" Moza terkejut ketika merasakan seseorang menepuk bahunya. Ketika Moza berbalik, dia bisa melihat Niki yang tersenyum manis kepadanya. Moza diam tanpa berkedip, namun setelah sadar dia segera menggeleng. Perempuan mana yang tidak akan terdiam melihat lelaki tampan. "Lagi mikirin apa?" Tanya Niki lembut. "Lagi mikirin baju kita yang sama-sama bau apek. Moza bingung ki, kalau dicuci nanti Moza harus telanjang," ucap Moza jujur dengan wajah sendu. Niki terkejut bukan main, dia menelan ludah kasar ketika Moza mengatakan secara gamblang dan sedikit v****r. "I-iya kamu benar." Moza cemberut, kemudian mengendus tubuhnya. Setelah itu mengendus tubuh Niki. Tak sengaja Moza mengendus bagian leher Niki, membuat ekspresi lelaki itu seketika menegang. "A-apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Niki tanpa ekspresi. "Tuhkan!" Moza segera membuka sweater putih yang sudah sedikit kotor, didepan Niki. Lelaki mana yang tidak terkejut melihat hal itu? Tentu Niki adalah salah satu dari mereka. Moza sudah seperti mangsa yang siap dia tekan. Tidak! Niki tidak boleh seperti ini, dia gak akan biarin obsesinya menguasai Moza. Niki sadarlah! Lelaki itu terlihat melamun, membuat Moza berdecih dan segera menjemur pakaiannya. Matahari sedang terik, dan Moza berharap bau apeknya segera hilang. "Niki." Panggil Moza. Lelaki itu menoleh dan mengukir sebuah senyuman manis. "Buka bajunya juga, jemur tuh biar gak apek. Niki kan cowok jadi gak apa-apa buka baju." Ucapan polos Moza tentu mengundang tatapan ambigu Niki. "Niki, kenapa diam terus sih? Moza bicara sama Niki lho ini?!" Niki tersentak, kemudian menatap Moza dengan tatapan penuh terkejutnya. "A-apa?" Moza menghela nafas. "Sini, buka bajunya!" Niki hanya diam ketika Moza membuka kancing kemeja putihnya satu persatu. Namun setelah sadar, dia segera menjauh dari Moza. "Ada apa ki?" Tanya Moza keheranan. "A-aku bisa sendiri." Ucap Niki yang segera mengambil alih tugas Moza. Daripada dia tidak bisa mengendalikannya, lebih baik dia mencegah dulu. Lelaki seperti Niki sangat mudah terpancing. Dia punya kencenderungan obsesif dengan apa yang sudah dia klaim menjadi miliknya. Niki berusaha untuk menjauhkan Moza dari kenyataan itu. Karena dia gak mau Moza terluka sama sifatnya yang satu itu. Walaupun terkadang hatinya masih tetap mengklaim Moza sebagai miliknya. "Niki aneh, deh!" Moza segera pergi dan berdiri ditengah halaman untuk sekedar berjemur. Matahari tidak terlalu terik, karena ada awan dan tidak mendung juga. Niki memperhatikan Moza yang tampak sederhana dan ceria. Darahnya berdesir, kemudian saat Niki membuka kemejanya dia menjemur pakaiannya tepat disamping sweater Moza. Moza memang tidak terlalu polos, karena mengenakan kaos pendek sebagai penghalang dari sesuatu yang membuat Niki penasaran didalam sana. Niki melangkah mendekat kearah Moza. Dia ingin berdiri disamping Moza dan sepertinya dia sedikit nekat saat memeluk Moza. Terkejut?! Jelas, Moza terkejut bukan main, kemudian mendorong sedikit tubuh Niki yang memeluknya dari belakang. "Niki gak sopan! Main peluk-peluk aja, mana gak pake baju lagi!" Niki terkekeh geli. Moza terlihat menggemaskan dimatanya. *** Hari sudah semakin sore dan tentunya hawa disekitar sudah semakin dingin. Moza yang memang sudah mengenakan pakainnya, menoleh pada Niki yang kini masih setia menunggu pakaiannya kering. Justru sekarang celana Niki agak basah karena sempat main di danau tadi. Udah diomelin sama Moza supaya gak main air, soalnya nanti celana Niki pasti basah. Tapi Niki gak memperdulikan ucapan Moza. "Niki, kenapa gak mau pake baju?" Tanya Moza dengan ekspresi galaknya. Moza bukannya terlihat galak, malah terlihat menggemaskan. Rambutnya sebahu, pipinya chubby, jangan lupakan matanya yang sedikit besar dan bersinar. Usia Moza memang sudah 18 tahun, tapi sebentar lagi dia akan menginjak usia 19 tahun. Berbeda dengan Niki yang sedikit lebih tua daripada Moza. "Tanggung, Nanti bajunya ikutan basah dan apek kalau pake sekarang." Moza berdecak, kemudian melangkah mendekat ke arah jemuran dan mengambil pakaian Niki. "Ini, pake gak?!" Niki mendengus sebal, selama ini dia tidak pernah merasa diatur. Hanya Moza yang sudah berhasil mengatur Niki. Dari kecil, lelaki itu sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Selain itu, Niki adalah seseorang yang mempunyai sifat bossy. Bossy, adalah sifat dimana seseorang merasa berkuasa dan memperintahkan orang semaunya. "Nah gitu, Moza ngeri lihat Niki gak pake baju. Mana perutnya kotak-kotak kaya spongebob, gak bundar aja gitu biar kaya doraemon?" Niko tertawa. "Kok ketawa? Moza serius niki!" Mata bulat dan berbinar itu menatap Niki dengan serius. Tapi tetap saja menggemaskan. Moza kalau lebih mancung lagi, mungkin akan mirip seperti boneka. "Sudah, jangan banyak bicara. Kamu udah siapin buat makan malam?" Moza menyengir, "Zuzu dari tadi gak kelihatan, kayanya malam ini Niki harus cari ikan deh. Moza tunggu disini mau sekalian nyalain obor." Niki mendengus sebal, namun setelah itu tetap menuruti apa yang menjadi ucapan Moza. Niki gak tau, kenapa dia merasa Moza bisa melakukan apapun yang dia kehendaki terhadap Niki. Saat lelaki itu sedang mencari ikan di danau, berharap ada yang bisa dia temukan untuk makan malam. Tiba-tiba seseorang datang dan memanggil nama, Niki. "Tuan Muda." Niki menengok kebelakang, ketika mendengar suara yang begitu familiar. Mata pria itu tampak berbinar, setelah sekian lama melakukan pencarian terhadap tuan mudanya itu. Akhirnya Niki ditemukan, setidaknya dia bisa bernafas lega. "Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Niki yang sama terkejutnya dengan pria dihadapannya ini. "Tuan Muda, maaf karena saya terlambat menemukan tuan muda. Namun percaya, saya sudah mengerahkan banyak detektif untuk mencari keberadaan Tuan Muda." Niki menatap pria itu dengan datar. Kemudian melangkah keluar dari danau. Tidak peduli malam ini, mungkin saja mereka tidak jadi makan ikan sesuai dengan apa yang Moza inginkan. "Tuan Muda, anda harus segera kembali. Karena pria rakus itu hendak mengambil alih hak Tuan Muda." Pria itu membungkuk hormat, namun sebelum itu dia menatap serius kearah Niki. "Dia yang sudah membuatku menjadi seperti ini, terlantar!" Niki menggeram marah. Pria itu terlihat menunduk, "Pasti lelaki itu yang mengatakan aku ada disini kan?" Pria itu mengangguk membenarkan dugaan, Niki. "Baik, sekarang biarkan aku berpikir dan bantu ulurkan waktu untuk rapat penting itu. Sampai aku benar-benar menyiapkan bom yang tepat untuk si tua bangka itu." Pria itu mengangguk patuh. "Ah, aku minta tolong. Bawakan aku banyak makanan dan juga pakaian gadis muda, Serta pakaianku." Pria itu mengangguk paham. Diam-diam, Moza melihat mereka berdua dari kejauhan. Matanya menyipit curiga. Baru kemarin mereka mendapati pria asing yang merupakan, Max. Sekarang mereka kembali bertemu dengan pria asing, lagi? Sepertinya Moza harus bertanya pada Niki setelah ini. ### Identitas Tuan Muda sudah terungkap pemirsa! Yuk TAP LOVE! gratis kok tinggal tap doang. Setelah itu komen eheheehehe... Instagram : @im_yourput
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD