Bab 8 : Max pergi

1076 Words
"Lepaskan tanganmu!" Moza tersentak, begitu juga Max yang refleks menjauhkan tangannya dari kepala Moza. Diliriknya Niki yang kini berdiri dengan mata menyipit tajam. Max menciut kemudian bergeser dan membiarkan Niki mengambil tempat diantara dirinya dan Moza. Moza berdecak sebal, "Niki kenapa bangun?" Tanya Moza. Niki melengos, "Gimana gak bangun kalau kamu gak ada." Max hendak mencibir karena Niki yang terlalu lebay. Mengingat Niki yang sedikit mabuk cinta, Max mengurungkan niatnya. Niki bahkan belum sempat membersihkan jejak-jejak kotoran di sekitar matanya. Hal itu membuat Moza bergidik ngeri. "Niki kotoran matanya belum dibersihin." Tegur Moza. Niki terkejut bukan main, sementara Max malah hendak tertawa namun mengurungkan niat, sehingga Max kembali diam. "Kamu kok bisa disini sama dia." Tunjuk Niki dengan tidak sopannya. "Niki gak sopan ya!" Peringat Moza. Max menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Udah za, gak apa-apa kok. Mungkin tangan Niki gatal pengen tunjuk orang." Niki berdecak, kemudian Moza menggeleng dan menjewer telinga Niki. Hal itu membuat Niki meringis dan Max tidak bisa menahan tawanya yang meledak karena tingkah mereka berdua. "Sakit!" Ringisnya kemudian menatap tajam Moza, Moza yang ditatap tajam malah melayangkan tatapan yang lebih tajam, namun terlihat menggemaskan. Niki malah tersenyum dan mengecup sebelah pipi Moza. Max menggeleng kecil melihat tingkah Niki, dia memang berpikir kalau Niki adalah orang yang terkenal di kotanya. Biarkanlah Max berpikir lebih jelas sebelum mengatakannya. "Niki gak sopan! Main kecup-kecup itu gak sopan! Apalagi pipi moza." Niki hanya terkekeh. "Kalian berdua asik sendiri, lupa kalau ada aku disini?" Moza segera menoleh dan tersenyum tipis pada Max. "Maaf ya, Niki memang tengil." Niki mendengus, kemudian membiarkan Moza kembali melayangkan jewerannya karena Niki yang sudah tidak sopan mengecup pipinya. "Kamu belum jawab pertanyaanku lho za, kok bisa ada disini?" Niki kembali bertanya dengan raut wajah datar. "Tadi tuh Moza tidur sambil jalan lagi, untung Max bangunin jadi gak lanjut jalan." Jawabnya dengan jujur. Niki menoleh kearah Max, "Bener apa yang dia bilang?" Tanya Niki penuh intimidasi. "I-iya, itu bener." "Udah Niki, jangan ngeliatin orang kaya gitu. Nanti matanya Moza colok mau?" Niki segera menggeleng dan cemberut. "Moza jangan jahat." "Niki kali yang jahat." Max tersenyum miris melihat keduanya yang tampak serasi. Apalah dia yang cuma nyamuk diantara mereka berdua. "Udahlah, Moza ngantuk!" Moza beranjak dari tempatnya. Max hendak ikut beranjak namun Niki menahannya karena ada sesuatu yang hendak Niki katakan pada Max. Moza sudah pergi dan kini hanya tinggal mereka berdua di tepi danau, di malam yang dingin. Max sama Niki belum ada mengucapkan satu kalimat karena fokus dengan pikiran masing-masing. "Kau suka dengan gadis itu?" Max berdehem sebentar sebelum akhirnya menggeleng. Niki berdecih, "Jangan membohongiku, aku tau karena kita sesama pria. Jadi ku tanyakan sekali lagi, kau suka dengannya?" Suara Niki terdengar dingin dan datar. Max meneguk ludahnya kasar kemudian dengan terpaksa dia menggeleng. "Bagus! Aku tidak ingin ada yang merebut apa yang sudah menjadi milikku." Max hanya diam. "Aku dan dia memang sudah ditakdirkan, jadi jangan pernah berpikir untuk merebutnya." Niki menoleh dan melayangkan tatapan tajamnya pada Max. Sebelum mereka berdua benar-benar beranjak dari sana, Niki memanggil Max. "Sebelum kau pergi, apa aku bisa meminta bantuanmu?" Max berdecih, kenapa Niki sangat tidak tau malu? Dia baru saja mengancam Max dan sekarang dia ingin meminta bantuan. "Aku tidak mau." "Baik, maka kupastikan keluargamu akan menderita." Max menatapnya remeh, "Memangnya kau siapa?" "Aku, pewaris kerajaan Ranggi." Max melebarkan matanya penuh keterkejutan sementara Niki menatapnya acuh dan segera pergi mendahului Max. Pria itu tampak ketakutan dan segera mengejar Niki dan menerima permintaannya. Dia benar-benar tidak tau kalau Niki adalah pewaris Ranggi corp. Ranggi Corp atau sesuatu yang bisa disebut sebagai kerajaan Ranggi. *** Keesokan paginya Moza sudah sibuk didepan tungku api yang menyala. Kemarin Zuzu memberikannya tiga buah jagung yang akan Moza bakar untuk sarapan mereka pagi ini. Zuzu terlalu baik karena memberikannya jagung untuk makan, setelah apa yang menimpanya kemarin. Niki pergi membersihkan diri ke danau, sementara Max duduk dan memandang bagaimana Moza bekerja. Dia merasa aneh, kenapa Moza bisa mendapatkan jagung. "Daripada duduk disana, mau nggak bantuin Moza?" Pintanya pada Max. Moza capek kalau niup-niup api, apalagi pipinya bisa bengkak. Pipi yang udah bengkak malah tambah bengkak nantinya. Max mengangguk kemudian mendekat dan membantu meniup tungku sementara Moza membalik-balikan jagung. "Darimana kamu mendapatkan jagung ini, Moza?" Tanya Max penasaran. "Dari kelinci yang hampir kamu jadikan sate, kemarin." Jawabnya acuh dan masih terlihat kesal jika Max mengungkit masalah kemarin. "Maaf." "Zuzu sangat baik, dia bahkan memberikanmu jatah. Padahal rumahnya hampir kau rusakkan. Jangan jahat kalau jadi orang, apalagi sama hewan lucu seperti Zuzu." Max tak menjawab. Dia hanya memperhatikan bagaimana Moza yang terlihat menggemaskan ketika serius menatap tungku dan jagung. "Jauhkan jarakmu Dengannya!" Seruan Niki membuat kedua manusia itu menoleh, Moza keheranan sementara Max segera mengambil langkah lebar. "Niki! Kenapa suka banget sih bikin orang kaget!" Niki terkekeh. "Salah sendiri, udah tau lucu kalau lagi kaget." "Gak lucu sama sekali!" Dengus Moza. Setelah mereka menikmati makan bertiga, Max tiba-tiba mengatakan kalau dia seharusnya pulang sekarang. Untuk itu dia pamitan sama Moza dan juga Niki. Moza terlihat sedih, bukan karena hendak ditinggal oleh Max. Tapi setelah Max pergi bukankah hanya ada Niki dan Moza. Max orangnya baik dan ramah, beda sama Niki yang dingin dan menyebalkan. "Max beneran mau pergi?" Tanya Moza dengan ekspresi sendu. Niki berdecak tidak suka, "Biarkan dia pergi, mungkin dia rindu sama keluarganya." Niki tidak suka jika Moza bersedih untuk pria lain. Max tersenyum kecil, "Benar apa yang dikatakan oleh tuan---" Moza mengernyit heran sementara Niki melayangkan tatapan tajamnya pada Max. "Maksudku, Apa yang dikatakan oleh Niki memang benar. Aku punya adik perempuan yang harus aku jaga. Terimakasih karena sudah mau menampungku disini." Moza menghela nafas, "Baik kalau memang itu alasan Max. Asal bukan karena Niki yang ngusir aja. Bilang sama Moza kalau Niki nakal dan ngusir Max pergi." Max tertawa kecil. Sementara Niki yang kena tuduh hanya mendengus sebal dan menarik pipi Moza, membuat gadis itu meringis dan memarahi Niki. "Niki nakal! Diem-diem kenapa sih!" "Tidak za, Niki tidak pernah mengusir. Aku emang ingin pulang karena rindu dengan keluarga. Terimakasih banyak sebelumnya." Moza mengangguk, sementara Niki berdehem tanpa ekspresi. Setelah itu Max beranjak dan pamit membawa senapannya. "Yah... Max pergi," ucap Moza dengan suara lirih. Niki menarik Moza dan memeluknya erat, "Tenang, ada aku disini." Moza berdecak namun membalas pelukan Niki yang terasa sangat nyaman. ### Niki itu tipe-tipe cowok bucin yang susah buat diajak selingkuh wkwkw Yuk intip keseruannya dengan menekan Love dan Juga komentarnya ya bun!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD