Bab 7 : Lepaskan tanganmu!

1055 Words
Karena rengekan Moza. Niki jadi harus menerima kehadiran Max ditengah-tengah mereka. Awalnya, Niki menentang dan tidak menyetujui ide dari Moza. Tapi, Siapa sangka ketika Moza justru merengek dengan wajah yang begitu menggemaskan. Katakan pada Niki, bagaimana cara dia menolak? "Terimakasih banyak, Moza." Niki melengos ketika mendengar ucapan itu dari Max. Memilih untuk masuk kedalam gubuk terlebih dahulu. "Sama-sama, Oh ya maafkan Niki. Dia emang sensitif dengan orang baru." Moza malah menghiraukan seolah-olah hal itu sudah sangat biasa baginya. Max bertanya-tanya, Jadi mereka sudah sedekat itu? Tapi, Max merasa wajah Niki terlihat begitu akrab. Apa Max sudah pernah bertemu dengan Niki sebelum ini? Sementara pada Moza? Max melirik kearah Moza yang saat ini menyiapkan beberapa peralatan yang bisa Max tebak, adalah peralatan untuk membuat tungku api. "Kamu mau masak?" Tanya Max. Moza mengangguk, "Sudah hampir petang. Jadi tidak enak rasanya kalau belum masak." Jawab Moza santai. Tak lama Niki keluar mengatakan pada Moza, "Udah siap tuh. Kamu langsung aja masak." Moza tersenyum. "Terimakasih banyak, Niki." Max bisa lihat, bagaimana wajah Niki yang memerah karena pujian Moza. Baru melihat saja, Max sudah bisa memastikan kalau Niki menyukai Moza "Hei, ikut aku mengambil Air ke danau." Max menuruti dan ikut dibelakang Niki. Menyusuri akses menuju danau yang disetiap jalannya, ditumbuhi rumput liar dan dekat semak berduri. "Jangan macam-macam, dan jangan pernah berharap untuk memilikinya." Max tampak terkejut mendengar hal itu dari Niki. Suaranya berubah berat dan dingin, berbeda ketika berhadapan dengan Moza. "Siapa maksudmu?" Max sengaja bertanya pada Niki, untuk memastikan dugaannya benar atau tidak. "Menurutmu?" "Moza?" Niki mengangguk sekilas mendengar jawaban Max. "Dengar, aku sangat serius dengan ucapanku." Ucap Niki dengan penuh penekanan disetiap kalimatnya. "Aku mengerti." Hanya itu percakapan mereka terakhir kali sebelum Niki dan Max kembali lagi menuju gubuk. Hari sudah semakin gelap ketika mereka sampai disana. Untung saja tepat waktu, karena Moza pasti khawatir dan meminya bantuan kepada burung pipit, menyusuri keberadaan mereka. "Apa yang akan kau masak?" Max tampak penasaran melihat Moza yang serius, dengan beberapa potong wortel dan kubis. Astaga, Tambah Ayam atau kelinci bukankah akan sangat enak? "Jauhkan pikiranmu dari segala macam hewan buruan, aku tau kamu pasti berpikir menambahkan ayam atau kelinci bukan?" Tebak Moza. Max terkekeh, "Bagaimana kau bisa menebak?" Moza mengendikan bahunya, "Hanya insting yang kuat, karena ikatanku dengan para hewan dihutan ini." Max memutar bolamatanya, memilih mengabaikan ucapan Moza. Tak lama, Max malah mendengar suara berat Niki yang sengaja berdehem untuk mengingatkan, Max. "Aku mau lihat tungkunya dulu." Moza bergegas, berbalik meninggalkan kedua pria yang sepertinya akan membahas dirinya. Gesekan dedaunan yang terdengar, tak urung membuat Niki melepaskan tatapan tajamnya dari Max. Pria itu tampak berusaha menghindar dan tidak menggubris. "Apa yang kamu inginkan?" "Tidak ada." Jawab Max santai. Dia tidak mau terlihat lemah didepan Niki, dan tidak akan membiarkan dirinya tertindas. Bukankah, Ego pria memang sangat besar? "Hey kalian berdua!" Moza memekik didalam sana. Memanggil kedua orang yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. "Bantu aku masak!" Niki menahan tangan Max, membiarkannya masuk terlebih dahulu. Max tidak masalah, dia tau bagaimana Niki bersikap posesif terhadap, Moza. Mereka melewati makan malam bersama. Max mengamati interaksi antara Niki dan juga Moza. Dia baru paham, bagaimana Niki begitu teramat, menyukai gadis dengan wajah baby face itu. "Jangan makan terlalu banyak, nanti kamu gemuk." Tukas Niki, hal itu membuat Moza menatapnya garang. Max menarik kedua sudut bibirnya. Gadis seperti Moza, adalah tipekal gadis periang, yang terlihat manja diluar namun aslinya, begitu mandiri. "Oh iya, Max jangan lupa makan banyak ya. Pasti kelelahan kan?" Niki menatap Max tajam. Max hanya tersenyum, membalas ucapan Moza. "Niki, kamu juga jangan makan sedikit. Badanmu kaya kanebo kering." Max menahan tawanya. ### Malam semakin larut. Moza dipekernankan untuk tidur diatas dipan. Membiarkan Niki dan Max tidur berdua dibawahnya. Max tidak bisa memejamkan matanya. Dia terkejut ketika Moza tiba-tiba bangkit dan berjalan keluar gubuk. Max berusaha mengejar, dia melirik sekilas kearah Niki yang sudah tidur. Dia tidak mau membiarkan Niki terbangun, dia akan mengejar Moza sendiri. Gadis itu terlihat berjalan lunglai, tangannya dibawa kedepan. "Moza." Max menegur Moza yang masih memejamkan matanya. Membuat Moza segera terbangun dan menoleh kepada Max. "Astaga, aku jalan tidur lagi rupanya." Suara serak Moza menyapa indera pendengarannya. Max menggeleng, "Ayo, kita kembali ke gubuk." Ajak Max. Moza tersenyum dan mengangguk. Namun, baru saja hendak masuk kedalam. Moza sudah menarik Max untuk kembali keluar. Seakan ada teman bicara, Moza justru terdengar bicara sendiri. "Benarkah?" "Apa?" Max bertanya pada Moza. Moza tersenyum, "Kata kunang-kunang, bulan purnama begitu terang bertabur bintang. Bagaimana kalau sekarang kita kedanau?" Max tampak berpikir mengenai ajakan Moza. "Kita ajak Niki juga?" Max melirik Niki yang masih tidur didalam sana. Moza segera menggeleng, "Biarkan dia istirahat, daritadi dia bekerja dan sepertinya kelelahan. Ini beru pertama kalinya aku melihat, Niki tidur sepulas itu." Max mengernyit. "Kalian terbiasa tidur berdua?" Tanya Max. Moza dengan santai mengangguk setelahnya Max tidak memberikan komentar. Moza mengajak Max untuk duduk berdua ditepi danau. Pantulan sinar bulan purnama terlihat begitu indah, kala taburan bintang ikut menemani si bulan. "Wah, Indahnya." Tukas Moza semangat. Max tersenyum, "Aku sudah biasa melihat pemandangan seperti ini, kalau bermalam dihutan." Moza tampak tertarik, "Benarkah?" Max mengangguk. "T-tapi, kenapa kamu berburu? Bukankah kasihan kalau hewan-hewannya habis karena diburu." Moza bertanya. Dia hanya tidak habis pikir, apa yang sebenarnya dipikirkan pemburu. Kalau mereka memburu banyak hewan, bukankah hewan hutan akan segera punah karena tingkahnya. "Kami kalau berburu juga lihat situasi dan kondisi kok, gak asal buru. Karena kami hanya memburu, hewan yang memang sudah sepatutnya diburu." Moza tampak bingung dengan penjelasan Max. "Maaf, Aku tidak mengerti Max." "Tidak apa-apa, intinya kami emang harus memburu apa yang sudah jadi ketentuannya." Tak ada percakapan lagi diantara mereka. Terlalu sibuk menatap keindahan alam malam. Bahkan, Max turut larut dalam keindahannya. "Moza, sudah berapa lama kamu dan Niki terjebak dihutan ini?" Tanya Max. Moza tampak berpikir, "Sudah lama juga sih, Aku sama Dia bertemu pertama kali tepat di pohon besar itu." Tunjuk Moza. Max tersenyum, "Andai, aku yang menemukanmu lebih dulu." Moza tampak mengernyit, "Maksud kamu apa?" Max segera menggeleng, "Tidak ada, kok hanya ucapan asal." Moza mengangguk paham. "Niki dan aku terluka, karena kelakuan keluarga sendiri." Tambah Moza. Hanya ingin memberitahu, tidak ada niatan lain. Max tersenyum, tangannya terulur untuk mengelus surai Moza. "Lepaskan tanganmu!" Mereka berdua serempak menoleh kearah Niki, yang kini menatap keduanya tajam. ### Instagram : @im_yourput
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD