Bab 6 : Lirikan Tajam, Niki

1041 Words
"HEY! JANGAN PERGI KESANA!" Teriakan Moza yang cempreng membuat Zuzu berhenti melompat, dan kini berbalik menatap Moza dengan pandangan bertanya-tanya. "Tidak lihat, disana kan ada danau." Zuzu menepuk pelan kepalanya. Dia baru sadar disana ada buaya yang siap memangsanya, kalau sampai Zuzu masuk kedalam sana. Bisa tamat riwayatnya. Tak lama Niki menyusul, membawa beberapa jamur sehat yang baru saja ia petik atas arahan burung pipit, Yang Moza suruh. "Jadi, bagaimana kita akan makan jamur ini?" Niki menenteng jamur tersebut, kearah wajahnya dan memperlihatkannya pada Moza. "Wah, banyak sekali. Dapet dimana ki?" Tanya Moza dengan wajah polos khasnya. Deg! Jantung Niki tiba-tiba memompa dengan cepat. Kenapa dia tiba-tiba merasa aneh dengan hatinya. Ditambah, senyuman Moza yang singkat, mampu membuat diirinya hampir terpecah. "Ekhem." Niki berdehem pelan. Dia saat ini salah tingkah, karena hatinya yang tak kunjung meredupkan api perasaan. "Niki?" Panggil Moza pelan, gadis itu bahkan sudah melompat-lompat lucu agar Niki berhenti melamun, dan menotice keberadaan dirinya. "Bagaimana?" Niki tersadar, lalu menarik tangan Moza untuk ikut kembali kedalam gubuk. Hari sudah semakin petang, mereka harus segera pulang sebelum hutan berkabut dan mereka tak dapat menemukan arah jalan pulang. Setelah sampai di gubuk, Zuzu dan Moza langsung menyiapkan kayu untuk merebus Jamur, Sebelum itu Moza menyuruh niki, mengambil Air didanau. Karena tidak ada yang mereka kerjakan selain menunggu tungku api siap. Zuzu malah menggunakan kesempatan tersebut untuk bertanya. "Moza, bagaimana pendapatmu tentang Niki?" Moza yang lagi ngeliatin tungku Api, udah bisa dipake atau belum. Menoleh kearah Zuzu dengan pandangan penuh tanda tanya. "Tumben, tanyain masalah ini?" Moza balik bertanya. "Sepertinya, laki-laki itu punya perasaan padamu." Moza mengernyit, dari raut wajahnya saja, Moza sudah keliatan seperti orang bingung. "Perasaan bagaimana?" "Bagaimana perasaan itu berpindah?" Tambah Moza kembali bertanya. Memang, Moza adalah definisi dari perempuan polos yang belum terlalu mengenal cinta. Zuzu berdecak, giginya yang besar bergantungan disertai getaran, "Dia suka sama kamu, Moza." Ucapnya tanpa basa-basi. Moza mengangguk paham, "Oh, jadi maksudmu. Dia suka padaku?" Zuzu mengangguk, Moza ikut mengangguk. "Biarkan saja, lagipula selama dia bisa melindungiku. Tidak apa-apa, By the way aku kan memang mempesona." Suara burung pipit membuat Moza kembali terfokus pada tungku api didepannya. Suara Burung pipit menandakan kedatangan, Niki. "Ini, Airnya sudah siap." Ucap niki, menenteng air berisi ember kecil dengan senyuman yang terpatri diwajahnya. Zuzu bergerak untuk berbisik, "Lihatlah, dia bahkan membawakannya dengan senyum mempesona." Moza segera menggeleng dan menyuruh Zuzu untuk kembali menjauh. Niki tampak penasaran, "Ada apa Moza, kenapa Zuzu mendekat kearahmu?" Tanya Niki. Moza segera menggeleng, "Tidak ada apa-apa. Sini letakkan ember itu disini." Titah Moza. Niki menurut, lalu membiarkan Moza mulai bekerja. Memang tidak ada bumbu yang bisa mereka gunakan selain garam. Tapi, Moza tidak sengaja menemukan sebuah rempah, Moza tidak tau persis bagaimana rempah itu disebut. Bentuknya berwarna putih, oval, dengan sebuah garis yang hendak membuka bagian dalamnya. "Darimana kamu dapatkan itu?" Tanya Niki penasaran, Moza tampak berpikir. Sepertinya dia lupa dimana terakhir kali dia menemukannya. "Lupa." Jawab Moza singkat. Niki terkekeh kecil, lalu menjauh dari Moza. Dia tidak ingin berlama-lama berada didekat gadis itu. Kalau tidak ingin, semakin jatuh pada pesona Moza. ### "Jadi, bagaimana?" Niki masih menanti jawaban Moza. Hari ini dia akan mengajak Moza untuk jalan-jalan disekitar hutan. Niat Niki sebenarnya adalah segera keluar dari hutan. Membawa Moza bersamanya dan hidup bersama dirumah mewahnya. Dia tidak bisa membiarkan Moza hidup dihutan selamanya bukan. Niki berharap, Jason berhasil menemukannya. Moza tampak berpikir, namun setelahnya mengangguk menyetujui. Tidak ada salahnya jalan-jalan disekitar hutan. Mereka berjalan bergandengan tangan. Senyum tampak merekah ketika Moza melihat sesuatu yang membuatnya senang. Hal itu membuat, Niki ikut tersenyum. Senyum Moza secerah sinar mentari. Bahkan ketika cahaya mentari mencoba menembus lebatnya hutan, menciptakan sebuah golden our, Moza tampak semakin mempesona. Niki berdehem, Ketika Moza berputar senang. "Niki, bukankah disini sejuk?" Ucap Moza. Niki segera mengangguk, "Kamu benar." Ucapnya sambil menatap Moza. Moza berhenti berputar, begitu menatap Niki yang seakan ingin memangsanya hidup-hidup. "Niki, berhentilah seperti itu." Rengek Moza. Niki tampak acuh, "Aku harus bagaimana?" Ucapnya pada Moza. Gadis itu malah mengendikan bahunya. "Tatapanmu seakan ingin menelanjangi ku." Gumam Moza yang tak sengaja didengar oleh Niki. Niki malah terkekeh. Bukankah, Niki juga mengharapkan hal yang digumamkan, Moza. Hanya menanti waktu yang tepat untuknya bisa memiliki Moza. Gadis itu harus benar-benar nyaman dengannya. Niki menyamakan langkahnya dengan Moza, lalu menggenggam tangan gadia itu dengan erat. Membuat sang empu, justru bertanya-tanya. "Kenapa ki?" Tanya Moza. Niki menggeleng pelan, "Tidak ada, aku hanya takut kamu lepas dari genggamanku." Moza tampak santai membalas ucapan Niki, yang memang serius dari dalam hatinya. Ketika mereka terus berjalan, tanpa sengaja mereka malah bertemu dengan si pemburu yang kemarin. "Niki, bukannya itu pemburu itu?!" Pekik Moza dengan ekspresi terkejutnya. Niki memicingkan matanya tajam. Moza malah menarik tangan Niki untuk mendekat kearah pemburu tersebut. Membuat Niki merasa kesal setengah mati. "HEI!" Moza memekik ketika Si pemburu yang membuatnya kesal tempo hari. Malah kembali kedalam hutan ini, wara-wiri mencari mangsa. Si pemburu tampak terkejut melihat kedua insan yang seharusnya ia hindari. Malah berdiri dihadapannya sekarang. Max tau, seharusnya dia menepati ucapannya ketika Niki mengancamnya tempo hari. Tapi, bagaimana Max bisa berhenti kalau dia saja sudah hobi dalam berburu. Lagipula, dia masih mencari sesuatu yang hilang, yang ada dalam hutan ini. Namun, sukar untuk ditemukan. "Kamu mau berburu apa lagi, Tidak cukup dengan Zuzu kemarin?" Tanya Moza dengan ekspresi wajah garang. Hal itu malah membuat, Max merasa gemas. Namun, tatapan Niki seakan ingin melucutinya saat ini Juga. Membuat, Max berhenti tersenyum dan memasang wajah datar. "Ini sudah hobiku, Nona." Balas Max, tanpa menoleh kearah Niki yang sudah memberikan peringatan. "Hobi kok mebunuh hewan." Sindir Moza. Dia tidak mau sahabat-sahabatnya seperti burung pipit dan juga Zuzu, menjadi korban dari si pemburu. "Tenang saja nona, saya sudah ada pegangan apa yang akan saya buru. Saya tidak akan menburu kelinci yang menjadi sahabatmu itu lagi." Tukas Max. Moza mengangguk, "Bagus, memang harus seperti itu." "Ah iya, kenalkan namaku Moza." Max tampak menatap kesebelah Moza. Dimana Niki sudah semakin menajamkan pandangannya pada Max. "Bagaimana Max?" Merasa dianggurkan, Moza kembali menegur. Moza mengikuti arah pandangan Max, "Oh, mau kenalan sama Niki duluan ya?" Max hanya bisa tersenyum, mendengar ucapan polos Moza. Dimana seharusnya, Moza mengerti maksud tatapan Niki, padanya. ### Instagram :@im_yourput
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD