Bab 5 : Si pemburu

1036 Words
Niki menatap seorang pria yang sepertinya lebih dewasa daripada dirinya. Pria itu saat ini tengah memgang kedua telinga Zuzu. Disamping Niki, Moza sudah merengek meminta Zuzu untuk dilepaskan. "Kalian, Apa yang kalian lakukan disini?" Si pemburu itu bertanya, tangannya masih memegang dengan erat, kedua telinga kelinci itu. "Lepaskan kelinci itu." Pinta Niki. Si pemburu malah tertawa pelan, "Aku sudah memburunya, kenapa? Kamu mau mengambilnya dariku?" Ujarnnya. Niki menggeleng, tatapannya menajam setajam sebuah bilah pisau yang diasah. Dia merebut dengan cepat telinga yang ada digenggaman si pemburu, lalu diberikannya pada Moza yang siap memeluk, Zuzu. "Dasar pemburu jahat! Kenapa kamu memangsa Zuzu. Dia itu kelinci kurus yang gak punya daging. Karena kalau punya pun, aku pasti sudah lebih dulu memakannya." Tukas Moza panjang lebar dengan suara cempreng khasnya. Zuzu yang mendengar semua itu langsung menjerit dan pingsan dipelukan Moza. Hal itu, membuat Moza berhasil terkekeh. Rupanya, Kekehan Moza membawa dampak aneh kepada si pemburu itu. Pemburu yang sekarang menatap lekat-lekat kearah, Euna. Niki sadar akan hal itu, dia segera membawa Moza kedalam dekapannya. "Apa maumu?" Niki berujar posesif. Si pemburu malah tergelak begitu keras. "Maaf, apa aku terlalu nampak menatap gadis cantik itu?" Mendengar ucapan si pemburu, Moza menggerling marah. "Tidak, sebaiknya kamu pergi darisini." Tukas Niki dingin. Dia tidak suka ketika tatapan pemburu itu seakan ingin mengambil Moza darinya. Dia tidak akan pernah membiarkannya. "Moza, ayo kita pulang." Ajak Niki. Si pemburu tersenyum, "Oh Namanya moza ternyata. Kenalkan, Aku Max si pemburu liar yang tampan." Max, si pemburu mengulurkan tangan dan hendak dijabat oleh Moza sebelum Niki menarik tangan Moza dan menggeleng kearah Moza. "Pergilah, kami tidak membutuhkanmu disini." Niki berusaha mengusir max yang tampak tidak menggubris. "Aku akan tetap disini sampai esok, jadi katakan. Dimana aku bisa tinggal bersama kalian." Ucapan Max sukses membuat Niki menggeram marah. "Pergi! Aku bilang pergi!" Niki mendorong tubuh Max hingga pria itu hampir tersungkur. Untunglah Max berhasil bertahan dan berpegangan kepada batang pohon yang besar. "Moza, kembalilah lebih dulu. Nanti aku akan menyusul." Moza tampak ketakutan melihat Max yang terus menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. "I-iya." Ujarnya Gugup, lalu membawa si kelinci Zuzu pergi darisana. Membiarkan Niki dan Max berdua didalam hutan yang lebat. "Jangan pernah mengganggu, apa yang sudah menjadi milikku." Niki berujar dingin. Hal itu malah membuat, Max semakin tertarik. "Maksudmu? Aku harus segera meerebutnya begitu." BUGH! Niki menonjok wajah Max hingga kedua sudut bibirnya berdarah. Jangan lupakan darah segar yang merembes melalui rongga hidungnya. "Aku sudah katakan padamu bukan?" Seru niki, dengan suara yang syarat akan ancaman. "B-baik, aku tidak akan menganggunya." Ucap Max. Melihat Niki yang seperti orang berbeda ketika mereka pertama kali bertemu. Membuat Max tidak akan mencari masalah dengan pria itu. Toh juga, masih banyak perempuan lain diluar sana. "Bagus, sekarang pergilah. Jangan pernah memunculkan dirimu dihadapan kami lagi." Niki menarik kedua sudut bibirnya dengan tatapan tajam mengarah si pria bernama Max. Sungguh, pemandangan yang begitu menyeramkan dan Max berharap dia tidak melihat bagaimana wajah, yang berbalut ketampanan namun berhati iblis itu, menatap penuh ancaman terhadapnya. "B-baik." Max bangkit dengan sempoyongan. Memegang wajah yang terasa begitu sakit saat ini. Niki segera berbalik, untuk menyusul moza. Dia tidak ingin meninggalkan wanita itu sendiri dalam waktu yang lama. Max menggeleng pelan, "Sungguh malang nasib gadis tadi." ### Niki menatap Moza yang saat ini tampak menoel lucu, kelinci yang sempat pingsan karena ucapannya. Niki tersenyum, melihat Moza yang tampak bahagia saat ini. Hatinya menghangat, dan dia tidak pernah memiliki perasaan aneh seperti ini. Dia tidak mudah untuk mengasihi seseorang, Tapi nampaknya hal itu berbeda untuk Moza. "Bagaimana keadaannya?" Niki basa-basi bertanya. Moza menoleh dengan senyum khasnya yang terlihat seperti sinar mentari yang indah. Membuat jantung niki berdegup kencang ketika, manik mata mereka tanpa sengaja bertemu. "Baik-baik saja." Ucap Moza. "Tau gak, Tadi dia mendengar semua ucapanku. Hal itu yang membuatnya pingsan sampai sekarang." Moza terkik geli dengan wajah usil. Membuat, Niki tanpa sadar ikut tersenyum dengan hati menghangat. "Bagimana, dengan pemburu jahat itu?" Kini, giliran moza bertanya pada Niki. Lelaki itu mengangguk pelan, "Aku berhasil mengusir dan mengancamnya. Jika berani memburu disekitae sini lagi, aku gak akan memaafkannya." Ucapan Niki malah membuat Moza tersenyum bangga. "Aiyaa, Inilah Niki Ranggi yang katanya diluar sana itu terkenal." Niki mengernyit. "Tau darimana kamu?" Moza menggeleng pelan. "Bukannya kamu yang memberitahuku dengan tingkat kenarsisan yang luar biasa." Sindir Moza. Membawanya mengingat kejadian sebelumnya. Dimana pertama kali mereka bertemu, Niki cukup narsis mengatakan siapa sebenarnya dirinya. "Hahaha, Kau benar." Niki tertawa. Moza hanya berdecak dan kembali membawa kelinci itu diatas dipan yang dimana, tempat mereka sering tidur bersama. "Jadi, menurutmu bagaimana kalau kita potong saja bagian tubuh kelinci itu. Lalu kita panggang, hmm sepertinya akan sangat enak." Moza terkejut mendengarnya, Lalu menatap tajam kearah Niki. Seketika Zuzu langsung bangun dan menjauh dari kedua manusia yang hendak menjadikannya kelinci panggang. Niki tersenyum penuh kemenangan, sementara Moza terkejut bukan main, "Astaga, kau sudah bangun rupanya. Zuzu, maaf ya tadi aku hanya bercanda." Ucap Moza penuh penyesalan. "Tidak apa-apa." Zuzu kembali mendekat ketika Moza merentangkan tangannya. Niki mengelus kepala Zuzu yang lembut oleh bulu-bulu halus berwarna abu. "Tenang saja, aku tidak akan menjadikanmu kelinci panggang. Mana mungkin, kelinci lucu yang suka membantu seperti ini aku anggurin." Niki Terkekeh. "Itu benar, jangan terlalu bawa perasaaan." Ucap Niki, entah Zuzu bisa mendengar apa tidak, tapi sepertinya dia bisa mendengar, terbukti ketika Zuzu bangun karena ucapannta yang lumayan sadis. "Oh ya, katakan padaku bagaimana pemburu itu berhasil menemukan tempat tinggalmu?" Moza bertanya. Kelinci itu berdiri agak jauh dari moza dan mulai menjelaskan dengan detail dengan, aksinya yang memerankan kejadian. Tujuannya, Agar Niki juga bisa mengetahui rentetan kejadiannya secara detail. "Baik-baik, Aku paham. Lebih baik kamu tinggal saja disini untuk sementara waktu." Ucapan Moza membuat Niki menoleh tak setuju. "Kenapa? Baguskan, lagipula Zuzu mungkin tidur dibawah dipan. Bukan diatas, karena sudah sempit untuk kita berdua." Ujar gadis itu, menatap penuh permohonan kearah Niki. Niki mendengus, lalu mengiyakan. Lagipula dia tidak akan menghalangi Niki untuk memeluk Moza bukan. "Baik, Sekarang kita pergi cari makanan saja, bagaimana?" Tanya Moza pada kedua makhluk hidup didepannya ini. "Boleh." Zuzu mengangguk setuju. Mereka menghabiskan waktu bertiga, menikmati keseharian mereka seperti biasanya. Niki berharap, hal ini tidak akan cepat hilang dari dirinya. ### Instagram : @im_yourput ###
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD