Bab 4 : Zuzu, kemana?

1049 Words
"Aiya! Kenapa ikan-ikan disini susah sekali didapatkan?" Moza berdecak sebal ketika dari pagi sampai hari menjelang sore. Tanda-tanda ikan yang akan menangkap umpannya, tak kunjung datang? Moza mendengus, lalu menghentak-hentakan kakinya lucu. Hal itu membuat Niki, yang sedari tadi bersandar pada pohon rimbun, menggeleng lalu terkekeh. "Kenapa?" Tanya Niki. "Ikan disini pada sombong-sombong, dikasi makan kok gak mau?" Pekiknya kesal. Niki mendecih, "Coba panggil ikan-ikan itu. Kan kamu bisa berbicara pada hewan?" Moza menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Bagaimana aku akan memanggilnya, kalau kita saja akan memakan mereka. Ya jelas, mereka gak akan mau datang kesini." Balas Moza dengan tatapan tajamnya. "Baiklah, maafkan aku." Niki menunduk hormat. Setelah 2 minggu lamanya mereka terperangkap didalam hutan lebat ini. Niki jadi mengetahui bagaimana sifat dan watak asli seorang Moza. Gadis menggemaskan yang berhasil menarik perhatiannya. Awalnya, Niki tidak percaya dengan kemampuan gadis itu, dan mengatakan kalau Moza hanya mengarang saja. Padahal, kenyataannya memang benar. Saat itu hujan deras, Moza bisa memanggil kelinci untuk menurut dan ikut memeluk mereka, mereda kedinginan yang menyambar. "Jadi, bagaimana kalau kita makan ubi saja untuk malam ini?" Tawar Niki. Kalau dipikir-pikir, dia cukup lelah menanti Moza selesai dari kegiatannya saat ini. "Baiklah, aku menyerah!" Tukasnya kesal. Diletakkannya kail buatan beserta jaringnya. Niki terkekeh pelan, lesung pipinya jelas tercetak. Niki kemudian menarik tangan Moza untuk ikut dengannya masuk kedalam hutan kembali. Langit sudah hampir gelap, mereka berdua segera kembali kedalam gubuk. Moza mempersiapkan segala macam t***k bengek untuk menyalakan api. Ditemani Niki yang juga ikut membantu. Tak lama, kelinci yang mereka beri nama Zuzu datang. "Apa yang kamu lakukan disini, ada apa?" Moza bertanya pada zuzu. "Aku membawakan mu wortel, bagaimana?" Kelinci tersebut menyodorkan sebuah wortel pada mereka. Moza tersenyum, menerima wortel tersebut dari si kelinci. "Terimakasih." Ujar Moza pada kelinci itu. Mereka selesai makan malam, ketika Niki tidur lebih awal membelakangi moza. Gadia itu tampak merapikan bekas membakas ubi tadi, agar tidak berantakan. Sementara Niki sudah lebih dulu masuk kealam mimpi. Meninggalkan, Moza yang kini cemberut karena ulah Niki. "Dasar pria tidak bertanggung jawab, seharusnya dia kan membantuku. Dia malah tertidur dengan enaknya." Gerutu moza. Malam ini memang melelahkan. Seharusnya, dari awal dia mendengarkan nasehat Niki untuk tidak menangkap ikan, mengingat ikan mungkin kabur karena mengetahui niat moza. "Tapi, aku benar-benar ingin makan ikan." Moza mengusap perutnya. Rasanya seperti orang ngidam, tapi mustahil bagi Moza jika hal itu sampai terjadi. Moza menatap langit-langit gubuk yang dipenuhi oleh padi-padi kering. Moza mengernyit, Kenapa bisa ada padi ditengah hutan seperti ini? Rasanya bahkan sangat tidak mungkin. Namun, Setelahnya Moza mengendikan bahu tak mau peduli. "Niki." Panggil Moza pelan. "Hm." Niki hanya menjawab dengan gumaman tak jelas. Yang bisa Moza tangkap, kalau pria itu sudah terkapar lemas kealam mimpi. Moza menutup kedua telinganya ketika hewan malam seperti nyamuk, berdengung begitu kencang ditelinganya. Berdengung dan menggerutu. "Aish! Kenapa sih, kalian selalu saja ribut seperti ini?" Kesal Moza. Dengungan itu terdengar begitu keras. Kalau hanya dengungan saja, Moza bisa memaklumi. Tapi, Moza kan bisa mendengar dengan sangat jelas apa yang tengah diucapkan nyamuk-nyamuk nakal. "Pilihlah, kamu mau menghisap darah yang mana? Yang perempuan apa yang laki-laki." Moza bisa mendengar ketika salah satu nyamuk berdengung, bertanya hendak menghisap darah siapa? "Hey!" Ucap Moza setengah berbisik. Nyamuk tersebut malah semakin mendekat kearah Moza. "Yang perempuan terlihat gemuk, aku sepertinya akan menghisap yang gemuk." "Sialan!" Tukas Moza, tak terima dia dikatain gemuk gitu, apalagi sama makhluk kecil penghisap darah. "Pergi kalian!" Ucapan yang masih setengah berbisik itu, Moza katakan dengan jelas pada kedua nyamuk tersebut. "Hey, ada apa dengan perempuan ini?" "Dia mencoba mengusir kita?" "Dia bisa mendengar kita." Moza berdecak sebal, "Aku bisa mendengar kalian, Bodoh!" "Santai my bro, kita cuma mau nyari makanan. Lapar dari kemarin cuma makan darah hewan." Moza segera menggeleng, "Aku nanti mati!" Ucapnya, kali ini terdengar agak keras. "Tidak akan, dasar gadis bodoh!" "Kau yang bodoh!" "Kau!" "Dasar nyamuk sialan!" Pekik Moza. Hal itu rupanya membuat tidur Niki terganggu, karena hal itu pula Niki nekat membawa Moza kedalam pelukannya. "Nik--" belum sempat Moza memprotes Niki semakin membawa Moza hanyut dalam buaian kehangatan. "Lihatlah! Mereka berdua tampak serasi. Kenapa mereka tidak menikmati saja malam ini dengan perasaan sadar dan saling mencintai." Moza berdecih mendengar ucapan kedua nyamuk tersebut. ### Nikishimura Ranggi, Seorang laki-laki dari keluarga Ranggi. Si pewaris tahta, itulah julukan Niki yang disetujui oleh semua orang. Ranggi, Corp adalah sebuah perusahaan ternama yang bergerak dibidang industri teknologi. Ayah Niki, Ethan Ranggi, baru-baru ini menghembuskan nafas terakhirnya lantaran penyakit. Setahun sebelumnya, sang ibu, meninggalkannya karena tragedi kecelakaan. Semua bagaikan mimpi buruk yang akan sangat susah Niki lupakan sepanjang hidupnya. Niki bahkan kerap bermimpi buruk tentang itu. Disetiap malam, Niki selalu terbayang bagaimana kedua orangtuanya meninggal. Baru kali ini, Dia bisa terbebas dari semua mimpi buruk yang berusaha menyerangnya. Hal itu karena Moza yang berada dalam pelukannya. Niki tersenyum, menatap Moza yang saat ini masih terlelap dengan damai. Gadis itu sangat naif dan polos. Bagaimana Niki bisa melepaskan gadis semanis Moza? "Moza." Panggil Niki pelan. Moza menggeliat tak nyaman, Ketika tangan Niki menyentuh wajah Moza yang kecil. "Moza, ini sudah pagi. Bangunlah!" Sergah niki. Moza menguap lebar sembari menutup mulutnya yang mungkin bau karena tidak pernah sikat gigi. "Kenapa?" Moza bertanya-tanya sembari menggaruk lehernya. Bertanya pada Niki, yang saat ini tidak berkedip melihat dirinya. "Niki, kenapa kau melamun?" Niki menggeleng, karena tersadar. Wajah Moza yang menggemaskan ketika baru bangun tidur, membuat Niki merasa ada hawa panas dan aneh. "Tidak ada." Moza bangkit dari tempat mereka. Mencari keberadaan kelinci yang biasanya membawakan mereka kubis untuk sarapan. Moza tiba-tiba bersiul, ketika merasa Zuzu tidak datang-datang. Dia akan mencoba bertanya pada burung pipit, kenapa si tuan kelinci belum datang juga. Niki mendekat kearah Moza, menyentuh bahunya dan bertanya, kenapa Moza tiba-tiba bersiul. "Apa daritadi, Zuzu belum datang juga?" Moza bertanya khawatir. Hal itu segera mendapat anggukan oleh Niki. Sedaritadi memang tidak ada tanda-tanda adanya Zuzu. Biasanya, Zuzu selalu datang pagi. "Kenapa?" Niki bertanya penasaran. Tak lama, Burung pipit datang mengabarkan sesuatu yang membuat, Moza kembali dilanda panik. "Rumah Zuzu, Sudah terinjak dan tidak ada pintu masuk untuk kesana?" Ujar Si burung pipit. "Astaga! Benarkah?" "Niki, bagaimana ini?" Tanya Moza khawatir, Melihat raut wajah khawatir itu, Niki segera menarik tangan Moza untuk keluar dari gubuk. ### Instagram : @im_yourput ###
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD