15 Tetangga Sebelah

2101 Words
Dua malam July menghabiskan waktu di kamar hotel seorang diri tanpa melakukan apa pun. Pikiran terasa kosong begitu juga hatinya yang hampa. Semua terjadi seperti mimipi. Jika bukan karena peringatan schedule di ponsel,  kesadaran July pasti masih tersesat dalam pekatnya jurang keterpurukan. Seberat apa pun hari yang dihadapinya kemarin, ia tetap harus kembali ke kehidupan normal. Tapi siapa yang menyangka kenyataan itu malah mendorong July jatuh semakin dalam. Ketika July kembali ke unit apartemennya, ia mendapat tengga baru tidak terduga. Unit di sebelah July tinggal, Audie beserta keluarga pindah rumah dan tinggal di sana mengisi apartemen kosong itu. Betapa luar biasa kagetnya July bertemu wajah familiar yang ia ketahui seharusnya berada di luar negeri, muncul keluar dari samping tempat ia tinggal. Bukan hanya July yang terkejut, tapi Audie juga sama kagetnya melihat July yang seharusnya dari yang ia ketahui tengah menghabiskan waktu berbulan madu. Lantas mengapa wajah July bisa muncul di tempat itu, pada waktu yang sama. “Aunty! Mengapa Aunty ada di sini?” July terpaku di depan pintu apartemennya. Secara bersamaan Audie juga mengajukan pertanyaan. “July! Kenapa kau sudah kembali secepat ini?” Suara July meninggi karena dorongan rasa panik menguasainya. “Aku bertanya lebih dulu! Aunty sedang apa di sini? Kenapa keluar dari dalam apartemen itu?” “Oh! Ini,” Audie terbata, sudah menduga keponakannya akan marah karena ia pindah rumah tanpa pemberitahuan lebih dulu. Audie sama sekali tidak mengatakan apa-apa pada July tentang kepindahannya. “Mommy bilang dia ingin membuat suprise untukmu.” Terang Pansy yang muncul dari dalam, merasa tertarik dengan suara percakapan di luar namun kemudian kembali menghilang. “Mulai sekarang Aunty akan bersamamu July...” Sebuah pelukan hangat Audie membuat July sedikit canggung, karena pertemuan ini sama sekali tidak terbayangkan. Juga perubahan situasi yang membuat July panik berkat suatu alasan/. “Maksud Aunty, kalian tinggal di apartemen sebelahku begitu?” July masih belum bisa menerima perubahan arah cerita ini sepenuhnya. “Benar sekali July sayang... Sekarang kamu sudah menikah dan tak lama lagi akan menyusul momongan. Karena itu Aunty pindah rumah agar lebih dekat untuk menjaga dan membantumu.” “A-apa?” Wajah July berubah pucat. Benar, yang keluarga besarnya ketahui bahwa July sudah berubah status sebagai wanita menikah. Dan keluarganya tidak tahu apa pun tentang yang sebenarnya terjadi. July teringat rasanya ia memang mendapat serupa pesan peringatan dari Pansy tentang hal ini. Juga bila diingat lagi lebih jauh ke belakang. Ingatan saat acara pernikahannya berlangsung. Perilaku Audie sedikit aneh dengan banyak pertanyaan yang Audie tujukan pada kedua pasangan pengantin baru itu, sudah layaknya sesi wawancara. Pembicaraan tentang tinggal di mana Argus dan July setelah menikah, apa rencana pasangan pengantin baru itu selanjutnya. Apakah July akan meneruskan bekerja setelah menikah dan sebagainya... Tapi July melupakan itu semua. Jadi inikah rencana Audie dengan semua pertanyaannya saat itu. “Tunggu dulu.” Audie mencari keberadaan seseorang yang hilang di sana. Satu sosok yang seharusnya bersama dengan July sekarang. “July, kenapa kamu di sini? Bagaimana dengan bulan madunya? Kalian bertengkar?” Kesimpulan itu yang bisa Audie tarik dari kehadiran July seorang. Ia juga pernah muda dan pernah melalui masa pengantin baru yang mana tidak selalu berjalan harmonis. Saat bulan madu juga banyak pasangan pengantin yang bertengkar. “Eh?” Pertanyaan Audie menyadarkan July bahwa pengantin pria yang bersamanya mengucap janji setia di altar adalah palsu, hanya menjalankan tugas sebagai peran pengganti. “Kenapa? Sesuatu terjadi?” Tanya Audie dengan wajah cemas. “T-tidak, bukan apa-apa. Tidak ada yang terjadi Aunty, semua baik-baik saja!” Setelah ini semua yang terucap dari bibir July adalah sangkalan yang bercampur kebohongan. Bagai bola salju bergulir jatuh semakin membesar. “Sungguh?” “Iya, benar!” July memaksakan senyuman, namun terlihat natural. Ya, itu adalah teknik ekspresi keramahan wajah profesional July yang telah ia kuasai dari pengalamannya berkerja bertemu klien bisnis. “Jadi, di mana Argus?” Sayangnya interogasi Audie belum berakhir. “Eh? O-oh! Dia...” July memaksa kerja otaknya berpikir maksimal, mencari alasan logis yang mudah diterima. “Dia, tiba-tiba terjadi masalah di perusahaan sehingga Argus terpaksa kembali bekerja untuk menyelesaikan masalah di perusahaan. Ya, kami memutuskan kembali dan mengganti jadwal honeymoon di waktu lain.” “Perusahaan apa yang mengganggu waktu bulan madu karyawan seperti itu! Benar-benar keterlaluan!” “Tapi-tapi Aunty, bagaimana dengan rumah di sana?” Buru-buru July mengalihkan perhatian dengan kembali ke topik sebelumnya. “Maksudmu rumah di sana? Aunty biarkan kosong. Tidak apa, Aunty sudah titipkan pada seseorang.” Apa pindah tempat tinggal selalu terdengar semudah itu. Bagaimana dengan urusan lain, administrasi, barang-barang, lingkungan baru. “L-lalu pekerjaan Paman?” “Oh, Pamanmu mengajukan pensiun dini. Sekarang kami hanya perlu mencemaskan Pansy melanjutkan pendidikan akhirnya, tapi tampaknya ia masih belum menemukan keinginan melakukan apa dan melanjutkan sekolah di mana. Malah Aunty curiga dia sudah menyerah pada dunia pendidikan.” “Mommm’s! Aku bisa mendengar dari dalam...” Eluh Pansy. “Ah! Kenapa kita jadi bicara di luar seperti ini.” Audie tersadar keasikan ngobrol bersama July. “Aunty sedang membuat makan malam. Kamu dan Argus nanti datang dan makan malam saja bersama kami, ya!” Setelah satu dan lainnya, masalah terus berbalik kembali pada July. “Oh! Ng... Aunty! Argus tidak akan pulang malam ini, atau mungkin beberapa hari kedepan.” “Apa?” Audie memicingkan mata curiga, penuh selidik membaca ekspresi wajah July keponakannya. “Sungguh kalian tidak bertengkar?” “Sungguh! Karena harus menyelesaikan masalah di cabang perusahaan yang berada di luar kota, Argus membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali. Akan terlalu lelah baginya menempuh perjalanan pulang-pergi, jadi aku katakan padanya jangan memaksakan diri pulang. Begitu.” Mungkinkah karena terlampau banyak kebohongan hingga rasanya July semakin mahir dan terlarih secara natural. “Kamu benar July, lebih baik ia berhati-hati jangan terburu-buru pulang. Setelah acara pernikahaan kalian pasti Argus juga masih merasa lelah.” “Iya Aunty, itu yang aku maksudkan.” “Kalau begitu, nanti malam kamu tetap datang dan makan malam bersama kami. Mengerti?” Ajak Audie masih belum menyerah. “Eh, a-aku... Aku harus melakukan hal lain Aunty. Setelah acara pernikahan kemarin masih banyak pekerjaan tersisa yang harus diselesaikan. Seperti bertemu dengan WO, butik, dan jasa lainnya untuk malasah perincian pembayaran.” Ini hanya alasan July untuk menghindar. “Bukan itu bisa kamu lakukan nanti?” Ekspresi wajah Audie mulai berubah tidak senang, sejak tadi yang ia dengar dari July penolakan dan begitu banyak alasan. “K-karena aku pikir tidak ada yang kulakukan sendiri di rumah jadi aku memajukan rencana pertemuan kami. Aku tidak bisa meminta mereka untuk merubah waktu pertemuan lagi dan membatalkannya. Maaf Aunty...” Audie membuang napas berat. “Apa boleh buat...” Lalu masuk ke dalam apartemennya. Akhirnya July berhasil lolos setelah argumen panjang. Sebenarnya hal yang akan July lakukan hingga menolak undangan makan malam Audie adalah karena ia harus segera mencari sang mempelai pria penggantinya. Tapi tunggu, di mana July harus mencari pria itu sementara yang ia ketahui hanya nama. Haruskah July bertanya pada Argus, jika July melakukan itu Argus akan kembali mengganggu setelah susah payah July mengusirnya pergi. Tidak ada waktu bagi July untuk ragu, saat ini yang terpenting adalah menemukan pria yang menjadi pengantin penggantinya 2 hari lalu. “Halo, J-July?” Sapa Argus di seberang sambungan telepon. “Ada yang ingin kutanyakan padamu.” Ucap July tanpa membalas sapaan Argus. “July! Kamu memaafkanku? Kamu menghubungiku lebih dulu. Apakah ini tandanya kamu sudah memaafkanku?” Tumpang tindih suara July dan Argus bersamaan di telepon. “Kau tidak mendengar yang aku katakan!” “Eh? Ya?” Suara hardikan July membuat Argus fokus dan kegembiraannya hilang. July hampir menggila, tak percaya dirinya akan mencari Argus untuk bertanya pria asing yang dibayar untuk mengkhianatinya. “Pria itu, pria yang menjadi penggantimu! Apa nama perusahaannya?” “J-July... Kenapa kamu mencarinya?” Perasaan Argus tidak senang tentang hal ini. Argus memancing kesabaran July. “Tidak ada waktu menjelaskan. Cepat katakan!” Tapi Argus sangat penasaran alasan July sampai menghubungi tapi yang ia cari pria lain. “Tidak! Jelaskan dulu padaku!” “Sial! Argus, sudah kukatakan padamu. Aku tidak punya waktu!” Bila sudah keluar kata u*****n berarti July serius marah dan Argus sangat tahu bagaimana temperamental July. Sesaat Argus ragu untuk menjawab, tapi mengabaikan July hanya akan memperburuk keadaan dan merugikannya. “Happiness Life. Ada apa―” July menutup sambungan telepon sebelum pertanyaan Argus selesai. Nama perusahaan itu langsung July ketik di perangkat pencarian alamat.  Ia segera bertolak mencari N. Rencana selanjutnya belum terpikir, untuk saat ini July harus bertemu dengan pria itu dulu. *** Seorang yang bisa menjelaskan keberadaan N saati ini adalah pemilik alias bos N sendiri. Setelah sebelumnya pegawai menyambut kedatangan July di perusahaan. July bertanya dan meminta bertemu dengan N tapi pegawai mengatakan N tidak masuk bekerja hari ini. Akhirnya July diarahkan bertemu dengan pemimpin perusahaan. “Anda mencari N, nona July? Apa ada kesalahan yang karyawan saya lakukan?” Bos terlihat cemas, biasanya kasus klien sampai datang ke perusahaan pasti karena keluhan atau terjadi masalah serius. Tapi selama ini belum terjadi keluhan masuk dari klien yang menggunakan jasa N, jadi pimpinan juga sedikit bingung dengan situasi ini. “Bukan, ini tentang kontrak perjanjian. Bisakah saya bertemu dengannya?” July tengah diburu-buru. Ia pikir bisa sengera bertemu N bila datang ke perusahaan langsung. Tapi nyatanya orang yang ia cari tidak berada di sana. “Ah! Tapi N saat ini tengah mengambil cuti.” July langsung menyambar ucapan pimpinan. “Cuti? Berapa lama? Kapan dia kembali?” “Sekitar 10 hari sampai 2 minggu? Saya rasa N tidak akan berada di dalam negeri untuk sementara waktu.” Bos terdengar cukup tahu agenda N saat menghabiskan cutinya. “Maksud anda?” July mulai panik saat mendengar itu. “Karena ini cuti pertama yang ia ambil di tahun ini, saya rasa N akan menghabiskan waktu berlibur ke luar negeri seorang diri.” “Keluar negeri? Tapi saya harus bertemu dengannya segera! Ini sangat mendesak untuk saya.” Yang dapat menyelesaikan masalah July saat ini hanya N. July tidak punya banyak waktu. “Apa saya bisa meminta kontak N, saya harus bicara dengannya.” “Tapi N selalu mengabaikan ponselnya bila sedang menghabiskan waktu libur.” Pemimpin perusahaan mencari kartu nama perusahaan milik N, menyerahkannya pada July. Mungkin juga karena pimpinan hanya memiliki kontak bisnis N maka ia tidak bisa menghubunginya di luar urusan pekerjaan. “Jika saya boleh tahu... Ada kebutuhan apa nona July mencari N?” Sejak tadi bos ingin sekali bertanya tapi karena ragu juga melihat reaksi July yang tak biasa, ia menahan diri cukup lama. Tidak ada alasan bagi July menutupi maksud kedatangannya mencari N. Pada akhirnya pemimpin perusahaan akan tahu juga. “Saya ingin membuat kontrak baru dengannya.” “Oh! Begitu, jadi ini tentang pekerjaan.” Mengetahui masalah ini berhubungan dengan uang, pimpinan langsung bersemangat mengerahkan apa pun upaya yang mungkin bisa membantu July. “Saya ingat N bilang ia sudah memesan tiket pesawat untuk liburannya. Saya rasa N masih berada di bandara saat ini, waktu keberangkatannya malam nanti.” Karena N memesan tiket saat masih berada di perusahaan. July langsung bangkit berdiri sampai membuat pimpinan melonjak kaget. “Kalau begitu saya akan menyusulnya ke bandara. Anda harus menahannya, katakan saya ingin bertemu bila anda bisa menghubunginya. Tolong! Ini sangat mendesak!” “B-baiklah...” Bos bingung melihat betapa paniknya July ketika pergi. Padahal untuk permasalahan kontrak sebenarnya bicara dengan pimpinan juga bisa. Ada alasannya mengapa July sampai bersikap seperti itu. Kkarena bila July tidak bisa mengejar N dan bertemu dengannya. Bila N sudah terlanjur pergi jauh menghabiskan waktu liburan dan tidak ada cara menghubunginya.  Maka July bisa dalam masalah besar, Audie akan terus merasa curiga. Saat N telah meninggalkan negeri, butuh waktu lama untuk menunggunya kembali. July bergegas meninggalkan perusahaan bertolak menuju bandara untuk mencegah N pergi. July sama sekali tidak tahu bahwa keadaan akan berbalik menjadi seperti ini. Setelah apa yang ia katakan pada N di kamar hotel tempo hari, bahwa mereka jangan saling berhubungan lagi. Padahah July bertekad untuk melupakan semua yang terjadi di hari itu. Tentang pernikahan, tentang Argus yang datang menemuinya di kamar hotel, dan tentang seorang asing bernama N yang tiba-tiba hadir di hadapan July. Dan lihat apa yang terjadi sekarang, July mengejar dan mencari N untuk meminta bantuannya, mengikat kontrak lain bersama untuk melanjutkan pernikahaan palsu sebagai pasangan palsu. Bila July melakukan ini maka apa bedanya ia dengan perbuatan Argus padanya. July melakukan hal yang sama untuk melanjutkan sandiwara membohongi keluarga besarnya. Di dalam mobil banyak pemikiran buruk membebani July juga rasa bersalah, bukan rencana apa yang ia buat saat bertemu dengan N nanti. Itu biarlah July pikirkan nanti setelah melihat situasi dan berhasil bertemu dengan N. ***upcoming  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD