Argus berada di depan kamar hotel yang July tempati. Sudah lima menit sekiranya ia membunyikan bel kamar atau pun menggedor pintu tak sabar. Namun tetap tidak ada tanggapan dari dalam kamar.
“July bukakan pintunya! Kumohon..” Argus menggedor kamar hotel July semakin keras tanpa perduli lagi sekitar, kini ia dalam separuh kewarasan diri karena July menolak bertemu dengannya. “July, biarkan aku masuk. Aku ingin bicara, kumohon! July...”
Bila July tidak membukakan pintu kamar hotel untuk Argus, bisa saja sepanjang malam pria itu akan bersikeras membuat keributan. Jika hal itu terjadi pada akhirnya July juga yang kesulitan.
“July...” Penantian Argus terbayar, wajahnya berubah haru dan senang melihat July di hadapannya. Berat hati dan enggan July membuka pintu, membiarkan Argus masuk, bertemu dan bicara. Mata July yang merah bekas menangis terlihat jelas, Argus tidak bisa mengabaikan fakta itu. Jelas kondisi buruk July menjadi seperti ini karena hasil perbuatannya. “M-Maafkan aku July... Maafkan aku sungguh! Aku punya alasan! Aku bisa menjelaskannya...” Argus memelas namun July tetap diam tidak menatap Argus atau pun menunjukkan reaksi meski ia dapat mendengarnya.
July bergerak menjauh dari Argus yang coba menyentuhnya. July kembali meraih gelas anggur yang sesaat lalu ia nikmati dalam kesendirian di suit room itu. Bila tetap tersadar rasanya July tidak dapat menanggung kenyataan yang ia lalui dalam seharian ini. Begitu juga dengan resiko yang harus July hadapi di hari esok. Tanggung jawab pada keluarga besarnya, terlebih lagi dengan cara July harus menjalani hidupnya setelah ini. Apa pun yang Argus katakan sekarang, July tidak perduli lagi.
“July my love, kumohon... Bicaralah denganku...” Argus berlutut di hadapan July yang terduduk di meja kecil dalam kamar. Sebotol anggur merah hampir kosong July minum sendiri, menyadari July minum-minuman berakohol dengan gegabah dan tegukan cepat Argus merasa cemas. “July! Hentikan, jangan minum lagi! Berapa banyak yang sudah kamu minum?” Argus menahan tangan July yang hendak menuang seluruh isi botol yang tersisa.
July menepis tangan Argus dengan hentakan keras. Ia bukan sekedar kesal atau pun marah, tapi tidak sudi lagi melihat juga disentuh oleh Argus.
“July...” Argus tentunya tidak berharap perlakuan hangat yang ia dapat setelah apa yang ia lakukan hari ini. Ia sudah mempersiapkan hati dan dirinya, bahkan membuang ego dan harga diri jika perlu selama July bersedia bicara dan memaafkannya. Hanya ada satu tujuan di mata Argus sekarang, July menerimanya kembali.
“Tinggalkan aku sendiri.” Ucap July tanpa emosi dalam cara bicara atau pun suara.
“July.. Kumohon, jangan seperti ini. July-ku...” Argus menatap July dengan binar mata yang basah.
“Saat kau melakukan ini, bukankah kau sudah memutuskan untuk meninggalkanku? Untuk apa sekarang kau datang dan menjelaskan lagi Argus! Sungguh―” July tidak ingin terbawa emosi padahal pada apa pun yang Argus akan katakan. “Sungguh! Aku... Aku telah memperjuangkan hubungan kita Argus! Aku telah melakukan semua yang kubisa, aku mempertaruhkan semuanya tapi.. Tapi―” Bahkan July sampai menentang dan membohongi seluruh keluarga besarnya demi bersama Argus. Dan sekarang apa yang Argus lakukan pada July, mengkhianati dan meninggalkannya di pernikahan mereka untuk kedua kali.
“July aku bersumpah hanya kau yang aku cintai. Aku hanya mencintaimu...”
“Tidak ada artinya kau katakan itu sekarang Argus.”
“July sungguh aku punya alasan! Kumohon mengertilah... Maafkan aku.” Argus mendekap July. “Aku akan melakukan apa pun selama kau maafkan dan menerimaku lagi. Seperti awal hubungan kita―”
“Begitu? Kau akan lakukan apa pun untukku?” Nada suara July datar.
“Ya! Akan kulakukan!” Argus melepas pelukannya, wajah berseri menanti kabar baik dari lisan July selanjutnya.
Akhirnya July menatap Argus untuk pertama kali sejak keberadaannya di kamar itu. “Kalau begitu, menghilanglah dari kehidupanku seperti yang kau lakukan bertahun silam.” Kata July dengan sikap dingin.
“J-July...”
July berdiri, melangkah pergi. “Aku serius Argus! Ini akhir hubungan kita.”
“Tidak July! Aku tahu kau juga mencintaiku!” Argus menahan July, menggenggam pergelangan tangan July kuat.
“Apa gunanya cinta bila kau lakukan ini semua padaku sekarang Argus! Kita lupakan saja semua, aku bukan ditakdirkan untukmu.” July menarik tangannya berusaha melepaskan diri tapi tenaga Argus tentu lebih kuat.
“Tidak! Hanya kau seorang yang aku inginkan, hanya kau yang aku cintai!” Argus menarik July mendekat dengan paksa. Berusaha mencium bibir July, menggunakan kekuatannya melawan wanita yang lebih lemah darinya untuk mendapatkan sesuatu yang ia inginkan mengikuti kehendak hatinya tanpa persetujuan pihak lain.
July merontak bersikeras menolak, Argus tidak pernah seperti ini memaksakan kehendaknya di atas penolakan July. Pikiran Argus telah dikuasai sepenuhnya oleh luapan emosional juga rasa ketakutan dan kecemasan akan ditinggalkan July selamanya hingga pikiran itu membutakan nalarnya. Argus tidak berhenti sampai di sana. Semakin July menolak kehendaknya semakin kompleks dalam dirinya mendorong hasrat mendapatkan July tanpa berpikir jernih cara itu benar atau salah.
“Argus! Argus! Aku tidak mau! Hentikan!” July membuang mukanya, satu tangan mendorong wajah Argus menjauh yang coba menyentuh bibirnya. Namun penolakan July membuat Argus semakin kesal hingga ia kalap mata.
Mereka berada di kamar hotel. Segela sesuatu sudah lengkap seolah memfasilitasi hasrat Argus bila memang ingin memiliki July seutuhnya sekarang juga di sini, saat ini. Argus mendekap July erat, mendorongnya hingga tersudut dan jatuh ke ranjang hotel berukuran besar nan mewah. Harum-haruman ruangan, penataan kamar hotel memang di persiapkan untuk sepasang sejoli menghabiskan malam bersama. Tapi bukan dengan cara seperti yang Argus lakukan pada July kini.
“Argus! A-Aku tidak akan pernah memaafkanmu bila sampai kau tega melakukan ini padaku di sini sekarang...” Sudut mata July telah menitihkan air mata. Perlakuan Argus saat ini melewati batas toleransi dan pengertian July yang coba memahaminya. Ucapan tadi adalah peringatan terakhir July pada Argus untuk menghentikan apa pun yang ada dalam benaknya ingin ia lakukan pada July. Meski atas nama cinta atau tidak ingin kehilangan July, apa pun itu alasannya July tidak akan pernah mengakui dan memaafkan Argus selamanya.
Argus dengan jelas mendengar ucapan July meski dikuasai hasrat diri. Hatinya ingin menuntaskan apa yang hendak dilakukannya tapi nalarnya dengan jelas mengirim sinyal pada tubuhnya untuk berhenti. “July... Aku mencintaimu...” Argus menatap wajah July yang masih berada dalam kurungan kendalinya. Kedua lengan July terkunci erat dalam genggaman tangan Argus, dengan Argus menahan tubuhnya di atas ranjang.
“Lepaskan aku sekarang Argus...” Suara July bergetar. Mendapat perlakuan ini dari orang yang ia percayai, Hati July berkabut sedih dan terluka melebihi rasa kecewa.
“Aku tidak akan melakukan apa yang tidak kau sukai, karena aku tidak ingin kau membenciku.” Argus menatap July dengan binar mata begitu sedih. Ia merasa sedih meski sudah sampai seperti ini, meski hatinya hanya berisi July, hanya mencintainya tapi wanita yang begitu sangat ia inginkan tidak bisa menjadi milik Argus seutuhnya. “Kau tahu berapa lama aku dengan sabar menunggumu... Mencoba mengerti dan memahami dirimu...”
Argus juga turut menangis malam itu di hadapan July yang masih dalam kendalinya. “Karena itu July... Jangan akhiri hubungan kita dengan mudahnya... Aku mohon padamu, biarkan aku menjelaskan diriku...” Argus bangkit berdiri membebaskan July saat butir air mata mulai jatuh. Pria itu tidak pernah berencana menampakkan sisi lemahnya di depan July, apa lagi menggunakan cara meraih simpati orang yang dicintainya dengan cara ini. Argus terbawa emosional ketika melihat July menangis dan menatapnya dengan sorot mata kebencian serta amarah.
“Malam ini aku akan meninggalkanmu sendiri, aku akan datang menemuimu lagi... Saat itu, bicaralah padaku July meski itu tentang akhir hubungan kita.” Argus berlalu pergi tanpa melihat wajah July, ia terlalu takut memastikan dengan ekspresi wajah seperti apa July menatapnya saat ini.
***
Malam itu belum terlalu larut maka N memutuskan kembali ke perusahaan setelah pergi dari hotel. Isi kepalanya terlalu banyak pikiran hingga N tidak ingin pulang ke rumah dan malah makin tenggelam dalam pemikiran-pemikiran konyol yang bisa membuat suasana hatinya lebih buruk lagi. Bos perusahaan masih berada di kantor saat N tiba di sana, begitu juga dengan beberapa pegawai kantor lainnya yang terkadang harus lembur menyelesaikan pekerjaan mereka.
“Oh N! Kau rupanya.” Wajah bos senang luar biasa melihat kedatangan N yang tidak dikira. “Kemari N, kemari... Datanglah mendekat. Duduk bersamaku sebentar, ada yang ingin aku sampaikan.” Ajak bos meminta N masuk ke dalam ruang kantornya. Suasana hati bos merasa senang karena komisi yang ditawarkan dari pekerjaan yang N ambil lebih besar berkali lipat dari komisi selama ini yang ada.
“Kerja bagus untuk hari ini N. Bukankah pekerjaan hari ini adalah yang terlama dari tugas-tugas yang kau ambil sebelumnya?” Karena biasanya N tidak pernah bekerja selama hampir seharian penuh. Biasanya hanya membutuhkan waktu beberapa jam saja. “Apa semuanya berjalan lancar? Tidak ada masalah ‘kan?”
N teringat apa yang terjadi dengan Argus saat kembali. Tapi rasanya itu di luar pekerjaan N dan kendali N, Argus merasa emosi karena terbawa suasana. Dan rasanya permasalahan sentimen pribadi Argus padanya tidak perlu dilaporkan ke perusahaan. “Tidak ada Pak, saya rasa.”
“Bagus. Aku akan memberimu cuti 2 hari N, kau bisa mengambil waktumu istirahat dan pergi liburan sebelum kembali bekerja.” Selama ini N memang belum pernah mengambil libur atau pun cuti. Sepanjang tahun ini N selalu bekerja seolah tak mengenal kata lelah atau pun jenuh. Poin itu juga yang membuat penilaian evaluasi kerjanya lebih tinggi dari agent lain dan ketekunannya itu dalam waktu singkat membuat N menjadi ace perusahaan.
“Terima kasih Pak.” Mungkin memang sudah waktunya N mengambil waktu beristirahat untuk menghilangkan perasaan aneh yang mengganjal hatinya setelah bertemu dan mengenal July. Hingga ia kembali ke dirinya yang biasa, N bisa melupakan semua dengan menyibukkan diri pada perjalanan ke tempat lain jauh dari tempat ini. “Tapi, bisakah saya mengambil waktu seminggu bukan 2 hari?” Pinta N yang membuat bos sedikit terkejut.
“Seminggu? Hemm,” bos agak cemas dengan bisnisnya jika ace perusahaan terlalu lama mengambil cuti. Tapi mengingat kerja keras dan kontribusi N selama ini bos juga segan menolak permintaannya. “Baiklah seminggu. Aku harapkan kerjamu akan lebih baik lagi setelah kau menyegarkan diri menikmati waktumu N.” Senyuman canggung bos, berat hati menyetujuinya.
“Kalau begitu saya akan―”
N berdiri dan hendak pergi tapi bos kembali menahannya. “Ah N, tentang klien kita hari ini. Seorang wanita datang mencarimu bernama Minerva. Dia adalah istri dari klien kita Mr. Argus.”
“Apa? Istri?”
“Eh? Ya, kenapa? Ada yang salah?” Bos merasa telah salah bicara melihat reaksi N. “Wanita itu memperkenalkan diri sebagai istri Mr. Argus. Oh! Tapi bukankah hari ini adalah hari pernikahannya dengan wanita lain yang menjadi target kita? Apa yang terjadi?” Bos baru menyadari letak kesalahaan pada ucapanya.
“Kenapa dia ingin bertemu denganku?”
“Entahlah dia tidak mengatakan apa pun, langsung pergi saat tahu kau belum kembali.” Malas berpikir rumit dan lagi pula tugas itu telah selesai maka kasus ditutup. “Ah lupakan! Tidak perlu kau pikirkan N, bila ia perlu jasa kita pasti akan kembali. Kau boleh pergi sekarang.”
Padahal N sudah bertekad untuk melupakan semua dan meninggalkan berbagai pikiran tak berarti terkait wanita bernama July yang belum lama ia kenalnya, tapi apa yang bos sampaikan barusan malah menambah rasa penasaran dan beban pikiran N lagi. “Bila pria bernama Argus masih memiliki seorang istri lantas mengapa ia dan July membuat janji pernikahaan, apakah July tahu tentang hal ini ataukah... Apakah itu alasan mengapa akhirnya July ditinggalkan di depan altar oleh Argus.” Kemelut dalam isi kepala N tidak bisa ia singkirkan begitu saja. Apa lagi permasalahan ini mempengaruhi suasana hatinya.
Apa yang terjadi bila N memutuskan tetap bersama July di kamar hotel dan tidak membiarkannya sendiri. Dia tidak akan bertemu dengan Argus di lobi, tidak datang ke kantor dan mendengar semua ini. Tidak menyesali keputusannya sekarang karena meninggalkan July sendirian dalam kondisi seperti itu. Mengapa juga N harus menyesali semuanya, apa yang membuat July berbeda dan begitu berkesan dari sekian banyak klien yang N temui selama ini. July wanita yang memberi berbagai kesan warna hidup dalam kehidupan N selama ini yang hanya mengenal hitam dan putih, monoton dan tanpa arti. Pada amarah gadis itu, pada luka hatinya, pada sepi sendirinya, pada kepolosan dan keluguannya, pada sikap tegar yang berusaha ia tampilkan. N telah jatuh pada semua yang telah July tunjukkan dalam dirinya kepada N selama beberapa hari ini.
***upcoming