Chapter 13
5 menit lalu...
Argus memasuki hotel di mana N dan July datang bersama. Namun ia kehilangan jejak mereka untuk naik ke lantai atas. Argus tidak tahu kamar mana yang telah July sewa di mana seharusnya menjadi bulan madu mereka. Argus mendatangi meja resepsionis tanpa ragu.
“Selamat malam Tuan, ada yang bisa saya bantu?” Sapa resepsionis hotel.
“Kamar atas nama July Foster di nomer kamar berapa?” Tanya Argus.
“Maaf, dengan Tuan siapa saya bicara?”
“Argus Osborne.”
“Dengan Tuan Argus?” Tanya pegawai binggung, dalam hati nona penjaga resepsionis itu merasa curiga. “Bukankah Tuan Argus sudah naik bersama Mrs. July tadi?” Karena memang dia sendiri yang menerima July saat chek-in beberapa saat lalu. “Tuan Argus, apa anda bisa menunjukkan identitas diri?”
“Apa, identitas?” Argus dengan refleks merogoh ke berbagai kantong pada pakaian dan celananya, tapi dompet yang ia cari tidak berada di mana pun. “Saya rasa tertinggal.”
Pegawai hotel semakin bertambah rasa curiga. “Maaf sebelumnya. Berdasarkan peraturan hotel, kami tidak bisa memberi informasi kamar tamu yang menginap, Tuan. Mohon dimengerti kebijakan privasi hotel kami.” Tolak resepsionis sopan.
“Apa? Kenapa!” Nada bicara Argus meninggi hingga menarik perhatian orang lain yang berada di lobi hotel. Argus menjadi kesal karena merasa tidak punya banyak waktu, ia harus segera menemui July.
“Tuan mohon tenang, sebaiknya anda tidak membuat keributan atau saya terpaksa memanggil security.”
Alhasil Argus tertahan di lobi hotel. Saat masih berada di gedung pernikahan, Argus tidak lepas selalu memperhatikan July dari kejauhan membuntutinya, mencari kesempatan untuk bisa bicara menjelaskan alasan keputusannya melakukan itu semua. Dan Argus juga tahu bahwa July datang ke hotel ini bersama pria yang ia sewa menjadi penggantinya. Malang Argus kehilangan jejak July ketika datang menyusul dan sampai ke hotel ini. Nomer kamar yang July pesan, Argus hanya membutuhkan informasi itu. Bagai jawaban dari sang dewi keberuntungan, saat itu N melintasi lobi setelah meninggalkan July di dalam kamar sendiri. Dengan sigap Argus menangkap bahu N, menarik kerah jasnya hingga ke sudut tempat sepi. Perlakuan kasar itu N terima tanpa suara dan pasrah mengikuti kehendak Argus yang tampak sangat emosi.
“Apa yang kau lakukan di dalam? Kenapa kau datang bersama July sampai ke sini? Hah! Katakan!”
“Mr. Argus, lepaskan saya dulu baru kita bicara.” Kata N masih dengan ekspresi datar khasnya. Namun Argus masih menatap N dengan sorot mata amarah. “Apa yang bisa saya perbuat pada Nona July dalam waktu hitungan menit Tuan? Seperti yang anda lihat saya langsung―”
“BRUAK!!” N tidak dapat menyelesaikan pembelaan atau penjelasaanya karena Argus memukul wajah N keras hingga merobek dinding mulut N yang kini menampakkan darah di ujung bibirnya.
“Apa yang bisa kau perbuat? Katamu!!” Argus turut menyaksikan apa yang N lakukan pada July selepas pengambilan sumpah di hadapan tamu undangan. “Beraninya kau menyentuh July, melakukan hal yang tidak pernah aku perintahkan!! Dan kau masih bisa bicara? Beralasan!!” Sekali lagi Argus hendak memukul N melampiaskan kekesalannya namun dengan sigap kali ini N berhasil menangkis serangan Argus.
N mencengkeram kuat tangan Argus yang siap memukulnya lagi. “Cukup, saya hanya akan membiarkan Tuan memukul saya sekali saja. Dan dengan pukulan tadi saya anggap telah membayar perbuatan saya pada Nona July.”
Argus terkejut ternyata N bisa menangkis serangannya dengan mudah, juga menahan pergerakannya dengan kekuatan yang lebih besar dari upaya yang Argus kerahkan untuk melawan N. Tubuh ramping sempai itu diluar dugaan dan penampilan cukup atletis juga melawan Argus yang sebenarnya juga cukup memiliki otot karena rutin latihan gym.
“Jangan melewati batas! Kau hanya orang suruhan yang kubayar!” Wajah angkuh Argus saat bicara ingin menunjukkan posisinya yang lebih tinggi.
“Tepat sekali Tuan. Dan anda membayar saya bukan untuk menjadi pengganti pelampiasan kekesalan anda, bukan begitu?” Jawaban cerdas N, seolah menyindir halus tentang martabat, kelas, posisi apa pun itu yang Argus coba tunjukkan. Selama ini N tidak pernah berpikir pekerjaannya rendah atau bisa disepelekan pengguna jasa atau kliennya. Ia tidak segan menunjukkan sikap pada klien untuk menghargai pekerja juga sebagai rekan yang membantu urusan atau pekerjaan klien. Dengan kata sederhana mereka adalah setara, patut saling menghormati, menghargai satu sama lain. “Sepatutnya anda tahu bahwa saya atau perusahaaan menjaga rahasia anda, jadi...”
“Kau mengancamku!” Argus kembali geram.
“Bagaimana mungkin Tuan, anda salah memahami perkataan saya.” Memang benar maksud ucapan N yang belum terselesaikan itu adalah untuk menggertak Argus. “Saya meminta kerja sama anda.”
“b******k!” Argus sudah menyadari pria bernama N ini ada yang tidak biasa padanya. Lebih baik Argus tidak berurusan lebih jauh dengannya. “Katakan padaku, July berada di kamar berapa?”
“Anda akan menemuinya?” Tanya N spontan tanpa sadar. Argus menatap aneh serta risih mendengar pertanyaan N. “Oh, maaf.” N terdiam sesaat, menyadari apa yang baru saja diucapkannya.
Argus bertemu dengan July apa perdulinya, toh mereka memang pasangan yang memiliki banyak permasalahan perlu dibicarakan dan diselesaikan. Pekerjaan N cukup sampai di sini dan tidak ada lagi sangkut-pautnya, entah mereka akan berpisah atau bertengkar, tidak ada urusannya dengan N. Tapi mengapa, dalam benak N tidak bisa melepaskan bayangan sosok July saat ia beranjak pergi meninggalkan wanita itu di dalam kamar hotel sendiri.
“Berapa nomer kamarnya?” Desak Argus masih menunggu jawaban.
“Suit room 302.”
“Kuperingatkan kau!” Ancam Argus dengan wajah serius. “Urusan kita sudah selesai. Enyah dari hadapanku dan July, jangan tunjukkan dirimu lagi di hadapan kami untuk kedua kali!” Argus langsung berlalu meninggalkan N menuju kamar hotel di mana July berada.
Sementara N masih terasa hampa entah mengapa, perasaan dilema yang belum pernah ia alami selama menjadi agent menawarkan jasa seperti ini. July bukan wanita pertama yang menjadi klien N, namun entah mengapa dalam pengamatan seminggu terakhir dan kesan pertama saat bertemu langsung membuat N begitu terikat. Apa karena perannya sebagai mempelai pengantin pria, atau karena pengalaman sehari kebersamaan dengan keluarga July yang hangat dan harmonis. Karena N sudah mengenal seluk-beluk July Foster meski sebatas informasi di atas kertas, di mana dalam sepekan ia begitu larut mempelajari dan mencoba memahaminya. Dan saat bertemu kesan itu sepenuhnya berbeda. July terlihat tidak setegar, sekuat dan mandiri seperti penampilan atau kesan luarnya. N dapat merasakan getaran serupa antara dirinya dan July. Namun harus N tangkap dan artikan dengan cara bagaimana aroma luka dan kesepian July yang terasa lekat juga tidak asing N rasakan dalam jejak kehidupannya. Karena di saat-saat rapuh dan kehilangan arah seperti yang July hadapai sekarang ini, sejujurnya tidak ada orang yang ingin sendiri.
***upcoming