Selepas mengirim tamu undangan pergi, July menyeret N kembali ke ruang tunggu pengantin. Pembicaraan mereka belum selesai, masih banyak kekurangan dalam penjelasan N yang terbatas oleh waktu terhalang acara pesta. July sudah mengambil keputusan besar dengan menerima tawaran N untuk bersandiwara bersama. July harus memikirkan langkah selanjutnya.
“Katakan padaku di mana Argus saat ini?” Nada bicara July terdengar emosional.
Wajah N tetap tenang dan datar. Topeng mode akting sempurnanya langsung menghilang saat ia telah berdua saja dengan July tanpa kehadiran siapa pun. “Saya tidak tahu Nona, tugas saya adalah mendampingi anda.”
“Bastard!! Hentikan memberi alasan padaku seperti itu!” Geram July.
“Untuk apa Nona masih mencari orang yang sudah meninggalkan Nona?” July mendelik pada N, jelas ucapannya telah menyinggung perasaan. “Maaf bila perkataan saya telah membuat Nona marah. Tapi bukankah yang harus Nona lakukan sekarang adalah berunding permasalahaan ini dengan saya? Bukan siapa pun.”
Lagi-lagi persuasif N berhasil pada July. Namun pembicaraan mereka terpaksa kembali terpotong karena ruang tunggu kehadiran orang lain di sana. Audie dan segenap keluarga menerobos masuk ke dalam. Tentu masih banyak rasa penasaran dan tanya pada sosok pria yang sudah berstatus suami dari July itu.
“July sayang... Aunty begitu bahagia untukmu nak, tidak ada lagi penyesalan dalam hidup aunty sekarang! Semoga kau selalu berbahagia menempuh hidup baru bersama suamimu yaa.” Wajah sumringah menghiasi paras Audie seraya memberi pelukan pada July.
“Tapi Kak, bagaimana bisa nama suamimu saat ini memiliki nama yang sama dengan―” Pansy yang tengah bicara segera dibungkam mulutnya oleh kakak lain. Ia memberontak merasa mendapat perlakuan tidak adil, dengan spontan menggigit pemilik tangan yang sudah menyekapnya. “Padahal tadi kalian yang ribut sendiri bicara tentang nama!” Protesnya lantang.
Saat mengucap janji pernikahaan nama mempelai pria adalah nama Argus memang yang disebutkan. Dan N yang bertindak sebagai Argus menggunakan nama itu. Kerabat dan keluarga July sibuk bergunjing saat mendengar nama yang mereka kenal di masa lalu. Nama itu merupakan luka, bahkan aib bagi keluarga besarnya July. “A-haha... Eng, karena itu aku tidak katakan pada kalian sebelum ini.” Elak July beralasan.
“Sudah hentikan, jangan bahas hal yang bisa membawa nasib buruk pada hari bahagia seperti ini.” Tandas Audie tegas.
“July... Maafkan aku tidak bisa selalu ada di sisimu. Aku turut berbahagia untukmu sayang...” Robert selaku paman July dari sisi mendiang ibu memang berada jauh karena menetap di luar negeri. Ah tidak, memang keluarga besar July mayoritas menetap di luar berbagai negeri sekarang. Begitu juga dengan July dan kedua orang tuanya ketika masih ada dulu. Setelah sang ayah pergi, meski Audie dan kerabat lain meminta July tinggal bersama mereka tapi ia memilih untuk tinggal sendiri dan fokus mengejar karir.
Lalu keadaan mulai berubah menjadi haru-biru. Kerabat yang dituakan mulai menangis air mata bahagia untuk July, mungkin karena memang faktor usia juga membuat mereka semakin melankolis. Di sisi lain tumpukan rasa bersalah di hati July membuat lubang semakin besar dan dalam. Karena kecintaan dan keperdulian keluarga besarnya seperti ini yang membuat July nekad bertindak gila. Tidak mungkin July kembali mengecewakan, membuat luka pada keluarga besarnya untuk kedua kali. Terlebih lagi penyebab karena orang yang sama. July tidak akan sanggup! Lebih baik dia menelan pil pahit sendiri meski itu bisa menjadi racun dalam hidupnya.
“Nak... Tolong jaga July tersayang kami. Buat ia bahagia...” Kini N yang dikerubungi sanak saudara July. N tetap memainkan peranannya dengan sempurna. Bila July saja yang seorang bisnis women memiliki karir profesional terkesan dengan kemampuan akting ditunjukkan N. Dapat dipastikan keluarga besar July yang hanya orang awam biasa pasti 100 persen dikelabuhi dan berhasil diyakinkan oleh N.
“Saya punya banyak kekurangan tapi bersama July saya merasa sempurna. Saya tidak bisa berjanji selalu membuat July bahagia tapi saya tidak akan membiarkan July sendiri lagi.” Tutur N ketika menyambut kehangatan restu keluarga July.
July sangat tahu semua itu dialog mode akting N, hanya omongan kosong. Tapi, bagaimana July harus mengatakannya. Perkataan N menyentuh hati July, merasa haru walau hanya akting sekaligus terasa pedih.
***
July dan N diantar keluarga hingga waktu kepergian mereka berbulan madu. July mengikuti saja sesuai agentda karena memang ia dan N harus mencari tempat tenang, membutuhkan privasi untuk bicara permasalahan kontrak N menjadi pengganti. July belum mengetahui apa saja secara terperinci klausula kontrak N bersama Argus. Maka jadwal yang seharusnya digunakan berbulan madu menjadi agentda meeting mereka berdua. Bulan madu, ya timing yang tepat untuk berbagi rahasia membicarakan keberlangsungan kontrak. Lokasi tempat July dan Argus memutuskan berbulan madu tetap berada di dalam negeri karena keduanya sama-sama di masa sibuk dengan pekerjaan dan karir jadi tidak bisa menggunakan waktu libur panjang, apalagi cuti yang diajukan terbilang mendadak.
July dan N tiba di hotel mewah sesuai rencana awal. Pegawai menyambut kedatangan keduanya dengan ramah sapa dan pelayanan super terbaik.
“Selamat datang di Grand RoyalRich Hotel kami Bapak dan Ibu. Ada yang bisa kami bantu?” Sambut senyum ramah nona yang menjaga meja resepsionis hotel.
“Reservasi atas nama July Foster.” Ucap July singkat. Menghindari kecurigaan keluarga mau tak mau July benar-benar pergi bersama N ke hotel mewah yang dibookingnya.
“Baik Mrs. July, ini kartu akses kamarnya dan staff kami yang akan mengantar Nyonya dan Tuan menuju ke sana. Semua fasilitas hotel sudah termasuk ke dalam reservasi Nyonya dan Tuan Argus.” Nona penjaga resepsionis mengirim kepergian July dan N dengan tetap memasang senyuman ramah terukir hingga akhir.
Kemudian July dan N didampingi pegawai lain naik ke lantai atas menggunakan lift menuju kamar. Dalam perjalanan suasana hening dan kecanggungan meliputi sekitar, tidak ada percakapan hingga tiba di depan pintu kamar. Pegawai hotel membantu pasangan itu menata bagasi July hingga ke dalam kamar. “Silahkan Tuan dan Nyonya, bila perlu sesuatu anda bisa menghubungi kami melalui layanan kamar. Selamat beristirahat.” Pegawai pria yang mengantar mereka pamit undur diri dari sana, meninggalkan July dan N berdua di dalam kamar hotel.
July melakukan reservasi kamar hotel dengan keterangan bulan madu tapi begitu pasangan tiba di hotel suasana di sekitar keduanya seperti perang dingin. Pegawai hotel yang melayani mereka mungkin berpikir situasi pengantin baru itu tengah memasuki fase pertengkaran pasangan muda dengan bersikap seperti orang asing pada satu dan yang lain. Padahal sebenarnya mereka memang sungguh orang asing untuk satu sama lain.
***upcoming