4. Maaf Raysa

1308 Words
Senyum Evan langsung mengembang begitu mobilnya sampai di depan pagar rumah dan melihat Raysa yang sedang menyirami bunga-bunga di taman depan rumah. Meninggalkan Raysa dua hari dan tidak menghubunginya membuat Evan resah, tidak sedikit resah tapi sangat resah. Begitu satpam membukakan pagar untuk mobil Evan, mobil Evan langsung masuk ke pekarangan rumah. Raysa yang sedang menyiram bunga Petunia di taman kecil depan rumah langsung menoleh begitu mendengar suara gerbang yang terbuka dan mobil Merci abu-abu milik Evan memasuki pekarangan rumah. Raysa langsung mematikkan keran air dan masuk ke dalam rumah. Melihat Evan yang turun dari mobil sambil tersenyum tanpa merasa bersalah membuat Raysa sebal. Senyuman Evan begitu melihat wajah Raysa langsung memudar. Saat melihat Raysa membuang muka dan langsung masuk ke dalam rumah. Tanpa pikir panjang Evan langsung ikut masuk ke dalam rumah cinta mereka berdua. "Raysa?" Panggil Evan. "Sa, kamu dimana?" Saat Evan mau berjalan ke dapur mencari Raysa, ia malah melihat Raysa turun dari tangga yang sudah menenteng tas tangan dan memakai baju yang rapi. Terlihat hendak keluar rumah. "Kamu mau kemana?" Tanya Evan dengan heran. Raysa hanya diam, tidak menatap mata Evan dan menuruni tangga lalu berjalan kearah pintu keluar. "Sa," Evan mencekal pergelangan tangan Raysa. "Kamu mau kemana?" "Lepasin!" Raysa memberontak, mencoba melepaskan tangannya. Badannya masih memunggungi Evan. Evan mulai merasa ada yang tidak beres dengan Raysa. "Kamu mau kemana?" Tanya Evan lagi. Nada suaranya melembut. Evan tau, Raysa tidak bisa dikasari. "Aku mau ke supermarket." Raysa menjawab dengan ketus. "Aku antar ya?" "Aku mau naik mobil sendiri." Evan menghela nafas, "Raysa," Evan kemudian membalikkan badan Raysa. Membuat mereka saling berhadapan. Raysa menundukkan wajahnya, menggigit bibir bawahnya untuk menahan isakannya. Air mata Raysa sudah membasahi pipinya dan sekarang, Evan merasa bersalah. Tanpa berkata apa-apa, Evan menarik Raysa kedalam pelukannya. Begitu Raysa dalam dekapan Evan, wanita itu sudah tidak bisa membendung tangisnya lagi. "Kamu jahat Van!" Raysa memukul d**a Evan dengan keras. "Kamu bahkan enggak ngabarin aku selama dua hari!" Raysa memukulnya lagi. "Apa susahnya cuma telpon aku? Aku cuma butuh tiga puluh detik buat dengar suara kamu di telepon," Raysa terisak. Tangannya masih memukul Evan. "Kamu nggak tahu selama dua hari ini aku gak bisa tidur karena nunggu kabar dari kamu. Aku... aku cuma khawatir sama kamu!" Evan bahkan tidak peduli lagi dengan rasa sakit di badannya saat Raysa terus memukulinya, hati Evan lebih sakit, melihat Raysa menangis seperti ini.  "Apa aku udah gak penting lagi buat kamu? Apa kamu sudah gak cinta sama aku karena aku gak bisa kasih kamu anak? Apa aku-" "SUDAH, SA!" Mata Raysa yang berair menatap Evan dengan pandangan tidak percaya. Evan membentaknya. "Kalau kamu udah nggak anggap aku sebagai istri, kamu bisa ceraikan aku sekarang juga! Aku bahkan sudah ngerasa enggak bisa bikin kamu bahagia tanpa memberi kamu anak yang kamu harapkan!" Raysa ganti berteriak. Kepala Evan langsung berdenyut, Raysa mulai lagi.  "Sa, dengerin aku dulu." Ia berusaha menggapai tangan Evan, tapi Raysa mundur satu langkah. "Kamu bahkan enggak merasa bersalah sudah buat aku khawatir setengah mati!" Raysa mengusap air matanya dengan kasar, kemudian membuka pintu dan keluar meninggalkan Evan yang masih terpaku. Kemudian, terdengar suara pintu yang di banting dari luar. *** Evan menggenggam ponselnya, sudah dua jam Evan menghubungi Raysa dan istrinya itu tidak mengangkat teleponnya. Dan sekarang ponsel Raysa tidak bisa di hubungi. Evan duduk di pinggiran kasur, ia menatap foto pernikahan ia dan Raysa di dalam bingkai kecil putih yang di letakkan Raysa diatas nakas. Evan, telah mengkhianati pernikahan yang telah mereka bangun bersama. Hati Evan berdegup tak karuan, ia cemas. Ia takut terjadi hal-hal yang tidak terpikirkan kepada Raysa, Evan menggeram frustasi. Kemudian menunduk sambil meremas rambutnya. Kepalanya benar-benar berdenyut. Dua hari ini Evan sibuk dengan kegiatannya dengan Abella. Tapi melupakan Raysa, yang harusnya ia beri perhatian penuh. Evan bahkan menyesali saat ia tadi membentak Raysa. Saat psikis Raysa yang sudah mengungkit 'anak' kembali, Evan merasa frustasi. Ia tidak ingin membuat Raysa terus menerus merasa bersalah, merasa menjadi istri yang tidak berguna, merasa keluarga yang tidak bahagia karenanya. Andai Raysa tahu, cukup dengan Raysa tenang dan selalu ada di samping Evan, Evan berjanji tidak akan meninggalkannya. Evan memang mengkhianati Raysa, tapi Evan tidak mencintai Abella. Ia hanya menginginkan seorang anak dari rahim Abella, anak dari darahnya dagingnya sendiri. Bahkan setiap melakukan hubungan badan dengan Abella, yang hanya dipikirkan Evan adalah Raysa, Raysa, dan Raysa. Bahkan Evan juga yakin kalau Abella tidak mencintainya. Evan merebahkan tubuhnya di kasur, sebenarnya ia sengaja menyelesaikan pekerjaannya di kantor dengan cepat, bahkan rela membatalkan meeting dengan kolega. Semua demi ia ingin segera bertemu Raysa, memeluk serta mencium istrinya itu. Tapi sepertinya Raysa sudah cukup kecewa kepadanya. *** Evan terbangun saat ia mendengar suara sedikit gaduh dari arah dapur, Evan termasuk orang yang mudah terbangun saat merasakan sedikit gerakan atau mendengar suara yang mengusik tidurnya. Ia melihat sekitar kamar, kamarnya benar-benar gelap.  Sudah jam berapa ini? Evan melihat jam di dinding kamarnya, jam menunjukkan pukul delapan malam. Berarti ia sudah tidur dari jam empat sore sampai jam delapan malam. Evan berdeham, kemudian ia bangun dengan siku kiri menjadi tumpuannya untuk duduk. Tenggorokannya terasa kering, dengan terseok ia berusaha berjalan ke dapur. Untuk mengambil air mineral dingin di kulkas. Begitu sampai di dapur, senyum Evan langsung mengembang begitu melihat makanan yang sudah tertata rapi di meja makan. Raysa sudah pulang. Setelah meminum air yang ia ambil di kulkas dan tenggorokannya terasa lebih baik, ia mencoba berkeliling rumah untuk mencari Raysa. Dapur, kamar tamu, kamar mandi, ruang tamu, ruang keluarga, ruang kerja Evan, taman depan, pekarangan rumah, Evan tetap tidak melihat Raysa. Tapi saat di pekarangan rumah  ia sudah melihat mobil Raysa yang sudah terparkir disana. Kemudian, Evan membuka pintu yang menghubungkan ruang makan menuju ke taman belakang. Senyum Evan mengembang lagi begitu menemukan Raysa sedang duduk sendirian di ayunan bangku sendirian. Evan tidak menghampiri Raysa, melainkan masih tetap berdiri di tempatnya. Memperhatikan Raysa yang tidak memakai alas kaki, kakinya yang putih memijak rumput taman dengan begitu saja, tatapannya lurus kebawah, tapi Evan tahu kalau tatapan Raysa kosong. Hanya menatap rumput, kedua tangan Raysa saling menggenggam. Sesekali Raysa menghela napas panjang, kemudian melamun lagi. Sebelum Evan menghampiri Raysa, ia kembali ke kamar untuk mengambil jaket Evan saat SMA. Jaket yang sering Raysa pinjam dulu. Jaket yang Raysa peluk saat ia merindukan Evan kala Evan pergi keluar kota atau bahkan keluar negri tanpa Raysa. Raysa tersentak begitu Evan memakaikannya jaket dari belakang, tangan Raysa dengan cepat langsung menyingkirkan jaket itu, tapi sebelum jaket itu terlepas, Evan sudah memeluknya dengan erat. Erat sekali. Raysa hanya diam, tidak melakukan penolakan apapun. Dan tidak akan menangis lagi. "Aku minta maaf, Sa." Ucap Evan kemudian. Raysa masih diam, tidak menjawab maupun balas memeluk Evan. "Maaf sudah buat kamu khawatir, aku terlalu larut sama pekerjaan aku di Jogja. Aku bahkan gak sempat pegang ponsel, aku bener-bener minta maaf. Aku janji, setelah ini, kalau aku keluar kota atau keluar negeri lagi, aku akan mengajak kamu. Aku janji Sa, aku enggak akan ninggalin kamu lagi." Evan mencium kening Raysa, kemudian merapikan rambut Raysa yang sedikit berantakan. Raysa belum menjawab permintaan maaf Evan, walaupun Raysa sudah berjanji tidak akan menangis, ia akhirnya menangis lagi. Dalam pelukan Evan. "Kamu jahat," Ucap Raysa dengan lirih, suaranya serak. "Iya Sa, aku jahat sama kamu." Raysa menangis makin kencang. Evan tidak menganggap Raysa lebay, ia sudah biasa. Semenjak Raysa di vonis sudah tidak bisa mempunyai anak dan tidak bisa berhubungan intim dengan Evan lagi, Raysa makin sensitive. "Maafin aku ya?" Evan merasa lega saat akhirnya Raysa mengangguk, kemudian melepaskan pelukannya. Walaupun wajah Raysa sembab karena menangis terus, tapi tak mengurungkan niat Evan untuk mencium kembali bibir Raysa. Raysa balas menciumnya, tapi kemudian Evan melepaskan tautan bibir mereka. "Mau temani aku makan? Aku laper Sa, nanti kita lanjut lagi di kamar." Raysa terkekeh, "Dasar," Kemudian ia berdiri dan menggenggam tangan Evan untuk menemaninya makan malam. Setidaknya saat ini, hubungan Evan dan Raysa masih baik-baik saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD