Rania tersentak bangun begitu mendengar bunyi sesuatu yang pecah masuk ke telinganya. Ia duduk begitu cepat hingga kepalanya tiba-tiba terasa sakit, membuatnya meringis. sesaat Rania merasa kebingungan dengan keadaan sekitar sampai ia ingat di mana ia berada.
Di rumah Awan.
Rania mengusap wajahnya. Semalam ia kesulitan tidur, setiap kali ia mencoba memejamkan mata, sepasang mata penuh kebencian dan juga kemarahan menatapnya balik dari kegelapan, menarik kantuk dari dirinya.
Rania menghela napas tepat saat bunyi gedebuk kembali terdengar. Ia keluar kamar untuk mencari sumber suara. Sinar matahari menerobos masuk lewat celah jendela, memenuhi setiap sudut ruangan dengan cahaya yang membuat Rania menyipitkan mata untuk menyesuaikan diri. Rumah ini jelas di design untuk menerima sumber cahaya alami.
“Upss!”
Suara itu membuat Rania berkedip. Sumbernya dari dapur. Ia bergegas berjalan ke sumber suara dan dihadiahi punggung tegap dan bahu lebar Awan. Hari ini dia memakai kaos abu-abu dengan jeans. Jaket kulit hitamnya teronggok di sandaran kursi.
“Awan?”
Apa yang dia lakukan di sini sepagi ini?
Awan berbalik dan tersenyum lebar. “Pagi.”
Rania membersihkan tenggorokannya sebelum menjawab. “Pagi.”
“Apa aku membangunkanmu?” Awan kembali sibuk melakukan aktivitas apa pun yang sedang dia lakukan sebelum Rania menginterupsi.
Rania menatap kekacauan yang ada di dapur. Apa Awan sedang mencoba memasak atau berusaha membakar dapur?
Belum dipastikan.
“Tidak,” balasnya, menjawab pertanyaan Awan. “Apa yang kau lakukan?” Rania mendekat untuk melihat apa yang sedang dimasak pria itu.
“Mie lidi pedas.” Rania tidak bermaksud mengucapkannya keras-keras, tapi Awan mengangguk mendengarnya.
“Ini makanan favoritmu, ingat? Aku berusaha membuatnya dengan resep di youtube.”
Kedua tangannya mengepal di kedua sisi mendengar pernyataan itu. Ia bisa merasakan sesuatu menghantam dadanya saat ia menatap masakan Awan.
Bagaimana memberitahu Awan kalau Rania yang dulu dia kenal sudah tidak ada? bahwa wanita yang dulu pernah menyatakan cinta padanya sudah pergi? Makanan yang dulu akan membuatnya menjerit kegirangan, sekarang membuatnya mengigil.
Makanan itu hanya pengingat akan hidup yang direnggut darinya setelah ia menikah.
“Kenapa? Tidak suka?” tanya Awan cemas begitu melihat reaksinya. Awan meletakkan piring di atas meja sebelum mendekat.
“Ran…?”
Rania memaksa dirinya tersenyum. “Aku… aku belum pernah memakannya sejak…” ia tidak melanjutkan, tapi tidak perlu karena Awan mengangguk seolah mengerti. Tatapan matanya melembut.
“Aku mengerti. Kalau begitu ada makanan tertentu yang kau inginkan? Aku bisa minta Bu Ani untuk menyiapkannya.”
Rania menggeleng. “Aku tidak lapar, tapi terima kasih.”
“Kau yakin? Aku yakin kau belum makan seharian Ran, dan itu tidak baik.”
Rania menggeleng, kali ini lebih tegas. makanan adalah hal terakhir yang ia cemaskan.
“Aku akan makan begitu lapar. Apa yang kau lakukan di sini pagi-pagi sekali? Apa kau datang untuk memasak?”
Alih-alih menjawab, Awan justru mendekat, tatapan matanya yang penuh membuat Rania merasa tidak nyaman. Ia tidak tahu apa yang sedang dicari pria itu, tapi apa pun itu Rania berharap Awan tidak menemukan apa pun di wajahnya. sudah cukup buruk melihat Awan marah saat melihat luka di wajahnya.
Ia tidak ingin mmebayangkan reaksi Awan jika pria itu tahu ada lebih banyak luka di tubuhnya.
Awan mungkin akan lepas kendali.
Dan ia tidak menginginkan itu.
“Apa kau tidak tidur semalaman?”
“Apa?”
Awan masih menatapnya saat melanjutkan ucapannya. “Tidak bisa tidur?”
Rania tahu tidak ada gunanya berbohong, Awan jelas melihat buktinya di wajahnya jadi ia pun mengangguk.
“Ya, terlalu lelah,” pungkasnya. Mereka berdua tahu bukan itu alasannya, tapi untungnya Awan tidak mendesak dan bertanya lebih jauh. Laki-laki itu hanya mengangguk. Dia berjalan, melepaskan apron dan meletakkannya begitu saja di sandaran kursi.
“Ingat apa yang dulu sering kita lakukan saat kau perlu fokus melukis?”
Dadanya terasa sesak, Rania berjuang keras menelan simpul di tenggorokannya. “Awan aku…”
“Ayo!” tanpa memberi waktu bagi Rania untuk menolak Awan menarik pergelangan tangannya dan membawanya melewati lorong panjang. Untungnya, lorong yang mereka lewati lurus tanpa belokan, ini akan memudahkannya seandainya ia ingin kembali ke tempat ke mana pun Awan ingin membawanya.
Rania menggeleng.
Tidak. Ia tidak akan kembali. Bagaimana pun keberadaannya di sini hanya sementara waktu sampai ia tahu ke mana harus pergi. Saat genggaman di tangannya lepas, Rania merasakan kehilangan konyol menghantamnya.
Rasanya aman saat Awan menggenggamnya.
“Aku bisa melakukannya sekarang untukmu kalau kau mau.” Awan menatapnya, tersenyum lembut.
Rania tidak langsung memahaminya sampai ia melihat grand piano hitam mengkilat yang ditata di tengah ruangan. Dulu saat ia melukis Awan akan memainkan piano untuknya. Kenangan itu meninggalkan empedu di tenggorokannya, membuatnya kesulitan menelan.
Ini hanya piano, seharusnya tidak masalah kan?
“Ayo!”
Rania akhirnya mengangguk. Mungkin ia memang membutuhkannya. Awan duduk kemudian menepuk tempat di sebelahnya.
“Kupikir kau memintaku melukis?”
Awan tertawa. “Tidak sekarang, kita bisa melakukannya nanti, Aoibh. Sekarang duduklah.”
Dan Rania melakukannya.
“Lagu apa yang akan kau mainkan?”
“Compatine d’un autre été: L’après-midi oleh Yann Tiersen.”
Rania mengangguk. Ia belum pernah mendengarnya.
Awan mulai memainkan jari-jarinya di atas tuts-tuts piano. Nada pertama mengalun dengan lembut, mengisi keheningan dengan kenyamanan yang membawa ketenangan.
Rania duduk diam di sebelahnya, berusaha mengikuti alunan musik yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Ia menarik napas dalam tanpa sadar.
Ia tidak tahu mengapa, tapi ada sesuatu dalam cara Awan memainkan piano yang membuat pikirannya perlahan mereda. Beberapa saat lalu kepalanya masih dipenuhi banyak hal. Pertanyaan. Keraguan. Ingatan yang tidak diinginkan. Namun, semua itu perlahan menjauh, tergantikan oleh rangkaian nada yang terus mengalir.
Rania menundukkan kepala sedikit. Kelopak matanya terasa berat.
Awan tetap fokus pada piano. Jemarinya bergerak ringan di atas tuts, tidak pernah berhenti meskipun dia sadar napas Rania mulai terdengar lebih teratur di sampingnya.
Beberapa menit berlalu.
Tanpa sadar, Rania bersandar sedikit ke samping. Bahunya menyentuh lengan Awan terlebih dahulu sebelum akhirnya kepalanya jatuh pelan di bahu pria itu. Kegelapan menariknya dalam pusaran menenangkan. Kali ini tanpa mimpi buruk atau suara-suara mengerikan yang selalu membuatnya terjaga.
Awan tidak bergerak.
Ia kembali memainkan piano dengan lebih pelan, berhati-hati agar tidak membangunkan Rania yang kini tertidur bersandar di bahunya.
“Kau tidak bertanya lagu ini tentang apa?” bisiknya saat jemarinya terus bermain, sudut mulutnya tertarik ke atas, membentuk senyum yang menyimpan banyak makna dan rahasia.
Rania tidak pernah tahu alasan kenapa Awan belajar piano. Rania tidak pernah tahu dia-lah alasan kenapa Awan ingin menguasai piano sejak awal. Ia melirik ke samping, menatap Rania yang tertidur pulas di pundaknya.
Rambutnya kusut di beberapa sisi, seolah wanita itu terlalu lelah untuk sekedar menyisirnya. Lingkaran hitam di bawah kelopaknya memberitahu Awan kalau Rania tidak tidur dengan baik selama beberapa waktu.
Apa Raka penyebabnya?
Meski ingin tahu segalanya, Awan berusaha menahan diri. Ia tidak ingin Rania merasa tidak nyaman dan akhirnya memilih pergi.
“Tidak apa-apa. Aku menjagamu sekarang.” Awan mengelus rambutnya dengan sangat perlahan, nyaris tidak kentara, takut membangunkan wanita itu.
“Kau aman,” bisiknya lagi.
Ponselnya bergetar. Awan buru-buru mengeluarkannya sebelum suara itu membuat Rania bangun.
Pesan dari Laut. Keningnya mengerit begitu membaca isinya.
Laut: kurasa kau harus tahu suami Rania menyewa orang untuk mencarinya.
Awan menghela napas.
Sudah saatnya ia turun tangan sebelum pria b******n itu kembali mengacaukan hidup Rania.