“Kami tidak menemukannya di mana pun.”
Suara pecahan kaca yang melengking menyusul begitu kalimat itu terlontar. Raka yang duduk di kursi bar di rumah mewahnya menatap bawahannya dengan alis berkerut dalam. Kejengkelannya terlihat jelas.
“Dia tidak mungkin pergi jauh. Wanita sialan itu tidak punya uang,” bentaknya. Raka memejamkan mata. Sialan, di mana sih wanita itu? Apa yang bisa dia lakukan tanpa uang? Dia tidak mungkin pergi jauh.
Rania tidak boleh lepas darinya. Wanita itu miliknya.
Suara langkah kaki yang dibalut tumit tinggi memecah ketegangan yang mekar di udara. Raka mengangkat kepalanya, menatap menejernya dengan wajah muram.
“Bagaimana? Hasilnya baik?” tanyanya langsung.
Wanita bersuai akhir 30-an itu mengangguk puas. Tangannya yang lentik dengan kuku yang terawat mengetuk tablet yang ada di tangannya. “Jejak pendapat menunjukkan reputasimu melonjak drastis. Dukungan di media sosial sangat massive, beberapa bahkan menunjukkan dukungan moral dengan membuat aksi sosial tentang pengumpulan dana untuk memberikan hadiah patah hati untukmu.”
Raka tersenyum sinis. Ia menarik gelas lain dan mengisinya. Betapa bodohnya. Orang-orang menarik kesimpulan hanya karena apa yang mereka lihat di media sosial. Mereka sama sekali tidak sadar bahwa semua yang mereka lihat melibatkan skenario dan perencanaan sempurna untuk menciptakan ilusi yang menguntungkan orang-orang seperti dirinya.
Semuanya demi uang dan popularitas.
“Bagus, besok aku akan melakukan kegiatan amal. Pastikan wartawan meliputnya. Ciptakan scenario terbaik untuk mendulang popularitasku ke puncak. Aku ingin setiap simpati dan dukungan mengarah padaku. Setiap sorotan harus membuatku terlihat sebagai korban yang malang.”
Apa yang lebih baik dari menjadi korban?
Semua orang hanya akan melihat kebaikan dalam dirinya.
Wanita berambut bob itu mengangguk. “Tidak masalah. Aku akan membuat wartawan hadir dan meliputmu, yang harus kau lakukan hanya tersenyum ramah dan bersikap seperti malaikat kebaikan.”
Raka mengangguk, kembali meneguk minumannya.
Ia bisa melakukannya.
“Mengenai Rania… kita harus menemukannya secepatnya sebelum dia melapor ke polisi dan membuat masalah.”
Raka menyeringai. “Dia akan ditemukan. Lagipula dia tidak punya uang sepeser pun.”
Maya menggeleng tidak setuju. “Dia berbakat, aku ingat dia melukis dan—“
“Dia tidak.”
Kerutan di kening Maya melebar. “Dia tidak apa?”
“Dia tidak melukis.”
“Tapi seingatku…”
Raka memutar-mutar gelas di tangannya. “Aku memastikan dia tidak melukis sejak menikah denganku.” Karena ia melarang wanita itu melakukannya. Ia ingin Rania bergantung sepenuhnya padanya, hidup di bawah belas kasihannya hingga dia tidak punya kaki untuk melarikan diri.
Sayangnya, ia terlalu lunak sampai wanita itu bisa pergi.
Raka menarik napas tajam, pandangannya menatap pantulan dirinya lewat gelas kaca yang ia pegang. Ia tidak akan membiarkan situasi ini berada di luar kendali. Apa yang ia miliki tidak boleh hancur.
Raka menarik pandangan dari gelas kacanya. “Ke mari,” ujarnya tenang pada pria yang berdiri kaku tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Pria berwajah tirus itu terlihat ragu sesaat, tapi akhirnya melakukan apa yang diperintahkan. Ia berjalan pelan, tapi baru beberapa langkah sesuatu menghantam kepalanya dengan keras. Darah dengan cepat mengucur dari dahinya.
“Temukan dia secepatnya!” geram Raka. “Kumpulkan lebih banyak orang. Jika kalian tidak menemukannya, bukan hanya gelas itu yang akan menghantam kepalamu, mengerti?”
Pria itu mengangguk dengan cepat. “Ba-baik Saya akan—“
“Satu minggu,” potong Raka dingin. “Kuberi waktu satu minggu, jika dalam waktu itu Rania belum ditemukan, aku akan memenggal kepalamu sebagai gantinya. Pergi!”
Maya yang menyaksikan adegan itu hanya memasang wajah bosan, sebelum kembali fokus pada tabletnya.
“Apa yang akan kau lakukan begitu menemukan istrimu?”
Raka tersenyum misterius. Sesuatu yang jahat dan kejam melintas di matanya yang hitam.
“Membuatnya tidak bisa melarikan diri lagi.”
“Maksudmu mengurungnya?”
Raka tersenyum miring. Tidak menjawab.
***
“Bagaimana situasi dengan Rania-mu?”
Awan melempar buah apel yang ada di tangannya pada Laut yang ditangkap saudaranya dengan keahlian seorang petarung. Awan memutar bola mata, kembali sibuk menggasak isi kulkas.
“Berita perceraian mereka sangat massive di media sossial, Bro. mereka trending topic di mana-mana dan kalau boleh kutambahkan Rania mendapat posisi paling tidak menyenangkan di situasi ini. Semua orang menghujatnya. Dan maksudku semua adalah benar-benar semua.”
Awan membuka minuman kalengnya sebelum duduk di kursi. “Dia bukan Rania-ku Laut.”
Laut mendengus. “Kata orang yang cintanya habis di satu orang.”
“Aku tidak—“
Laut mengangkat satu tangannya, mulai berhitung. “Kapan kau pernah membawa seseorang ke rumah? kapan kau pernah terlibat dengan seorang wanita? Jika aku tidak tahu lebih baik aku pasti berpikir kau tidak tertarik pada wanita.”
Sial. Sialan Laut dan keingintahuannya yang menjengkelkan.
“Serius hanya itu argumenmu?” tukasnya santai, menolak terlibat dalam konfrontasi adiknya. “Aku juga belum pernah melihatmu membawa satu pun wanita ke rumah?”
“Itu karena hubunganku dengan para wanita tidak pernah serius. Aku tidak suka terikat.”
“Sial sekali wanita yang terlibat denganmu.”
“Atau mereka beruntung,” sahut Laut, mengangkat kedua bahunya. “Ayolah, tidak ada pria normal yang ingin terlibat dengan wanita penuh drama. Mereka menangis, berharap dunia bekerja seperti apa yang mereka inginkan.”
Awan memutar bola matanya, tidak membalas. Pikirannya sedang di tempat lain. Apa yang dilakukan wanita itu sekarang? ia harap Rania sekarang sedang melukis atau menikmati waktunya.
Dia pantas mendapatkannya setelah semua yang terjadi.
Tusukan rasa sakit menyengat dadanya saat mengingat luka yang menghiasi wajah cantik Rania. b******n sialan itu akan mendapatkan balasan karena berani mengangkat tangan pada Rania.
Raka akan—
“Daaaaaaaaannn si pria menyedihkan itu pun kembali tenggelam dalam dunia gelapnya!”
Awan menghela napas. “Pergi.” Seharusnya ia mengusir Laut sejak tadi, tapi adiknya memang kurang ajar. Selalu datang kapan pun dia mau. Mungkin ia perlu mengganti password rumahnya.
Awan sudah hendak meneguk kembali minumannya saat sudut matanya melihat Laut yang tiba-tiba memasang wajah serius. Semua keriangan dan juga penghiburan apa pun yang ada di matanya kini lenyap. Awan mengerutkan kening.
“Ada apa?” tanyanya.
Laut hanya menatapnya dengan wajah serius, yang jarang terjadi.
“Aku merasa ada yang aneh.”
“Aneh?”
Laut mengangguk. “Seperti yang kau minta, aku menyuruh salah satu anak buahku untuk mengikuti Raka.”
Awan mengangguk. Ia memang melakukannya tapi ini baru beberapa hari, tidak mungkin anak buah Laut sudah menemukan sesuatu yang aneh selain dari yang sudah mereka temukan. Ia masih belum menceritakan tentang kekerasan yang dialami Rania pada Laut.
Kenapa ia tidak melakukannya?
Awan sama sekali tidak punya jawabannya. Hanya saja, rasanya salah mengatakan hal itu saat ia sendiri belum yakin berhadapan dengan apa.
“Menurutku, sebaiknya Rania tidak dibiarkan sendirian.”
Awan meletakkan botol minumannya. “Kenapa?” tanyanya hati-hati.
“Karena aku punya firasat Raka masih akan melanjutkan dramanya. Dan kali ini mungkin lebih buruk."