15

1332 Words

15 Viona berdiri di dekat sofa ruang tamu dengan jantung yang berdegup kencang. Sebisa mungkin ia menyembunyikan kegugupannya dari pandangan Christian yang tampak melangkah ke arahnya dengan wajah tegang. Viona tahu Christian tak senang ditolak untuk b******u lebih jauh. Namun bagi Viona hubungan yang ia jalani bersama Christian bukanlah tentang hasrat semata. Apalagi jika hubungan mereka hanya bersifat sementara. Viona tidak mau dicampakkan oleh Christian dalam kondisi sudah tak punya harga diri apa pun untuk dipertahankan. Ketika Christian tiba di dekatnya, Viona memaksakan seulas senyum. "Silakan minum kopinya, Christ." Untuk pertama kali Viona memanggil Christian dengan nama panggilan yang menurutnya cocok dengan pria itu dan ia harap Christian tidak marah. Dan Christian memang ti

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD