Nafkah Batin yang Tidak Utuh
“Tenggelam! Nyonya Rinjani tenggelam….”
Teriakkan Sari memecah senja, kepanikkan yang tidak terukur, menyaksikan nyonya nya tiba-tiba saja
menggapai-gapaikan tangan di tengah-tengah kolam renang. Lebih frustasi lagi, Sari sendiri tidak bisa berenang. Suara putus asa minta tolong, histeris, ketakutan, hanya itu yang bisa dia lakukan.
Kepala Rinjani sesekali muncul ke permukaan air, merenggut oksigen semampu nya. Kaki nya berkecimpung,
berharap mendorong tubuhnya tetap ke atas. Tidak peduli seberapa kuat dia mencoba, air justru memberikan perlawanan, seakan dia tetap ditarik ke dalam.
“Ya tuhan, Nyonya? Kok bisa? Tolong! Tolong! Mang Adul? Pak Joko?” Anggun bergegas menghampiri,
hingga deru nafasnya terengah-engah. Dia ikut panik, memanggil semua nama yang bisa disebut, berharap salah satu dari nama-nama itu menyelamatkan nyonya mereka.
Sia-sia, mereka pikir sia-sia saja, hingga suara seseorang melompat begitu saja ke dalam kolam renang, menghentikan kepanikkan mereka. Tuan mereka, Gibran, melompat ke dalam kolam tanpa berfikir panjang, sebuah dorongan impulsive, menyelamatkan nyawa wanita yang bisa saja hilang jika terlambat ditolong.
Dia berhasil menarik tubuh Rinjani susah payah ke pinggiran kolam renang. Sari dan yang lainnya menyusul, berdiri tidak jauh dari tuan mereka “Ya tuhan, nyonya” suara Sari bergetar ketakutan, merasa bersalah tidak bisa membantu apapun.
Dada Rinjani memang sesak, dia masih sadar, tapi memilih tetap menutup mata. Kejadian tenggelam sore ini antara disengaja, dan tidak disengaja. Ada maksud tersembunyi dari Rinjani, yang tadinya dia hanya pura-pura tenggelam, justru terjadi kesalahan.
Anggun menyarankan “Tuan Gibran, nafas buatan. Sepertinya nyonya pingsan, kasih nafas buatan dulu” desak Anggun
Mendengar itu, d**a Rinjani bergemuruh “Ayo Mas, dengerin Anggun, kasih istrimu ini nafas buatan,
sekarang mas, ayo sekarang, cium mas, cium istrimu ini” batin Rinjani, penuh harap
Kenapa?
Gibran itu bongkahan es, sulit ditembus dengan emosi kehangatan yang Rinjani miliki. Suaminya itu selalu
bersikap dingin padanya, di sisi lain terkadang sikap suaminya juga sulit ia mengerti.
Seperti barusan, suaminya mau nyebur ke dalam kolam menyelamatkannya, sementara tubuh Gibran masih
dibalut pakaian kerjanya, bahkan ponselnya pun masih di dalam kantong celana.
“Kenapa dia bisa tenggelam?” alih-alih memberikan nafas buatan, Gibran malah bertanya.
“Mu-mungkin kaki nyonya Rinjani tiba-tiba kram, tuan” jawab Sari, sebagai saksi yang pertama kali
menyaksikan kejadian.
“Kuda nil saja tidak tenggelam, kenapa dia malah tenggelam?” Gibran memberikan perbandingan.
“Kok kuda nil sih mas? Aku loh istrimu, wanita tulen. Mentang-mentang tinggiku 160 cm, berat badanku
75 kg? Aku nggak segendut itu loh mas, gemoi aja! No debat!” batin Rinjani lagi.
Menyadari situasi tidak akan sesuai harapannya, Rinjani memilih membuka mata. Dia terbatuk, melepaskan
sesak yang sempat mengusik rongga d**a nya “Uhuk, Uhuk” suaranya mengakhiri dramanya.
Cermin mata mereka saling beradu tatap, meskipun pantulan jiwa Rinjani tidak pernah ia lihat di mata
suaminya itu “Perlu ke rumah sakit?” tanya Gibran padanya
Rinjani hanya menggelengkan kepalanya sayu, tidak bersuara. Air mengalir dari pakain Gibran
yang sudah basah, ia beralih melirik Anggun yang langsung memberikan handuk padanya “Bantu nyonya kembali ke kamarnya” perintahnya.
Selagi mereka memapah Rinjani ke kamar, berbagai pertanyaan mereka lontarkan “Kenapa nyonya bisa tenggelam? Kakinya beneran kram?” tanya Anggun. Sari menatap lebih sendu lagi “Apa tiba-tiba energi nyonya habis? Gara-gara lari keliling halaman belakang lima puluh kali ya?” lanjut Sari menebak
Ada benarnya sih, di bagian Rinjani merasa energinya habis. Besok itu hari anniversary pernikahannya yang ke empat tahun. Hampir setiap tahun, Gibran selalu punya alasan untuk mengelak merayakan itu. Rinjani berharap, tahun ini mereka bisa merayakan
dengan layak.
Jadi, Rinjani berfikir mungkin saja kalau dia terluka, demam atau lain halnya, maka Gibran tidak akan pergi dari rumah, menginap di luar atau sengaja lembur. Apapun itu alasan yang biasa Gibran berikan. Gibran harus berada di rumah kali ini. Makanya Rinjani berpura-pura tenggelam, justru kebablasan jadi beneran tenggelam.
Esok harinya, jendela kamar Rinjani terbuka lebar, ia sengaja membiarkan sorotan lampu alam melewati jendelanya. Pukul 12 siang di pondok indah tidak berarti apapun bagi Rinjani, dia merasa detik jam berlalu terlalu lambat.
Ponsel Rinjani bergetar, notifikasi menampilkan balon chat dari Lusi, si gadis kembang api. Nama kecil yang dia dapat semenjak SMP, karena Lusi suka meledak-ledak untuk suatu hal, dan wajib banget yapping setiap hari, kalau enggak? Jiwanya bakalan terasa
hampa,monoton, tidak b*******h.
Sikap yang berbanding terbalik dengan Rinjani, tapi anehnya mereka bersahabat sudah bertahun-tahun, semenjak SMP hingga selesai kuliah pun, masih awet pertemanan mereka.
(Balon chat aktif)
Lusi : Rin, pokoknya malam ini Lo harus pastiin Lo jadi istri sesungguhnya, dipakai lingerie yang gue kasih buat ultah pernikahan lo. Kelamaan, udah mau empat tahun nih.
Rinjani : Iya, semoga saja.
Lusi : Semoga apanya? Ngobrol sama suami Lo. Minta ke dia hak batin Lo. Dia suami Lo, astaga Rin.
Rinjani : Sabar, katanya cowok makin didesak, nanti dia makin ilfeel.
Lusi : Telpon gue sekarang, nggak bisa, mesti gue arahin, ajarin, tegasin! Angkat telfon gue, buruan!
Rinjani merotasi bola matanya malas, dia menggulir layarnya, menyembunyikan ponselnya di bawah
bantal. Mendengar Lusi mengoceh juga bakalan menguras energinya, semacam Lusi itu penyedot debu premium.
“Nyonya? Nyonya, ada yang nganterin paket” Sari mengetuk pintu kamar, membuat Rinjani mengernyitkan
kening nya bingung. Seingatnya dia tidak memakai barang apapun. Begitu dia keluar, Sari menyodorkan dua buah totebag, satu berwarna coklat, satunya lagi merah muda
“Paket punya siapa mbak?” Rinjani membuka sedikit celah totebag itu.
“Kata abang paketnya, tuan Gibran yang suruh kirim kesini, nyonya”
“Ha?” Rinjani tersentak “Nggak kayak biasanya, Gibran jarang pesan paket kayak gini” batin Rinjani. Ia
mengintip lagi dan timbullah rasa penasaran.
Bunyi klik dari pintu yang tertutup, mengalihkan Rinjani fokus dengan isi kepalanya sekarang. Totebag
berwarna coklat isinya sekotak coklat praline “Wahh, wanginya. Kelihatannya enak. Mas Gibran jarang makan coklat, apa jangan-jangan buat aku ya?” Rinjani begitu girang
Tote Bag berwarna merah muda membuat mata Rinjani lebih terpukau. Isinya gaun cocktail style, gaun
elegan yang sedang hangat dibicarakan desainer ternama baru-baru ini.
“Gaun? Bentar-bentar” Rinjani mengatur nafasnya “Jangan-jangan Mas Gibran sengaja
mengirim ala-ala surprise, begitu? Biar jadi kejutan buat aku. Ini semua pasti dia persiapkan untuk anniv nanti malam. Ya ampun Mas, setelah sekian lama”
Rinjani mengeluarkan gaun itu, buru-buru dia berdiri di depan cermin panjang nya. Pantulan dirinya
menunjukkan penampilannya dengan gaun itu, tapi itu tidak sesuai dengan pikirannya.
“Gaun ini?” dia bergumam, membolak-balik ukuran gaun itu “Ini bukan ukuran ku. Gaun nya kekecilan deh”
katanya, dia masih memastikan ukuran gaun itu berulang kali “Kayaknya gaunnya nggak muat di aku deh”
“Makanya kalau saya telpon di angkat!” suara bentakkan Gibran terdengar dari luar. Rinjani menoleh ke arah
pintu kamarnya, tercengang, berdebar, kebingungan.
“Kenapa dikasih ke dia totebag nya?!” Gerutu Gibran langsung membuka pintu kamar, mendapati Rinjani
tertegun berdiri di depan cermin sambil memegang gaun berwarna golden brown.
“Kamu mau ngapain? Itu gaun buat Embun” ucap suaminya lirih, menyebut nama wanita itu lagi.