bc

Setelah Pernikahan Kontrak, Aku Dicintai Pamannya

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
love-triangle
contract marriage
heir/heiress
drama
lies
polygamy
like
intro-logo
Blurb

“Aku hanya istrimu di atas kertas, pun jika kamu tidak mencintaiku, setidaknya jangan injak martabat ku di depan wanita itu, Mas. Apa tidak bisa, sekali saja kamu menjadi seorang pria untuk ku?”

~Rinjani~

“Kamu ingin aku menatapmu? Baiklah, aku menatap mu sekarang. Jangan salahkan aku, jika yang kamu temui hanyalah bayangan Embun Ivanka di cermin mata ku. Jangan harap, pengabdianmu itu bisa merubah durasi kontrak pernikahan diantara kita.

~Gibran~

“Jangan pernah menangis lagi di depan ku, Rinjani. Karena, jika sekali aku maju, aku tidak akan membiarkan mu kembali pada keponakan ku, aku tau persis bagaimana memuliakan miliknya”

~Pandu~

Satu kontrak yang ingin sekali aku langgar, satu dosa yang justru datang menggoda. Aku menjadi istrinya yang paling mulia, ideal, terbaik sejagat raya. Tapi, semua yang Gibran lihat hanyalah Embun, si gadis impiannya. Aku kira aku tidak berharga, hingga suatu hari paman, sekaligus rival bisnis suami ku memberikan setangkai bunga, kenapa berlian sepertimu mau membeku di rumah ini?

chap-preview
Free preview
Nafkah Batin yang Tidak Utuh
“Tenggelam! Nyonya Rinjani tenggelam….” Teriakkan Sari memecah senja, kepanikkan yang tidak terukur, menyaksikan nyonya nya tiba-tiba saja menggapai-gapaikan tangan di tengah-tengah kolam renang. Lebih frustasi lagi, Sari sendiri tidak bisa berenang. Suara putus asa minta tolong, histeris, ketakutan, hanya itu yang bisa dia lakukan. Kepala Rinjani sesekali muncul ke permukaan air, merenggut oksigen semampu nya. Kaki nya berkecimpung, berharap mendorong tubuhnya tetap ke atas. Tidak peduli seberapa kuat dia mencoba, air justru memberikan perlawanan, seakan dia tetap ditarik ke dalam. “Ya tuhan, Nyonya? Kok bisa? Tolong! Tolong! Mang Adul? Pak Joko?” Anggun bergegas menghampiri, hingga deru nafasnya terengah-engah. Dia ikut panik, memanggil semua nama yang bisa disebut, berharap salah satu dari nama-nama itu menyelamatkan nyonya mereka. Sia-sia, mereka pikir sia-sia saja, hingga suara seseorang melompat begitu saja ke dalam kolam renang, menghentikan kepanikkan mereka. Tuan mereka, Gibran, melompat ke dalam kolam tanpa berfikir panjang, sebuah dorongan impulsive, menyelamatkan nyawa wanita yang bisa saja hilang jika terlambat ditolong. Dia berhasil menarik tubuh Rinjani susah payah ke pinggiran kolam renang. Sari dan yang lainnya menyusul, berdiri tidak jauh dari tuan mereka “Ya tuhan, nyonya” suara Sari bergetar ketakutan, merasa bersalah tidak bisa membantu apapun. Dada Rinjani memang sesak, dia masih sadar, tapi memilih tetap menutup mata. Kejadian tenggelam sore ini antara disengaja, dan tidak disengaja. Ada maksud tersembunyi dari Rinjani, yang tadinya dia hanya pura-pura tenggelam, justru terjadi kesalahan. Anggun menyarankan “Tuan Gibran, nafas buatan. Sepertinya nyonya pingsan, kasih nafas buatan dulu” desak Anggun Mendengar itu, d**a Rinjani bergemuruh “Ayo Mas, dengerin Anggun, kasih istrimu ini nafas buatan, sekarang mas, ayo sekarang, cium mas, cium istrimu ini” batin Rinjani, penuh harap Kenapa? Gibran itu bongkahan es, sulit ditembus dengan emosi kehangatan yang Rinjani miliki. Suaminya itu selalu bersikap dingin padanya, di sisi lain terkadang sikap suaminya juga sulit ia mengerti. Seperti barusan, suaminya mau nyebur ke dalam kolam menyelamatkannya, sementara tubuh Gibran masih dibalut pakaian kerjanya, bahkan ponselnya pun masih di dalam kantong celana. “Kenapa dia bisa tenggelam?” alih-alih memberikan nafas buatan, Gibran malah bertanya. “Mu-mungkin kaki nyonya Rinjani tiba-tiba kram, tuan” jawab Sari, sebagai saksi yang pertama kali menyaksikan kejadian. “Kuda nil saja tidak tenggelam, kenapa dia malah tenggelam?” Gibran memberikan perbandingan. “Kok kuda nil sih mas? Aku loh istrimu, wanita tulen. Mentang-mentang tinggiku 160 cm, berat badanku 75 kg? Aku nggak segendut itu loh mas, gemoi aja! No debat!” batin Rinjani lagi. Menyadari situasi tidak akan sesuai harapannya, Rinjani memilih membuka mata. Dia terbatuk, melepaskan sesak yang sempat mengusik rongga d**a nya “Uhuk, Uhuk” suaranya mengakhiri dramanya. Cermin mata mereka saling beradu tatap, meskipun pantulan jiwa Rinjani tidak pernah ia lihat di mata suaminya itu “Perlu ke rumah sakit?” tanya Gibran padanya Rinjani hanya menggelengkan kepalanya sayu, tidak bersuara. Air mengalir dari pakain Gibran yang sudah basah, ia beralih melirik Anggun yang langsung memberikan handuk padanya “Bantu nyonya kembali ke kamarnya” perintahnya. Selagi mereka memapah Rinjani ke kamar, berbagai pertanyaan mereka lontarkan “Kenapa nyonya bisa tenggelam? Kakinya beneran kram?” tanya Anggun. Sari menatap lebih sendu lagi “Apa tiba-tiba energi nyonya habis? Gara-gara lari keliling halaman belakang lima puluh kali ya?” lanjut Sari menebak Ada benarnya sih, di bagian Rinjani merasa energinya habis. Besok itu hari anniversary pernikahannya yang ke empat tahun. Hampir setiap tahun, Gibran selalu punya alasan untuk mengelak merayakan itu. Rinjani berharap, tahun ini mereka bisa merayakan dengan layak. Jadi, Rinjani berfikir mungkin saja kalau dia terluka, demam atau lain halnya, maka Gibran tidak akan pergi dari rumah, menginap di luar atau sengaja lembur. Apapun itu alasan yang biasa Gibran berikan. Gibran harus berada di rumah kali ini. Makanya Rinjani berpura-pura tenggelam, justru kebablasan jadi beneran tenggelam. Esok harinya, jendela kamar Rinjani terbuka lebar, ia sengaja membiarkan sorotan lampu alam melewati jendelanya. Pukul 12 siang di pondok indah tidak berarti apapun bagi Rinjani, dia merasa detik jam berlalu terlalu lambat. Ponsel Rinjani bergetar, notifikasi menampilkan balon chat dari Lusi, si gadis kembang api. Nama kecil yang dia dapat semenjak SMP, karena Lusi suka meledak-ledak untuk suatu hal, dan wajib banget yapping setiap hari, kalau enggak? Jiwanya bakalan terasa hampa,monoton, tidak b*******h. Sikap yang berbanding terbalik dengan Rinjani, tapi anehnya mereka bersahabat sudah bertahun-tahun, semenjak SMP hingga selesai kuliah pun, masih awet pertemanan mereka. (Balon chat aktif) Lusi : Rin, pokoknya malam ini Lo harus pastiin Lo jadi istri sesungguhnya, dipakai lingerie yang gue kasih buat ultah pernikahan lo. Kelamaan, udah mau empat tahun nih. Rinjani : Iya, semoga saja. Lusi : Semoga apanya? Ngobrol sama suami Lo. Minta ke dia hak batin Lo. Dia suami Lo, astaga Rin. Rinjani : Sabar, katanya cowok makin didesak, nanti dia makin ilfeel. Lusi : Telpon gue sekarang, nggak bisa, mesti gue arahin, ajarin, tegasin! Angkat telfon gue, buruan! Rinjani merotasi bola matanya malas, dia menggulir layarnya, menyembunyikan ponselnya di bawah bantal. Mendengar Lusi mengoceh juga bakalan menguras energinya, semacam Lusi itu penyedot debu premium. “Nyonya? Nyonya, ada yang nganterin paket” Sari mengetuk pintu kamar, membuat Rinjani mengernyitkan kening nya bingung. Seingatnya dia tidak memakai barang apapun. Begitu dia keluar, Sari menyodorkan dua buah totebag, satu berwarna coklat, satunya lagi merah muda “Paket punya siapa mbak?” Rinjani membuka sedikit celah totebag itu. “Kata abang paketnya, tuan Gibran yang suruh kirim kesini, nyonya” “Ha?” Rinjani tersentak “Nggak kayak biasanya, Gibran jarang pesan paket kayak gini” batin Rinjani. Ia mengintip lagi dan timbullah rasa penasaran. Bunyi klik dari pintu yang tertutup, mengalihkan Rinjani fokus dengan isi kepalanya sekarang. Totebag berwarna coklat isinya sekotak coklat praline “Wahh, wanginya. Kelihatannya enak. Mas Gibran jarang makan coklat, apa jangan-jangan buat aku ya?” Rinjani begitu girang Tote Bag berwarna merah muda membuat mata Rinjani lebih terpukau. Isinya gaun cocktail style, gaun elegan yang sedang hangat dibicarakan desainer ternama baru-baru ini. “Gaun? Bentar-bentar” Rinjani mengatur nafasnya “Jangan-jangan Mas Gibran sengaja mengirim ala-ala surprise, begitu? Biar jadi kejutan buat aku. Ini semua pasti dia persiapkan untuk anniv nanti malam. Ya ampun Mas, setelah sekian lama” Rinjani mengeluarkan gaun itu, buru-buru dia berdiri di depan cermin panjang nya. Pantulan dirinya menunjukkan penampilannya dengan gaun itu, tapi itu tidak sesuai dengan pikirannya. “Gaun ini?” dia bergumam, membolak-balik ukuran gaun itu “Ini bukan ukuran ku. Gaun nya kekecilan deh” katanya, dia masih memastikan ukuran gaun itu berulang kali “Kayaknya gaunnya nggak muat di aku deh” “Makanya kalau saya telpon di angkat!” suara bentakkan Gibran terdengar dari luar. Rinjani menoleh ke arah pintu kamarnya, tercengang, berdebar, kebingungan. “Kenapa dikasih ke dia totebag nya?!” Gerutu Gibran langsung membuka pintu kamar, mendapati Rinjani tertegun berdiri di depan cermin sambil memegang gaun berwarna golden brown. “Kamu mau ngapain? Itu gaun buat Embun” ucap suaminya lirih, menyebut nama wanita itu lagi.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.9K
bc

TERNODA

read
200.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.9K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
17.7K
bc

Kali kedua

read
218.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.3K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
77.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook