LLT 05 | ABOUT ZIYA ASFARA

3793 Words
Semakin dewasa, semua bukan hanya tentang rasa dan permainan. Waktunya berserah, demi tujuan yang terarah. Bahkan kapal pecah pun tetap butuh nahkoda untuk sampai di pelabuhan, dengan memperbaiki yang rusak. ___________ Luna menghentikan mobilnya di suatu tempat, dimana terdapat banyak orang berdansa dan bau alkohol yang menyengat. Dunia malam yang paling ia hindari, tetapi harus ia datangi supaya sahabatnya terselamatkan. Gadis itu juga lupa, dia memakai rok span di atas lutut, t-shirt crop dan jaket denim saja. Pantas banyak lelaki yang langsung tertuju ke arahnya. Namun dia berusaha mendorongnya dan tidak memperdulikan siulan nakal itu. "isinya cowok berengsek semua," gerutunya kesal. Lubang hidungnya juga ia tutupi dengan jari. Tidak kuat dengan bau alkohol yang menyengat. 'cantik, ayo main' 'bisa pol dance ga?' 'cwiwit cantik' "Minggir anjing!" umpat Luna tidak tahan dengan godaan dan sentuhan mereka. Hingga akhirnya, dia menemukan satu deret ruangan privat. Katanya ada Ziya di dalam salah satu ruangan itu. "astaga ini anak bandel dimana sih," gumamnya khawatir. Dia meneliti satu per satu isi ruangan dari jendela. Isinya hal tidak senonoh semua. Bikin mual dan jijik. Dang! ketemu juga... Luna menyerobot masuk karena pintu tidak terkunci. Betapa bodohnya Ziya. Saat itu juga, Ziya akan meneguk segelas kecil vodka. Gelas itu lalu disambar oleh Luna dengan cepat, sampai pecah berkeping - keping di lantai. Vodka yang berjajar di meja pun ia pecahkan di tempat, tanpa berpikir panjang. Padahal harganya lumayan mahal dan sudah di bayar Ziya. Luna tidak peduli. "LO GAK WARAS?!!" teriaknya di depan wajah Ziya yang menatap lurus, pikirannya entah terbawa kemana. "Ziya jawab zi! lo udah mabuk kah?!" "muntahin nggak?!" Luna menghampirinya dan tanpa basa basi menggebuk punggung lebar sahabatnya. "gue belum mabuk," lirih dia. Luna menghela nafas lega mendengarnya. "lo kenapa se nekat ini sih, Zi? lo ada masalah apa? kenapa nggak langsung cerita aja?" tanya Luna panik sekaligus khawatir. "masalah hidup, masalah cinta, semuanya nimpuk gue tanpa aba - aba," Bibir gadis itu kelu. Kepalanya terasa bising. "kan biasanya ke rumah gue dulu. Bisa tanya mama, lo lupa nyokap gue psikiater?" Ziya menggeleng lesu. Tatapannya masih kosong. "Gue belum bisa tenangin diri sendiri, dan nggak mau repotin lo terus atau Runa. Bahkan mama papa," "ya ampun Ziya, kita nggak pernah ngerasa direpotin sama lo," kadang iya sih, batin Luna. Nggak munafik y "sekarang cerita, lo kenapa? sampai nekat kesini," "papa pulang, Lun. Gue mau lakuin hal yang lo saranin kemarin, tapi diluar ekspetasi dari yang gue pikirkan," 4 jam yang lalu... Ziya sudah sampai rumah, badannya pegal dan emosinya masih meluap di ubun - ubun, Jean memang kurang ajar. Dia melemparkan tasnya ke sofa, lalu membuka kulkas untuk mengambil sebotol air putih dingin, untuk menghilangkan dahaganya. "Gila, dasar cowok sinting," umpatnya sambil meremas botol plastik itu. "udah ga waras otaknya, cowok berengsek," "siapa yang berengsek? Ziya Asfara," ujar seorang laki - laki bersuara serak basah yang sudah khas di telinga Ziya, dari belakangnya. Ziya tidak berani memutar badannya, dia mengenali suara siapa itu. Tangannya bergetar hebat serta jantungnya berdegup kencang. "selamat sore, anak cantik," ucap suara parau itu, membuat bibir Ziya terkatup rapat. "kok diam saja, papa pulang tidak disambut?" ucap lelaki yang di duga papa Ziya itu sedikit kecewa. Gadis itu memejamkan mata sebentar lalu menghela nafas panjangnya. Akhirnya, dia memberanikan diri untuk balik badan. Yang dilihatnya, Laki - laki berusia 40 tahunan. Masih muda, tampan, putih dan segar bugar. Senyuman teduhnya pun tidak berubah. Mungkin itu efek tinggal di luar negeri. Dia, cinta pertama Ziya Asfara ketika lahir di dunia. Ayah atau papa, seorang laki - laki pertama yang ada di dalam hati anak gadisnya. Rasanya Ziya ingin memeluk d**a bidang itu. Namun ia urungkan niatnya, karena teringat dia berada di pihak mamanya. "apa kabar, papa..." lirihnya pelan sambil menahan air matanya yang telah menggenang. "just that, pretty girls ?" "lantas? Ziya harus apa?" Dia pun tidak tersenyum menyambut kedatangan lelaki itu. Papanya menunduk sebentar lalu mendongak lagi. "sudah tidak apa, kabar papa baik dan rindu anak papa satu - satunya," ujar beliau sungguh bersemangat dan antusias. Lain halnya dengan anak gadis dihadapannya ini. "tidak rindu mama?" Bibir Ziya bergetar mengucap pertanyaan yang sudah lama ia pendam. Lelaki itu diam bak patung, tidak menjawab. "diamnya papa itu jawabannya, bukan? how dare you," ucap Ziya air mata yang mulai membasahi pipinya. "i'm sorry, Ziya. Papa tau perasaan kamu, tapi tolong jangan bahas mama mu lagi. Saya terlanjur sakit hati mendengar kata - katanya dan melihat perbuatannya," keluh Jordan, papa Ziya. Beliau juga menahan tangisnya. "sakit hati? LEBIH SAKIT MANA OMONGAN DENGAN PERSELINGKUHAN PA?!" seru Ziya berani meninggikan suaranya. "ZIYA JUGA SAKIT HATI GARA - GARA KALIAN BERDUA!" lanjutnya sambil menunjuk dirinya sendiri. Matanya memerah, begitu pula telinganya. Situasi ini benar - benar tidak diinginkan oleh Ziya. Rencana awal yang disusun dirinya sejak diberi nasehat sahabatnya, buyar seketika melihat papanya. Dia juga melatih rasa sabarnya, alhasil semua usaha itu percuma. Ketika melihat lelaki ini di hadapannya, dia sudah hilang respect. "ternyata kamu satu pihak dengan mama kamu? okey, tapi papa tidak berbuat selingkuh itu. Kalau kamu masih tidak percaya, silahkan. Kamu punya hak untuk itu," ucap Jordan mengangguk paham. "Saya tidak akan percaya lagi dengan papa," tukas Ziya memalingkan wajahnya, tidak sanggup memandang raga yang sebenarnya sangat dia rindukan itu. Raga yang berjuang membiayai hidupnya, memanjakan dan menyayangi dirinya sebelum meninggalkan tak terhitung tahunnya. Ziya rindu, tetapi benteng kecewanya lebih kokoh dibanding rasa rindu itu. "terserah, itu hak kamu sebagai anak durhaka," lontar papanya tiba - tiba. Hati Ziya tentu tersayat ketika mendengar kata 'durhaka' yang keluar dari mulut cinta pertamanya. Dia menatap papanya dengan tatapan nanar. "kenapa? betul kan?" ulang Jordan kemudian melengos. "jahat sekali anda, saya selama ini menanggung beban pikiran keluarga gara - gara siapa?! ANDA! mudah sekali bilang saya durhaka?!" bantah Ziya tidak terima. "Papa cuma tau Ziya suka menghamburkan uang? iya kan, apa papa tau mental Ziya selama ini?" lanjutnya seraya berkacak pinggang. "Ziya sudah besar pa, Ziya sudah memikirkan keluarga. Bukan anak SMA yang hanya kenal uang tanpa peduli orang tuanya pa," jelasnya. Gadis itu menangis lumayan deras sambil berlutut. Sungguh menyakitkan. "mama pergi sekarang, Ziya harus gimana lagi?" lirihnya dengan isak tangis yang menyesakkan d**a. "biarkan," jawab papanya santai. Kepala Ziya terangkat, menatap lelaki itu dengan tangan terkepal. "Se enteng itu pa? pantas semua laki - laki sama aja!!" seru Ziya tidak tahan. Papanya ikut berlutut, menghapus tangisan anak gadisnya. Tetapi, tangan Ziya menepisnya dengan cepat. "Hei, pengacara papa dalam perjalanan kesini bersama om Irwan. Kamu hanya perlu menunggu, untuk tau apa yang sebenarnya terjadi, ya sayang?" ucapnya kini menurunkan nada bicaranya. Terdengar lebih halus. "papa minta maaf dengan kekacauan dua tahun silam dan membuat mental kamu terganggu, menjadi beban pikiran kamu, papa sangat meminta maaf, Ziya," "semua yang terjadi bisa saya maafkan kecuali Perselingkuhan, pa!" tegas Ziya. Lelaki itu menghela nafasnya kasar. Dia menarik tangan anaknya pelan namun ditepis lagi. "duduk dulu, Ziya" pintanya masih halus. "nggak!" "Ziya, kamu kenapa jadi pembangkang seperti ini?" "KURANG KASIH SAYANG DARI CINTA PERTAMA ZIYA!!!" "DUDUK PAPA BILANG DUDUK!!" Keduanya sudah saling meninggikan suara serta kalut. Ziya semakin takut. Dia ingin kabur, tetapi masalahnya pasti tidak akan selesai. Akhirnya, gadis itu mencoba mengalah dan duduk di sofa bersama papanya. I mean, yang sebentar lagi jadi mantan. "Demi Tuhan, papa tidak tega berteriak seperti itu. Tapi kenapa kamu menolak, hmm?" "saya sudah bilang tadi," jawab gadis itu singkat. "Papa minta maaf sekali, Ziya. Tapi sekarang cuma kamu yang papa punya dan sayangi. Seharusnya kamu tau ini besok, tetapi ya sudahlah saya tidak mau membuat kamu semakin sakit hati jika tau apa yang terjadi secara terlambat," Ziya masih diam sambil menangis. Jordan mengambil sebuah handphone dari tas kerja nya dan juga kertas print bergambar. "papa tau kamu akan lebih sakit hati, apa kamu siap menerimanya?" "Ziya mengalah pa," lirih gadis itu. Dia segera mengusap air matanya. satu per satu gambar print itu disusun di meja. Serta layar handphone yang menampilkan screenshot chat w******p dan i********:. Ziya awalnya tidak tau, karena pandangannya blur. Setelah menghapus air matanya lagi, sungguh ini diluar ekspetasi Ziya. "Dari foto ini kamu bisa tau dan menyimpulkan apa yang terjadi kan?" tanya Jordan. Sedari tadi juga dia khawatir melihat anaknya yang terus menangis. Ziya mengambil foto paling kanan. Tersayat hatinya dan ia menangis lagi. Dadanya sesak, kepalanya pusing, punggungnya bergetar. Jordan semakin tidak tega. Namun, ia harus tuntaskan sekarang daripada semuanya terlambat. "ini bukan mama kan, pa?" tanya Ziya memastikan. "Ziya, apakah kamu mau melupakan ibu kamu?" Damn, seperti ada petir yang menyambar hati gadis itu. Foto yang berjajar itu berasal dari screenshot cctv dimana mama Ziya terlihat asyik dengan beberapa lelaki yang berbeda. Ada yang di hotel, di club atau di kolam renang. Semuanya Tampak romantis. Namun, hati Ziya sangat sakit. Dia tertipu dengan semua omong kosong mama nya. Ini kah yang dia sebut kerja? Sedangkan, screenshot chat itu salah satu bukti dari beberapa lelaki yang pernah dipesan mamanya sendiri. Ini adalah alasan mengapa beliau tidak pernah pulang. Bahkan sampai berhari - hari. "itu asli, papa tidak berani memanipulasi apapun dan menipu siapapun apalagi kamu. Memang yang kalian pikirkan, papa hanya gila kerja disana dan selingkuh, right ?" "you wrong, cewek yang papa temuin di bar itu adalah teman mama kamu yang selalu kasih bukti. Papa merhatiin kamu juga lewat Luna, Runa atau Arlean, mereka yang papa kenal dengan baik," "papa juga tidak menyangka, Ziya. Memang itu terjadi murni kesalahan papa. Tapi mau menjelaskan itu percuma, mama kamu keras kepala. Semua media sosial papa di blok dan nomor mama kamu selalu ganti setelah papa hubungi, makanya dia juga bisa menghubungi lelaki yang berbeda," "Papa pulang kesini mau menyelesaikan ini semua, minta maaf sama kamu dan mama kamu. Tapi kembali lagi, terserah kamu mau percaya atau tidak Ziya," "Dan harusnya ini menjadi bukti di pengadilan nanti, tapi papa tidak tega lihat kamu tertekan seperti ini. Sekarang kamu tambah sakit hati melihatnya, tidak apa daripada kamu kaget belakangan," "Ziya, papa kembali mau menemani kamu dan pindah dari rumah ini. Papa sudah siapkan semuanya buat kita, papa mau nebus segala kesalahan papa ke kamu," "can we back together, Ziya Asfara, my pretty girls?" Mendadak kepala Ziya terasa berat, belum bisa menerima apa yang terjadi secara tiba - tiba ini. Seakan keadaan berbalik, hatinya lebih sakit. Dia pun tidak menjawab pertanyaan papanya. Gadis itu kemudian berdiri, membawa tasnya pergi tanpa berpamitan. Jordan kaget, "Ziya!! ziya kamu mau kemana nak?!" "Ziya!!" Teriakan papanya tidak menghentikan langkahnya. Tante Ziya yang sedari tadi berada di balik pintu dapur langsung menghampiri. "biarin dia dulu, dek. Sabar, Ziya sudah besar dan perlu berpikir. Dia butuh waktu sendiri," ucap kakaknya menenangkan. "Ziya, maafkan papa," ???? Ziya tidak bisa menangis lagi. Matanya sembab dan bibirnya pucat pasi. Luna juga tidak menyangka hal ini malah berkebalikan. Orang yang ada di dekat Ziya, justru yang melakukan itu lebih parah. "gue harus gimana lagi, Lun?" ucap gadis itu terdengar pasrah. Luna menggenggam tangan sahabatnya. Dengan tatapan pilu dan ingin menangis, ia berusaha meyakinkan Ziya lagi. "bagaimana pun solusinya, lo harus tetep pulang dulu, Ziya. Bukan gue nggak memberi lo tumpangan tapi plis sekali ini lo pulang," "gue juga belum bisa mencerna cerita lo. Masih syok banget, but papa lo juga pasti nunggu di rumah," Harus percaya siapa lagi setelah ini? Semuanya munafik. Orang yang justru disayang malah berkhianat. Tuhan, jika menghendaki ambil saja aku, ciptaan - Mu itu memiliki banyak topeng hingga diriku selalu tertipu. "bahkan orang yang selama ini gue dukung dan percaya, malah berkhianat," Ziya merasakan kehilangan. Kosong. Sesak. "you must go home, Zi. Gue emang selalu ngabarin bokap lo setiap hari bahkan ngepap diem diem, bukan hanya gue. Kak Lean, Runa, Xavian," "Hei, listen to me. Ini ibarat, Papa lo adalah nahkoda yang sudah kehilangan satu penumpangnya sebab berkhianat. Lo sebagai penumpang terakhirnya, tidak boleh hilang," "saat ini, kapal itu retak, nahkoda berusaha memperbaiki kerusakan itu agar penumpang kesayangannya tidak tenggelam. Tapi, nahkoda juga butuh penumpang itu supaya dia kuat. Akan ada waktu dimana, kapal yang ditumpangi, sampai di pelabuhan dengan sempurna walaupun keadaan kapalnya sudah lagi tidak seperti semula," Luna menasehatinya seolah bercerita. Mengumpamakan masalah Ziya seperti cerita nahkoda yang kehilangan satu penumpangnya, lalu penumpang itulah yang memecahkan kapalnya. "trust me, your father doing well. Dia sayang lo, banget malah. Dia nggak pernah absen nanyain keadaan lo gimana, dia tau mental lo di rumah seperti apa. He knows and care anything about you, Ziya. Hanya lo yang beliau punya sekarang," "mungkin gue, Runa, Xavian, dan Kak Lean bisa menjadi anak bayangannya. Kita udah bersyukur bantu bokap lo, tapi jujur, gue baru tau apa yang terjadi saat ini," ucap Luna menjelaskan panjang lebar. Dia memeluk erat sahabatnya itu. Tangisan keduanya pecah seketika. Sulit untuk menerima segala hal yang terjadi secara tiba - tiba ini. Tetapi apa yang sudah digariskan, pasti terlaksanakan. Segala kepingan kaca ini, akan menjadi lebih baik jika kita menemukan perekatnya kembali. Walaupun pada akhirnya, kaca itu tidak sempurna seperti sedia kala. comeback and fix it, that's the key. Luna membiarkan Ziya mengeluarkan semua bebannya. Tidak menyangka, akan seberat ini yang dilalui sahabatnya. Rasanya seperti boomerang. Bahkan bagi Luna sendiri juga merasakan. Tidak ada alasan untuk marah lagi dengan Ziya, biarkan pikirannya kemarin tentang Jean terkubur dulu. Ini lebih penting. 20 menit kemudian... "gimana? udah mendingan?" tanya Arlean. Sejak kapan cowok itu datang? Luna tadi menghubunginya saat dijalan. Ternyata dia ada acara dengan keluarga besar pacarnya, tetapi bisa menyusul. Saat Ziya masih menangis, Luna yang menceritakan semua pada Arlean. Xavian dan Runa terlalu kecil untuk dibawa ke club. Padahal mereka dari tadi spam tiada henti karena sangat penasaran apa yang terjadi. Mengingat mereka juga orang yang dipercaya oleh Jordan. Arlean mengusap tangan Ziya pelan. Hatinya juga teriris mendengar cerita itu. Selama ini, dia lah yang paling dipercaya papa Ziya untuk menjaga anaknya. "Ziya mau apa habis ini? es krim? atau yang lain? kak Lean beliin," tawar cowok itu sambil berusaha tersenyum lebar. Ziya menggeleng lesu. Badannya tidak berdaya. "aku mau pulang," ucapnya. "iya, nanti kak Lean anterin ya?" "lo serius, Zi? yakin siap?" sahut Luna bertanya, Memastikan. "gue mau selesain ini sekarang, udah nggak kuat," jawab Ziya terlihat pasrah. "iya, kita berdua ada di samping lo kalau butuh sandaran. Masalah ini lebih serius dari yang gue bayangin, gue aja syok," Ziya tertawa rapuh, "apalagi gue," "everything will be fine, semua akan balik ke posisinya," ucap Lean menyandarkan kepala itu di bahunya. "makasih kalian, thank you so much," "with pleasure, Ziya," jawab Arlean dan Luna bersamaan, memberi pelukan hangat. Membuat gadis rapuh itu kembali tersenyum kecil. Dia bersyukur dikelilingi orang baik yang selalu menerima segala kekurangannya, mentalnya, masalahnya. Bahkan bisa terselesaikan berkat mereka. Ziya sayang semuanya. "Giliran gue yang cerita dong, lagi seneng nih," ujar Luna melepaskan pelukan itu. Mungkin dengan cerita ini, Ziya sedikit terhibur. "apa tuh?" "tebak gue habis ketemu siapa..." ujar Luna menahan senyumnya. "Rektor?" jawaban Arlean yang tidak masuk akal membuat Luna bete. "ck ya kalik gue nemuin rektor, mau ngapain," ketusnya sambil bersedekap. "katanya suruh nebak, terserah dong," "ah lama, habis ketemu JEVAN!!" serunya kegirangan. "Jean?!" ucap Arlean dan Ziya kaget. "pake V plis, jeVan not Jean. Gue belum ketemu sama satunya," "oooo, terus lo kenalan?" "dia yang ngajak, tadi awalnya gue kira Jean karena sama persis. Yaiyalah orang kembar, tapi gue agak susah bedainnya," "syukurlah lo belum ketemu Jean," "ck bukannya ngedukung," timpal Luna kesal. Ziya menatap Arlean sebentar, ia terlihat mengangguk perlahan. "serius gapapa, zi?" bisiknya. "it's okay, kita kasih dia kesempatan. Daripada begini terus, dia kepo," "tapi lo gapapa kan?" Ziya tersenyum kecil dan mengangguk. "Lun, gue mau ngomong," Gadis itu menarik nafas panjangnya sebelum mengatakan lanjutannya. Terlihat berat, namun ya sudahlah mungkin ini yang terbaik. "apa tuch," Luna menjadi excited setelah membahas si kembar Eleazar itu. "kita lepasin lo," ujar Ziya singkat. Luna tidak mengerti, "maksudnya?" "Kita lepasin lo, kalau lo mau suka sama Jean, oke. Berusahalah, kita kasih lo kesempatan. Dan kita juga nggak akan pernah tau Jean gimana ke lo," "kak Lean dan gue, tidak bisa memprediksi Jean seperti apa jika sama lo. Kalau mau nyoba masuk ke hatinya, silahkan. Tapi kita ingetin, lo jangan terlalu menggebu - gebu sama dia. let it flow, Luna. Dan jangan terlalu dalam jika perbuatan Jean belum meyakinkan," "terus, ada satu hal yang penting. Lo jangan pernah cemburu kalau gue sedekat itu sama Jean, gue sama dia memang nggak bisa di deskripsikan kayak apa. Tapi Jean butuh gue, dan gue butuh dia," "bukan maksud untuk sombong, tapi cuma gue yang bisa ngertiin Jean. Kalau memang dia orang yang selama ini lo cari, kita...dukung lo," "tapi kalau Jean ninggalin lo, we never forgive him except ada alasan logis," Dengan mata sembab dan tubuh lemas nya. Ziya mengeluarkan segala unek - uneknya. Luna menutup mulut tidak percaya. Dia sangat senang akhirnya bestie - nya merestui. Luna mengangguk mantap, "ahhh makasih banget, gue pengen dekat sama Jean udah dari lamaaaa banget Zi. And finally, gue nggak mau nyia - nyian kesempatan ini," "eits perlu diinget, red flag dan track record nya. Kalau dia udah nyakitin, gue siap nendang dia sampai langit ketujuh," sahut Arlean memperingatkan. "siap pak bos ganteng!" Luna memeluk Ziya lagi. Dia sangat berterimakasih. Sama halnya dengan Ziya, dia ingin membalas budi, setidaknya ini adalah hal yang paling bikin Luna bahagia. Dekat dengan Jean, salah satu impiannya. gue harap Jean nggak nyakitin lo, Lun. Gue harap lo orang yang tepat buat dia, semoga baik - baik saja Jean ke lo, gumam Ziya dalam hati. Dia menitihkan air matanya lagi. Ziya, keputusan lo sangat berat, masalah ini belum selesai tapi lo berusaha lepasin satunya. Apakah lo yakin dengan semua ini, Zi? hidup lo terlalu banyak topeng untuk menutupi segala rasa sakit lo. Gue nggak berharap apapun, cuma mau lo bahagia tanpa menderita lagi. Lepaskan apa yang menyakitkan Ziya, lo cewek kuat, batin Arlean mengusap punggung gadis rapuh itu dari belakang. Dia tau Ziya pasti menangis dalam diam. Namun ini keputusannya. Arlean hanya bisa menghargai. ???? Ziya akhirnya pulang ke rumah. Keputusannya sudah bulat. Dia diantar oleh Arlean. Sekarang, keduanya berhenti di depan gerbang tanpa ada yang turun duluan. "lo yakin beneran kan, Zi? kalau bikin lo tambah sakit, mending jangan dulu deh," ucap cowok itu khawatir. Gadis di sampingnya menghela nafas. "Gue udah nggak kuat lagi, dan mau lepasin satu per satu beban pikiran gue. Yang menyakitkan harus dilepaskan, gue juga kasih kesempatan Luna biar dia tau seperti apa bangsatnya Jean," "Dan kita juga nggak tau kak, gimana Jean ke dia. Semoga baik - baik aja. Gue jamin dan yakin, Jean bisa ngasih semuanya ke Luna. And i hope, his heart too," "Semoga mereka dipertemukan kembali dalam keadaan yang sekarang, sehat dan siap menerima hati, toh juga Luna pernah bilang kalau Jean yang menyelamatkan dia waktu itu," "Jean perlu seseorang untuk menghentikan semua permainan ini," Sebenarnya, Ziya masih belum rela melepas Luna agar dekat dengan presiden BEM nya. Mengingat watak dan perbuatannya selama ini. Namun, dia sudah terlihat lelah menahan semua ini. Arlean menepuk pundak Ziya pelan, "gue paham semua ini berat buat lo. Melepas secara bersamaan. Tapi apapun itu kalau untuk kebaikan lo, gue dukung. Gue juga lindungin Luna dari belakang," "Semangat anak cantik, Arlean ada disini, buat kamu," lanjutnya berseru agar Ziya sedikit terhibur. "eleh lo kan udah punya ayang, gue sama Harsa aja, wle!" "ya udah ya udah, telen Harsa sekalian sono," ketus Arlean. Setidaknya dengan ini Ziya sedikit tertawa. Memang kalau mengembalikan mood, Arlean jagonya. "haha engga lah, gue mau duduk sama dia aja," "dimana?" "di pelaminan lah, apa duduk dipangkuan lo?" "ngaco kalo ngomong, udah keburu malem nih. Kasihan papa lo nungguin dari tadi," ujar Arlean menyuruhnya keluar. ya, diusir halus namanya. Ziya mengatur nafas berulang kali untuk mencegah kegugupannya dan air matanya turun lagi. Ia harus lebih dewasa serta tenang menghadapi semua. "Tenang, everything will return to its position. kalian cuma butuh waktu," ucap Arlean menyemangati. "oke, thank you kak dan maaf merepotkan," "janji lo nggak ke club lagi?" "iya iya bawel lo ah!" Ziya turun dari mobil. Lalu, melambaikan tangan pada Arlean. Tak lupa senyum palsunya, ia tampilkan sekilas agar cowok baik itu tidak terlalu khawatir padanya. Kepergian Arlean, malah bikin Ziya semakin gugup dan takut untuk masuk. Tetapi dia berusaha menepis pikiran buruknya itu. "let's do it, Ziya. Kamu bisa terjang ini, papa butuh kamu," ucapnya meyakinkan diri sendiri sambil berjalan naik ke tangga menuju pintu utama. Tanpa mengetuk, dia membuka pintu. Terlihat papa dan tante nya duduk bersama di ruang tengah. Membicarakan sesuatu. "pah..." lirih Ziya memanggil saat dia berada dibelakang lelaki itu. Sontak, Jordan langsung memeluknya. "papa khawatir sama kamu, kamu darimana aja Ziya?" Ini yang Ziya rindukan. Pelukan hangat dari seorang Ayah. Belum menjawab, bau vodka tadi tercium menyengat dari badan gadis itu. "Ziya, bau apa ini? hmm?" tanya papanya halus. Dia tidak mau menyakiti anaknya lagi. "Ziya bisa jelasin pah, kita duduk dulu," Akhirnya mereka duduk. Ziya menyapa tantenya terlebih dahulu sebelum wanita lebih tua dari papanya itu pergi untuk membuatkan teh. "Sebelumnya, Ziya minta maaf, Ziya terlalu terburu - buru tadi dan nggak ada tujuan. Akhirnya pergi ke club, dan Ziya minum sebotol vodka," ucapnya jujur. Namun papanya hanya bisa menghela nafas, memaklumi. Dulu Jordan melarang keras Ziya untuk datang ke tempat malam yang penuh alkohol itu. Tapi melihat kondisi sekarang, dia memilih maklum. "Ziya sangat kaget. Ini kayak boomerang buat aku, pah. Ternyata selama ini mama yang begitu, satu - satunya orang yang saat itu Ziya percaya dan Ziya punya," "Ziya terlalu naif sama mama, dan munafik kalau nggak kangen papa. Ziya kangen kita yang dulu pa, tapi mau gimana lagi. Semua terjadi atas campur tangan Tuhan juga pastinya, sebagai anak durhaka kata papa, Ziya cuma bisa menerima," Lelaki berumur itu memeluk anaknya sangat erat. Akhirnya dia bisa menyalurkan kehangatan yang sudah beberapa tahun hilang. "kamu bukan anak durhaka, Ziya. Kamu anak yang baik, maaf papa tadi terlalu emosi. Ziya udah besar, papa bangga sama kamu," "tapi ada pertanyaan yang belum kamu jawab, can we back together again? " Ziya melepaskan pelukan hangat itu lalu tersenyum manis. Kali ini tidak palsu. Dia mengangguk. "Keputusan ada di tangan papa, dan Ziya mau perbaiki yang rusak. Walaupun mama begitu, tapi dia yang melahirkan Ziya, apapun yang terjadi Ziya tetep sayang orang tua Ziya," ucapnya membuat hati lelaki didepannya tenang. "kamu anak kuat Ziya, papa tidak pernah menyangka kamu se kuat ini," ucapnya lembut seraya menciumi anak gadisnya yang sangat ia rindukan ini. Benar, nahkoda masih butuh penumpangnya untuk sampai di pelabuhan. Meskipun, di tengah perjalanan, salah satu penumpangnya terjun ke laut duluan. Ziya, lepasin semua beban Ziya sekarang. Ziya mau hidup bahagia tanpa memikirkan apapun selain papa dan diri sendiri, batin gadis itu. Woww cukup panjang part kali inii semoga nggak bosen ya bacanyaaa. Jangan lupa apa gais? vote, comment dan share ya guys, geratis kok hehe terimakasih see u next part, wuff u guys tbc...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD