LLT 04 | CUSTOMER GANTENG

3649 Words
"Jatuh hati pada orang yang salah adalah hobi ku. Tersakiti adalah kebiasaan ku. Tertipu itu selalu. Itulah definisi diri dan kisah asmaraku" ____________ Pernah gak sih kalian jualan terus yang beli cowok guanteng banget?!?!? atau beli sesuatu di toko ketemu cowok ganteng??? atau malah beli cowok ganteng, eh eh... Ziya sudah sampai rumah, badannya pegal ditambah matanya sembab. Dia melemparkan tasnya ke sofa dan langsung membuka kulkas untuk minum sebotol air putih dingin, untuk menghilangkan dahaganya. "Gila, dasar cowok sinting," umpatnya sambil meremas botol plastik itu. "udah ga waras otaknya, cowok berengsek," "siapa yang berengsek? Ziya Asfara," ujar seorang lelaki bersuara berat di belakangnya. Ziya tidak menoleh, dia mengenali suara siapa itu. Tangannya bergetar hebat serta jantungnya berdegup kencang. ???? Alluna Raline, tengah sibuk menyiapkan beberapa pesanan yang akan diantar sore ini. Dia sudah menyelesaikan kelas pagi dan siangnya tidak jadi kelas sore karena dosen berhalangan hadir. Lalu dia memilih untuk menyempatkan diri membantu pegawainya. Mereka kekurangan orang padahal pesanannya bejibun. Owner nya saja sampai kewalahan sendiri. Runa belum pulang karena ada les sore. "mba, mohon maaf antri satu per satu dulu ya, ini baru repot semua," ucap Luna dengan sopan melayani pembelinya. Para pelanggan ribut saling menyerobot katanya keburu dikasih ke doi lah ini lah itu lah. hadeh pening kepala Luna... "Mba saya udah daritadi berdiri loh, di dorong mulu," protes salah satu pelanggan. "iya mba yang sabar ya, mau pesan bunga apa?" "yang cocok buat pacar apa ya mba?" tanya pelanggan itu sambil cengar cengir tidak jelas. Ini lah sikap pelanggan yang bikin malas. Belum tau atau belum menentukan apa yang akan dia pesan. Mengulur waktu. dih, udah banyak request malah tanya yang cocok mana, batin Luna sedikit terpancing amarahnya. "aduh mba, ini keburu pelanggan lain, pacarnya mba suka bunga apa?" tanya Luna sekali lagi. Dia berusaha sabar menghadapi pembeli seperti ini. "loh. kan saya tanya ke mba sebagai owner - nya harusnya tau dong," anjir ngotot, gadis itu mendengus kesal. Ingin rasanya melempar apapun yang ada di sampingnya. Luna mengetukkan jarinya menunggu jawaban yang pasti. Namun pelanggan cewek itu tidak kunjung buka suara malah melihat beberapa buket yang telah di display hampir 5 menit. "mbak? mohon maaf anda niat pesan atau tidak ya? ini antriannya makin panjang loh mbak. Tadi marah - marah giliran di ladenin masih bingung," protes Luna sudah habis rasa sabarnya. Biasalah kalau sudah capek bawaannya pengen marah - marah terus. "yaudah deh mbak, bunga mawar se buket, desain buketnya sama kayak contoh nomer tiga ya mbak," "gitu kek dari tadi," cibirnya pelan. Luna mengangguk dan berdehem, lalu dia menyuruh pelanggan agar pindah ke samping untuk dibuatkan pesanannya. Lebih dari 10 orang lagi Luna harus melayani. Banyakin ngelus d**a, deh. Satu jam kemudian, florist terpaksa di tutup sebab kekurangan bahan dan mereka kecapekan. Luna menidurkan kepalanya diatas meja sembari bermain handphone. Dia mengerutkan dahinya saat melihat satu list yang belum di centang. Berarti belum diantarkan. "Arena basket kampus ***? lah tumben amat," gumamnya. Semua pegawai sudah pulang. Hanya tersisa Luna dan petugas kasir yang sibuk menghitung penghasilan hari ini. "Kin, bunga terakhir yang belum diantar ada dimana ya?" tanya Luna. Orang yang ditanya itu celingukan mencari buket yang ditanyakan. "oh itu di atas lemari kecil. Habis ini mau saya anterin kak," ucapnya. "gausah, biar aku aja. Ini satu kampus kok sama aku," "oke kak, ini uangnya saya kasih ke kak Luna. Saya pamit pulang dulu ya kak, pegel banget daritadi ngebut," curhat pegawai itu tertawa kecil. Luna ikut terkekeh kecil menanggapinya, "iya terimakasih ya atas kerjasamanya hari ini maaf kalau bikin capek," "ah santai aja kak, namanya juga kerja. kalau gitu bye kak Luna," pamitnya melambaikan tangan. Dibalas juga oleh Luna. Sebelum pergi, Luna menutup tirai dan mengunci pintu terlebih dahulu. Dengan berbalut jaket denim dan kacamata hitam, gadis itu mengendarai mobilnya menuju kampus yang jaraknya hanya beberapa kilo meter dari toko bunganya. Langit senja sangat indah namun perlahan menjadi redup. Sesampainya di kampus, dia memarkirkan mobilnya di gedung fakultas sebelah barat dari gor arena basket yang berdiri kokoh dan megah itu. Lampu - lampu bulat taman yang ada disekitarnya juga belum dinyalakan. "gelap banget pemirsa," gumamnya sendiri. Dia keluar sambil membawa buket itu. Kepalanya menengok ke kanan kiri, tidak ada orang selain dirinya. hmm agak creepy... Baru beberapa langkah sudah ada yang jahil. "Hai cantik," bisik seseorang dari belakang tepat di telinganya, membuat sekujur bulu kuduknya berdiri. Luna tanpa ragu balik badan kemudian menghembuskan nafasnya lega. Huh, Arlean kalau tidak jahil sehari tidak bisa. "mau kemana lo maghrib - magrib gini?" tanya cowok itu penasaran. Style nya anak basket idaman banget. Dengan kaos hitam, celana pendek serta sepatu nike air jordan berwarna putih. Tak lupa kacamata hitam yang ia letakkan di atas kepala. Kalau saja dia belum punya pacar, pasti banyak yang mengincar. Luna menunjuk gor arena yang besar itu, "gue mau nganterin orderan ke sana. kak Lean sendiri aja?" "oh, iya. Habis latihan sore," jawabnya sambil menyalakan pod - nya serta menyesap cairan berbau mint itu. Dia menoleh ke samping agar asapnya tidak mengenai Luna. "tumben amat. eh, ada kak Jean nggak?" Lagi dan lagi. Pertanyaan Luna selalu tentang Jean saat bertemu dengan Arlean. Ya, dia tukang info satu - satunya. "tadi sih ada, barusan gue keluar udah pergi mungkin," balasnya sambil matanya berkelana melihat keadaan sekitar. Tidak ada tanda - tanda cowok itu. Luna menghela nafas kecewa, dia menghentakkan kakinya ke tanah. "sebenarnya sih, gue kemarin lihat Ziya naik porsche nya Jean," ucapnya lesu. Arlean mengerutkan dahi sebagai respon. "Gue nggak marah sih cuma agak kesel aja, soalnya Ziya ngotot banget ngelarang gue buat deket sama Jean. Ya tapikan itu hak gue, toh dia alasannya cuma karena Jean banyak red flag plus track record - nya buruk. Gue juga tau itu kak," ceritanya. "Terus kemarin kok tiba - tiba bareng Jean. Gue agak curiga sama hubungan mereka, apa mungkin Ziya ngomong gitu alibi dia ternyata pacarnya Jean?" Arlean tersenyum lalu mengacak - acak rambut Luna. "nggak mungkin Ziya pacarnya Jean. Lo tau kan mereka pres bem dan wakilnya. Lagian Ziya haters nomer satunya Jean, mereka nggak pernah akrab Lun," "Lo terlalu memikirkan orang lain, sampai kurang merhatiin diri lo sendiri," "maksudnya?" beo Luna tidak mengerti. "Gue tau lo suka sama Jean dari lama, because katanya dia yang nyelametin lo waktu itu kan? Tapi Lun, dunia ini nggak melulu soal Jean, lo harus mulai mikir diri lo sendiri, sayangi diri lo sendiri," Arlean memegang dua lengan Luna dan memperhatikan lawan bicaranya dengan seksama. Jujur, dia selalu mengkhawatirkan gadis itu. Gimana perasaan dia waktu lihat orang yang dia suka jalan sama cewek lain, atau bahkan dengan sahabatnya yang sering melarangnya. "kalau dia ingat lo pasti juga bakal deket, lo nggak perlu ngejar sampai kayak gini. Gue tau, cafe dan florist lo itu, di bangun karena Jean kan? ya it's okay nggak papa, anggap aja itu jadi balas budi lo kalau semisal lo belum bisa bales dia. Gapapa," "Jean punya dunia sendiri juga, Lun. Mau dia sama siapapun itu terserah dia. Jangan gara - gara Ziya nebeng mobil Jean doang lo jadi curiga sama sahabat lo sendiri. Ingat, nggak cuma Ziya yang masuk mobil dia tapi banyak cewek lain. Gue saranin untuk saat ini lo jangan terlalu kelihatan berharap sama Jean. Karena apa?" "Disaat ada yang deketin dia, bakal masuk kandangnya dan keluar pun susah. Lo dapet raganya Jean tapi lo nggak bakal bisa dapetin hati Jean. Jean effort nomer satu gue akuin, dia bucin ya bucin, but he never did all that with his heart. We never know, dan aku pun juga nggak tau di hati dia ada siapa. Jean punya banyak cewek tapi susah untuk buka hati," "ujungnya ya itu lo cuma dipermainkan sama dia, jadi bahan gabutnya aja. Apakah lo nanti nggak sakit hati digituin? Lo udah berusaha dengan segenap hati eh dia - nya 0%, " Luna berusaha mencerna semua kalimat yang keluar dari mulut Arlean. Dia tau betul semua yang dibicarakan cowok ini benar adanya. Salah ya, menyukai orang yang sudah punya pacar atau playboy? kan, hanya sekedar suka masalah hubungan belakangan aja. Apa itu masih salah? Luna harus bagaimana? "Apa ada cara buat lupain Jean?" tanya Luna memandang lurus ke depan. "Gue nggak tau pasti ya, tapi setiap orang punya cara masing - masing untuk melupakan. Intinya jangan pernah dipaksain, let it flow aja Lun. Dan kuncinya lo jangan terlalu mikirin Jean deh. Biarin dia sama siapa, kalau dia kenal lo juga pasti nyadar lo siapa di masa lalu," "sebelum semuanya terlanjur, tapi itu terserah lo. Bener, lo punya hak untuk suka ke siapapun. Usahain jangan sama Jean, but jika lo suka sama dia yaudah gue cuma mau bilang itu aja. Intinya lo hati - hati aja deh," "gue cabut dulu ya, pacar gue udah nelepon nih," pamitnya seraya menepuk pelan bahu gadis itu. "jangan terlalu dipikirin, imbangi rasa dan logika lo, biar ngalir aja," lanjut lelaki itu menasehati. Tak lupa memberikan senyum manis dan cubitan kecil di pipi chubby, Luna. "iya kak, thanks," balasnya. Sepeninggalan Arlean, Luna berjalan kembali menuju Gor arena besar itu sendirian. Ia menepis sebentar semua ucapan Lean, kepada pelanggan harus ramah dan tersenyum. Di dalam note tertulis mohon tunggu di halaman gor. Namun, tidak ada manusia satu pun di sana. Padahal jamnya tepat. Angin sepoi magrib mulai berhembus. Langit sudah tidak berwarna biru lagi. Di sekitarnya pun sunyi tak ada makhluk apapun. Luna yang sangat tidak suka horror, kepala dan badannya bergerak ke kanan kiri. Memastikan kalau saja ada yang bikin dia terkejut tiba - tiba. "mana dah orangnya? keburu makin gelap ah," gerutu Luna mencari customernya. Celingukan ke sana kemari. Kulit - kulitnya mulai di tusuk nyamuk sampai bentol kecil dan gatal. Hingga dia melangkah lagi sampai di depan pintu gor yang menjulang tinggi itu. "apa dia masih di dalem? boleh masuk nggak ya?" gumamnya. "serem juga kalau masuk sendiri, bodo amat dah bentar doang," ucapnya seraya memegang gagang besi itu. Luna membuka pintu kaca itu tanpa mengetuk. Sekali lagi, tidak ada orang. Luna kesal, dia mengedarkan pandangannya, meneliti setiap sudut. Nihil, tidak ada tanda - tanda manusia. "ini gue di prank kali ya? udah capek - capek kesini nggak ada orang. Mana nomer hp - nya nggak di cantumin lagi buset," Luna ngedumel sendiri. Tidak mungkin dia berkata lantang di dalam arena. Sekali bicara dengan nada keras pun akan menggema. "halo? apa ada orang disini?" ucapnya agak lantang. Kakinya melangkah hampir mengitari arena basket itu. Tetap tidak menemukan siapapun. Ia ingin duduk di kursi yang biasa dipakai Juri. Namun, ada suara yang membuatnya berdiri kembali. "Maaf, cari siapa ya?" suara itu berasal dari samping. Merasa diajak bicara Luna pun menoleh ke arah ruang ganti tim basket. Matanya membulat sempurna. Tidak pernah ia mengalami kejadian langka ini. Seorang laki - laki yang memakai kaos hitam setengah basah dilengkapi celana pendek dan dia tidak bersepatu. Paras wajahnya, senyumannya, lekuk badan L-men nya, dan rambut under cut nya menyempurnakan dia. Seolah terhipnotis. Ciptaan Tuhan yang mendekati kata sempurna, ini mah. Tapi Luna pikir, cowok di depannya ini tidak asing baginya. Siapa ya...? Satu menit eye contact. Luna lebih dulu memalingkan wajahnya, menepis jauh lamunannya. Dia tersenyum serta sedikit membungkukkan tubuh mungilnya, menyapa laki - laki itu. "eh, apakah... kakak yang pesan bunga ini?" tanya dia to the point. Walaupun tangannya sudah rada basah karena berkeringat, asli. "oh iya saya lupa. Maafkan saya, tadi ada sedikit problem di belakang jadinya saya urus dulu," jawab lelaki yang berumur kepala dua itu, samar dan halus. Sama halnya dengan cowok itu, dia tidak memalingkan wajah dan matanya sedikit pun dari Luna. Mata intens dan senyuman manisnya tidak luntur. Ada sepucuk rasa gugup, serta jantung yang berpacu diantara mereka berdua. sialan, dia manis banget, puji Luna dalam batin. "she's very beautiful," desisnya pelan, entah Luna mendengarnya atau tidak. "tidak papa kak, tapi lain kali mohon tepat waktu sama nunggu sesuai tempat ya, soalnya gue masih banyak kerjaan," ucapnya sedikit protes. Walaupun pembeli adalah raja ya tetap saja, Luna tidak suka mengulur waktu. Gadis itu memberikan bunganya. Cowok di hadapannya menerima buket itu dengan tatapan lekat yang belum berubah. Luna tersenyum kecil lalu menunduk malu. Dia hanya bisa melihat sepasang sepatunya, gugup. "Terimakasih ya sudah jauh kesini. Saya lihat kamu mau duduk tapi tidak jadi, mau duduk lagi sama saya?" tanya dia memastikan. Luna mendongak dan menggeleng dua kali, "Ah, engga kak. Tadi niatnya mau nunggu sebentar," balasnya tersenyum kikuk. "kalau kamu mau duduk juga silahkan, saya mau ambil sepatu dulu," pamitnya menaruh buket itu di kursi. Dia berjalan kembali ke ruang ganti sembari mengibaskan rambutnya yang basah. Dugaan Luna, cowok itu habis mandi. Biasanya anak basket kampus pasti membersihkan diri disini sebelum pulang. Bau parfum dan shampo cowok itu ketinggalan di hidung Luna. "buset, cakep banget. Dia Jean bukan sih? apa kembarannya ya? kalau bener Jean gue harus lari kencang, sih," gumamnya. Keringat Luna tiba - tiba mengalir. "gila, gor segede gaban gini tetep panas ya," "apa gara - gara ketemu dia? duh," Cowok ganteng itu muncul lagi sambil mengunci pintu. Dia berlari kecil menghampiri Luna, menenteng air jordan hitamnya serta waist bag. Ia duduk di samping gadis itu. "kamu mau cokelat nggak?" tanya dia. "ha?" bukan Luna tidak dengar. Hanya saja dia kaget tiba - tiba ditawari cokelat. "mau cokelat atau tidak?" ulang cowok itu lagi. Ah, masa nolak. "kurang suka sih, kak," Jujur dia malu. Tetapi memang faktanya dia tidak doyan cokelat. "oh ya sudah kalau gitu. Tunggu sebentar ya," Dia memasang sepatu di kedua kakinya. Luna memandang punggung lebar serta otot bisepnya. wah, tipe badan enak dipeluk nih, gumamnya dalam hati. "Sudah. btw, bunganya sangat cantik...seperti yang mengantar," puji cowok itu sembari mengulas senyumnya. Rasanya seperti ada kupu - kupu dan bunga di sekitar Luna. Dia belum pernah merasakan jantungnya berdetak sekencang ini. Telinganya pun timbul rona merah yang tidak bisa ia sembunyikan. "duh yang nganter biasa aja kak, em kakaknya sendiri disini? emang gak takut?" tanya Luna polos. Cowok berambut semu coklat muda itu menggeleng, "tadi ramai disini pada latihan. Udah jam 5 memang waktunya selesai, kamu nggak takut pas masuk?" "agak takut sih, mungkin karena sunyi ya," imbuh gadis itu mengiyakan. Cowok itu mengangguk, "mau saya antar ke depan?" tawarnya dengan nada sangat sopan dan halus. Luna tersenyum malu, dia sedikit menganggukkan kepala. Ah, malu - malu tapi mau. Si cowok juga mengulas senyum manisnya. Dia mematikan sebagian lampu gor terlebih dahulu kemudian meletakkan beberapa bola oranye yang masih berserakan ke tempatnya. "sudah, kita keluar yuk," ajaknya. Cowok itu membukakan pintu untuk Luna. "Terimakasih kak sudah pesan di toko saya, semoga kakaknya suka dan menjadi langganan baru," katanya sedikit mempromosikan jualannya. Ah, masa sekali doang di beli cowok ganteng, mubadzir. "saya suka kok. Astaga hampir lupa, saya belum membayar. Sebentar ya," ucapnya seraya mengambil dompet dari saku celananya. Kemudian, dia mengeluarkan satu lembar uang berwarna merah. Luna menerimanya lalu memasukkan dalam dompetnya juga. "Kamu Luna ya?" tanya cowok itu tiba - tiba. Agak sedikit kaget namun Luna tetap tenang menjawabnya sebagai bentuk sopan santun ke seniornya. Dia tersenyum lebar, "iya betul, saya Alluna Raline dari fakultas Hukum semester dua. Kok kakaknya tau..? apakah kita pernah ketemu atau..?" Cowok itu terdiam sejenak. Lalu sekilas melebarkan senyumnya lagi, "Saya hanya tau kemarin pas pesan bunga ini," "oh gitu, saya juga pernah liat kakaknya," Dia menaikkan kedua alisnya, "iya kah? dimana? di jalan atau-?" "noooo, sekilas mirip siapa gitu," potongnya. "Saya Jevan Hardika Eleazar, dari fakultas hukum semester 4," ucapnya. Tangan besarnya terulur mengajak Luna berkenalan secara resmi. Tangan kecil Luna menerima uluran tersebut diselingi raut wajah yang seketika menjadi bengong dan terkejut. Wait... Seperti tidak asing nama marganya? Pernah mendengarnya tetapi dimana? Kernyitan di dahi Luna terlihat sangat jelas membuat Jevan ikut bingung. Sejenak gadis itu berpikir keras mengingat nama panjang yang disebutkan. Lalu, dia melototkan matanya kaget serta menyentikkan jarinya. oh gosh, is he? "kak Jevan twins nya kak Jean?!" tanya Luna memastikan. Jevan mengangguk mantap, "betul, tidak mungkin juga kalau kamu tidak tau kakak saya, sih." YA MANA MUNGKIN GAK KENAL COBA ORANG GUE SUKA KAKAK LO, teriaknya dalam hati. Luna menutup mulutnya dengan satu tangan. Dia mundur beberapa langkah, kemudian langsung lari ngibrit, tak sengaja menjatuhkan dompetnya karena tasnya belum tertutup rapat. Jevan terheran - heran melihat reaksi gadis itu, "heeeh?" lontarnya mengedipkan mata tiga kali. Dia kebingungan sendiri. "Kenapa dia? apa tau siapa gue yang asli ? atau takut sama Jean, ngapain lari coba?" gumamnya. Jevan menggeleng kecil, lalu berjalan maju untuk mengambil dompet Luna yang jatuh. but, is that really the girl? pikirnya sedikit memiringkan kepala. Jean menunggu kembarannya di dalam mobil sembari menutup mata dan bersandar santai di kursi stir. Kemudian samar - samar dia mendengar desisan seseorang sebab jendela mobilnya terbuka. Untuk memastikan manusia beneran atau bukan, dia mengintip sedikit. "shishishishishishi, s****n KENAPA GUE LARI SIH ITU KAN BUKAN KAKAKNYA," Luna berjalan cepat sambil mengoceh sendiri. "Aduh, gue malu banget anjir," lanjutnya ngedumel tidak jelas. Jean melihat gadis itu dengan seksama, dia sedikit mengerutkan dahinya. Kayak pernah ketemu tapi dimana dan kapan ya? batin dia berpikir. Tiba - tiba, entah darimana bayangan wajah Luna terlintas di otaknya. "oh, apa bener dia yang gue cari ya?" gumam Jean, menggosok pelipisnya mencoba mengingat kembali. Ketika Jean membuka mata lagi, dia dikejutkan dengan wajah adiknya yang muncul tiba - tiba dari jendela. "jangkrik, ngagetin aja lo eee," gerutu Jean mengusap wajah adiknya. "Lagi mikirin apa sih lo? serius amat," kekeh Jevan, puas menjahili kakaknya. "kepo banget jadi orang, buruan masuk! dingin," balas Jean sembari mencebikan mulutnya. Jevan mendengus kesal. Kembarannya ini sangat tertutup dan jarang cerita kecuali tentang barisan para mantan dan pacarnya. "pulang ke rumah mama ya Je," ucap Jevan membujuknya. "ogah gue nggak sudi. bukan gue nggak siap nerima omongan mereka tapi muak anjir," Jean menyalakan porsche nya, suara knalpot mobil itu menggelegar di parkiran. "Tapi Je, mama pasti kangen sama lo," Jean terdiam. Dia tau semua itu hanyalah omong kosong dan bujukan adiknya agar pulang. Jevan pernah cerita kalau dirinya kesepian. Tetapi, keadaan Jean tidak lagi sama seperti dulu. Semuanya runtuh, dia menjadi sulit percaya sejak saat itu. "Di rumah ada papa, Jevan. Kalau kangen tinggal chat doang, gue males ketemu kalau ujung - ujungnya di ceramah in," Jean juga menyalakan pod rasa vanilla nya. "ya makanya lo jangan bandel," tukas Jevan seraya meletakkan dompet Luna di dasbor. "bawel lo! btw dompet siapa tuh, dompet lo? banci bener pake pink biru, nggak manly," cibir Jean tertawa renyah. Jevan menimpuk kepala kakaknya dengan tas yang dibawanya. "kalo ngomong di filter ya anjing, ini dompet yang nganter bunga tadi, jatuh," sungutnya. Jean ber - oh ria. "namanya siapa?" "dih ga usah nanya - nanya!" ketus Jevan posesif. "Lah pelit amat orang gue cuma tanya namanya doang ih," ucap Jean mengguncangkan tubuh adiknya. "gak mau! cari aja sendiri!" rahangnya bergerak, hingga terdengar gesekan dari giginya. Seperti anak kecil yang merajuk. "Ogah, ntar lo masukin kandang buaya lo. Giliran gue lah lo mulu semua di embat," cibir Jevan beralih membuka handphone nya. "mending gue kandang buaya daripada lo kandang babi," ledek Jean tidak mau mengalah. Dasar, kakak kurang ajar. "anjing, udah buruan jalan, lelet bener kayak siput!" Jevan memukul porsche Jean, membuat si pemilik melotot tajam. "iya babi, gak usah dipukul juga. Mobil mahal, nih," "songong lu, Je. Gue bakar apart lo, nggak punya rumah lo, jadi gelandangan lo!" ujar Jevan pedas, dihadapan wajah kakaknya. "dasar muka dua lo! di depan banyak orang aja baik - baikin, sama gue nggak ada sopan - sopannya," "pernah lo sopan sama gue?!" sengit Jevan, ingin sekali dia memelintir mulut julid kembarannya ini. "kagak," jawab Jean santai. Kemudian dia melajukan porsche - nya dengan kecepatan sedang. Dia mengantar Jevan dulu, pulang ke rumah. Sementara Jean, selama ini dia tinggal di apartement cicilan dari gaji barista dan uang bulanan dari mamanya yang dititipkan ke Jevan. Tanpa sepengetahuan Papa nya. Sedangkan gadis memalukan tadi, dia berada di dalam mobil dengan nafas yang masih susah diatur. Dia melihat dirinya dalam pantulan kaca spion, "bisa - bisanya lo baper sama adik ipar?!" geramnya sendiri. "sadar Luna, dia itu Jevan bukan Jean," "aduh tapi dia sopan banget ya," ucapnya sedikit memuji. Ada lampu putih yang menyorot akan melewati mobilnya. Luna buru - buru menurunkan badannya dibalik stir sambil mengintip sedikit. Deru mobil sport lewat. Itu porsche Jean. "hah? itu kan mobil gebetan gue? berarti Jean tadi masih disini dong?" ujarnya kaget seraya menunjuk mobil itu. Luna memukul stir - nya berulang kali. "harusnya tadi tu Jean bukan Jevan, ah anjing gagal ketemu mulu perasaan. Tapi...yang nolong gue kok mirip Jevan ya?" pikirnya. "si b**o, mereka kan kembar anjir. Jadi siapa dong yang nolongin gue waktu sekarat?" "sumpah gue nggak bisa bedain, gue cuma bisa tau kalau tanya langsung," celotehnya dengan jari - jarinya ia selipkan ke rambut. "tapi kalau dipikir lagi, Jevan tau gue karena di florist kemarin. Berarti first time ketemu pas itu bukan di 2 tahun lalu. Kayaknya Jean deh, fix ini mah gue harus cepet - cepet kenalan sama Jean," Luna sok - sok an berteori tentang apa yang baru saja terjadi. Handphone - nya berdering. Ziya everyday butuh wejangan is calling... Luna terdiam sebentar. Harusnya dia langsung menerimanya, tetapi gara - gara kejadian kemarin dirinya jadi agak ragu untuk mengangkat. Satu telepon akhirnya tidak terjawab. Kemudian, nama itu muncul lagi di lock screen nya. "angkat nggak ya?" Luna menggigit bibir bawahnya bingung. Bahkan dia tidak sadar, panggilan itu tertolak sebanyak 3 kali. 'jangan gara - gara Ziya masuk mobil Jean doang lo jadi curiga sama sahabat lo sendiri. Nggak cuma Ziya yang masuk mobil dia tapi banyak cewek lain' Ucapan Arlean terpintas begitu saja. Gadis itu menghela nafasnya, menurunkan ego - nya lagi. Benar, dia harusnya tidak marah pada Ziya. Dirinya bahkan belum kenal secara langsung dengan Jean, apalagi bukan siapa - siapanya Jean, jadi belum ada hak. 'halo, Ziya..? ada apa??' OKayyy guys segitu dulu untuk hari ini, semoga menghibur yaww jangan lupa vote, comment dan share ya, thank you so much see u next part, papaiiii!!! tbc...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD