"Jatuh hati denganmu adalah kesalahan, maka dari itu aku berusaha menghindar. Tapi, mengapa kita berdua selalu menunjukkan seolah kita saling membutuhkan?"
___________
HARI Senin yang menjenuhkan, Luna memiliki 3 Kelas full hari ini. Mulai dari pagi, siang, hingga sore. Itu pun waktu istirahatnya hanya sebentar, jadi dia tidak bisa keluar meninggalkan kampus.
Kelas Luna berbeda jam dengan Ziya, dia mengambil sampai siang saja karena sore ada rapat BEM lagi.
"Ya Tuhan pagi - pagi udah kelas perdata aja, mana jam 7," gerutu Luna mengacak - acak rambutnya yang setengah basah. Tangan kirinya sibuk menyetir, sementara disampingnya ada tamu yang tak undang. Dia malah sibuk make up akibat telat bangun, siapa lagi kalau bukan Ziya.
"mau gimana lagi, pas pembagian krs kita telat yaudah dapet sisanya," cerca Ziya santai. "tapi ngeselin juga sih perdata di posisi awal," imbuhnya sambil memukul paha.
"Prof siapa sih?"
"emm kayaknya Prof Zaiman deh,"
"buseeenggg, gue nggak baca dosennya sumpah. Itu katanya kating killer banget," ucap Luna panik sendiri.
"hah, serius?!" seru Ziya ikutan panik.
Buru - buru mereka keluar setelah mobil Luna terparkir rapi di basement fakultas Hukum. Kelasnya berada di lantai lima. Kalau mereka telat satu menit saja bisa fatal.
ting!
Pintu lift terbuka lagi setelah sampai. Kelasnya kosong. Benar - benar tidak ada manusia satu pun.
"heh ini hari senin beneran kan? apa kita salah baca jadwal?" tanya Ziya yang menunduk karena ngos - ngosan. Luna mengambil handphone dari kantongnya. Dia membaca jadwal ulang yang tertera di wallpaper lockscreen-nya.
"bener kok, ini udah lebih satu menit malah," timpal Luna, dia juga membuka web kampusnya untuk memastikan. "tuh, senin jam 7 pagi kelas Perdata, prof Zaiman, kita nggak salah,"
"coba cek grub,"
FACULTY OF LAW (A2)
Gzza {ketua}
Guys, hari ini kelas pak Zaiman kan? beliau nggak bisa hadir karena ngisi seminar di luar kota
Jadi free untuk hari ini, mungkin mulai mingdep
Aku baru dikabarin jam 06.58 tadi,
Luna dan Ziya saling bertatapan malas saat membaca pesan itu. Menyebalkan, ingin geprek dosennya. Yang benar aja, mereka sudah telat bangun, gantian kamar mandi lama, nganterin Runa dulu, segala lari padahal dari lift sama kelas jauh.
"Tuhan, hamba punya dosa apa sampe di prank kayak gini?" celetuk Ziya mengeluh. "banyak," sahut Luna pelan. Kalau keras pasti temannya itu menaboknya xixi.
"kita mau kemana, nih? gue capek dan laper," kata Ziya sambil mengusap perutnya.
Luna menggigit ujung bibir bawahnya, berpikir sebentar. "ah, ke Cafe tempat kak Jean kerja. yuk," ajaknya langsung bersemangat 45. Ziya menariknya lagi.
"ini jam berapa t***l, ya kali jam segini udah buka," ucapnya.
"bener juga sih, mekdi aja mekdunaldu,"
"yaudah yuk,"
Akhirnya mereka berdua memutuskan ke suatu tempat makan yang buka 24 jam, karena belum sarapan juga. Luna dan Ziya berdiri di depan pintu lift, menunggu giliran. Saat pintu besi itu terbuka dan Luna hendak melangkah masuk, Lagi - lagi Ziya menariknya.
Sialnya, ada Jean dan Jevan yang berdiri sambil tangannya di masukkan ke saku celana. Ziya tidak mau Luna melihat Jean secara empat mata begini. Untung saja, Luna sedang membalas chat dari pegawai florist nya, jadi tidak tau.
Jean yang melihat Ziya, dia hanya mengerutkan dahi, bingung. Sama halnya dengan Jevan, sekilas dia melihat kedua wajah cewek itu.
"Lo kenal mereka?" tanya Jevan pada kakaknya.
"kenal, yang kanan wakil BEM Hukum. Tapi kenapa gitu pas lihat gue? aneh," gumamnya masih bingung.
"Dia malu kali," celetuk Jevan.
Ziya? malu sama gue? mustahil, orang kalau sama gue aja kayak kucing garong, batinnya.
"tapi, dia narik cewek, siapa ya? pacar gue?" tanya Jean penasaran. Dia juga melihat ke beberapa kelas yang dilewatinya. "pacar lo banyak, semua aja lo anggap pacar," ketus Jevan.
"bener juga, tau deh,"
Jean dan Jevan mempercepat jalannya, ada kelas sebentar lagi yang kebetulan juga dilantai lima. Jean penasaran tapi ya sudahlah itu nanti bisa dia tanyakan pada Ziya waktu rapat.
Sedangkan, dua gadis itu berada di toilet perempuan. Ziya menarik Luna kesana.
"Lo apaan sih? nggak jelas," protes Luna mendelik kesal.
"itu anu, ada Harsa tadi di lift makanya gue panik," jawab Ziya bohong. Jelas nyata, itu si kembar Eleazar yang meresahkan kaum hawa.
"ngapain panik? orang ketemu doi kok nggak mau," percaya lagi si Luna. Tetapi dia tadi sempat melihat sepasang sepatu yang ada di depannya sebelum Ziya mengajaknya pergi.
"ck malu gue,"
"ya udah pasti udah pergi kan, yuk caw lagi,"
"eh eh gue cek situasi dulu," ujar Ziya berjalan duluan. Dia sedikit membuka pintu, hanya kepala saja yang nongol.
Luna menatap sahabatnya aneh dan heran.
?????
Akhirnya tidak jadi ke mekdi karena penuh dan drive thru nya lumayan panjang, mereka keburu lapar. Kemudian memutuskan untuk berpindah di salah satu warung ramen yang cukup terkenal.
"lo bohong ya," ucap Luna pada Ziya seraya menodongkan garpu nya.
"bohong apaan?" Masih berusaha mengelak.
"Harsa kan anak teknik, ngapain ke fakultas hukum?"
mampus. bener juga, batin Ziya kemudian berdehem. "nyamperin temennya kali, serius Harsa beneran kok,"
Luna hanya mengangguk lalu memakan ramen nya. Kelemahan gadis itu adalah gampang di tipu. Gue nggak akan biarin lo ketemu empat mata sama Jean Lun, batin Ziya memandangnya.
for your information, Luna memang belum pernah bertemu cowok tampan sekampus itu lagi, bahkan mau ke cafe nya saja, Ziya selalu berhasil mencegahnya.
Bukan apa, Ziya tidak rela jika Luna melihat cowok itu, rasanya semakin menggebu. Lalu, mencintai Jean terlalu dalam hingga sakit sendiri."Lo udah nemuin orang yang nyelametin lo dulu?" tanya Ziya mengalihkan pembahasan.
Luna menggeleng, "belum, tapi beneran mirip Jean, Zi. Maka dari itu gue pengen cepet - cepet ketemu Jean, memastikan,"
"lo yakin?"
"iya Ziya Asfara bawel, kok nggak percaya sih? gue inget kali wajahnya,"
"jadi itu alasan lo suka sama dia?" tanya Ziya masih memastikan. Padahal dirinya sudah berulang kali mendengar dari mulut sahabatnya ini.
"ya gitu deh, dia udah menyelamatkan gue yang sekarat di jalan waktu itu. Katanya sampai donor in darah juga, tanggung jawab banget dia. Duh, Mana senyumnya manis banget, apalagi matanya sayu gitu kayak mau nangis. Gue bukannya benci sama yang nabrak malah jatuh cinta," cerca Luna menjelaskan sekali lagi. Semoga Ziya juga tidak bertanya lagi.
Ziya sejenak berpikir. Ya emang dia selalu tanggung jawab tapi Jean mana mungkin senyum ke cewek sampai mau nangis gitu, batinnya merasa aneh. "mending lo stop suka sama Jean deh, Lun," tukasnya singkat. Tetapi membuat Luna menghela nafas kasar.
Gadis itu meletakkan sumpitnya secara kasar di meja. "Sumpah, lo kenapa sih Zi? Kak Lean juga ngelarang gue buat suka sama dia, kalian tu kenapa? kok dilarang terus. Kalian temennya kan," celoteh gadis itu tidak terima.
Ziya berusaha sabar. "iya Lun gue ngerti, tapi perlu diinget Jean banyak red flag nya. Track record nya juga buruk banget. Gue nggak mau lo sakit hati gara - gara dia,"
"Zi, perasaan gue bukan terpaksa karena waktu itu dia nolongin gue. Kita nggak akan tau rasa kapan datangnya dan ke siapa, orang jatuh cinta bukan sekedar dari tampannya dia. We fall in love in mysterious way,"
"Menurut lo, menurut mereka, Jean layaknya sampah. Gue tau kok, dimana - mana dia dipandang buruk. Tapi ke gue beda Zi,"
"Sekarang gue tanya balik, lo suka Harsa karena waktu itu nolongin lo pas ban mobil lo pecah di jalan sudirman kan? apa lo suka sama dia karena terpaksa?"
Yang ditanya cuma menggeleng. "enggak kan, yaudah sama. Lo dan kak Lean nggak bisa paksa gue buat berhenti suka sama Jean, me is me. gue punya rasa sendiri, gue punya hak buat suka ke siapa aja, entah buruk di mata orang yang namanya jatuh cinta ya bakal nerima. Gue, Lo, Kak Lean juga nggak bakal tau kedepannya Jean gimana," jelasnya panjang lebar agar Ziya mengerti perasaannya.
Karena rasa suka ke orang tidak bisa dipaksa berhenti begitu saja kecuali sudah capek sendiri.
Luna? dia belum lelah dan masih penasaran dengan seorang Jean, apakah dia seburuk itu di mata orang lain? Lantas, dua tahun yang lalu itu siapa?
ting!
Jean si paling playboy
Rapat gue majuin jam 11, izin udah gue bilang ke dosen lo
Bawa hasil rapat kemarin
Gue tunggu di kantin fakultas 15 menit lagi
Ziya Asfara
oke
Ziya mendengus lelah. Jujur dia pusing rapat hampir setiap hari, benar - benar tanpa jeda. Dan dia harus bertemu Jean lagi secara pribadi, rapat lagi.
Luna yang melihat perubahan raut wajah sahabatnya itu kemudian menyahut, "kenapa lo?"
"rapat lagi. Gue naik taksi aja, lo pulang duluan," ucapnya setelah meneguk minumannya sampai habis.
"Lah terus kuliah siang lo gimana?"
"udah dapet surat izin dari Humas, paling di kasih tugas juga dari bu Ulfa,"
Gadis sibuk itu membereskan barangnya hendak pergi. Melihat raut wajah Ziya, sepertinya dia sedang banyak pikiran. Bagaimana tidak? Badannya yang kecil selalu ditimpuk masalah yang berbeda. Memberi tau sahabatnya itu juga tidak ada jalan keluarnya.
Luna jadi tidak enak, "gue antar ya," tawarnya.
"gak usah, lo ke florist dulu aja. Kalau udah selesai ntar gue samperin ke kelas," tolaknya datar.
"gue duluan," pamit Ziya. Luna memandang punggung gadis itu yang keluar dari tempat ini, dia merasa sangat bersalah.
apa gue terlalu ngeyel ya sampai bikin dia bete, tapi kan juga hak gue buat suka ke Jean, batin Luna menghembuskan nafasnya kasar.
ting!
Jean si paling playboy
Gue barusan liat lo keluar dari warung ramen,
nggak usah pesen taksi
gue di depan barbershop sebrang, porsche item
Belum Ziya memesan taksi, notif dari kating playboy nya muncul lagi. Dia mendongak mencari mobil Jean. Cowok itu memberi tanda lewat klakson yang cukup keras.
Sebelum menghampiri, Ziya menengok kebelakang. Memastikan, kalau saja Luna keluar tiba - tiba. Dirasa aman, dia berjalan cepat menyebrangi jalan yang lumayan sepi. Jean keluar lalu membukakan pintu. Ziya tidak mengatakan apapun, tanpa menunjukkan ekspresi yang pasti, langsung masuk begitu saja.
kenapa lagi ni anak? batin Jean bingung.
Dia segera masuk juga.
"taksi lo bilang Zi? itu porsche Jean," ternyata Luna sudah keluar sejak Ziya berlari kecil untuk menyebrang. Luna bingung, dia merasa bersalah tetapi sahabatnya pergi dengan orang yang dia sukai.
Dia tau, jika Ziya dan Jean dekat karena ketua dan wakil BEM. Tapi terkadang juga bingung dengan sikap Ziya yang seolah selalu membenci Jean, tapi dia sendiri masih mau bertemu dengan Jean diam - diam seperri tadi.
"Lo sedeket apa sih Zi sama Jean," lanjutnya bergumam.Senyum Luna nampak rapuh dan matanya berkaca - kaca. Tapi, dia juga harus ingat, bahkan Jean pun tidak mengenalinya.
Jean dan Ziya dalam perjalanan menuju kampus tanpa mengobrol apapun. Tatapan Ziya kosong, dia terus memikirkan Luna yang memaksakan diri menyukai orang yang ada di sampingnya sekarang.
Jean emang nggak seburuk itu Lun, tapi nggak punya hati aja, batinnya lalu menghela nafas hingga terdengar cowok di sebelahnya.
"lo kenapa sih, zi?" tanya Jean saat mereka berhenti di lampu merah. Dia terlihat khawatir dan penasaran.
"banyak pikiran," jawab gadis itu singkat sambil memandang keluar jendela.
"berat amat kayaknya, jangan - jangan lo mikirin Harsa lagi," tebak Jean mengelap sedikit keringat yang menetes di pelipis Ziya. Rasanya ingin menepis tangan itu, tapi sudah tidak bertenaga.
Demi bumi serta seisinya, Ziya paling nggak kuat act of service. Dia menahan diri dan hati agar tidak terbawa perasaan. Sementara apa yang dilakukan cowok ini, tanpa izin, dia tiba - tiba mengelus tangan kecil Ziya.
"jangan buang waktu mikirin orang yang bahkan nggak mikirin lo sama sekali," tutur Jean lembut.
Ziya akhirnya menepis tangan besar Jean. "Gue nggak mikirin Harsa,"
"lalu apa?" beo Jean penasaran.
"harus lo tau?" jawab Ziya meliriknya tajam. Jean mengalihkan pandangannya keluar jendela, dia ikut malas. Kemudian, dia melajukan mobilnya kembali setelah lampu hijau menyala.
Nyatanya, tidak hanya Luna yang ada dipikiran Ziya. Namun, papa nya yang sedang dalam perjalanan pulang menuju Indonesia. Dia baru saja mendapat kabar dari postingan i********: tantenya. Bukan dirinya tidak senang, tetapi dia belum siap menghadapi keributan yang ada di rumah. Mama nya juga belum pulang sejak kemarin, mungkin dia sudah tau kalau suaminya akan pulang.
Ziya pusing.
?????
"Tanggal 20 tim humas sebar poster, sebagian lagi cari sponsor, terus untuk tim perlengkapan kalian siapin panggung besar sama stand kecil bareng tim acara. Buat siapa aja yang pengen menghibur, boleh banget ikut," jelas Jean pada anggotanya, moodnya baru naik untuk bicara panjang.
Dia sudah melupakan masalah yang kemarin.
"bisa undang artis nggak sih kak? soalnya ini lomba ya lumayan besar juga dan untuk umum," tanya salah satu anggotanya. Kalau Jean mode begini, mereka berani angkat tangan.
"emm boleh aja tapi nunggu uang dari kampus dulu dapetnya berapa, ada artis yang rekomendasi mungkin?"
"Ariana grande," celetuk seorang cowok
"ngaco, dalam negeri aja lo belum tentu narik kok gausah sok narik luar negeri," cibir Jean langsung padahal niatnya cuma bercanda.
"penyanyi Indo aja lah biar gampang," lanjutnya memberi saran.
"Tulus aja, kak Ziya suka banget, dia juga lagi naik daun,"
Sejenak Jean melirik gadis itu. "boleh, kemarin yang ngajuin proposal siapa? berapa uang dari kampus?"
"itu diurus Ziya kemarin, dia sendiri yang ngajuin. Tapi Ziya nya...."
"gapapa, ntar gue tanya sendiri. Yaudah sampai disini aja rapatnya, minggu depan kita bahas lagi. Tapi jangan lupa rapat rutin hari Jum'at,"
"siap kak," jawab mereka serempak. Tanpa ada ngedumel lagi. Kalau ketahuan, Jean ngamuk.
"Itu Zi--," ucapan seorang gadis dipotong langsung oleh Jean. "sama gue,"
Dia mengangguk. Anggotanya mulai keluar satu per satu, hanya tersisa mereka berdua di ruang rapat. Jean menidurkan kepalanya di meja, bertumpu kedua tangan besarnya yang terlipat. Ia memandangi wajah tenang Ziya yang tertidur pulas.
Iya, gadis itu tidur sejak 30 menit yang lalu. Jean membiarkannya. Niat, Ziya ingin menutup mata sebentar sebab pusingnya tambah menusuk. Eh, kebablasan.
"Lo ada masalah apa sih, anak kecil?" gumam Jean pelan. Tangan besarnya menyingkirkan sehelai rambut yang menutupi wajah cantik Ziya.
Seketika tersadar, kenapa gue penasaran banget dia kenapa, batin dia mengerjapkan mata.
Jean langsung duduk tegap kembali. Dia membangunkan Ziya, "Ji bangun ji, pelor amat lo," cibirnya. Gadis itu perlahan membuka matanya, "eh gue ketiduran ya?"
"menurut lo?!" tukas Jean pedas. "ayo pulang,"
"gue pulang sendiri kak," ucap Ziya sambil memasukkan ipad dan handphone nya ke dalam tas. Padahal belum terkumpul nyawanya.
"ya kata siapa gue ngajak lo," cibir Jean.
Ziya berdecak kesal. Baru buka mata saja, emosinya sudah ikut terbangun karena Jean.
"ya udah," balasnya cuek. Kemudian, saat dia hendak pergi tangannya di genggam cowok itu, tiba - tiba.
"eh.." Ziya tersentak kaget. "kenapa?" tanya Jean santai.
"katanya nggak ngajak gue, why you hold my hand? "
"Lo terlihat butuh tumpangan,"
"dih kurang ajar,"
Keduanya keluar bersama. Namun, kaitan tangan mereka di lepas Ziya, menghindari fitnah dan rumor. Belum lagi kalau bertemu Luna. Akibatnya lebih parah.
Jean berjalan sambil mengepulkan asap pod nya dengan slay dan keren. Mahasiswi yang dilewatinya jadi berteriak kegirangan. Ziya menatap mereka aneh dan heran, apanya dari Jean coba yang mereka idamkan.
Kalau masalah muka, emang Jean tidak tertandingi tapi mereka belum tau sifat aslinya seperti apa.
????
Cowok itu mengajaknya ke cafe dekat kampus, yang mana tempat dia bekerja menjadi barista juga.
Jean anak orang berada, tapi dia menyibukkan diri untuk bekerja dan ikut organisasi. Jujur dia selalu rindu keluarganya, tetapi terlalu malas dan capek mendengar omelan serta kata - kata menusuk dari orang tuanya. Maka dari itu Jean tidak pulang ke rumah. Dia membeli sebuah apartment.
Jean selalu dibandingkan dengan adiknya. Padahal Jean tidak kalah pintar dari Jevan. Tetapi dia tidak mau membuang waktunya juga untuk berebut posisi prestasi. Biarkan adiknya yang selalu dibanggakan. Dia sudah lelah.
"duduk," suruh Jean. Kemudian, cowok itu masuk ke bar nya sambil memakai apron barista.
"cewek baru lagi, Je?" sahut teman baristanya. "Iya," jawabnya santai. Tuh, tukang pengecap, nyatanya bukan punya dia.
"enak ya jadi lo, bisa gonta ganti cewek, gue satu aja keburu lepas," curhat temannya sedih.
Jean tertawa kecil. Tangannya sibuk membuatkan latte untuk Ziya. "cewek gue emang banyak tapi yang satu itu beda,"
"tapi gue lihat dia nggak tertarik sama lo, Je," celetuk temannya melihat Ziya yang sibuk memindahkan beberapa hasil rapat yang ketinggalan tadi.
Jean juga memandangnya. "she's very cold but attractive, dia juga suka sama temen gue,"
"Lah, terus kenapa seenak jidat lo ngecap dia punya lo,"
"gue nggak peduli dia suka sama siapa sih, asal dia ada disekitar gue, everything is safe," tukas Jean memiringkan senyumnya.
Akhirnya latte hangat khas Jean selesai. Kapan lagi dibuatin langsung sama cowok itu. Jean hanya melayani kasir dan mengantar pesanan. Tidak pernah membuat kopi.
"rel, gue minta tolong bikinin matcha cake yang biasa lo buat ya, lo kan ahlinya,"
"okey segera di buat,"
Cafe nya lumayan sepi. Hanya ada beberapa pelanggan yang sudah dilayani teman Jean tadi. Jean melepaskan apronnya, kemudian menghampiri Ziya. "nih latte,"
"darimana lo tau gue suka latte?" tanya gadis itu, matanya fokus ke layar ipad.
"all about you, I already know, Ziya,"
Ziya diam saja tidak merespon. Jean menatapnya intens. Entah mengapa Ziya selalu menarik di matanya. Merasa diperhatikan, gadis itu mendongak. "kenapa?" tanya dia singkat.
"lo ada masalah apa sih? apa kecapekan gara - gara gue ajak rapat mulu?"
"kenapa bisa bilang gitu?"
Jean menghela nafasnya, "gue dicemooh memperlakukan lo secara nggak baik. Gue selalu ngajak lo ketemuan diluar buat rapat sendiri, pikiran anggota lain, gue selalu nekan lo ini itu sebagai wakil sementara gue santai aja. Karena mereka hanya tau kalau gue galak, dan lo takut sama gue,"
"gue bastard banget ya, Zi. Nggak patut jadi pres BEM, gue juga bingung kenapa dekan langsung nunjuk gitu aja,"
Gadis itu mematikan ipadnya. "Hei kak, itu cuma pikiran orang, mereka nggak tau sebenarnya apa yang terjadi. Rapat itu penting,"
"dan lo malah bagus sering ngajak ketemu wakilnya buat bahas lanjutannya gimana, hasilnya apa? banyak event sebelum ini juga berhasil berkat lo,"
"jujur aja kak, terlalu bohong kalau gue bilang lo baik, but you're not that bad. Hati dan sikap lo aja yang belum ketata. Hanya orang sabar yang bisa paham sama lo,"
Sekali lagi. Jean terbius ucapan Ziya.
"dan orangnya itu lo?" ucap Jean menebak. Ziya tidak bisa menjawab. Takut jika cowok di depannya salah tangkap. Tingkat kepedean seorang Jean itu sangat tinggi.
Jean sedikit memiringkan kepalanya ke kanan, matanya tidak lepas dari Ziya satu detik pun. "lo nggak berubah ya, tetap jadi Ziya yang selama ini gue kenal," ujarnya seraya tersenyum lebar.
"maksudnya?"
"Ziya yang dingin. Ziya yang kadang excited tapi entah kenapa gue paling takut kalau lo diem gini. Seakan ada yang nusuk hati gue," ucap seorang Jean. Ziya mengerutkan dahinya tidak mengerti. "mau sampai kapan lo nggak ngasih kesempatan ke gue?" lanjutnya.
Ziya mengalihkan pandangannya. Beban apa lagi kali ini? tipuan apa lagi dari seorang Jean?
Kenapa laki - laki selalu pandai berkata? yang awalnya manis nantinya berujung dusta, semua sama saja.
Membuat kita sebagai perempuan, kebingungan mengedepankan logika atau perasaan. Takut salah dalam mengambil langkah.
"Pinter banget kalau ngomong, nggak heran semua cewek bisa lo kibulin gitu aja," ucap Ziya lalu menyeruput latte-nya. Jujur, semua cewek itu termasuk dirinya. Jantung gadis mana yang tidak berdegup jika dibuat baper oleh Jean. Tapi, Ziya tetap bisa menahan dirinya.
"sebercanda itu kah ucapan gue dimata lo, Zi?" Kali ini raut wajah Jean menyiratkan ekspresi serius, tidak seperti yang biasa gadis itu lihat.
Ziya malah tertawa kecil mendengarnya, "gue balikin, sebercanda itu kah perasaan cewek - cewek yang deketin lo dan sekarang jadi pacar STATUS lo juga? they are just a waste of time, lo nggak pernah mikir sedikit pun perasaan mereka?"
Jean Hardika Eleazar diam tak berkutik. Dia tidak bisa menjawab Ziya.
"udah lah Je, stop saying nonsense things from your mouth to me. Karna sampai kapan pun gue nggak akan pernah percaya sama omongan cowok yang suka mainin hati cewek," tegas Ziya, dahinya berkerut serta dua alisnya terpaut, dia marah sekali.
Jean paham betul jika gadis di depannya sedang marah, apalagi dia memanggil namanya tanpa kak.
"tapi lo suka Harsa, apa bedanya," tukas Jean men-skakmatnya.
Gadis itu mengepalkan tangan kirinya di bawah meja. Matanya berkaca - kaca. "gue capek, mau pulang," ujar Ziya mengemasi barang - barangnya kembali. Dia tidak bisa menahan air matanya.
Raut wajah Jean yang awalnya ikut berkerut, mendadak hilang ketika melihat air mata Ziya menetes. "Zi, Ziya, I feel bad, I'm sorry," ucapnya hendak memegang tangan gadis itu, namun sudah di tepis secara kasar.
Ziya buru - buru keluar tanpa sepatah kata. "Lah ini kue nya baru jadi, lo apain dia Je?" tanya temannya yang menghampiri sembari memegang sepiring kue matcha.
"telat, lo makan aja ntar gue yang bayar,"
Jean mengejar Ziya keluar cafe. Semua pelanggan cafe itu kebetulan tau siapa Jean, sebab kebanyakan anak hukum seangkatannya. Mereka bingung, tidak pernah Jean mengejar cewek yang dekat dengannya. Bahkan nangis pun Jean tidak peduli.
Nihil, Jean tidak menemukan Ziya lagi. Mungkin sudah naik taksi.
Cowok itu mengacak - acak rambutnya sendiri. "wtf Jean, lo tau Ziya nggak suka dipaksa masih ngeyel aja," gumamnya. Kemudian, dia mengetikkan sesuatu dari benda pipih yang ada di genggamannya.
Sementara itu, Ziya berada di dalam taksi. sendirian. Dia tidak tau mau kemana. Hanya menangis dalam diam. Hari ini pikirannya terbelah begitu banyak.
Apa yang seharusnya tidak dia pikirkan malah jadi beban. Itu sudah kebiasaan Ziya karena terlalu banyak masalah dalam hidupnya.
Jean sipaling playboy
Gue minta maaf, Zi
Gue sadar gue salah
gue kira lo nggak bakal marah, maaf
I'm sorry?
Ziya, I'm really sorry. I was too late. I shouldn't have said that. I know you don't like it, but I'm nagging.
Ziya please
Ziya gue mendadak lupa rules kita, maaf banget
"lo, always bastard, Jean," isaknya.
Jean si paling playboy
You blocked this contact. Tap to unblock.
Harus percaya cowok mana lagi ya Tuhan
Bahkan Ayahnya sendiri sebetulnya cinta pertama yang berubah menjadi rasa benci. Tidak ada orang yang tau itu.
"Luna, i wish lo nggak akan pernah jatuh ke perangkap Jean. Cukup gue aja,"
all done. Jangan lupa vote, Comment dan share yak teman - teman. Thank you all, wuff u
see u next part, sweetie
tbc...