"Sementara para perempuan memilih jatuh hati padanya. Aku memilih jangan. Walaupun terlalu naif, setidaknya dengan adanya janji yang disepakati. Aku bisa bertahan,"
______________
HARSA Arby, anak teknik satu tingkat diatas Luna dan Ziya. Dia adalah gebetan Ziya sejak dulu. Manusianya tampan, manis, tinggi, dan punya banyak fans. Sayangnya satu, buaya darat yang levelnya sudah di atas rata - rata.
Tidak bisa dimaklumi lagi tingkah lakunya.
Hobinya mainin hati cewek, sok tebar pesona ke sana kemari. Cadangannya tidak hanya satu tapi seratus bahkan bisa seperempat mahasiswi dari kampusnya. Harsa punya 2 handphone, satu buat kuliah satunya lagi ya itu isinya asrama perempuan.
Baru katanya, dengar dari cerita orang, sih.
Heran, Ziya kok tertarik.
"serius?! Harsa jadian yang ke berapa ini?" tanya Luna memasang wajah terkejutnya. Kehilangan kata - kata.
"ke 102 mungkin, entah cewek mana lagi tapi suer cakep banget. Herannya, kenapa cadangan dia nggak pada kabur ya?"
"yaelah bro, ini Harsa, dia jadian aja masih sempetnya godain cewek lain. Emang pelet cowok berengsek itu manjur banget, gue akuin,"
Ziya menggeplak lengan sahabatnya cukup kuat, "berengsek pun dia tetep jadi gebetan gue, but kalau dia deketin gue mending gak dulu,"
"Dasar aneh. Tapi kalau di pikir - pikir lagi ya Zi, sebelas duabelas nggak sih sama Jean,"
Ziya menghela nafasnya, "jujur yaa, masih mending Jean. dia banyak cewek tapi cuek, ngerti nggak sih? kayak picky banget, bukan Harsa sekali ada yang cantik langsung di comot,"
"berat ya naksir cowok famous, yang ceweknya bertebaran bukan kayak di novel. Biasanya cowok terkenal tuh dingin, galak, hah..." kata Luna menghembuskan nafasnya.
Kalau sudah beralih membahas doi, kesedihan yang tadi buyar semua. Ya gimana lagi, nikmat juga.
Dari kejauhan, seorang cowok berusia 20 tahunan berjalan santai ke arah mereka dengan senyum manisnya dengan memainkan rambut under cut nya. Cowok itu berjas rapi, dilengkapi dasi hitam yang sudah ia longgarkan.
"bisa nggak sih jodoh kita yang deket - deket aja," gumam Luna sambil memandangi cowok keren itu.
"haduh kak Lean, mantap betul kalau belum punya cewek," sahut Ziya ikut menatapnya.
Sementara yang diperhatikan me notice mereka, mengulas senyum manisnya.
"hai cantik, kalian apa kabar?" sapa dia sangat lembut. Satu spesies dengan Jean.
"ya seperti biasa. Lo darimana, kak?" sahut Ziya ingin tau.
"Dari acara gereja. Kebetulan lewat, eh, ada kalian lagi ngobrol. mampir bentar deh,"
"Ada Jean nggak kak?" Giliran Luna menanyakan doi nya sambil menaik turunkan alis.
Seketika, raut wajah Arlean berubah masam. "ck, dia tuh suka absen kalau ibadah. Adanya Jevan. Lo kenapa sih suka sama modelan begitu, kenapa nggak Jevan aja? lebih baik 100%," protes Lean berkacak pinggang.
"hah, harus gue ulangi kah kalimat itu sampai lo mual?" ketus Luna menautkan alisnya. Marah.
Oh iya, si cakep ini namanya Arlean Josefian. Anak teknik juga, angkatan Harsa. Teman dekatnya Harsa malah. Sering dipanggil kak Lean atau kak ar. Si paling lembut, royal, loyal, tinggi, hidung mancung bak perosotan.
Dia satu tongkrongan dengan Harsa, Jean dan yang lain. Bedanya, Arlean sudah punya cewek satu saja. Tidak seperti teman - temannya yang kurang ajar itu.
"florist lo rame bener, Na," puji Lean melihat beberapa customer dan pengantar bunga yang keluar masuk. Pantas saja, dia juga selalu beli disini. Menurutnya, buket disini sangat bagus.
"Puji Tuhan, ini juga dekat tanggal valentine. Ya, rata - rata cowok sih yang mau beliin pacarnya atau orang terkasih. Beberapa gereja juga pesan disini," Jawab Luna sambil membereskan sisa - sisa kerjaannya supaya bersih dan rapi. Tidak enak dilihat tamu.
Arlean hanya mengangguk lalu bertanya, "Lo kapan, Lun?"
"apanya?" beo Luna tidak paham.
"Dikasih bunga pas valentine," kekeh cowok itu.
Luna menggeleng dan tersenyum kecil, "selama bukan Jean yang ngasih gue bakal tolak ditempat," jawabnya dengan yakin.
Lagian kenapa harus dikasih kalau dirinya saja bisa membuat buket itu sendiri. Tetapi kalau Jean yang memberi, tidak akan dia tolak, lah. "terus kenapa nggak kebalikannya, lo yang ngasih?"
Ah, Luna mana mungkin berani.
"takut pacarnya pada ngamuk terus labrak gue," alibi dia. Namun, benar juga. Pacar Jean jauh di atas Luna. Nanti kalau nyenggol kena mental duluan.
Arlean saking gregetnya sampai dia meninju udara, "Itu tau Jean udah punya pacar, kenapa masih berharap?! haarghhh!!" ujarnya sedikit emosi. "Jangan sia - sia in effort lo demi seorang Jean yang bahkan ngga ngelirik lo sama sekali. Lo tuh menyakiti diri sendiri tau ga," lanjutnya dengan nafas ngos - ngosan.
"Jean tetap number one, lo pada kalau nggak restuin, gue tetep nekat seenggaknya nyoba sekali biar tau, dan siapa tau kalau sama gue jadi setia? we never know," bantah Luna masih berpegang teguh pada visi misinya.
Arlean dan Ziya saling pandang, bingung dengan pemikiran Luna. Tidak kasihan pada hatinya sendiri. Mau gimana lagi? namanya juga perasaan.
"Ni satunya pasti lagi galau in Harsa kan?" tebak Lean menyenggol bahu Ziya. "sok tau," ketus gadis bawel itu.
"alah, gue emang tau. Kalian berdua sama aja, ngarepin cowok nggak guna, liat noh temen - temen gue pada recokin minta id line kalian. Cakep cakep nggak kalah dari Harsa sama Jean, melek matanya!"
Luna dan Ziya mendelik kesal, sama halnya dengan Lean yang capek dengerin curhatan dua gadis kepala batu itu.
Lalu, selang beberapa menit ada lagi tamu yang tidak diundang, datang dengan penampilan santai dan acak - acakan. Bukan pengunjung florist tapi rival Luna yang paling ia benci. Dia langsung nimbrung, duduk tanpa basa - basi.
"dateng main duduk aja nggak nyapa atau apa. Mentang - mentang kemarin habis borong bunga gue, dikasih ke Runa padahal dia bisa buat sendiri," cibir Luna pada orang menyebalkan itu.
Xavian Derbian, dipanggil Xavi or sapi. Teman se tongkrongan Arlean yang mendadak jadi rival - nya Luna. Dia masih duduk dibangku kelas 12 SMA. Calon pacarnya Arruna Raline. Si tengil yang mandi dua hari sekali atau mandi kalau mau pergi atau sekolah doang. Itu pun kalau resmi, ketemu Luna sama Runa tinggal siram parfum doang kelar.
"yaelah sama adik ipar sendiri. Gue gabut nih, kalian nggak mau hangout gitu?" tanya Xavian, wajahnya tampak seperti orang stres berat.
"kerjaan gue numpuk, lagian lo ngapain disini? bukannya sekolah," tegur Luna.
"Gue disuruh bantuin anak osis buat sebar proposal sponsor tadi, persiapan pensi. Ntar kalau Runa pulang gue ke sekolah buat jemput dia," jelasnya.
Mata Xavian beralih melihat Ziya yang duduk di sebelahnya sambil melamun, "nape lo kak? sedih mulu gue liat - liat," celetuknya tidak sopan.
Sorot mata tajam Arlean langsung tertuju padanya. Xavian tersenyum kikuk lalu menggaruk tengkuknya, sepertinya dia salah bicara, nih. "ada apa sih kak Ziya yang cantik?" tanya dia lebih pelan dan halus. Namun tidak ada respon dari gadis itu.
"Dia tadi nelepon gue ada masalah di rumah, jangan bahas Harsa mulu, lo diem aja jangan mancing perkara," tegur Arlean siap menonjok tangannya.
"ngapain, enak juga mancing ikan di laut,"
Bandel anaknya.
Tangan ceroboh Xavian tergerak meraih sebuah buket yang masih setengah jadi. Tanpa sengaja, tali pengikat ujung bunga itu tersangkut di ujung meja. Alhasil bunganya lepas, serta terhambur di tanah.
Luna yang baru saja keluar dari florist membawakan minuman pun membulatkan matanya, seram. Xavian menutup mulutnya yang terbuka lebar menggunakan satu tangannya serta meneguk ludahnya susah, habis ini perang dunia ke 4 pasti.
apes banget gue today, abis gue dibogem kak Luna. Run gue belum jadi suami lo, udah murka aja kakak lo, batin Xavian menyesal.
"XAVIAN DERBIAAAAANNN!! GUE BUTUH 2 JAM BIKINNYA!!" teriak Luna murka. Dia menabok lengan yang katanya calon adik iparnya itu dengan kekuatan penuh.
"waduh gawat," gumam Ziya dan Arlean.
Pasalnya, Xavian dan Luna kalau berantem gak ada ujungnya. Bisa - bisa satu florist rubuh gara - gara mereka. Xavian hobinya bikin darah tinggi Luna naik, dan Luna yang sekali Xavian berulah langsung auto ngereog, euy. Hancur ngalah - ngalahin perang badar.
"XAV, GUE JAMIN LO NGGAK BAKAL JADI ADIK IPAR GUE!! DASAR SAPIIII!!"
"KAK GUE NGGAK SENGAJA, GUE PENGEN JADI IPAR LO!"
Arlean dan Ziya hanya bisa menggeleng melihat keributan yang mereka saksikan setiap Xavian bertemu Luna. Tidak pernah absen dengan kata nyari ribut.
"gue duluan ya kak, mau ada rapat BEM kalau telat habis gue," pamit Ziya mengambil kunci mobil dari tasnya.
"iya hati - hati, Zi. everything will be okay," balas Arlean tersenyum manis dan menepuk bahunya.
"iya kak terimakasih banyak,"
"Lun, gue duluan!" serunya, terlihat Luna masih mencekik leher Xavian. "iye titip salam buat Jean!"
"GAK SUDI!"
*****
10.30 A.M Ruang rapat BEM Hukum
"oke, semua udah clear kita tinggal ajukan proposal ke dekan. Kalau ada saran di kotak mahasiswa minimal 7, lah. langsung lapor di grup line aja untuk di tindak lanjuti," ucap si wakil BEM yang akan menutup rapat hari ini.
Ziya Asfara - wakil BEM hukum - melirik ketuanya yang duduk di kursi paling depan. "em mungkin dari ketua ada tambahan?" tanya dia dengan raut wajah tidak suka.
"katanya udah clear," jawabnya jutek seraya menutup mata.
ya, ya, ya songong ni orang, dumel Ziya dalam hati.
Ziya hanya mengangguk, seisi ruangan senyap bahkan tidak ada suara sedikit pun, padahal anggota BEM lumayan banyak. "berhubung bapak presiden BEM tidak ada tambahan. Untuk rapat hari ini kita cukupkan sampai disini bila ada--"
Belum selesai Ziya menutup rapatnya. Tiba - tiba ada yang datang dengan tergesa - gesa dan menunduk. Sekretaris 2 BEM. Si wakil meneguk ludahnya dan melirik gadis itu tajam.
"hah?? udah selesai kah?" tanya dia melihat ke sekitar tanpa melihat keberadaan ketuanya yang ia belakangi. Namun anggota yang lain malah memalingkan wajah. Kenapa pada kicep dah, batin cewek berpenampilan cupu itu.
"Jam berapa ini? ingat aturan nomor 5 yang saya buat?!" tegur si pres BEM mengagetkannya.
Tubuhnya seketika membeku. Hanya meneguk ludah saja sejenak tidak mampu saat suara serak basah khas itu menusuk telinganya. Lalu, dia memberanikan diri untuk balik badan, nyengir seperti tidak ada rasa bersalah.
aduhh biasanya juga nggak datang, batinnya merutuki dirinya sendiri.
"maaf kak, tadi saya ada kelas terus dosennya nggak berhenti jelasin," jawabnya gugup sampai badannya bergetar.
"siapa?"
"pak Daren kak," nyalinya tiba - tiba menciut begitu ditatap oleh atasannya. Tatapan presiden BEM memang paling menakutkan.
"saya nggak mau panjang lebar ceramahin kamu. Intinya kamu harus lakuin hukuman sesuai aturan, bisa bisanya punya pangkat gak tanggung jawab," tegasnya menggelegar dalam satu ruangan.
"Ngerti nggak?!" Tangan besar itu menggebrak meja sangat keras. "i-iya kak paham," Rasanya dua kakinya lemas dibentak seperti itu.
"Ziya, bawa dia keluar," lanjut dia meminta bantuan sang wakil. Mata tajamnya tidak lepas dari wajah sekretarisnya.
"baik kak,"
"lo! udah tau kak Jean galak masih aja telat, untung aja moodnya lagi stabil," bisik Ziya pada sekretarisnya.
"Gue kira dia nggak dateng anjir, biasanya juga absen," balas gadis itu juga berbisik.
Ketua BEM itu berdiri, "sekian, kalian boleh pulang," tutupnya singkat. Lalu, dia berjalan santai keluar ruangan terlebih dahulu.
Ruangan yang terasa pengap dan panas itu hilang ketika pimpinannya keluar. Seluruh anggotanya menghela nafas lega serta meregangkan ototnya. Capek duduk tegak mulu.
'gila ya, pilihan dekan emang nggak main - main. itu pun baru masuk udah jadi presiden BEM aja. Apa Jean pake orang dalam kali ya?'
'tapi salut sih, rules dan sikapnya Jean beda dari dia diluar kampus, tanggung jawabnya tetep diinget'
'masih mending pres bem yang lain lah kalau rapat santai. Gue sih dulu masuk karena kepo sama Jean, eh malah kena mental. Kasar banget orangnya'
'gue nggak bisa ngebayangin kalau gue yang telat tadi'
'jadi risau mau ambil dua periode. Meanwhile dia udah 2, apa mau diperpanjang lagi?'
'Ditambah tertekannya Ziya jadi wakil dia mana sekretarisnya satu telat - telat mulu. omg, mereka juga sering ketemu berdua kan? bahas lanjutannya sendiri'
'kasian Ziya nggak pernah dikasih istirahat sama Jean'
Pembicaraan dari anggotanya itu masih terdengar di telinga ketuanya. Jean sengaja berdiri di balik pintu yang tadi ia tutup, sebab kata Ziya anggotanya sering membicarakan tentang sikapnya.
Dua alis tebalnya terpaut. Benar - benar tidak tau diri. Padahal Jean selalu berhasil menyelesaikan jika anggotanya bermasalah.
BRAKK!!
Pintu dibuka kembali secara kasar olehnya. Seketika semua diam mematung, lima belas kepala itu tertunduk ketakutan. Tangan mereka saling bersenggolan.
"Ziya tidak pernah saya perlakukan tidak baik, kalau kalian tidak suka, saya bisa ajukan surat undur diri dan BEM akan kewalahan nyusun semuanya," tegasnya walaupun wajah dia nampak datar tapi ucapannya terdengar menakutkan.
"Oh, atau kalian saja yang saya ajukan? saya nggak butuh anggota tukang gibah yang nggak disiplin atau ngomong dibelakang gini," Ia pandang tajam anggotanya satu per satu. Gelengan kecil timbul di situasi seperti ini.
Sudah dua periode dirinya memimpin organisasi ini, ternyata masih disangkal anggotanya sendiri dari belakang. Tempramen cowok itu memang buruk tetapi dia selalu berusaha untuk bertanggung jawab atas tugasnya. Event - event yang diketuai olehnya selalu berhasil.
Nyatanya apa? semua itu mungkin masih kurang di mata mereka?
it's never be enough.
Tidak ada yang berani membuka suara. "kalau sampai kalian sebar fitnah tentang saya, saya tidak segan - segan mengeluarkan kalian dari BEM!" Cowok itu mendengus kesal kemudian melenggang pergi.
Namun tertahan, ia kembali lagi masuk. "kalau kalian masih kurang puas dengan progres dan aturan saya, temui saya di cafe. Saya tunggu kapanpun!"
"pembicaraan kalian ini sudah jadi landasan untuk saya tidak akan melanjutkan tiga periode. Saya akan berhenti sepihak jika event yang saya tanda tangani kelar semua,"
Jean ngamuk. Dia menghamburkan kertas - kertas hasil rapat tadi kearah anggotanya. Siapa yang tidak murka coba di fitnah seperti itu?
"Saya juga lelah bekerja dengan orang tidak tau diri seperti kalian!" tegasnya menekankan setiap kata lalu keluar dengan membanting pintu.
Salam kenal, Jean Hardika Eleazar. Sering dipanggil Jean atau kak Azar. Mahasiswa Hukum semester 4, Presiden BEM fakultasnya, most wanted satu kampus hingga jadi idola para remaja SMA.
Dia, adalah laki - laki dingin yang paling disegani anak organisasi. Sifatnya yang tegas ditambah raut wajahnya datar, terlihat semakin garang. Dia juga bekerja sebagai barista di salah satu cafe yang tak jauh dari kampusnya.
"punya anggota BEM kayak admin lambe turah," gerutunya kesal sambil melangkah besar menuju kantin.
Jean menyesap pod pipih yang ia ambil dari kantongnya, lalu bibir tebalnya mengepulkan asap putih pekat. Bau Vanila yang menyengat tercium disepanjang lorong.
Mahasiswi disekitarnya berteriak histeris memandang Jean. Meskipun Jean temperamennya tidak baik tapi dia selalu menarik perhatian. Senyum miringnya timbul saat melewati cewek - cewek yang memusatkan perhatian padanya. Rambutnya tak lupa di sisir ke belakang menggunakan tangan kirinya.
"kak Jean tunggu! kak, woi budeg!" panggil seorang gadis yang mengejar dirinya sambil berlari kecil. Merasa terganggu, Jean pun menoleh. Alis kirinya terangkat.
Rupanya, Ziya yang memanggil. "jalan bisa kan? kenapa harus lari, gue nggak mau tanggungan kalau lo jatuh," omel Jean marah lagi.
"kak Jean jalannya cepet banget. Dipanggil juga nggak nengok," sungut Ziya merajuk.
Tangan besar Jean hendak mengacak - acak rambut Ziya, tapi gadis itu segera menepisnya. "jangan pegang - pegang gue, nggak sudi!" Hanya dia yang berani lancang ke Jean.
"galaknya jadi cewek, tambah tua nggak ada yang mau ntar," cibirnya.
Jean kalau sudah akrab, kadang bisa ngomong panjang dan tidak galak kok. Contohnya ke Ziya, karena mereka sering keluar berdua sebagai ketua dan wakil. Ziya dinobatkan menjadi satu - satunya cewek yang bisa akrab dengan Jean tanpa rasa.
"gimana anggota lo?" kekeh Ziya sebab dirinya tau pasti Jean badmood.
"lambe turah," jawabnya singkat tapi mendeskripsikan betapa emosinya dia.
"ya gitu deh, gue sebenarnya juga bagian dari haters lo cuman nggak parah,"
Jean mendadak berhenti kemudian melirik tajam ke arah Ziya, "oh gitu? no way buat kabar Harsa lagi!" ketusnya lalu melangkah lagi. "yahh yahh kak Jean jangan ngambek dong, gue bohong ih. Kak Jean ganteng, kalau marah terus ntar cepet tua loh," rengeknya bergelayut di lengan besar cowok itu.
Jean tidak peduli. Lalu, Ada segerombolan anak basket yang akan lewat, buru - buru Jean menarik tangan Ziya supaya berpindah di depannya.
Diam - diam care, ceunah.
"lo mau kemana kak?" tanya Ziya menghentikan langkah besarnya.
"makan, gue laper,"
"sama pacar lo?"
"yang mana?"
Ziya mengerutkan dahinya, "ya pacar lo kan pasti,"
"la iya yang mana dulu,"
Seketika Ziya tersadar, lawan bicaranya ini adalah Jean si playboy tapi juteknya minta ampun.
"yuk," Jean menarik tangan gadis itu.
"mau kemana heh?!" Ziya kaget tiba - tiba Jean menggandengnya di tengah lautan mahasiswi hukum dan yang lain.
Tentu saja, dia malu.
"katanya makan sama pacar,"
"Dih sinting kali lo, gue bukan pacar lo," bantah Ziya melepas tangan besar itu secara kasar.
"ya udah kapan - kapan jadi pacar gue kalau gitu, ayo buruan gue laper,"
Ziya terpaksa mengikuti langkah kakak tingkatnya ini. Sesekali dia harus mengibaskan tangan, menghilangkan asap pod dari wajah mulusnya. Jean berjalan sambil merangkulnya. Orang - orang disekitar mereka sudah menganggap hal itu lumrah. Tidak ada yang berani julid. Kalaupun ada, Ziya pasti menebasnya. Mereka tau hubungan Jean dan Ziya hanya sebatas teman dekat dan jabatan. Jean yang playboy dan Ziya tetap setia jadi haters nomor satu menyebar kejelekan Jean diam - diam.
Muka dua emang.
Mereka memilih duduk di dekat kaca yang view - nya gedung - gedung fakultas lain, dilantai 4. Sedangkan Jean langsung memesan makanan. "wow kayaknya gue kudu dapat rekor muri nggak baper sama Jean. Gue sadar banget malah kalau Jean selalu care sama gue. Tapi dia playboy, tapi picky, tapi udah punya pacar juga,"
"Jadi kasian sama Luna, berharap ke orang berengsek kayak Jean, moga cepet jenuh deh perasaan dia," gumamnya pelan, memandang ke arah luar.
"eh, tapi gue juga b**o ngarep in Harsa yang satu spesies kek dia,"
Jean datang lagi sambil membawa nampan berisi bakso dan mie ayam. Dia tau Ziya suka mie berkuah cokelat itu. "ngapain mulut lo komat - kamit? baca mantra mbah dukun?" celetuknya.
"gak lah, by the way thanks for the food, kak Je,"
"my pleasure, pretty"
"krabby priti kan maksud lo?" ujar Ziya mengalihkan. Jean berdehem, dia paham betul gadis jutek itu tidak suka dibikin baper.
Ziya mengaduk mie-nya sebelum dimakan. Jean memegang lengan hoodie gadis itu agar tidak terkena kuah. Dia juga mengelap air cokelat berminyak yang terciprat di meja.
"selamat makan kak Jean," ucap Ziya lalu menyeruput mie nya dengan sumpit.
"katanya haters nomer satu," ketus Jean lalu memakan baksonya.
"haha nggak jadi, ntar gue ndak dapet inpo tentang Harsa. Kak Lean pelit soalnya,"
"hmm ada maunya ternyata, yaudah selamat makan juga Ziya cantik,"
Sejenak Ziya menghentikan sumpitnya serta menatap tajam cowok buaya di depannya. "gue mau ngomong deh, kak,"
"tinggal ngomong," tukasnya. "eh biasanya kalau gini...jangan bilang kalau lo mau mengungkapkan perasaan?!" lanjutnya membuka mulut pura - pura kaget.
"what the f**k, gue ogah sama lo dih, aligator darat," decak gadis itu kesal.
Jean sedikit tertawa mendengar respon Ziya. Menurutnya, Ziya adalah wakil yang paling menggemaskan diantara wakil bem fakultas lain. Kalau dibandingkan pacarnya, dia juga setuju.
"Lo kapan sembuh sih kak? heran gue" ucapnya.
"Lah siapa yang sakit? orang gue sehat gini,"
"BOKAN ITO, psikis lo perlu dicek. Gila lo, semua cewek di deketin," protes Ziya emosi.
Jean menghentikan makannya, dia sudah selesai. Sebelum menjawab, lelaki itu mengelap ujung bibir Ziya yang basah dengan jempolnya. "yakin? apa nggak kebalik? mereka dulu yang deketin gue," Jean terkekeh.
"oh, harus banget di respon?"
"engga," Jean meneguk minuman sodanya sejenak kemudian lanjut bicara. "gue juga milih kali, nggak semua cewek gue respon,"
"dasar picky, mandang fisik!" cemooh Ziya.
"Ya emangnya lo nggak? lo suka Harsa karena apa? cakep kan, mana mungkin dari sifatnya," cibir Jean tidak mau kalah.
"sok tau lo,"
Jean sedikit mengulas senyumnya, dia lagi - lagi mengelap sudut bibir Ziya. Gadis itu kemudian menepisnya, "mulai lagi, terus - terusin aja lah, sok. Gue nggak akan baper!"
"emang ada yang nyuruh lo baper?"
Ah, benar juga kata dia.
Ziya malu, sungguh malu. Mau jadi ironman aja, deh.
"Gini loh, semua cewek bisa deket sama gue, Tapi buat gue cuma, yaaa paling maksimal 10 cewek lah di room chat yang bener - bener gue pick," Jean mengatakan itu dengan santai. Seperti tidak ada dosa.
Ziya tersedak akibat mendengarnya. Jean menyodorkan sprite. Ziya meminumnya, tapi tersedak lagi. "pelan - pelan dong. Ini soda loh, bukan air biasa," ucap Jean kaget.
Bisa - bisanya gadis itu meneguk sampai setengah botol. Apa tenggorokannya tidak berubah jadi gunung krakatau?
"si b**o, boro - boro sepuluh. Lo dua aja udah maruk kak. Nggak kasihan apa sama pacar lo,"
"makanya tadi gue tanya, yang mana dulu? hmmm?"
"Hah?! berarti kesepuluhnya itu pacar lo?!"
Jean lagi - lagi mengangguk tanpa beban, membuat mulut Ziya ternganga lebar. "tapi itu buat mereka sih, gue nggak," imbuhnya seraya membukakan plastik snack untuk Ziya. Lalu ia berikan pada gadis itu.
"so that means, lo gak ada rasa ke mereka gitu?" tanya Ziya masih tidak paham.
"nothing," ucap Jean menaikkan dua bahunya.
Ziya seketika tertawa tidak percaya dan bertepuk tangan, "bener - bener lo cuek tapi lo bastard,"
"heem, I admit that bastard things, Gue emang belum bisa serius ke satu orang Zi karena suatu alasan. gue juga capek kali ngurus BEM mulu, kuliah, tugas gereja, kerja. Lagian gue privat sama masing - masing dari mereka, every girl said okay, well i do," ucap Jean dengan senyum angkuhnya.
Ziya menggelengkan kepalanya, ingin sekali ia tempeleng kepala Jean supaya sadar betapa parahnya dia. "Gue nggak habis pikir sama lo kak, gue jamin mereka pasti sakit hati kalau tau semuanya,"
"are you not listen, Ziya? gue bilang mereka said okay, well i do. Berarti tau dong,"
Ziya pusing. Ziya pening kepalanya mendengar pernyataan Jean yang sesantai itu mempermainkan hati cewek.
"satu tongkrongan sinting semua kecuali Jevan,"
Jean mengangguk singkat, "admit again. Dia emang friendly tapi nggak gampang jatuh hati. Sama sih kaya gue,"
"dih, apanya yang sama?!"
"Lah gue pacaran sekedar status. Emang udah jatuh hati?"
Gadis itu sudah stres kelihatannya, "udah kak gue udah nggak kuat dengerin bualan lo itu,"
"si berengsek akan tetap berengsek sampai dia nemuin satu orang yang bisa bikin dia kebingungan sama perasaannya sendiri. Gue munafik iya, gue jahat iya, lo mau bilang gue buruk juga gue setujui, Zi. Karena gue belum nemuin satu orang itu, entah orangnya ada di masa lalu, saat ini atau orang baru,"
"Akan ada saatnya gue fokus sama satu cewek Zi, tenang aja. tapi, se bastard- nya gue lebih parah Harsa tuh, lo mending udah in rasa lo ke dia,"
"ih siapa lu ngatur - ngatur," sarkas Ziya.
"Harsa, katanya dia begitu karena kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya. Sama kayak Bokapnya yang always main perempuan lain. Sedangkan gue, gue udah di cap buruk sejak SMP, dibanding Jevan emang gue paling bandel se keluarga besar. Ya udah, gue nyaman digituin, gue juga diem. Karena kalau berubah sampai berlutut pun mereka nggak akan percaya,"
Selesai Jean menjelaskan, dia menghidupkan pod nya kembali. Rasa mulutnya sudah masam.
Ziya terdiam sambil minum sodanya. Even gue juga bingung rasa gue ke Harsa karena dulu pernah nolongin gue, sebaik itu, tapi gue harap Luna nggak bakal masuk kandang Jean, batin dia menatap datar cowok dihadapannya yang sekarang sibuk membalas cewek bonekanya.
Segitu dulu ya guis, nanti lanjut lagii jangan lupa vote, komen, dan share yaa bantu aku buat up akun kedua ku inii
tbc...