"Perlu untukku membatasi diri denganmu karena aku tak ingin lagi terjatuh akan dirimu".
-Nesya Ayudia Anggraini -
Buatlah aku mengerti bahwa waktu yang kita lalu telah berakhir sebagaimana hubungan kita. Aku, Aku tak pernah ingin mengulangi masa itu kembali. Dan aku masih ingin bebas serta hidup tenang namun kenapa hati masih berkecambuk menginginkanmu?
Neysya melepaskan tangannya dari genggaman tangan Rashid "Kamu boleh menemaniku wawancara tapi kamu harus menjaga batasanmu padaku. Karena aku tak ingin ada yang lebih.. ".
Rashid menghembuskan nafasnya "Huft, Baiklah kalo itu maumu Neys. Aku hargai keputusanmu."
"Baiklah ayo kita pergi. Kamu jalan di belakangku saja. " Pinta Neysya
"Iya.. ".
Neysya berjalan ke ruang utama pagelaran. Diikuti Rashid yang berjalan di belakangnya.Sebuah ruang dimana para tamu dan panitia inti berada. Ia mengetuk pintu ruang utama. Seorang pria tampan seumurannya membuka pintunya. Ia melihat Neysya dengan tatapan yang aneh. Tatapan yang mengartikan ketertarikannya pada Neysya.
"Iya kak cantik bisa saya bantu? " Tanya pemuda itu melihat ke tubuh mungil Neysya yang cantik
Rashid yang melihat tatapan itu langsung berdiri tepat di depan Neysya. Menutupi Neysya yang ingin bicara
"Kita mau wawancara ketua penyelenggara acara apakah boleh? " Tanya Rashid tanpa basa-basi
"Oh ada, Apakah sudah ada surat izin penelitiannya dari kampus? " Tanya pemuda itu dengan tatapan tak enak
Neysya berusaha meminggirkan tubuh Rashid namun susah karena badannya terlalu besar dan tenaganya pun tak kuat. Rashid terus menghalangi Neysya yang ingin berbiacara dengan pemuda itu. Ia menoleh ke Neysya
"Mana suratnya sayang?" Tanya Rashid membuat Neysya kaget
Neysya menginjak kaki Rashid dengan keras hingga Rashid mengaduh kesakitan
"Aduh sayang sakit.. ". Rengek Rashid
"Maafkan saya dan teman saya atas ketidaknyamanannya kak. Ini surat kak." Ujar Neysya menundukkan kepalanya meminta maaf atas sikap Rashid yang aneh. Neysya langsung memberikan surat izin penelitiannya kepada pemuda yang ada di depannya
Pemuda itu tersenyum sembari mengambil surat dari Neysya "Oh it's okey.., Mau saya temani masuk ke dalam?"
Pemuda itu masih memegang tangan Neysya. Neysya hanya merasa risih namun ia tak bisa apa-apa "Tidak usah kak.. ".
"Lepaskan tangan pacar saya. Tindakan anda tidak sopan! " Ujar Rashid mengambil paksa tangan Neysya dan menggenggamnya
"Oh maafkan saya.. ".
"Rudi kenapa kau di luar lama banget!! " Panggil seseorang yang berada di dalam ruangan
"Oh iya pak sebentar, Kamu tunggu sini ya cantik ..". Pamit pemuda itu melirikkan matanya dengan aneh dan akhirnya masuk ke dalam
Neysya bergedik ngeri melihat tingkah pemuda itu. Ia sedikit kesal juga dengan apa yang dilakukan mantannya pada pemuda itu. Namun ia juga berterimakasih karena Rashid mau membelanya. Neysya menatap Rashid yang tengah kesal dan merengutkan wajahnya.
"Haha..., Kamu lucu ya tadi haha. " Ujar Neysya tertawa melihat ekspresi Rashid
"Hello lucu darimananya Neysyaa, Tuh orang ngeselin banget pegang-pegang kamu sembarangan!! Orang m***m kek gitu kenapa ada di acara seperti ini coba." Protes Rashid
"Ternyata Maulana Ar-Rashid bisa kesal juga ya hahaha.. ". Ledek Neysya tertawa terbahak-bahak
"Oh sekarang bisa meledek aku yaa. Sini kamu Neysya!! " Ujar Rashid yang ingin menangkapnya
"Mau ape kau?? Sono pergi jauh-jauh dari gua!! " Balas Neysya
Rashid mendekat ke Neysya dan menggelitiki Neysya hingga gadis itu tertawa terbahak-bahak tak henti-henti.
"Rasakan ini.. ".
"Maulana Ar-Rashid hentikannn!! Geliiii tau!! " Teriak Neysya
Saking asyiknya mereka saling menggelitiki mereka hampir terbentur dinding namun Radhid dengan sigap melindungi kepala Neysya dengan tangannya. Kepala Neysya terpental sedikit dan menatap wajah Rashid.
"Aww, Sakit Rashidd.. ". Rintih Neysya mengelus dahinya yang terbentur
"Aww aku juga sakit Neys.. ". Rintih Rashid bersamaan dengan Neysya
Setelah itu mereka saling menatap satu sama lain. Bagi Rashid, Neysya adalah sosok gadis yang mungil dan cantik melebihi bidadari. Ia tersenyum ke arah Neysya yang melihatnya dengan mata lentiknya.
"Kamu memang cantik ya Neys. Tatapanmu inilah yang membuatku tak bisa lepas dan move on darimu.. ". Ujar Rashid
Neysya memejamkan matanya teringat suatu kejadian di masa lalunya.
Rashid, Untuk apa bersama orang yang egois dan manja seperti dia?
Apa kamu diperdaya oleh dia?
Neysya mengerjapkan matanya dan mendorong tubuh Rashid di depannya. Rashid bertanya melihat apa yang dilakukan Neysya padanya.Untung saja dirinya tak jatuh.
"Kenapa Neys? Ada apa denganmu? " Tanya Rashid
Neysya hanya diam tanpa kata. Ia memilih tak menghiraukan ucapan Rashid. Ia cukup merasa pusing karena teringat masa lalunya.
"Jawab aku Neys! " Tanya Rashid dengan emosi
"Jaga batasanmu Maulana Ar-Rashid! Kamu tak berhak tau! " Jawab Neysya dengan tegas
"Kenapa aku tak berhak tau tentangmu Neys!? " Tanya Rashid
"Karena kita sudah selesai dari 5 taun yang lalu! " Ujar Neysya dengan tegas
"Tapi Neys itu kan dari kamu sendiri.. ". Ujar Rashid yang kemudian terpotong omongan Neysya
"Cukup berhenti! Pembicaraan kita selesai. " Ujar Neysya dengan tajam
Ketika perdebatan terjadi pada mereka ada seorang wanita yang memanggil Neysya.
"Permisi anda yang ingin wawancara dengan Pak Rendra ya? Ketua penyelenggara acara ini. " Ujar wanita itu
"Oh iya kak, itu saya. Jadi saya bisa masuk sekarang?" Tanya Neysya berusaha mengatur emosinya
"Iya kak silahkan masuk. Itu temannya gak ikut masuk? " Tanya wanita itu
"Tidak kak, biar aku sendiri.. ". Jawab Neysya
"Baiklah mari kak masuk..".
Neysya meninggalkan Rashid sendirian. Ia masuk ke ruang utama bersama wanita yang merupakan panitia acara. Neysya tak sedikitpun menoleh ke arah Rashid. Dan Rashid merasa kesal. Ia mengepalkan tangan dan meninju ke papan pengumuman.
Sialan!!
Sampai kapan Neys kau bohongi perasaanmu?
Sampai kapan?
Sampai kapan kau memberi batas pada hatimu?
Sampai kapan kau membatasi hatimu akan cintamu padaku?
Apa yang membuatmu bersikap seperti ini padaku?
Apa alasanmu Neysya Ayudia Anggraini?
Tuhan, Kenapa sulit sekali meraih dia kembali?
Sampai kapan aku bisa menyakinkannya lagi tentang perasaan cintaku padanya?
Neysya, Kekasih mungilku.. aku begitu merindukan sosokmu..
Sosokmu yang selalu membuatku tertawa dan membuka lembaran baru untukku..
Ingin rasanya aku kembali pada masa awal aku mengenalmu dan mulai mencintaimu..
Tapi apakah takdir akan berpihak pada keinginanku?
Bantu aku alam semesta..
Aku mohon berikan aku waktu tuk membuka hatinya kembali untukku..
Hanya itulah satu-satunya harapanku..
~~~~~
Neysya melakukan wawancara dengan baik dan luwes. Hingga akhirnya sesi wawancaranya selesai. Neysya mengucapkan terima kasih atas kesempatan untuk dapat melakukan wawancara. Dan mereka keluar bersama dari ruang utama karena acara akan segera dimulai.
Neysya masih melihat Rashid yang masih menunggunya di dekat papan pengumuman. Ia mengabaikannya karena dirinya tak ingin peduli apapun tentangnya.
"Terima kasih bapak buat wawancara hari ini. Maaf jika saya ada salah kata dan perbuatan. " Ujar Neysya mengucapkan terima kasih
"Oh iya sama-sama nak. Itu yang di depan pacar kamu ya? " Tanya Pak Rendra
"Tidak pak, Itu hanya teman saya tidak lebih hehe.. ". Jawab Neysya
"Tapi suatu saat dia akan jadi istri saya pak.. ". Sahur Rashid dari belakang Neysya. Ia menghampiri Neysya dan tersenyum padanya dengan innocent. Ia meletakkan tangannya di pinggang Neysya. Neysya melotot ke Rashid namun tak dihiraukannya
"Woo bagus nak muda, Saya suka semangatmu mencari jodoh. Pertahankan dia hingga kalian ke pelaminan. Doa bapak menyertai kalian.". Ujar Pak Rendra sembari memegang bahu Rashid
"Saya kesana dulu yaa.., Mari ." Pamit pak Rendra
"Iya pak..".
Kini tinggal mereka berdua, Neysya melepaskan tangan Rashid dari pinggangnya. Ia menatap tajam mata mantannya "Kenapa kau lakukan itu? "
"Ucapan adalah doa dan itulah yang ku lakukan..". Ujar Rashid dengan santai
"Siapa juga yang ingin berjodoh denganmu! " Balas Neysya dengan tajam
"Ya aku minta terus ke tuhan agar kita disatukan gitu aja kok susah.. ". Jawab Rashid dengan santai
"Maulana Ar-Rashid!! " Teriak Neysya dengan emosi dan tak sabar
"Kenapa sih pake teriak? aku bisa mendrngarmu Neys.. ". Tutur Rashid
"Aku mau mulai detik ini kau jangan ikut campur lagi urusanku! aku benci kau! " Ujar Neysya dengan penuh penekanan
"Dan aku mencintaimu Neysya.. ". Ujar Rashid
Blug!
Neysya menginjak kaki Rashid dan memukulnya pake binder yang dibawanya "Bodo Amat! Bye! "
Neysya pergi meninggalkan Rashid. Dan Rashid masih terpincang-pincang dengan kakinya "Neysya Ayudia Anggraini, Sampai kapan kau membatasi hatimu akan perasaanmu padaku!! " Teriak Rashid yang membuat semua melihatnya.
Neysya tak peduli dan tetap melangkah ke tempat parkiran. Dimana dirinya dijemput oleh Dina. Neysya menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal. Dina yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dan Neysya tak menyadari keberadaan Dina
"Woi Neys gua disini.., Ada apa sih? " Teriak Dina
Neysya melihat Dina dan menghampirinya "Gua kesel Dinnnn.., Arghh ketemu mantan lagiii." Dumel Neysya
"Haha kenapa nasib kalian bertiga sama sih haha.. ". Ledek Dina
"Entahlah kesell guaaa..". Jawab Neysya
"Ya udah yok kita kumpul. Kita udah ditunggu sama yang lain.. ". Ajak Dina
"Lho kita jadi hangout? bukannya mereka gak bisa ya? " Tanya Neysya
"Jadi Neys soalnya kebetulan mereka libur. Ya udah yok kita cuss ke kafe seperti biasaa.. ". Seru Dina
Neysya memasang sabuk pengamannya dan berseru "Yokk kita senang-senang kaptennn !!"
Brum... Brum...
Kumpul bersama sahabat lebih baik dari pada memikirkan sosok seseorang di masa lalu.
~~~
@Shin-Shin Cafe
Sampailah mereka di sebuah kafe orientalis. Dina dan Neysya turun dari mobil kemudian masuk ke kafe. Mencari keberadaan sahabat-sahabatnya. Rindu melihat Dina dan Neysya yang celingukan mencari keberadaan mereka. Ia melambaikan tangannya ke arah dina. Dina dan Neysya melihatnya. Mereka langsung menuju ke meja sahabatnya.
Neysya duduk dengan suntuk sama seperti halnya Revi dan Daisy.
"Kamu kenapa Neys? Dateng-dateng udah tekuk aja tuh wajah." Tanya Rindu
"Ya, Gimana gak ditekuk Rin. Orang dia barusan bertemu sama mantannya haha. Gua jemput aja dah kek gitu. " Sahut Dina
"Benerkah itu Neys? " Tanya Rindu
Neysya menghembuskan nafasnya dan menganggukkan kepalanya "Iya Rin, Gua habis ketemu Mantan di pameran itu. Bahkan gua ditemani wawancara sama dia gara-gara temen sekelompok gua gak dateng."
"Wow gila.., Beneran Neys? Dan Lu mau ditemani dia? " Ujar Daisy
Neysya menghela nafas "Iya gimana lagi Dais. Gua sih gak mau tapi kalo gua tolak dia pasti bakal ngikutin gua. Jadi percuma deh dan gua iyain aje.. ".
"Heleh apa sebenarnya lu pengen berduaan sama dia Neys haha.. ". Ledek Revi
"Eh enggakkk yaaa!! Berduaan sama dia bikin sakit hati ajaa.. ". Jawab Neysya tak terima
"Heleh.., Tuh wajah memerah ehem. Abis ngapain aja lu sama mantan lu haha.. ". Ledek Daisy ikut-ikutan
"Ihh gua cuma kepanasan doanggg dan gak terjadi apa-apa sama dia kok lagian..". Teriak Neysya berusaha menutupi wajahnya
Memang apa yang dikatakan sahabatnya memang benar bahwa terjadi sesuatu dirinya dengan mantannya. Tapi bagi Neysya itu adalah ketidaksengajaan.
"Ututu yang blushing si mungil Neysya uhuk uhuk.. ". Ledek Revi
"Berhenti meledekku huwaaa.., Rin gua diledek terus nihh.. ". Adu Neysya pada Rindu
Rindu hanya bisa tertawa melihat sahabatnya yang saling meledek satu sama lain "Jadi kamu tadi habis ngapain aja sama mantanmu Neys? Haha." Tanya Rindu yang ikut penasaran
"Huwaaa kagak ngapa-ngapain gaesss.., Kalian kok gak percaya sih. Lagian gua tadi bercanda sama dia sampai gua terjatuh dan dia menangkapku. Udah gitu ajaa lagiaaann.. ". Ujar Neysya tanpa sadar menceritakan semuanya
"Oh jadi wajah kalian saling deket gitu ya tadi? " Tanya Dina
"Eh ya ampunn!! aku keceplosan astagahh.., Kagak gaess huwaa." Ujar Neysya menutupi malunya tak karuan karena keceplosan menceritakannya
"Aduh aduh dedek Neysya dah mulai dekat nih sama Mantan haha.. ". Ledek Daisy
"Stopp!! Berhenti meledekku huwaa.. ". Ujar Neysya menunduk malu
"Udahlah gaes stop meledek si dedek kita. Lagian gimanapun dia menghindari mantan tetap bisa ketemu dimanapun kan, seperti kalian juga bukan? " Ujar Rindu
"Huft, Iya juga Rin. Pusing gua kesana kemari tetep ketemu dia. Padahal hidup gua jauh lebih tenang tanpa kehadiran dia.. ". Ujar Daisy
"Nah bener tuh.., Bisa retak nih emosi gua kalo ketemu mereka tuh huwaa.. ". Ucap Revi
"Ya aku mengerti gaes, Sekarang pilihan kalian hanya ada dua yaitu menghadapinya atau tetap menghindarinya dengan batasan yang kalian buat. " Tutur Rindu dengan bijak
"Iya gua ngerti maksudmu Rin, But it's not same with our feelings. " Ujar Neysya
"And then what's will you do gaes? Tetap pada pilihan kalian membatasinya? " Ujar Rindu
"Iya, Kami akan terus menjauhiii dan membatasi pertemuan kitaaa. Jadi pas kita ketemu mereka lagi lebih baik kita diam daripada meladeninya. Gimana gaes ide gua bagus gak? " Tanya Daisy
"Iya Dais gua setuju dengan idemu. Okey mulai hari ini kita harus diam dan gak usah meladeni mantan lagiii... horeee. " Teriak Revi dan Neysya
Rindu dan Dina yang melihat tingkah ketiga sahabatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dalam hati dina memang benar apa yang dikatakan Rindu pada sahabatnya namun ketiga sahabatnya tetap bersikeras dengan batas yang mereka buat. Dan mereka berdua hanya bisa memahami keinginan mereka.
Sedangkan Rindu hanya bingung untuk memperlihatkan kepada sahabatnya bahwa pilihan mereka salah. Tapi Rindu tetap memahami keputusan mereka.
Bagaimanapun kalian membuat dinding pembatas seiring waktunya dinding yang kalian buat itu akan perlahan runtuh karena aku mengerti jika kalian masih menginginkan sosok seseorang yang kalian cintai..
Dan Waktu akan perlahan menunjukkan kepada kalian bahwa cinta kalian tidaklah hilang tapi masih terbenak dalam relung hati kalian..
Hanya Ego kalian yang masih kalian pertahankan hingga tak menyadarkan kata hati kecil kalian..
Dan inilah awal dari sakit hati yang kalian buat sendiri..
Dan mungkinkah aku akan mengalami seperti yang kalian alami?
Apakah akan ada pertemuan lagi dengannya?
Pikiran Rindu terus berkelana namun dirinya masih yakin bahwa semua tak akan terjadi. Dan dirinya pasti dapat melalui semuanya. Karena Rindu masih memiliki sosok sahabat yang siap tuk menguatkannya. Kini Rindu menatap sahabatnya yang tersenyum gembira. Rindu pun ikut senang dan bahagia.
"Tak ada yang tak mungkin terjadi pada hidup seseorang. Dimana ada pertemuan pasti ada perpisahan. Dan dimana perpisahan terjadi pasti akan ada waktunya tuk bertemu kembali. Itulah skenario takdir manusia".
-Author, 6 Juli -