Terkadang apa yang diucapkan kita tak akan bisa dengan mudah diterima seseorang. Karena masing-masing individu memiliki perspektif tersendiri dalam berfikir dan menjalaninya.
"Kenapa kalian mempersulit diri jika dalam hati kalian masih menginginkannya? Pilihan kalian cuma ada dua : mencoba terbuka dengan hati kalian atau Menghujami diri kalian dengan batas yang kalian buat sendiri." Ujar Rindu
Revi dan Neysya sama-sama diam membisu. Tak ada yang dapat menjawab pertanyaan Rindu. Namun dalam benak Revi ini bukanlah hal yang benar atau bisa dilakukan.
"Kau tau Rin, Aku tak setuju dengan ucapanmu. " Ujar Revi
"Kenapa? Apa ada yang salah? " Tanya Rindu
"Ya, Kau dengan gampangnya mengucapkan itu padahal kau sendiri gak pernah merasakan sakit hati yang kami rasakan!" Tutur Revi dengan Tajam
"Hati yang sakit gak bisa dapat kembali! Dan kau ingin kita terluka lagi! Sudahlah kau memang tak mengerti perasaan yang kami rasakan diajeng! " Lanjut Revi dengan penuh penekanan
"Kau pikir aku tak pernah merasakan Rev!? " Tanya Rindu yang mulai tersulut makian Revi
"Ya, Karena kau selalu senang bukan? Kesana kemari dengan cowok yang kau inginkan? " Balas Revi
"Semua itu salah! Kau tak pernah tau bagaimana diriku yang dulu kan Revita! Dan gua memberi saran ini karena aku pernah merasakan hal yang jauh lebih sakit daripada kalian! " Ujar Rindu dengan tegas dan tajam
"Apa memang yang kau rasakan Diajeng! " Tanya Revi dengan ketus
"Kau ingin tau apa yang terjadi di masa lalu ku!? " Jawab Rindu ketus
"Ya! mungkin tak sesakit yang kita rasakan! " Balas Revi
Dina menghampiri Rindu dan melerai sahabatnya yang ingin bertengkar. Dina tau bagaimana masa lalu Rindu yang sangat kelam diantara para sahabatnya.
"Udah Stop Rev! Kau sudah keterlaluan! Jangan ungkit lagi masa lalu Rindu! " Ucap Dina
"Kenapa! Apa kami tak berhak tau! Toh masa lalu Rindu gak sekelam kami! "Ujar Revi
Revita! Kau tau bagaimana rasanya kehilangan bunda satu-satunya yang kau miliki dan cintai!? Kau pernah merasakan itu!? Tidak kan! Ya aku kehilangan Bundaku karena cowok b******k yang aku cintai! Lebih jauh sakit mana denganmu! Geram Rindu dalam hati dengan tatapan sengitnya.
"Sudahlah Rin, Ayo kita ke kamar saja.. ". Pinta Dina
"Satu hal Rev, Masa lalu yang kau alami tak sekelam masa lalu Rindu. Dan berhenti membandingkan masa lalumu dengan orang lain karena bagiku semua masa lalu tak bisa diceritakan begitu saja." Lanjut Dina
"Jika kau tak pernah tau bagaimana masa lalu seseorang jangan pernah begitu mudah kau menghakiminya. Ayo Rin kita ke kamar. " Ujar Dina beranjak membawa Rindu ke kamar mereka
Rindu hanya bisa menatap mata Revi dengan sengit. Dan menuruti permintaan Dina agar tak memperpanjang debat yang ia lakukan dengan Revi sahabatnya. Mereka berjalan ke kamarnya dan menutup pintu. Sedangkan Revi dan Neysya masih terdiam dengan apa yang diucapkan Dina.
Dalam benak Revi dirinya merasa bersalah nan bertanya-tanya "Seberat apakah masa lalu Rindu sebenarnya? Kenapa dia tak pernah menceritakannya pada mereka? Kenapa Rin? "
Di sisi lain Neysya pun bertanya-tanya tentang alasan Rindu yang begitu marah karena membahas masa lalu. Padahal selama ini dia selalu terbuka dengan siapapun. Namun kenapa saat membicarakan masa lalu, Rindu begitu kalut dan marah pada Revi?
Apakah ada hal yang disembunyikan olehnya?
Entahlah semua hanya bisa menerka pada diri mereka masing-masing.
~~~~
"Mereka gak pernah tau apa yang gua rasakan din! hiks.. ". Ujar Rindu dengan gemetar
"Rin tenanglah.., sini duduk di samping gua. " Bujuk Dina dengan baik-baik
"Bagaimana aku bangkit dari masa lalu gua. Gua tegar hidup tanpa kehadiran bunda gua. Semudah itulah mereka menghakimiku hiks.. ". Tutur Rindu
Dina menggenggam tangan Rindu dan mengajaknya duduk di kasur. "Dengarkan aku Rin, aku tau mereka tak bisa mengerti masa lalu yang kamu hadapi tapi gua masih ada di samping lu. Sudah ya jangan diingat-ingat lagi.. ".
"Kamu itu sosok yang kuat dan bijak buat kita. Sudah ya kita lupakan masalah tadi dan kita tidur saja gimana? " Lanjut Dina
"Baiklah Din.., Aku ingin istirahat sekarang." Jawab Rindu
"Okey, Sini aku selimutin. " Balas Dina membantu Rindu tuk tidur
"Udah ya kamu tidur Rin.., Aku akan menemanimu di sampingmu sampai kamu tidur." Lanjut Dina
"Iya Din.., Terima kasih."
Aku mengerti Rin, Bagaimana perasaanmu menutup semua lukamu..
Kau selalu tegar tapi dalam hatimu kau begitu rapuh..
Aku janji akan ada di sampingmu seperti janjiku pada bundamu..
Tidurlah Rin dan lupakan semua luka yang kau rasakan tadi..
Aku yakin suatu saat nanti kau akan menemukan kebahagiaan dan cinta dari pemuda yang tulus mencintaimu..
Good night Diajeng Meyrindu sahabatku..
Rindu mulai terlelap dari tidurnya begitupun Dina yang ikut tertidur di samping Rindu.
~~~~~
Malam, Dina terbangun dari tidurnya. Ternyata semaleman dia tertidur di bawah. Pantad saja dirinya merasa kedinginan.
Kruyukk..
Suara perut dina bergemuruh. Ia bangun dengan pelan. Melepaskan genggaman tangan Rindu. Kemudian ia berjalan ke dapur. Ia membuka isi kulkas yang hanya terdapat telur dan mie instan. Ia mengambilnya namun ada seseorang yang berada di belakangnya. Hingga ia merasa kaget dan memegang dadanya.
Ternyata Revi dan Neysya lah yang berada di belakangnya. Dan untung saja telur yang dibawanya tak jatuh dan pecah di lantai.
"Astagah, Kalian mengejutkan aku saja hft. Kenapa kalian di belakangku tiba-tiba? " Tanya Dina
"Din, Gua mau tanya tentang Rindu. Boleh kagak? " Tanya Revi dan Neysya bersamaan
Sambil berjalan ke kompor dan menyiapkan masakannya, Dina menjawab pertanyaan Revi dan Neysya sahabatnya "Hmm.., kalian mau tanya apa? "
"Tapi gua mohon lu ceritain dengan jujur ya din? " Ujar Revi
Dina mengerti jika sahabatnya Revi dan Neysya begitu ingin tau masa lalu Rindu. Dina menatap mata kedua sahabatnya "Kalau itu menyangkut masa lalu Rindu gua gak bisa ceritakan itu..".
"Kenapa din? kenapa kamu menyembunyikan ini dari kami? " Tanya Revi dengan tak sabar
"Karena sekarang belum saatnya. Dan bagi gua jika kalian ingin tau masa lalu Rindu maka biarkan Rin yang menceritakan sendiri bukan dari gua. Karena semua itu privasi dia.., Ku harap kalian mengerti. " Ujar Dina dengan bijak
Neysya mengerti maksud Dina namun Revi begitu ingin tau
"Sampai kapan dia akan cerita masa lalunya din? " Tanya Revi
"Saat dia bisa mendapatkan cinta dari seseorang yang tulus dengannya. Lambat laun dia akan cerita kok.., Sudahlah lagian itu bukanlah hal penting asal kita dapat membuat kebahagiaan di persahabatan kita gaes.. ". Ujar Dina
"Iya juga ih si Revi mah kepo amat.., Udah lah yang penting kita tuh kompak tanpa ada pertengkaran lagi. Sudahlah Rev lupain saja.. ". Timpal Neysya
"Oke oke kita akan tunggu Rindu tuk cerita.., Sini ku bantu masak Din." Ujar Revi dengan semangat
"Yok sini kita makan-makan bareng!! " Seru Dina dengan semangat
"Hmm, Bagaimana kalo besok kita hangout yuk kemana gitu. Sekalian Refreshing bareng-bareng!! " Usul Neysya
"Hmm, liat besok aja gaes.. ". Ucap Revi dan Dina bersamaan
"Waduh lupa gua besok ada kerjaan Neys.. ". Ujar Dina
"Gua juga harus ketemu dosen.. ". ucap Revi
"Yahh terus gua sama siapa dong hangoutnya.. ". Ujar Neysya bingung
Dina meletakkan tangannya di dagunya "Iya ya, Si Rindu dan Daisy full kelas besok. Lu sendirian aja gak apa-apa kak Neys? Entar ku jemput pas pulang. Btw besok kemana emang? "
"Gua mau liat pameran aja sih.. ". Jawab Neysya
"Oh pameran anime itu ya? searah kok pas pulang. Ya udah besok ku jemput aja gpp kan? Tapi lu sendirian." Bujuk Dina pada Neysya
"It's okey, gua pergi sendiri aja. Lagian gua ketemu temen juga kok.. ". Ujar Neysya
"Okey.. sorry ya Neys.. ".
"Oleh-oleh bumbu ramen ya haha..". Celetuk Revi
"Huu dasar lu tuh Rev.., Mana uang lu haha.. ". Ujar Neysya ala preman
"Ngutang dulu ya boleh kan haha.. ". Jawab Revi
"Dasar lu tuh yaa.. ".
Ya, inilah sahabatnya yang terkadang marah dan bahagia bersama. Dan mereka selalu mengerti satu sama lain tanpa ada yang memaksa.
~~~~
Esok mulai datang dan ayam mulai berkokok bersahut-sahutan. Mentari masih bersembunyi malu-malu. Dan kini pukul menunjukkan pukul 6 pagi. Hari senin adalah Hari yang dikenal dengan permulaan aktifitas masyarakat setelah hari weekend. Seperti biasa Dina, Revi, Rindu, Daisy dan Neysya telah bangun pagi-pagi. Setelah menata semua persiapan dan perlengkapan mereka duduk di meja makan bersama.
"Argh, Gua laper bangetttt.. ". Gaduh Daisy
"Lu sih keburu tidur dan kunci kamar semalem Dais.. ". Ujar Revi
"Iya gua bete gara-gara ketemu mantan lagi dih.., Sini gua pen isi energi yang banyak haha.. ". Jawab Daisy
"Memang ya mantan tuh gak bisa apa bikin hidup kita tenang gitu Hadeuh.. Aya aya pusing atuh kepalana.. ". Ujar Revi
"Ya gitu kehidupan gaes, Rev tolong buatkan aku bekal aja ya.. ". Pinta Rindu
"Lho Rin kamu buru-buru? ada kerjaan asdos lagi? " Tanya Revi
"Iya jaga ujian di kelasnya kakak tingkat kita. Aku ambil map dulu tolong ya rev masukin di totebagku." Ujar Rindu
"Iya Rin siap.. ".
Rindu berlari ke arah kamarnya dan mencari map putihnya. Rindu berteriak memanggil nama dina "Dinnnaaa, Bantuin aku nyarii mapp putihhh guaa.. ".
Dina menggelengkan kepalanya "Hadeuh diajeng.. diajeng.. , Selalu gini dah."
"Cepet sini gihhh.. ".
Dina yang ingin melahap sarapannya pun tak jadi dan berjalan ke kamar Rindu tuk membantunya mencari map putihnya. Sedangkan sahabat lainnya melanjutkan sarapannya kecuali Neysya. Neysya mengambil kotak bekal kecilnya dan mengambil nasi serta lauknya ke kotak bekalnya.
"Lho Neys, Kamu keburu atuh? Sampai bawa bekal sendiri." Tanya Revi
"Iya Rev, Soalnya jauh juga jadi biar sampai tepat waktu di sana. Lagian ini juga buat tugas kuliah jadi harus on time gitu hehe.. ". Jawab Neysya
"Oh gitu, Entar naik apa atuh? Mau aku pesankan Fajar gojekku? " Tawar Revi
Neysya bergedik ngeri ketika mendapatkan tawaran dari Revi. Bukannya tak ingin cuma dia tak suka dengan tingkah bicara fajar yang alay dan lebay.
"Tidak usah Rev, Gojekku dah datang kok. Gua berangkat duluan ya gaes. Rindu Dina aku berangkat dulu yaa." Pamit Neysya
"Oh iya Rev, Hati-hati di jalan yaa.. ". Teriak Dina dan Rindu
Neysya memakai sepatunya dan menggendong tas ransel kecilnya. Membawa binder besarnya di tangannya dan kameran di taruh di depannya. Ia menemui supir ojeknya. Segera ia pakai Helm dan berangkat.
Hari ini memang Neysya tak ada jadwal kuliah karena kuliahnya diganti dengan tugas wawancara di suatu pameran. Dan ia beruntung mendapatkan teman sekelompok yang pintar dan rajin seperti dirinya. Dirinya berharap bisa mendapatkan nilai yang terbaik dalam semester ini agar dirinya bisa menjaga beasiswa yang ia dapatkan.
Beberapa menit kemudian sampailah Neysya di tempat pameran. Ia turun dari motor ojeknya dan melepaskan helm yang dipakainya. Memberikan helm yang dipakainya dan selembar uang 50 ribu kepada bapak ojeknya. Setelah itu ia mulai berjalan di sekeliling pameran. Pameran ini lambat laut mulai berdatangan orang yang berkunjung.
Neysya memotret setiap post karya-karya di pameran. Berbagai karya tersuguhkan dalam nuansa yang berbeda-beda. Ada yang bernuansa korea, ada yang jepang, ada yang jawa, ada yang bali dan lain-lain. Setelah selesai berkeliling ia mengambil ponselnya dan menelfon teman sekelompoknya yang tak kunjung datang. Neysya resah karena dirinya harus wawancara dengan ketua penyelenggara. Ia menelfon temannya Dion dan Rani secara bergantian.
"Halo dion, kamu dimana atuh? Aku dah nunggu dari tadi. Rani juga dimana? kok kalian gak datang-datang dari tadi? " Tanya Neysya
"Haduh Neysya kamu bisa kan urus sendiri sekarang. Aku sama Rani masih sibuk atuh.. ". Jawab Dion
"Kalian sibuk pacaran kan atuh? Ini tuh tugas kelompok bukan tugas individu. Kamu ngerti atuh? " Maki Neysya
"Heleh apa gunannya kamu di dalam kelompok kami Neys. Udahlah kerjain dulu ya.. bye.. ".
Tutttt...
"b******k!!! " Maki Neysya
Dari awal dirinya yang mengerjakan semuanya kenapa harus begini!!
Neysya melempar sesuatu di pohon. Ia memukul pohon di dekatnya. Meluapkan segala amarahnya hingga tangannya memerah. Tangan seseorang menghentikannya.
"Berhenti memukulnya atau tangan kamu akan sakit.. ". Ucap seseorang dari belakang
Neysya menoleh dan melihat Rashid mantannya yang berada di belakangnya. Ia langsung duduk dan menekuk lututnya. Neysya tak ingin Rashid mantannya melihat dirinya menangis. Rashid duduk di belakangnya dan menemani Neysya di sampingnya.
"Kenapa kamu disini!!? " Tanya Neysya
"Karena tugas kuliah aku disini.. ". Jawab Rashid
"Sungguh? kamu tak mengikutiku kan?" Tanya Neysya mencurigai Rashid
"Ya aku mengikutimu saat ku liat dirimu disini Neys. Dan yah aku mendengarkan percakapanmu di telfon tadi. Tapi jujur aku disini karena tugas kuliah.. ". Tutur Rashid
"Oh iya sudah.. ".
"Boleh aku temani kamu wawancara ke ketua penyelenggaranya? " Tanya Rashid
Neysya menatap mata Rashid dengan tatapan bingung dan aneh. Kenapa dirinya mau menemani dirinya?
Apakah ada sesuatu hal yang akan ia lakukan lagi padanya?
Rashid tertawa melihat tatapan curiga yang Neysya layangkan padanya "Kenapa kau melihatku begitu Neys? Haha."
"Apa alasanmu menemaniku Wawancara? Apa ada sesuatu yang ingin kamu lakukan padaku? " Tanya Neysya dengan tatapan curiganya
Rashid mengambil kedua tangan Neysya dan menatapnya dengan Sendu "Karena aku tak ingin kamu sendirian. Dan sekarang aku ada di sini untukmu Neysya Ayudia Anggraini.. ".
Deg!
Semua berlalu dan menyisakan debaran jantung yang mulai bersemayam. Tatapannya yang mulai menghilangkan rasa raguku. Dan kini aku tenggelam pada dirinya lagi..
"Kenapa aku masih merasakan perasaan padanya setelah ku meninggalkannya.. ".
-Neysya Ayudia Anggraini -