Bab 15

1942 Words
Hari Minggu memanglah hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh kebanyakan orang, terutama kaum pelajar. Namun sayangnya, hari ini bukanlah Hari Minggu, melainkan satu hari menjelang Hari Minggu, yaitu Hari Sabtu. Alhasil, seorang manusia yang masih dalam keadaan berduka pun harus berangkat ke sekolah. Seperti biasa, sang sahabat sejati pun menjemputnya untuk pergi ke sekolah. "Di, lo yang nyetir, ya!" ucap Awan. "Lo aja lah, Wan. Gue lagi banyak pikiran," ucap Ardi. "Oh, ya udah." Awan seakan-akan sudah mengerti tentang gambaran pikiran Ardi saat ini. Ia tak mau bertingkah lebih jauh lagi. Dengan segera, ia melajukan motornya menuju sekolahan. "Di, kakak lo?" tanya Awan dengan perasaan ragu. "Positif, Wan." "Turut berduka cita ya," ungkap Awan. "Iya Wan, terima kasih." "Tapi, gue berharap lo bisa kembali ke dunia lo yang sebenarnya. Sebuah dunia yang menunjukkan jati diri lo yang sebenarnya." Nasehat Awan. Ardi tersenyum kecil sembari memandangi sahabatnya itu. "Gue usahain," jawab Ardi. Hari ini cuacanya benar-benar tidak bersahabat. Mendung tebal telah menyelimuti indahnya langit pagi. Senyum sang mentari tak bisa nampak oleh mata telanjang. Yang terlihat hanya gumpalan hitam yang menakutkan. Seakan-akan hari ini adalah hari akhir zaman. Ardi dan Awan bergegas untuk masuk kelas mengingat rintik-rintik air yang sudah mulai turun. Nampaknya hari ini langit akan menangis. Dan tangisannya akan jatuh membasahi bumi. "Ardi, Awan!" teriak seseorang dari luar kelas. Kalau dilihat dari postur tubuhnya yang tinggi, tak salah lagi bahwa orang itu adalah Nando. Perlahan demi perlahan, ia mulai berjalan mendekati Ardi dan Awan. Dan tepat dugaan mereka, orang itu adalah Nando. "Kalian mau masuk jurusan apa?" tanya Nando to the point. "Gue udah daftar jurusan IPA kemarin," jawab Ardi. "Kalau lo, Wan?" "Tergantung," jawab Awan. "Maksudnya?" tanya Nando bingung. "Tergantung keterimanya," jawab Awan. "Wah, aneh nih anak. Emang lo pas daftar, IPA atau IPS yang lo centang?" tanya Nando. "Dua-duanya," jawab Awan sambil cengar-cengir. "Pinter. Orang disuruh nyentang salah satu malah milih keduanya," ucap Nando. Sontak, suara tawa pun menggema di seluruh sudut ruangan kelas. Suara tawa itu mungkin setara atau bahkan mengalahkan suara guyuran hujan yang sudah mulai deras. "Eh, ngomong-ngomong, lo berdua sudah belajar belum untuk tes hari ini?" tanya Nando pada Ardi dan Awan. Bagai tersambar petir dengan tegangan yang sangat tinggi, tubuh mereka seolah-olah bergetar hebat. Bagaimana tidak, bisa-bisanya mereka lupa kalau hari ini adalah hari tes penentuan antara bisa masuk ke sekolahan itu atau tidak. Mungkin untuk Ardi itu hal yang wajar. Karena akhir-akhir ini pikirannya masih bercampur aduk. Tapi untuk Awan. Sebenarnya tak ada alasan bagi Awan untuk melupakan hal sepenting itu. "Mati gue, gue lupa," ucap Awan dengan wajah yang tegang. "Gue juga," tambah Ardi. "Ndo, emang kalau gak lulus tes ini, kenapa?" tanya Awan penasaran. "Ya pastinya gak akan diterima lah, lo sekolah di sini," jawab Nando santai. "Wah, sia-sia dong 3 hari MOS gue," keluh Awan. Awan nampak sedikit bersedih akibat hal itu. Ia takut dirinya gagal dalam menghadapi tes, dan akan dinyatakan tidak lulus tes, yang pada akhirnya tidak akan diterima untuk sekolah di sekolahan itu. "Tenang aja, Wan. Murid keseluruhan aja cuma 61, mana mungkin mereka berani menendang kita. Gue yakin, meski kita gak lulus tes, kita akan tetap diterima di sekolahan ini," ucap Ardi menenangkan. "Yak, betul itu. Dengar-dengar, tahun ini muridnya memang jauh lebih sedikit dari tahun-tahun sebelumnya. Tahun lalu aja ada 100 -an lebih, sekarang cuma 61," sambung Nando. "Berarti, kita aman, ya?" "Ya nggak juga sih. Mereka bisa saja menendang salah satu murid dari sekolahan ini. Dan mungkin aja itu lo." "Nggak setia kawan lo, Ndo," tuding Awan. Kembali lagi mereka tertawa. Tapi kali ini hanya Ardi dan Nando yang tertawa. Meninggalkan Awan yang memasang wajah kesal kepada mereka berdua. "Hai, boleh gabung?" Sebuah suara yang lembut nan enak didengar tiba-tiba masuk ke indra pendengaran mereka bertiga. Bukan, nampaknya bukan sebuah suara. Melainkan 2 atau 3 suara dengan kalimat dan nada yang hampir sama. Mendengar suara-suara tersebut, ketiga insan itupun dengan spontan menghadap ke arah sumber suara. "Eh, ada Dik Syila, Dik Alma dan Yayang Zara," ucap Awan tanpa malu. "Yayang, yayang. Mau gue pukul?" "Galak amat sih, Ra," ucap Awan. "Biarin," jawab Zara dingin. Sumpah, kalau dilihat-lihat, kedua anak manusia ini benar-benar sangat serasi. Kalaulah mereka itu memang berjodoh, pasti mereka akan menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warrohmah. "Di, ikut gue yuk!" ajak Nando. "Ke mana?" tanya Ardi. "Cari penghulu. Buat nikahin nih 2 orang," jawab Nando dengan tawanya. Bahkan Nando saja yang baru pertama kalinya melihat kekonyolan Awan dan Zara pun berpikir kalau mereka berdua memang serasi. "Nikah, nikah. Eh, bicara soal nikah, gue punya jodoh buat lo, Ndo. Namanya Mbak Sun, orangnya cantik, Bro!" "Mbak Sun siapa, Wan?" tanya Nando bingung. "Ada deh, lo mau kenal gak?" "Beneran cantik gak, orangnya?" tanya Nando memastikan. "Iya, Bro." "Masa namanya Sun aja, nama panjangnya siapa?" tanya Nando lagi. "Sundel bolong," jawab Awan dengan teriak. Kali ini giliran Nando yang terbungkam. Seolah-olah sedang mendengarkan stand up comedy. Ke -5 anak manusia itu tak dapat menahan tawanya. Dan Lagi-lagi, seisi ruangan kelas hanya diramaikan dengan tawa mereka. "Eh, ngomong-ngomong, kapan nih mulai tesnya?" tanya Syila setelah puas tertawa. "Entahlah, semoga aja gak jadi." Mungkin, kali ini Awan bisa puas meledek seseorang. Tapi seandainya saja ada Bara dan Vino, pasti Awan lah yang akan menjadi bahan tertawaan. Saat ini ia masih aman. Tak ada tanda-tanda kehadiran 2 cowok sialan itu. "Lagi ngomongin apa sih, kok kayaknya seru amat?" Sebuah suara yang cukup familiar menggema di indra pendengaran mereka berenam. Terlebih lagi bagi Awan, dialah orang pertama yang menoleh kearah sumber suara itu. "Bara, Vino," ucapnya dengan terkejut. *** "Nggak ngomongin apa-apa, Bro. Cuma ngomongin tentang tes hari ini aja," jawab Nando. "Oh, nggak seru, ah. Pelajaran terus yang dibahas." "Tapi sambil ngledekin Awan juga sih," lanjut Nando. Mendadak, tubuh Bara dan Vino seperti tertarik magnet. Posisi mereka yang semula masih cukuo jauh dari keenam anak itu, kini sudah sangat dekat. "Kalau ini gue suka," ucap Vino dengan senyumannya. "Gue juga." Awan mendengus sebal. Rasanya tak henti-hentinya ia menjadi bahan tertawaan. Mungkinkah itu termasuk takdir? "Kalian seneng amat sih, membuat diriku terhina. Diriku salah apakah sama dikau semua?" tanya Awan sok puitis. "Karena gue iri sama ketampanan lo, Wan," jawab Vino. "Tahu aja kalau gue tampan. Tapi jangan iri kayak gitu dong. Gue kan jadi gak enak sama semuanya," ucap Awan dengan percaya diri tingkat tinggi. "Iya Wan. Tapi...." "Tapi apa, Vin?" tanya Awan penasaran. "Tapi maaf, pujian gue ke lo tadi cuma omong kosong." Mendadak, suasana di kelas pun menjadi riuh akibat suara tawa mereka. Lagi-lagi Awan harus menanggung malu. Teman - temannya itu sungguh membuatnya sangat jengkel. "Eh, ngomong-ngomong nih ya, gue belum kenal sama lo berdua. Boleh kenalan?" "Tentu saja. Kenalin, gue Vino," ucap Vino. "Dan gue Bara," lanjut Bara. "Gue Nando, salam kenal, ya." Pembicaraanpun terus berlanjut dengan iringan suara air hujan yang begitu derasnya menerjang daratan. "Udah jam 06:50. Nih jadi tes nggak sih?" tanya Bara kepada semuanya. "Gak tau nih. Ditunda kali, ya?" respon Alma. "Semoga aja benar-benar ditunda." "Iya semoga aja, gue juga belum belajar," ucap Ardi. "Iya nih," tambah Bara. "Hufff, semoga ajalah. Tapi balik lagi ke Awan, gimana abang tampan?" goda Vino. "Ha ha ha ha ha, tu tadi mukanya udah kelihatan seneng, eh malah lo bully lagi," ucap Bara. "Iya, bener bro." Sontak, suara tawa kembali menggema lagi, lagi dan lagi. "Lebih baik kalian jangan ngebully Awan terus, deh," ucap Ardi. "Lha, ini nih. Ini baru yang namanya sahabat sejati," ucap Awan. "Emang kenapa, Di?" tanya Vino. "Nanti kalau temannya marah, lo semua bisa tewas," jawab Ardi. "Gila, serem amat." "Serem sih serem. Tapi gue gak takut," tantang Vino. "Emangnya siapa sih, teman Awan yang lo maksud tu?" tanya Nando penasaran. "Tuh, yang hitam-hitam di langit. Yang sekarang lagi nangis," jawab Ardi. Semuanya menebak-nebak apa yang dimaksud Ardi. Sedangkan Awan sudah pasti mengetahuinya. Tanpa butuh waktu lama, merekapun menyadari apa yang dimaksud oleh Ardi. "Ooo... mendung," ucap Zara dengan hebohnya. "Iya juga ya, Awan sama dengan Mendung," tambah Alma. Awan mendecak pelan mendengar hal itu. Namun disisi lain, ia pun bersyukur karena sahabatnya sudah terlihat bisa melupakan masalah beratnya. "Huh, lo sama aja, Di," gumamnya. Merekapun kembali melanjutkan tawa yang sempat tertunda. Hingga tanpa mereka sadari, sesosok makhluk yang belum mereka lihat tengah berdiri di ambang pintu kelas. "Assalamualaikum," ucap seseorang yang berada di ambang pintu. "Waalaikum salam," jawab murid-murid yang lain. Ardi dan kedelapan temannya menoleh kearah pintu. Dan benar, mereka mendapati seseorang tengah berdiri disana. Seorang wanita berhijab dengan tubuh langsing. Dialah salah satu calon guru mereka yang bernama Bu Mita. "Waalaikum salam, Bu," jawab kedelapan orang itu dengan serentak. "Kalian semua diminta ke aula, sekarang. Akan ada tes penentuan," ucap Bu Mita. "Iya Bu," jawab seluruh isi kelas dengan serentak. Bu Mita langsung pergi dari hadapan mereka. Mungkin ia akan pergi ke aula yang berada di lantai 2. "Heh, sekolah ini gak punya speaker apa? Masa manggil murid-murid buat pergi ke aula masih dengan cara manual," ucap Awan. "Wan, lo lihat kipas angin itu?" tanya Nando. "Ya lihat lah," jawab Awan kesal. "Tadi berputar apa enggak?" tanya Nando lagi. "Berputar lah," jawab Awan. "Lalu sekarang?" "Mati," jawab Awan. "Itu tandanya apa?" tanya Nando. "Innalillahi wainnailaihi raji'un. Cepat Ndo, umumkan di masjid!" ucap Awan dengan hebohnya. "Plakkkk". Sebuah pukulan mendarat ke kepala Awan. Awan mengusap bagian kepalanya yang dipukul tadi dengan mengerang tanda kesakitan. "Listriknya padam, bodoh!" umpat Vino. "Ya nggak usah pukul juga, kale," ucap Awan. *** Murid-murid yang lain sudah berjalan keluar kelas untuk menuju ke aula. Kini, tinggal menyisakan mereka berdelapan saja. Namun, tak berselang lama kemudian, mereka juga berjalan keluar kelas dan menuju ke aula. Untungnya, perjalanan ke aula tidak harus menerjang derasnya hujan di luar sana. Dengan begitu, mereka aman-aman saja dari ancaman kebasahan dan kedinginan akibat ulah dari sang hujan. Kini, mereka sudah berada di dalam aula. Agak sedikit gelap memang, ruangan besar itu. Mengingat di luar sana mendung hitam telah melarang sang mentari untuk muncul, yang seharusnya tiap hari ia akan muncul. Sedangkan di dalam pun lampu-lampu itu menjadi tidak berguna akibat pemadaman listrik. "Yah, radio rusak lagi yang memberi sambutan," umpat Awan pelan ketika melihat didepan sana sedang berdiri Pak Kepala Sekolah yang sepertinya akan memberikan sambutannya. Meski cahaya di ruangan itu hanya terlihat remang-remang, tapi tetap saja mata mereka masih bisa melihat dengan jelas wajah orang lain. Kecuali, bagi mereka yang mempunyai kelainan mata. "Wan, jangan begitu!" perintah Ardi. "Iya-iya, Di," ucap Awan pasrah. Mereka duduk di lantai aula. Sembari mendengarkan sambutan dari sang pemilik suara serak. Dalam hal ini, orang yang paling jengkel adalah Awan. Entah kenapa, setiap mendengar suara Pak Hermawan, alias Pak Kepala Sekolah, ia menjadi kesal sendiri. Beberapa menit kemudian, akhirnya sambutan itupun telah berakhir. Kini saatnya 56 murid baru itu harus berjuang untuk mendapatkan tempat di sekolahan itu. "Wan, siap-siap !" ucap Ardi. "Siap-siap apa?" tanya Awan bingung. "Siap-siap nggak keterima di sekolahan ini," sahut Vino. "Anda ada masalah apa sih sama saya? Kok kalau saya lihat-lihat, anda selalu mengolok-olok saya," ucap Awan. "Kan sudah gue bilang, gue iri sama ketampanan lo," jawab Vino sambil tertawa pelan. "Heh, gak jelas lo!" "Bodoh amat," jawab Vino. "Wah, Di. Ngatain bapak lo nih anak," ucap Awan heboh. "Bapak gue Ahmad, bukan Amat," jawab Ardi dingin disambut dengan suara tawa kecil dari semuanya. Mereka masih bisa duduk santai sembari menunggu nama mereka dipanggil satu persatu untuk menjalani tes. Hingga waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Nama mereka satu persatu dipanggil oleh guru pembimbing untuk menjalani tes. "Arawan Sinaga."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD