"Tuh, nama lo dipanggil," ucap Nando.
"Iya, gue tau. Lo pikir gue b***k, apa?" sangkal Awan.
"Kali aja beneran budek."
Awan tak memperdulikan perkataan Nando lagi. Dengan perasaan yang tidak tenang, serta tubuh yang mulai gemetar, ia berusaha untuk berjalan menuju ke arah sumber suara yang memanggilnya tadi.
"Nggak usah gemetar juga, kale," ledek Vino.
"Berisik lo!" balas Awan dengan nada suara ditinggikan.
***
Kini, Awan sudah berada tepat di depan guru penguji. Dan selain karena belum belajar, mungkin inilah alasan lain kenapa Awan sedikit ketakutan untuk menjalani tes. Sang guru penguji tidak lain dan tidak bukan adalah harimaunya sekolahan itu, alias Pak Yanto. Sebenarnya bukan hanya Pak Yanto saja, tapi ada 3 guru lain sebagai penguji. Dan sialnya, Awan kebagian diuji oleh Pak Yanto.
"Nah, kamu lagi. Khusus kamu, kalau gagal dalam tes ini, bukan hanya gak keterima saja kamu di sekolah ini. Tapi sebagai tambahannya, kamu harus membersihkan seluruh area sekolah ini dari sampah," ucap Pak Yanto panjang lebar.
"Ya nggak bisa gitu dong, pak!" protes Awan dengan berani.
"Bisa," jawab Pak Yanto tenang.
"Makannya kamu harus serius dalam mengerjakan tes kamu hari ini, kalau nggak mau kena hukuman!" lanjut Pak Yanto.
Awan menghela napas panjang. Lagi-lagi, dia harus menghadapi situasi yang tidak ia inginkan.
"Heran gue, banyak amat yang mendzolimi gue. Jangan-jangan bener kata Vino, mereka iri sama kegantengan gue," ucap Awan pelan.
"Ngomong apa, Wan?" tanya Pak Yanto.
"Oh, enggak Pak. Silahkan dimulai, tesnya!" jawab Awan.
Pak Yanto memberikan sebuah alqur'an dan menyuruh Awan membacanya. Rupa-rupanya, meski kelakuan Awan tak bisa menunjukkan kesopanan, tapi dalam hal membaca ayat suci alqur'an ia berbeda. Bacaannya sudah lumayan bagus. Entah dapat dari mana dia ilmu itu.
"Bagus, sekarang, kamu boleh ke belakang. Dan tunggu tes selanjutnya!" ucap Pak Yanto setelah Awan membaca alqur'an.
Dengan cepat, secepat kilat, Awan langsung menyingkir dari hadapan sang harimau itu. Ia bisa bernapas lega sekarang. Namun nanti, ia masih harus menjalani tes lagi.
"Parah banget. Ternyata, si harimau yang ngetes gue," ucap Awan didepan teman-temannya.
"Untung gak dimakan, lo," ketus Bara.
Awan pun duduk disamping teman-temannya sembari menebar senyuman. Untuk sementara, ia bisa berlagak sombong dulu sembari menunggu nama teman-temannya dipanggil untuk menjalani tes.
Dalam kurun waktu 30 menit, sudah banyak teman-teman Awan yang dipanggil untuk menjalani tes. Ada nama Alma, Syila, Bara, Zara, Vino, dan Nando. Dan di setiap nama yang terpanggil, ada satu kewajiban yang harus dilakukan oleh Awan. Kewajiban yang sesat, yaitu menakut-nakuti. Apalagi bagi yang guru pengujinya adalah Pak Yanto, alias sang harimau di sekolahan itu.
Kini, dari ketujuh temannya hanya tinggal satu nama yang belum terpanggil, yaitu sosok manusia tampan yang bernama Jonathan Ardilan.
"Jonathan Ardilan."
Dan tak butuh waktu lama, seseorang memanggil nama Ardi. Sialnya, suara itu terdengar sama dengan suara yang tadi memanggil Awan.
"Nah, syukurin lo!" ucap Awan.
"Hati-hati, Di. Gue tadi hampir dimakan sama tu orang," tambah Nando yang tadi memang diuji oleh Pak Yanto.
"Di, jangan pulang tinggal nama, ya," ucap Awan lagi.
Ardi terdiam memandang wajah Awan dan juga yang lain. Dari raut wajahnya, entahlah, hampir tidak bisa ditebak tentang perasaannya saat ini.
"Lebay lo," ucapnya dengan suara keras.
"Loh, bukan lebay, Di. Ini adalah peringatan," ucap Nando.
"Peringatan terus, kartu kuningnya mana? Kartu merahnya juga?" tanya Ardi.
Semua dari mereka memasang wajah yang tidak enak. Seolah-olah ada yang salah dengan perkataan Ardi barusan.
"Lo pikir sepak bola?" ucap mereka serentak.
"Udahlah, males. Kayaknya dia udah ketularan virusnya Awan," ketus Vino.
"Ujung-ujungnya gue lagi nih," protes Awan.
Ardi tertawa pelan melihat tingkah dari teman-teman yang belum lama ia kenali itu. Ia pun langsung berjalan ke arah Pak Yanto berada. Ia tak mau kena marah dari sang harimau itu.
"Kamu yang sebangku dengan Awan waktu itu, kan?" tanyanya membuka pembicaraan.
"Bukan, Pak," jawab Ardi.
Pak Yanto mengamati wajah Ardi dengan seksama.
"Iya nih, saya ingat sekali wajah kamu. Jangan bohong!" paksa Pak Yanto.
"Lagian bapak. Ya iyalah saya. Masa bapak nggak ngenalin wajah tampan saya?" ucap Ardi dengan percaya dirinya.
Nampaknya, Ardi benar-benar sudah kembali ke sifat semulanya. Sebuah sifat menyebalkan yang hampir setara dengan sifat Awan.
"Berarti bener, ya? Kalau begitu, kalau kamu gagal dalam tes ini, bukan hanya gak keterima saja kamu di sekolah ini. Tapi sebagai tambahannya, kamu harus membersihkan seluruh area sekolah ini dari sampah," ucap Pak Yanto yang mendadak dingin.
"Jadi, ceritanya saya mau dihukum nih, Pak?" tanya Ardi memastikan.
"Bukan dihukum, cuma diberi sanksi aja," jawab Pak Yanto santai.
"Sama aja, pak," ucap Ardi dengan wajah tak enak dipandang.
Aneh tapi nyata. Seorang Pak Yanto yang dikenal galak bagai seorang harimau yang kelaparan bisa bercanda saat dihadapan Ardi ataupun Awan. Mungkin hanya dua orang inilah yang bisa mengubah sifat menyeramkan dari Pak Yanto.
"Ya udah, sekarang kamu baca surat al-baqarah ayat 150 !" perintah Pak Yanto
Ardi pun lalu membaca ayat suci alqur'an sesuai yang diperintahkan oleh Pak Yanto. Dan benar, bacaannya bahkan jauh lebih merdu dari Awan. Akhirnya, setelah beberapa lama mengaji, Pak Yanto pun memintanya untuk mengakhiri dan menyuruhnya kembali.
Ardi kembali duduk bersama teman-temannya yang lain. Ia pun menceritakan tentang apa yang terjadi padanya barusan.
"Parah lo, Wan. Gara-gara lo, gue diancam sama Pak Yanto," ucap Ardi tak bisa tenang.
"Kalau kamu gagal dalam tes ini, bukan hanya gak keterima saja kamu disekolah ini. Tapi sebagai tambahannya, kamu harus membersihkan seluruh area sekolah ini dari sampah," ucap Awan sambil menirukan suara Pak Yanto.
"Gitu kan kalimatnya?" sambung Awan.
"Iya," jawab Ardi sedikit berteriak.
"Syukurin lo berdua," ejek Vino.
Ketujuh teman lainnya pun tertawa lepas menertawai wajah Ardi yang cemberut. Namun tak lama setelah itu, ia malah menirukan suara tawa dari teman-temannya.
"Aku yakin suatu saat nanti kamu akan menciptakan tawa yang tulus untuk diri kamu sendiri, tanpa harus menciptakan tangisan air mata lagi." - Arawan Sinaga -
***
Semua murid telah melaksanakan tes pertama mereka. Kini, mereka harus melaksanakan tes kedua. Tempat pelaksanaannya masih sama, yaitu di aula. Hanya saja jarak antar yang satu dengan yang lain agak sedikit dijauhkan. Karena tes kedua ini adalah tes tulis. Yang mengharuskan para murid untuk menjawab semua pertanyaan yang ada di 2 lembar kertas tanpa harus menyontek.
"Gawat nih. Kalaupun tetap diterima di sekolahan ini, tetap saja ada hukuman lain buatku jika aku gagal di tes ini," batin Ardi.
Semua murid telah diberikan 2 lembar soal dengan 30 pilihan ganda dan 5 essay. Ardi yang tadi pagi tenang-tenang saja menjadi agak sedikit takut karena ancaman Pak Yanto. Dengan begitu, pasti hal yang sama pun akan dirasakan oleh Awan, secara dia pun mendapat kalimat ancaman yang sama dari Pak Yanto. Kecuali, kalau otaknya benar-benar nggak normal.
"Ingat! Jawab dengan serius. Ini nantinya akan menjadi penentu buat kalian bisa masuk ke sekolahan ini atau tidak!" Ucap Pak Yanto.
"Iya Pak," jawab para murid dengan serentak.
"Waktu kalian mengerjakan hanya 90 menit. Kalau melewati batas waktu yang telah ditentukan, nilai kalian akan saya kurangi 10. Dan satu hal lagi, jangan coba-coba untuk mencontek! Jika ada yang ketahuan mencontek, lembar soal kalian akan saya ambil dengan paksa dan juga nilai kalian akan saya kurangi 30," ancam Pak Yanto panjang lebar.
Semua murid terdiam, mungkin takut dengan ancaman sang harimau itu. Merekapun bergegas untuk mengerjakan soal-soal yang telah berada di hadapan mereka masing-masing.
Awan sungguh kebingungan dengan soal-soal yang berada di hadapannya. Bagaimana tidak, 30 soal pilihan ganda dan 5 soal essay itu bukanlah satu mata pelajaran, melainkan gabungan dari seluruh mata pelajaran. Wajar saya kalau seorang Awan yang berotak dangkal kebingungan dalam menjawabnya, terlebih lagi kalau soal MTK. Jangankan Awan, seirang Jonathan Ardilan yang tergolong murid pandai pun juga kebingungan dalam mengerjakan soal-soal itu.
"Di," panggil Awan pelan kepada Ardi yang kebetulan berada di sampingnya, meskipun jaraknya masih berada cukup jauh.
Ardi hanya menoleh saja ke arah Awan. Setelah itu, dia kembali fokus dengan soal-soal yang berada di depannya.
Awan mendecak sebal. Rasanya mustahil dalam situasi begini ia mendapatkan contekan dari sang kunci jawaban berjalan. Ia pun dengan segera menyobek secuil kertas dan menuliskan sesuatu didalamnya.
"WOY, CONTEKIN SOAL NOMOR 2 YANG ESSAY. GUE GAK PAHAM KALAU TENTANG MATEMATIKA!"
Ia pun segera melipat kertas kecil itu dan melemparkannya ke Ardi. Pastinya tanpa sepengetahuan dari Pak Yanto ataupun para guru pengawas yang lain.
Ardi menoleh kearah Awan. Ia melihat Awan mengangguk-angguk nggak jelas. Tapi, tetap saja ia bisa memahami maksud Awan. Ia pun segera membuka lipatan kertas kecil itu dan membaca setiap kata yang tertulis di kertas itu.
Ardi manggut-manggut mengerti. Ia pun segera menyobek kertas yang agak sedikit besar dari kertas Awan dan menuliskan sesuatu didalamnya. Cukup lama ia menulis, hingga ia pun berbalik melemparkan sobekan kertas yang sudah ia lipat itu ke Awan.
Awan menerima dengan baik lemparan kertas dari Ardi. Ia pun segera membukanya dan yang pasti membaca dan menulisnya langsung di lembar
RUMUS LUAS SEGITIGA ADALAH 1/2 × ALAS × TINGGI. SEDANGKAN RUMUS LUAS PERSEGI ADALAH SISI × SISI.
DI SOAL INI DISEBUTKAN KALAU ALAS SEGITIGA SAMA DENGAN 12 CM. SEDANGKAN TINGGINYA ADALAH 6 CM. DAN SISI PERSEGI SAMA DENGAN ALAS SEGITIGA.
DENGAN BEGITU ALAS SEGITIGA SAMA DENGAN SISI PERSEGI DAN SISI PERSEGI SAMA DENGAN ALAS SEGITIGA.
PENYELESAIAN
- LUAS SEGITIGA
1/2 × ALAS × TINGGI
1/2 × 12 × 6
= BANYAK
WKWKWK. OK WAN, KALI INI SERIUS.
RUMUS PERSEGI
SISI × SISI
= BIARLAH MENJADI MISTERI
Begitulah isi jawaban yang diberikan Ardi ke Awan. Entah kenapa Ardi begitu niat menulis sebegitu banyaknya. Sedangkan Awan, tak diketahui ada masalah apa antara otaknya dengan soal MTK. Soal yang demikian itu sebenarnya masih tergolong mudah, bahkan sangat mudah. Tapi entah mengapa dia tidak mengetahui jawabannya.
Awan pun menulis setiap kata yang ditulis oleh Ardi di sobekan kertas itu. Karena memang, pertanyaannya bukan cuma disuruh menjawab, melainkan disuruh menjelaskan juga. Hingga saat ia membaca sekaligus menulis pada akhir-akhir tulisan dari Ardi, ia merasa kesal sendiri.
"Anji*g, gue ditipu," umpatnya pelan.
Ia menatap tajam kearah Ardi yang saat itu juga menatapnya. Namun raut wajah mereka berdua berbeda. Awan dengan raut wajah kesalnya, dan Ardi dengan raut wajah kegembiraannya. Setelah beberapa lama bertatapan, akhirnya keduanya pun kembali fokus pada soal di hadapan mereka masing-masing.
"Nampaknya sia-sia kalau dalam keadaan begini, Ardi mau menconteki gue," batin Awan.
"Baiklah, gue akan berusaha sendiri. Apapun hasilnya, yang penting gue sudah berusaha sendiri," batin Awan lagi.
Ia pun dengan semangat 45 kembali mengerjakan soal-soal itu lagi. Tentang jawaban yang diberikan Ardi kepadanya, entah ia hapus atau ia biarkan saja jawaban itu abadi di kertas soal itu.
***
Ardi mendecak pelan. Jujur, ia pun kesulitan untuk mengerjakan soal-soal itu. Bahkan kalaupun ia belajar tadi malam, ia masih tak yakin bisa menjawab dengan benar soal-soal serumit itu. Memang, ada beberapa soal yang mudah, yang bahkan tak perlu waktu lama untuk mengerjakannya. Tapi, soal-soal sulit juga ada, bahkan lebih banyak dari yang mudah.
Meski begitu, seorang Jonathan Ardilan adalah orang yang tak pernah berbuat curang, termasuk mencontek. Dari dulu, ia selalu berusaha sendiri tanpa pernah bergantung pada orang lain ketika ulangan datang.
Waktu 90 menit itupun telah berakhir. Kini, waktunya para murid harus mengumpulkan hasil tes tulis mereka masing-masing. Dalam keadaan seperti itu, tentu ada rasa was-was dalam hati mereka. Kecuali untuk mereka yang benar-benar tidak peduli dengan hasil.
"Gawat nih, bisa-bisa gue beneran kena hukuman dari si harimau itu," batin Awan.
Satu persatu dari kertas soal yang dikerjakan oleh mereka semua pun diambil oleh guru-guru pengawas. Setelah hal itu terjadi, maka tugas mereka hanya tinggal satu, yaitu berdo'a agar mendapat hasil yang memuaskan.