Bab 11

2011 Words
Istirahat makan siang pun telah selesai. Kini mereka harus melanjutkan perjalanan yang tinggal sebentar lagi, atau lebih tepatnya tinggal satu pos lagi yang harus mereka lalui. "Oke, kita mulai dari sini. Semangat!" ucap Awan sok puitis. "Tapi sebelumnya.... Nih bawa!" sambung Awan sembari memberikan tas yang ia bawa kepada Bara. "Kok gue?" "Yang punya tas siapa?" tanya Awan. "Gue." "Ya udah bawa, masih mending tadi gue bawain," oceh Awan. "Wah-wah, minta dipecat nih dari kelompok ini," ancam Bara. "Jangan menyalahgunakan jabatan. Lo nggak takut dosa?" ucap Awan. Semua mata kembali tertuju ke Awan. Jawabannya kali ini benar-benar keren. Ia tak menjawab dengan asal lagi. "Benar juga lo," ucap Bara. "Bener lah, gue gitu lho," jawab Awan membanggakan dirinya. "Ngomong-ngomong, dalilnya mana?" tanya Bara. "Eee... a...ada, pokoknya ada," jawab Awan. "Sudah, ayo kita lanjutin perjalanan kita!" ajak Awan. Hari sudah semakin siang, dan inilah puncak dari teriknya sinar sang mentari. Mereka hanya bisa berharap semoga hari cepat-cepat berakhir. Atau setidaknya, hujan turun di muka bumi ini. Biarpun cuma gerimis kecil, yang penting bisa membuat diri mereka tidak kepanasan. Namun sayangnya, realita tak bisa berdamai dengan ekspektasi mereka. Langit diatas sana terlihat bersih tanpa setitik awan kecil pun. "Panas banget sih, kayak di neraka," gumam Awan. "Heh, emang lo pernah ngerasain api neraka?" tanya Vino. "Husss, gue kan anak sholeh," jawab Awan dengan sombongnya. "Iya Vin, Awan kan anak sholeh, nggak mungkin lah dia masuk neraka. Palingan ya jadi bara apinya saja," ucap Bara. "Ha ha ha ha ha, betul banget lo," ucap Vino. "Hei, yang cocok jadi bara api neraka itu lho. Kan nama lo Bara," sangkal Awan. Bara tercekat mendengar ucapan dari Awan. Sementara yang lain hanya bisa tersenyum kecil mendengar pertarungan mulut mereka. Dan entah bagaimana mereka semua bisa secepat itu menjadi akrab. Padahal mereka adalah para anak manusia yang beberapa hari yang lalu tidak saling mengenal. Langkah mereka terlihat sangat pelan, nampaknya mereka tak sanggup untuk melanjutkan perjalanan. Dan tepat saat mereka baru saja melewati jembatan, mereka akhirnya memutuskan untuk berhenti dan berteduh di bawah pohon rindang di sisi kiri jalan. "Jauh banget sih," Keluh Dani yang sedari tadi diam, akhirnya membuka suara. "Bar, coba lihat tu peta!" Bara pun membuka peta yang beberapa saat yang lalu sudah sempat ia buka. Didalamnya tergambar jelas sebuah rute perjalanan yang harus mereka lalui. Namun semuanya tercengang ketika menyadari sebuah hal. Jarak antara pos 3 dengan pos 4 benar-benar sangat jauh. Dan perjalanan mereka dari pos 3 menuju pos 4 mungkin baru setengahnya saja. Bahkan mereka pun baru menyadari kalau jaraknya sampai sejauh itu. "Apa-apaan ini?!" Tiba-tiba terdengar suara yang penuh dengan emosi. Tak salah lagi itu suara siapa, itu adalah suara dari Jonathan Ardilan. Bahkan seseorang yang sedari tadi bersikap dingin pun mendadak bisa menjadi panas. "Tenang Di, tenang!" ucap Awan menenangkan sahabatnya itu. Ardi menghela napas berat, mungkin ia juga bingung apa yang terjadi dengan dirinya. Mungkin benar, ia juga tipe orang yang mudah emosi. Tapi sebelumnya, ia tak pernah emosi hanya karena hal sekecil itu. Sudah bisa dipastikan kalau pikirannya kini bercampur aduk. Tak lama berselang, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan mereka. Jauh, dan yang pasti berada dibawah teriknya sang mentari yang terasa menyengat tubuh. "Hufff, akhirnya sampai juga," keluh Vino. "Iya, akhirnya ya," tambah Alma dengan senyuman manis. Tak mau basa-basi lagi, ke delapan anak manusia itupun langsung menuju tempat terakhir dimana penderitaan itu akan mereka rasakan di hari ini. Namun kelegaan hati mereka tiba-tiba memudar di kala melihat para murid lain yang sedang mengerjakan tugas di pos 4 itu. Lebih parahnya lagi, tugas di sana terlihat sangat berat dan jauh berbeda dari pos-pos sebelumnya. "Ya Allah, cobaan apalagi ini?" keluh Awan. "Halang rintang, ya?" ucap Syila. "Udah nggak usah ngeluh! Ini yang terakhir, ayo semangat!" ucap Bara mengobarkan semangat teman-temannya. *** Di rintangan pertama, masih sangat mudah. Dan mereka pun dengan mudahnya melewati rintangan itu. Begitupun dengan rintangan kedua yang hanya disuruh memanjat di sebuah jaring dari tali tambang. Rintangan ketiga sudah mulai sulit, di mana mereka harus bergelantungan di sebuah tali tambang yang telah diikatkan disatu pohon ke pohon yang lain. Dan parahnya, jarak kedua pohon itu lumayan jauh. Tapi untungnya, di bawah sana sudah tersedia jaring yang siap menangkap siapa saja yang terjatuh. Satu persatu dari mereka telah berhasil melewati rintangan itu dengan susah payah. Akhirnya, semuanya pun telah berhasil melewatinya dan langsung dihadapkan dengan rintangan terakhir sekaligus terberat. Sebenarnya bukan terberat, tapi itu adalah rintangan yang paling menyebalkan dari yang lainnya. Mereka diharuskan melata bagai ular di genangan lumpur yang teramat menjijikkan dengan jarak yang lumayan jauh. "Kabur yuk!" ajak Awan pada yang lain. "Kabur? Lo aja sono kalau mau kabur!" sahut Vino. "Gak setia kawan lo," ucap Awan. "Emang lo kawan gue?" respon Vino. Dasar Awan, tingkahnya selalu saja membuat yang lain geram. Bahkan dalam situasi tubuh yang amat penat pun ia masih mampu mengeluarkan kata-kata mrnyebalkannya. "Woy, berantem mulu ni 2 curut," ucap Bara melerai mereka. "Mendingan kita cepet-cepet aja selesaiin rintangan sialan ini," sambungnya. *** Mereka bersiap untuk merangkak, melewati genangan lumpur yang benar- benar menjijikan dengan pengawasan dari CCTV berjalan, yakni kakak-kakak kelas mereka. "Woy, cepet! Lambat amat sih," bentak salah satu dari kakak kelas kepada mereka. Dalam hati, mereka semua mengumpat atas kedzoliman kakak-kakak kelas mereka. Mereka hanyalah manusia biasa yang mempunyai rasa lelah. Tapi harus dipaksa untuk melakukan hal-hal yang berat dengan cepat. Seolah-olah, tak ada yang namanya belas kasihan. Bukannya tidak mau mempercepat gerakannya, tapi mereka sudah tidak bisa lagi bergerak dengan cepat. Rasa lelah benar-benar sudah mencapai puncaknya. Kini salah satu dari kakak-kakak kelas, yaitu Kiko mendekati Ardi dengan raut wajah kurang suka. Kebetulan, Ardi berada di urutan ke -3 dari 5 orang laki-laki yang berada di kelompok itu, dan jarak antara Ardi dengan Vino yang berada diurutan kedua memang cukup jauh. Sedangkan para teman perempuannya sudah lebih dulu mencapai garis finis. "Hey, lo bisa agak cepet nggak?!" Ardi memalingkan wajahnya ke belakang. Bukan ke belakang, lebih tepatnya ke atas, menatap wajah seorang Kiko dengan tatapan penuh kebencian. Ardi berdiri dari rangkakannya, seolah tak memperdulikan lagi tugas terakhirnya itu. Ia berjalan mendekati Kiko dengan raut wajah yang penuh dengan emosi. "Lo bisa nggak sih, nggak usah komen?!" bentaknya. "Kenapa? Sebagai panitia, gue berhak menegur kalian," sangkal Kiko. Ardi masih menatap tajam ke arah Kiko. Melihat hal itu, seorang Awan berubah menjadi pahlawan kesiangan untuk melerai pertengkaran mereka. Sedangkan yang lain lebih memilih untuk melanjutkan melewati rintangan terakhir itu, atau bisa dibilang tak mau ikut campur dengan urusan kedua pemuda itu. "Sudah-sudah, Di," ucap Awan. "Maaf ya Kak, teman saya nih lagi banyak pikiran, jadi tolong dimaklumi," sambung Awan. Kiko juga tak kalah dari Ardi. Ia pun menatap tajam ke arahnya tanpa merespon perkataan Awan. Gelombang panas seakan-akan bisa dirasakan oleh Awan dari sorot mata kedua pemuda itu. "E... e... e... Kalau gitu kami mau melanjutkan tugas ini lagi Kak," ucap Awan sembari menyeret Ardi untuk menyelesaikan rintangan terakhir itu. Meski tubuhnya telah diseret oleh Awan untuk kembali merangkak di genangan lumpur, tapi tatapan mata seorang Jonathan Ardilan masih tertuju ke Kiko. Wajah dinginnya benar-benar terlihat sangat keren walaupun ia sungguh terlihat sedang emosi. Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri dan kembali melanjutkan tugas memalukan itu. Akhirnya, setelah beberapa saat, mereka berdua pun sudah mencapai garis finis. "Lo kenapa sih Di, kalau ada apa-apa bilang! Kita ini teman, bahkan sahabat. Apapun yang lo rasain sekarang, sebaiknya lo cerita ke kami semua. Lo tu nggak sendiri. Lo punya teman-teman yang siap membantu lo kapanpun ketika lo membutuhkan," ucap Awan sok bijak. "Iya Di, lo cerita aja!" tambah Bara. Ardi menatap wajah semua temannya, termasuk yang perempuan. "Gue gak apa-apa kok," jawab Ardi masih dengan wajah dinginnya. Lalu, apa mereka percaya? Pasti tidak. Wajah Ardi yang begitu berbeda dari hari-hari sebelumnya telah meyakinkan semuanya kalau dia tengah mengemban sebuah permasalahan yang berat. "Di, bilang aja!" paksa Bara. Ardi mencoba meyakinkan teman-temannya kalau dia memang tidak ada masalah. Perlahan, kedua sudut bibirnya terangkat. Hal itu malah membuat para kaum hawa tertunduk malu. Senyum manis itu benar-benar bisa meluluhkan hati lawan jenis. "Gue gak apa-apa, tenang aja!" jawabnya untuk yang kedua kalinya. Walau bagaimanapun juga, mereka tetap tidak bisa percaya dengan jawaban Ardi. Tapi, mau tidak mau mereka pun pura-pura percaya. Lagipula, mereka hanyalah orang-orang yang baru mengenal seorang Jonathan Ardilan dari beberapa hari yang lalu. Pastinya mereka pun tak begitu mengenal sosok Ardi. Kecuali Awan, yang mungkin dari bayi telah bersahabat dengan Ardi, atau bahkan dari dalam rahim seorang ibu. *** Akhirnya, seluruh rintangan pun sudah mereka lalui. Kini, mereka hanya tinggal membersihkan badan yang telah terkena banyak lumpur dan kembali ke sekolahan mereka. "Woy, kita mau bersih-bersih badan di mana nih?" tanya Awan tiba-tiba. "Kalau lo sih, mau bersih, mau kotor kayak gini, tetap aja sama," ucap Vino. "Tetap ganteng, ya?" tanya Awan dengan kepercayaan diri tingkat tinggi. "Tetap kayak gembel," jawab Vino diiringi dengan tawa dari teman-teman yang lain. Awan mendengus sebal. Ia merasa tengah dipermalukan didepan banyak pasang mata. Terkadang ia bingung harus berbuat apa. Bertingkah konyol, ditanggapi oleh yang lain dengan canda. Bertingkah biasa, ditanggapi pula dengan canda. Bahkan serius pun ditanggapi dengan canda pula. Lalu kapan seorang Arawan Sinaga akan mendapat tanggapan yang serius dari teman-temannya? *** Jam sudah menunjukkan pukul 14:30. Mereka masih berjalan dengan keadaan kotor. Sialnya, para kakak kelas tak ada satupun yang memberitahu di mana tempat untuk membersihkan diri. Mau di sekolahan, pastinya sudah banyak murid lain yang membersihkan diri di sana, pastinya nanti akan menunggu lebih lama lagi. "Apa gak ada sungai atau apa gitu di sekitar sini?" tanya Vino. "Ada, ada sungai di sekitar sini. Makanya lo semua ikut aja langkah kaki gue!" jawab Bara. "Meski daerah sini masih tergolong perkotaan, tapi suasananya benar-benar seperti desa. Banyak tempat-tempat yang sangat memanjakan mata di sekitar sini," sambung Bara. "Kok lo tahu?" tanya Zara. "Rumah gue kan di sekitar sini," jawab Bara. "Kapan-kapan, mampir aja ke rumah gue," tawar Bara. "Boleh juga tuh, sekarang aja lah mampir, sekalian minta makan," respon Awan dengan ngawur. Tak ada yang menanggapi ucapan Awan, hanya belasan mata yang menatap dirinya. Dari situ ada satu hal lagi yang bisa diketahui dalam diri Awan. Selain konyol dan gila, seorang Awan juga mempunyai sifat tak tau malu. *** Mereka masih berjalan di bawah panduan Bara. Hanya Bara yang tau tempat di mana sungai itu berada. Hingga tak lama kemudian, di depan sana telah terlihat aliran air yang sangat jernih, dengan hiasan bebatuan besar dan kecil di sisinya. Tanpa basa-basi lagi, mereka pun menceburkan diri mereka masing-masing ke sungai itu. Kebetulan, kedalamannya memang tak begitu dalam. Dengan begitu, resiko terseret arus pun tak terlalu tinggi. Di atas batu besar di sisi sungai sana, nampak seorang pemuda dengan paras tampannya. Ia nampaknya tengah duduk termenung sembari memandangi keindahan area sekitar. Awan mencoba mendekati pemuda tampan yang tidak lain adalah Ardi. Entah kenapa, ia tak bisa menahan rasa ingin tahunya tentang masalah yang dialami oleh sahabatnya itu. "Kenapa sih, Di?" tanya Awan. "Kenapa apanya?" tanya Ardi balik. "Sikap lo. Ada masalah, ya?" tanya Awan lagi. "Gak ada," jawab Ardi singkat. Awan menatap Ardi tajam. Seolah-olah sedang menunjukkan seluruh ketidak percayaannya dengan jawaban Ardi barusan. "Lo mungkin bisa membohongi yang lain. Tapi tidak dengan gue, sahabat lo dari kecil. Lo tahu, seorang sahabat nggak akan ngebiarin sahabatnya menanggung beban berat sendirian. Jadi tolong bilang minimal ke gue, apa yang terjadi?" ucap Awan dengan serius. Ardi menghela napas berat, ia mencoba mencerna setiap kata yang baru saja keluar dari mulut Awan. Sebenarnya, ia pun sudah mengerti tentang arti persahabatan. Tapi ia hanya tidak mau membebani sahabatnya itu dengan masalahnya. "Ardi, kalau lo nggak mau bilang, berarti lo belum sepenuhnya menganggap gue sahabat," ucap Awan. Untuk kedua kalinya, Ardi kembali menghela napas. Nampaknya ia akan dengan terpaksa menceritakan masalah itu kepada Awan. "Aku.... Sebenarnya.... Sebenarnya." "Sebenarnya apa?" tanya Awan. Ardi terdiam sejenak, antara mau melanjutkan perkataannya atau tidak. "Kak Lita dikabarkan telah meninggal dunia," ucap Ardi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD