"Hah?"
"Iya Wan, Kak Lita telah tiada akibat kecelakaan itu," jelas Ardi.
Awan mencoba memahami perasaan Ardi. Ia tau orang yang berada didekatnya saat ini benar-benar sangat terpukul. Dan bagi Awan, ia pun tak bisa melakukan apa-apa untuk masalah yang dihadapi sahabatnya itu. Tapi setidaknya, ia bisa menenangkan dan menghibur Ardi agar tidak bersedih lagi.
"Lo yang sabar ya, Di!" ucap Awan.
"Wan, bukan hanya soal gue. Bagi gue, seiring berjalannya waktu kesedihan ini pun akan hilang. Tapi...."
"Keluarga lo?" potong Awan.
Ardi menganggukkan kepalanya beberapa kali. Selama hidupnya, baru kali ini ia merasakan situasi yang teramat sulit untuk dilalui.
"Terutama ibu, gue gak tau ekspresi dia jika mendengar kabar kematian Kak Lita," ucap Ardi.
"Gue pengen bantu, tapi gue gak tau cara bantu lo kayak gimana," ucap Awan yang akhirnya bisa menemukan ekspresi barunya, yaitu bersedih.
Ardi menatap Awan tajam. Perlahan, ia memberikan senyumannya kepada sahabatnya meskipun setelah itu, ia pun kembali menundukkan kepalanya.
"Gue cuma bisa memberi saran. Digunakan gak apa-apa, gak digunakan juga gak apa-apa. Tapi gue berharap lo menggunakannya," ucap Awan.
"Lebih baik lo bicara sama keluarga lo soal kematian Kak Lita. Dengan begitu, mereka tidak akan berharap lagi kalau Kak Lita akan kembali," tambah Awan.
"Tapi, gue gak kuat bilangnya, Wan," ungkap Ardi.
"Gue gak bisa lihat mereka menangis tepat didepan mata gue," ujar Ardi.
"Iya Di, gue paham. Tapi coba pikirkan lagi. Jika lo nggak memberitahu mereka, mereka akan terus menangis sampai kapanpun juga. Mereka akan terus berharap agar Kak Lita bisa kembali. Mereka juga mungkin akan melakukan hal yang sama seperti yang lo lakukan akhir-akhir ini. Setidaknya, jika lo memberi tahu tentang hal itu, semua tangisan, harapan dan perjuangan melelahkan itu akan berakhir," ucap Awan panjang lebar.
Ucapan Awan sebenarnya ada benarnya juga. Meski nantinya akan terjadi hujan tangis yang memilukan, tapi setidaknya setelah itu, semua kesedihan itu akan berakhir.
***
Jauh dari tempat Ardi dan Awan duduk, teman-teman mereka masih asyik bermain air. Sungai yang begitu jernih itu nampaknya telah membuat mereka lupa waktu.
"Woy, kapan nih kita kembali ke sekolahan?" teriak Awan.
"Tenang aja, ini masih jam istirahat," jawab Bara.
Awan manggut-manggut mengerti. Ia pun berdiri dari tempat duduknya itu.
"Ayo Di. Bersihin badan lo. Nanti keburu waktu istirahat habis!" ajak Awan.
Ardi menuruti saja apa yang dikatakan oleh Awan. Ia pun ikut berbaur dengan teman-teman yang lain. Sejenak, ia pun bisa melupakan kesedihannya itu.
Tak lama kemudian, adzan ashar pun berkumandang. Berarti panggilan untuk sholat pun tiba. Dan setelah sholat ashar pula, mereka harus sudah berkumpul di halaman sekolah.
"Sudah adzan tuh, ayo cepat kita kembali ke sekolahan. Setelah ini kan kita harus sudah berkumpul di halaman!" ajak Vino pada yang lain.
"Heh, adzan tu panggilan untuk sholat, bukan panggilan berkumpul di halaman," sangkal Awan.
"Kayak lo pernah sholat aja," ejek Vino.
"Anda menghina saya nih ternyata. Segala macam sholat selalu gue kerjakan tiap hari, woy," ucap Awan dengan sombongnya.
"Iyain aja lah," ucap Vino.
"Ya harus iya."
"Iya, termasuk sholat jenazah untuk diri lo sendiri," ejek Vino dengan nada meninggi.
Bagai Tom and Jerry, mereka berdua selalu saja bertengkar dan memperdebatkan hal yang tidak penting. Sebenarnya, sumber utamanya adalah Awan. Bagaimana tidak, semua orang yang sedang ngobrol sama Awan, pasti ingin menyangkal semua ucapan yang keluar dari mulutnya.
Melihat perdebatan Awan dan Vino, teman-teman yang lain hanya bisa tertawa, tak ingin menanggapi ataupun menyangkal ucapan mereka berdua.
***
Kini, bangunan megah nan luas itu sudah berada tepat didepan mata. Mereka pun bergegas untuk mengerjakan sholat ashar sebelum waktu istirahat usai.
Setelah sholat ashar, mereka pun langsung ikut berbaris di halaman bersama para murid yang lain. Tak menunggu waktu lama, sang Kepala Sekolah pun memberikan sedikit pengumuman dan arahan untuk kedepannya dengan suara serak khasnya. Yang pernah disebut Awan seperti radio rusak.
"Tu radio rusak ngomong apa sih?" batin Awan.
Akhirnya, acara pada hari yang terasa panjang itupun berakhir. Namun di akhir acara, sang Kepala Sekolah menyebut nama Ardi dan disuruh untuk menemuinya setelah acara berakhir.
Ardi tersentak memdengarnya. Ia mencoba menduga-duga kenapa ia dipanggil. Apa ini ada hubungannya dengan masalahnya dengan Kiko tadi?
Semua murid sudah diperbolehkan pulang. Hanya Ardi dan teman sekelompoknya yang masih berada di halaman sekolah. Entah kenapa, tak ada satupun yang ingin pulang. Sepertinya, rasa solidaritas mereka semakin tinggi setelah seharian menjalani segala rintangan bersama-sama.
"Kalian pulang aja dulu!" ucap Ardi.
"Tapi, lo?" tanya Nando.
"Udah, tenang aja. Semua akan baik-baik saja," ucap Ardi dengan senyumannya.
"Hmmm, baiklah. Kalau terjadi apa-apa, korbanin aja tu si Awan!" ucap Vino ngawur.
"Yah, gue lagi ujung-ujungnya," decak Awan.
Sontak, tawa suka ria pun terdengar sangat meriah. Hingga satu persatu dari mereka pun melangkahkan kaki menuju arah pulang. Kini, tinggal Ardi dan Awan yang berada di halaman sekolah.
"Udah, sana! Temuin si radio rusak!" perintah Awan.
"Radio rusak?" tanya Ardi bingung.
"Pak Kepala Sekolah."
Ardi manggut-manggut mengerti. Dengan segera, ia pun langsung berjalan ke arah ruang kepala sekolah untuk menemui sang pemilik ruangan.
***
"Assalamualaikum." ucapnya.
"Waalaikum salam, masuk!"
Ardi segera masuk ke ruangan Pak Kepala Sekolah untuk menemuinya. Ada rasa grogi yang menjalar di hatinya. Ia takut dikenai hukuman akibat perbuatannya tadi. Jujur ia tak bermaksud melawan si Kiko. Tapi perasaannya yang sudah campur aduk itulah yang membuat hatinya tergerak untuk melawan. Kini, ia harus menanggungnya. Ia sedikit menyesal dengan apa yang telah ia lakukan.
"Duduk!" perintah seorang lelaki yang sudah mulai menua itu kepada Ardi.
Ardi duduk di kursi tepat berada di depan lelaki tua itu. Ia merasa canggung dengan situasi ini. Meski sang Kepala Sekolah itu kelihatan tak bisa marah, tapi dia tetaplah seorang Kepala Sekolah yang bisa bertindak apapun, termasuk memberi sanksi kepadanya.
"Ada apa ya, Pak?" tanya Ardi memecah keheningan sesaat itu.
"Kamu tahu, apa kesalahan kamu?"
Ardi menundukkan kepalanya. Walau bagaimanapun juga, ia tetaplah seorang laki-laki yang selalu hormat pada orang yang lebih tua.
"Saya mendapat laporan dari salah satu kakak kelasmu. Katanya kamu mau mengajak berantem dia tadi, apa itu benar?" tanyanya dengan suara serak nan pelan.
"Iya Pak, saya mengaku salah. Tapi saya benar-benar nggak bermaksud melakukan hal itu. Saya.... saya sungguh banyak pikiran kala itu. Tapi kalau bapak masih mau hukum saya, sebagai seorang lelaki sejati saya terima hukuman bapak, apapun itu," ucap Ardi panjang lebar.
Ardi sedikit begidik ngeri. Hanya satu yang ada di pikirannya. Namanya sudah terlanjut jelek akibat tindakannya siang tadi. Ada perasaan menyesal sekaligus kesal pada Kiko, sang kakak kelas yang diajak berantem olehnya tadi siang dan juga seseorang yang telah melaporkannya kepada Kepala Sekolah.
Ardi tak berani menatap wajah sang Kepala Sekolah. Namun beberapa lama kemudian, ia pun menatapnya. Dan apa yang ia peroleh? Ternyata ekspektasinya salah, entah karena apa, sang Kepala Sekolah tersenyum kepadanya.
"Saya hargai kejujuranmu. Saya juga hargai pernyataan bersalahmu. Sebenarnya jarang ada murid yang berani mengakui kesalahannya. Dan sebagai gantinya, kamu boleh pulang. Kamu nggak mendapat hukuman apa-apa."
Ardi tersenyum kaku. Karena dia pun merasa aneh dengan apa yang saat ini terjadi. Padahal ia sudah membayangkan yang enggak-enggak, tapi ternyata malah dibebaskan. Mungkin itulah rezeki anak sholeh.
"Benarkah Pak? Terima kasih banyak, Pak," ucapnya sembari mencium tangan Pak Kepala Sekolah.
"Iya. Tapi jangan diulangi lagi ya!"
"Iya Pak. Kalau begitu, saya pamit mau pulang, pak!" ucap Ardi.
Ardi langsung melangkahkan kakinya dengan cepat. Bagai seorang narapidana yang baru bebas dari penjara, itulah yang terlihat dalam diri seorang Jonathan Ardilan saat ini.
"Wih, udah bebas lo. Gue pikir, lo di penjara seumur hidup," ucap Awan.
"Sudah, ayo cepat pulang!"
Kegembiraan dari Ardi cuma sesaat. Karena kesedihannya benar-benar telah mengalahkan segalanya. Sial sekali, kenapa ia harus terus teringat dengan hal itu? Sungguh hal yang membuat hati selalu merasa pilu.
Selama perjalanan menuju arah pulang, percakapan antara 2 insan itu tak terdengar sedikitpun. Hanya suara motor dan kebisingan kendaraan bermotor yang lain yang menemani perjalanan mereka. Ditambah lagi dengan suara tiupan angin yang cukup kencang.
***
Awan mengantarkan Ardi sampai depan rumahnya. Kalau dilihat-lihat, di dunia ini tak ada persahabatan yang lebih hebat dari persahabatan mereka berdua. Sebuah persahabatan yang tak pernah mengenal materi. Satu kaya raya dan yang satunya sederhana. Dan juga persahabatan yang tak mengenal timbal balik. Justru mereka saling berlomba untuk lebih banyak menolong satu sama lain.
"Gue pulang dulu. Ingat...! Terkadang, sesuatu yang saat ini lo rasa aman, bisa saja menjadi petaka di kemudian hari," ucap Awan.
Awan menstarter motornya dengan Ardi yang masih berdiri di samping motornya.
"Gue harap lo mengerti apa yang gue maksud," ucap Awan.
Awan langsung melajukan motornya dengan sangat kencang. Tak menunggu waktu lama, raga seorang Arawan Sinaga pun sudah tak nampak lagi.
***
"Baru pulang, Di?"
"Iya Bu," jawab Ardi lemas.
"Aku mau mandi dulu, Bu. Gatal banget nih badan," sambung Ardi sembari menggaruk-garuk badannya.
Ardi masih bingung dengan keputusan yang akan ia ambil. Ia benar-benar sulit untuk memilih. Andai saja, ada pilihan lain selain kedua pilihan itu, pasti dia akan memilihnya. Namun satu di benaknya, entah kenapa kata-kata Awan berputar di kepalanya.
Flashback
"Terkadang, sesuatu yang saat ini lo rasa aman, bisa saja menjadi petaka di kemudian hari."
Ardi berada di kamarnya, sendirian tanpa teman. Rambut indahnya diacak-acak menggunakan jari tangannya. Entah beban seberat apa yang berada di pikirannya.
***
"Cih, kotor deh seragam kebanggaanku," ucap Awan sembari mencuci kaos Manchester Unitednya.
Cucian khusus itupun telah selesai ia kerjakan. Kini ia duduk santai di sofa ruang tamu sembari menonton TV. Ada satu hal yang sedikit aneh di rumahnya. Rumah besar nan mewah itu ternyata tak ada seorang pembantu pun. Semua tugas rumah dikerjakan oleh seluruh anggota keluarga sendiri.
"Gue harus pastikan Ardi memberitahu hal itu pada seluruh anggota keluarganya," ucapnya pada diri sendiri.
"Ya, gue harus ke rumahnya nanti."
Ia berbicara sendiri sembari menyantap camilan yang berada di meja. TV yang menyala di depannya seolah-olah tidak berguna. Ia malah sibuk dengan pikirannya tanpa memperdulikan gambar-gambar yang muncul dari benda kotak itu.
"Wan.... Sini!"
Sebuah teriakan mengganggu waktu berpikirnya. Jelas sekali siapa pemilik suara itu, siapa lagi kalau bukan mamanya.
"Kenapa, Ma?" jawabnya sembari berteriak pula.
"Sini, bantu mama!"
Awan menghela napas pelan. Hal inilah yang sangat ia tidak sukai dari dulu. Andai ada pembantu dalam rumahnya, pasti ia nggak akan repot-repot kayak gitu.
"Gawat nih, kerja rodi lagi kayaknya. Lebih baik gue kabur," ucap Awan sembari bersiap kabur.
"Jangan coba-coba kabur! Atau kamu nggak dapat jatah makan," ancam mamanya seolah-olah tau jalan pikiran Awan.
Awan menghentikan langkahnya, ia mendecak sebal akibat hal itu.
"Cih, kok bisa tau sih?"
Mau tidak mau, Awan pun harus menghampiri mamanya sekaligus membantunya menyelesaikan pekerjaan yang masih menjadi misteri.
"Bantu apa sih, Ma ?"
"Tinggal pilih. Mau nyuci piring, nge pel, nyapu atau nyuci baju?"
"Milih yang lain boleh nggak, Ma?" tanya Awan.
"Emang mau milih apa?" tanya Mama Awan balik.
"Tidur," jawab Awan dengan nyengir.
Mamanya menatapnya tajam, tanpa ada senyuman sedikitpun.
"AWAAAAAANNNN, CEPAT KERJAKAN SEMUANYA!" teriaknya.
***
Ardi mondar-mandir didalam kamarnya. Sesekali ia mendecak, berbagai rasa saat ini ada dalam dirinya. Tak tahu rasa apa yang paling besar, rasanya semuanya sama saja. Di dalam kebingungannya, tiba-tiba terdengar suara yang cukup familiar baginya.
"Assalamualaikum, Ardi."
Benar sekali, itu adalah suara dari Awan. Nampaknya ia sudah menyelesaikan kerja rodinya.
"Di, ada Awan tu," teriak Ibu Ardi.
"Iya Bu."
Ardi melangkahkan kakinya menuju pintu depan untuk menemui sahabatnya itu.
"Hahhhh, Wan, lo kenapa?" tanya Ardi dengan kaget.