Bab 13

1843 Words
Penampilan Awan memang sudah tak karuan. Banyak busa sabun yang berada di tangan dan wajahnya. Rambut kribonya pula semakin acak-acakan. "Oh ini, gue habis nyuci piring dan nyuci baju tadi disuruh mama," jelas Awan sembari mengusap busa-busa sabun yang belum sempat ia bersihkan tadi. Tak lupa pula ia merapikan rambutnya. "Tapi kok sampai kayak gitu?" tanya Ardi. "Biasa lah, sebelum kerja rodi digantikan dengan kerja romusha, lebih baik ya meloloskan diri," jawab Awan enteng. "Heh, parah lo. Durhaka sama orang tua," "Ngomong-ngomong, ada apa lo ke sini?" tanya Ardi. Awan mengatur napasnya untuk mulai membicarakan maksud kedatangannya ke rumah Ardi. "Apa lo sudah bilang soal kakak lo pada semuanya?" tanya Awan to the point. Senyum di bibir Ardi tiba-tiba pudar, digantikan dengan ekspresi murung dengan kepala ditundukkan. "Gue.... gue nggak sanggup. Gue nggak sanggup bilangnya." "Apa maksud lo? Apa lo lebih memilih keluarga lo terus bersedih sampai di hari tua nanti?" bentak Awan pada Ardi. "Gue memang nggak ada hubungan darah sama keluarga lo." "Tapi, entah mengapa, gue merasa punya ikatan batin sama keluarga lo," sambung Awan dengan nada suara yang mulai melunak. Ardi terdiam, mencerna setiap kata yang diucapkan Awan barusan. Jujur, Ardi pun merasakan hal yang sama dengan Awan. Tapi rasa itu tak pernah bisa diungkapkan dengan kata. "Sekarang, gue mau lo bilang yang sebenarnya. Paling tidak sama ibu lo dulu!" ucap Awan. "Tapi Wan!" "Udah, ayo cepat! Temui ibu lo!" Awan langsung menyeret Ardi untuk mememui sang ibu. Ia ingin, masalah sahabatnya itu cepat-cepat berakhir. Agar nantinya, Ardi dan keluarganya bisa hidup normal tanpa terselip rasa was-was karena memikirkan nasib Lita. Awan menyeret Ardi masuk kedalam rumah. Sepertinya, Ibu Ardi sedang mengerjakan tugas mulianya sebagai ibu rumah tangga, yaitu membuatkan makanan untuk sekeluarga. "Hai tante," sapa Awan. Ibu Ardi menoleh ke arah suara itu. Dan ia pun mendapati 2 pemuda yang sangat ia kenal sedang berdiri di hadapannya saat ini. "Oh, Awan. Ada apa, Wan?" tanya Ibu Ardi. "Oh, nggak Tan. Nih, A...." "Awan mau minta makan, Bu," potong Ardi. Awan menatap tajam kearah Ardi. Entah kenapa, ia merasa, Ardi sering membuat malu dirinya jika ia sedang berkunjung ke rumah Ardi. "Wah, parah lo." "Nggak kok Tan. Jangan dengerin anak tante yang otaknya agak geser nih," sambungnya. Ibu Ardi tersenyum kecil melihat kelakuan 2 pemuda yang berada di hadapannya saat ini. "Sebenarnya, Ardi tu mau ngomong sesuatu sama tante. Tapi ia ragu," ucap Awan. "Ngomong? Ngomong apa, Di?" tanyanya sembari memalingkan wajahnya ke arah putra bungsunya itu. Sekali lagi, Ardi menundukkan kepalanya. Ia benar-benar ragu untuk mengatakannya. "Ayo Di. Bilang!" "Bu, sebenarnya.... Sebenarnya kemarin lusa itu, aku dan Awan pergi untuk mencari informasi tentang Kak Lita. Dan kami mendapatkan informasi bahwa 11 tahun yang lalu, saat Kak Lita sedang melarikan diri dari penculik, ia mengalami kecelakaan. Dan kemarin, aku pergi ke rumah sakit tempat di mana 11 tahun yang lalu Kak Lita dirawat. Aku pergi kesana dengan sebuah harapan untuk aku bisa mendapat informasi baru. Dan harapan itu terwujud, bu. Aku mendapat informasi tentang kakak dari seorang dokter di rumah sakit itu. Akan tetapi, informasi itu adalah informasi yang sangat tidak ingin ku dengar. Dari pernyataan dokter tersebut, setelah kecelakaan itu, Kak Lita dinyatakan meninggal dunia," ucap Ardi panjang lebar diiringi dengan tangis. Ibu Ardi terpaku mendengar penjelasan itu. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah menangis histeris. Dan tangisan itulah yang menjadi alasan kenapa Ardi selalu berat untuk mengatakan hal itu. Sedangkan Awan, Awan hanya bisa berdiri sambil melihat 2 orang yang sedang meluapkan kesedihannya itu. Walau bagaimanapun juga, ini adalah pilihannya. Ia sudah memilih untuk berada di sini, dengan tujuan untuk memastikan Ardi menjalankan apa yang memang seharusnya ia jalankan. "Bu, sudah Bu. Ikhlaskan kepergian Kak Lita. Biar dia tenang di sana. Ini semua sudah kehendak dari yang maha kuasa, Bu." "Kamu tahu di mana kuburannya?" tanya Ibu Ardi sembari mengusap air matanya. "Aku.... aku gak tau, Bu," jawab Ardi. Kepergian orang tersayang untuk selama-lamanya adalah sesuatu yang sangat menghancurkan hati. Jangankan selamanya, sehari, seminggu, sebulan ataupun setahun pun rasanya sangat sulit untuk dilalui, apalagi untuk selamanya. Tapi setiap yang bernyawa juga pasti akan mati. Walaupun itu adalah orang tersayang yang dianggap abadi, tak kan pernah mati. *** Awan pulang dari rumah Ardi. Ia langsung membaringkan tubuhnya di kasur. Menatap langit-langit kamarnya yang bersih, itulah yang sering dilakukan Awan ketika berada di kamarnya. "Begitukah ekspresi ketika orangorang tersayang telah pergi untuk selama-lamanya?" ucapnya pelan. "Padahal aku selalu berpikir, kalau mereka yang ku sayangi akan selalu menemani sampai kelak aku kembali ke tanah. Tapi.... semoga saja. Kelak, aku tak mau mengalami apa yang Ardi rasakan. Kehilangan, perasaan sedih yang berkelanjutan, serta melihat wajah mereka yang pucat dengan tubuh yang terbaring kaku, atau bahkan sudah terbalut kain putih menakutkan itu," batin Awan. Awan memejamkan matanya. Ia ternyata juga larut dalam kesedihan. Entah kesedihan apa yang ia rasakan, yang pasti sedikit air matanya telah menetes. Hingga tiba-tiba, pintu kamarnya mendadak terbuka. Ia pun refleks untuk membuka matanya kembali. Dan di ambang pintu itu, berdirilah seseorang yang cukup familiar di matanya. "Mama," ucapnya dengan melompat dari kasur sembari berlari dan akhirnya berakhir di pelukan mamanya. "Eh, kamu kenapa, Wan?" tanya Mama Awan dengan bingung. "Nggak Ma. Aku cuma ingin memanfaatkan waktuku bersama orang-orang tersayang, sebelum mereka pergi untuk selama-lamanya," jawab Awan. "Plakkkk." Sebuah tamparan mendarat di pipi Awan. Ia meringis kesakitan akibat hal itu. "Kamu do'ain mama mati, ya?" tanya mamanya. "Eh, Ma. Bukan itu maksudku. Mana mungkin aku sanggup kehilangan seseorang yang cerewet seperti mama," jawab Awan. "Lalu, apa maksudnya?" tanya mamanya. "Gini Ma. Mama tau Lita, kakak perempuannya Ardi?" tanya Awan. "Lita?" Mama Awan mencoba untuk mengingat-ingat. Wajar saja, 11 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Tapi mungkin kalau dibuat main game atau ke warnet, 11 tahun pun akan terasa sebentar kali, ya? "Iya Ma, Lita, kakaknya Ardi yang sekitar 11 tahun yang lalu diculik," jelas Awan. Mamanya masih mencoba mengingat-ingat. Kejadian itu memang sudah sangat lama. Jadi, wajar saja kalau orang-orang telah melupakannya. Selain itu, dulu keluarga Awan masih belum cukup dekat dengan keluarga Ardi. Beda jauh dengan saat ini. "Mama ingat nggak sih? Capek aku nunggunya," oceh Awan. "Bentar dong, sabar!" Awan mendecak sebal. Sepertinya sifat aslinya telah kembali. "Kapasitas otak kecil aja sok mengingat-ingat," ucap Awan pelan. "Kamu bilang apa, Wan?" Awan mengeluarkan jurus mautnya untuk mengelabuhi mamanya. Dengan perlahan, kedua sudut bibir Awan terangkat. "Enggak kok, Ma. Nggak apa-apa," ucapnya sambil tersenyum. "Eee.... jadi, mama udah ingat atau belum?" Mama Awan mengusap-usap dagunya menggunakan jempolnya. Ia nampak sedang berpikir keras untuk mengingat-ingat hal tersebut. "Oh iya, mama ingat sekarang." Suara keras dari mamanya hampir membuat jantung Awan copot. Bahkan sebenarnya bukan sekali ini saja mendengarkan suara keras bagai dentuman bom di medan perang itu. Ia sudah puluhan bahkan ratusan atau bahkan juga ribuan kali ia mendengarkannya. "Hufff, mama bisa kecilin volumenya gak sih?" tanya Awan. "Oh, i am sorry." "Nggak usah sok inggris juga kali, Ma," protes Awan. "Hmmm, bagus ya, protes terus." "Kan punya mulut, Ma." jawab Awan sambil cengar-cengir. Sang mama mendecak pelan. Rasanya mustahil ia bisa memiliki seorang anak seperti Awan. Tapi entah ia sadari atau tidak, sifat anak semata wayangnya yang begitu menyebalkan itu, adalah faktor keturunan dari dia sendiri. "Udah-udah! Jadi, gadis kecil itu meninggal, ya?" "Kasihan. Tapi ngomong-ngomong, meninggalnya kenapa, Wan? Seingat mama, penculiknya sih udah ditangkap polisi. Jadi, nggak mungkin lah kalau ia dibunuh sama penculiknya," ucap mamanya. Awan menatap mamanya tajam, ia terheran dengan ucapan mamanya barusan. "Katanya mama lupa, kok bisa tau kalau penculik itu udah ketangkep?" tanya Awan. "Iya nih. Mendadak, ingatan mama kembali," jawab mamanya santai. "Hufff, terserah lah." "Jadi gini, Ma. Saat itu, kakaknya Ardi itu kabur dari para penculik itu. Tapi naas, saat mencoba melarikan diri, ia tertabrak sebuah mobil. Akhirnya ia pun dibawa ke rumah sakit. Namun sayangnya, nyawanya sudah tidak tertolong," jelas Awan. Mendadak, susana yang tadi terdengar cukup riuh, menjadi hening. Hanya suara hewan-hewan peliharaan serta detakan jarum jam di kamar Awan lah yang terdengar. "Semoga mereka sekeluarga bisa mengikhlaskan kepergian gadis kecil itu," ucap Mama Awan. *** Pukul 19:30 Terdengar suara pintu rumah Ardi diketuk. Ardi pun langsung membuka pintu dan mendapati sebuah wajah yang cukup familiar baginya. Ternyata, orang itu adalah bapaknya yang baru pulang kerja. Aneh memang. Bapaknya ini pulang kerjanya tak menentu. Kadang sore, kadang juga sampai larut malam. "Bapak! Bapak kok baru pulang?" tanya Ardi. "Iya, Di. Tadi bapak mengerjakan kerjaan yang nggak sempat terselesaikan. Jadi, bapak harus menyelesaikan hari ini juga. Untungnya, nggak lembur sampai pagi," jawab bapaknya. Ardi manggut-manggut mengerti. Setelahnya, ia pun berlalu dari hadapan bapaknya. Bapaknya pula langsung berjalan masuk ke dalam rumah. Ia belum tahu tentang sebuah pernyataan yang akan membuat hatinya benar-benar menangis. Tak lama setelah Bapak Ardi masuk, pintu rumah kembali seperti ada yang membuka. Ardi yang masih berada di ruang tamu, menoleh kearah pintu. Dan ternyata, seseorang yang baru masuk itu adalah kakaknya, yaitu Heri. "Baru pulang, Kak?" tanya Ardi pada kakaknya. "Tumben perhatian." "Nggak sih, basa-basi aja," jawab Ardi santai sembari meninggalkan kakaknya dan menuju meja makan di dapur. *** Makan malam sekeluarga pun telah selesai. Ardi menatap wajah sang ibu yang masih terlihat murung. Ia pun menyenggol bahu ibunya sembari menganggukkan kepalanya, sebagai isyarat agar ibunya memberitahukan tentang Lita kepada semuanya. "Heri, bapak. Ada yang mau ibu ceritakan." "Apa Bu? Kayaknya kok serius amat," ucap Heri. "Ini tentang Lita, Lita dikabarkan telah meninggal dunia akibat kecelakaan." Air mata Ibu Ardi kembali menetes, tak sanggup menahan kesedihannya. Begitupun dengan bapak dan kakaknya. "Dari mana ibu tahu?" tanya Bapak Ardi. "Ardi yang tahu, Pak. Kemarin, dia pergi ke rumah sakit. Dan menurut dokter yang bertugas selama bertahun-tahun di sana, 11 tahun yang lalu, ada seorang gadis yang meninggal karena kecelakaan. Dan ciri-ciri gadis itu, sepenuhnya adalah ciri-ciri Lita." Bapak Ardi termenung mendengarnya. Ia seperti tak percaya dengan hal itu. Rasanya itu adalah hal paling mustahil yang pernah ia dengar. "Ardi, lalu, di mana kuburan kakakmu?" tanya Bapak Ardi. "Aku nggak tau, Pak. Dokter itu nggak ngasih tahu, atau mungkin nggak tahu." Bapak Ardi menghela napas panjang. Kesedihannya sudah tidak bisa terbendung, hingga linangan air matanya pun keluar dengan deras. "Besok, kita ke rumah sakit itu. Bapak ingin memastikan semuanya." "Iya Pak. Aku juga tidak percaya kalau belum menyaksikannya sendiri," tambah Heri. "Baiklah, besok kita ke rumah sakit itu," ucap Ardi. Ternyata benar apa yang dikatakan orang-orang. Seseorang merasa seolah-olah tidak akan ditinggalkan oleh orang-orang tersayang. Ia akan merasa dia yang disayangi akan terus bersamanya sanpai kapanpun juga. Tapi sejatinya, manusia tetaplah makhluk bernyawa yang tentunya akan mengalami sebuah hal yang bernama kematian. Dan hal yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebelum waktu itu datang adalah memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya bersama orang-orang tersayangnya. "Kelak, satu persatu dari orang-orang tersayangmu pun akan meninggalkanmu. Dan nantinya, akan ada jiwa-jiwa baru yang akan menggantikannya. Tapi, jiwa- jiwa baru itu tak akan pernah mampu mengobati hati yang sudah terlanjur pilu." - Jonathan Ardilan -
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD