Bab 19

2005 Words
Hampir bersamaan dengan pertanyaan Ardi, sang pemilik rental PS itupun memberitahukan bahwa waktu main mereka sudah habis. "Tu, waktunya udah habis. Lain kali aja, kopinya," ucap Awan. "Heh, ya sudahlah," jawab Ardi. Malam sudah semakin larut. Cahaya rembulan, kini telah tertutupi oleh gumpalan awan tebal. Begitu juga dengan banyaknya cahaya bintang yang tadi sempat menghiasi langit malam. Jalanan semakin gelap. Hanya ada cahaya dari beberapa lampu jalanan, ditambah lagi dengan lampu motor milik Awan. Sunyi dan sepi. Suasana yang begitu menjengkelkan. Bahkan di tempat yang seharusnya begitu ramai, tapi malam ini terasa sangat sunyi. Sang kuasa sedang menunjukkan kebesarannya. Suara gemuruh terdengar dari gelapnya langit malam, disertai dengan kilatan-kilatan kecil yang memekikkan telinga. Sang angin berhembus, hingga membuat dedaunan menari-nari. Ada apa dengan semesta? Apa ia akan mengeluarkan air matanya lagi? Ardi menatap tajam ke atas. Memandang sesuatu yang ia sendiri tak tahu, apa yang akan terjadi selanjutnya. "Jika semesta saja bisa menangis, kenapa aku harus mati-matian untuk menahan air mataku supaya tidak menetes?" batin Ardi. *** "Wan, gue pulang, ya?" "Mata lo, pulang. Katanya lo mau nginep," omel Awan. "Kata siapa?" tanya Ardi. Awan mendecak sebal. Ia menatap Ardi tajam. "Ya sudahlah! Kalau mau pulang ya, silahkan. Tapi jalan kaki saja! Gue gak bisa nganter," ucap Awan. "Eee... tapi, kalau dipikir-pikir mending gue nginep di rumah lo, deh. Gue kasihan sama lo, kalau harus sendirian di rumah sebesar ini." "Heh, bilang aja lo takut kalau harus pulang sendirian. Jalan kaki pula," ucap Awan sembari membuka pintu rumahnya. "Ngapain takut? Setan sama manusia kan derajatnya tinggian manusia. Kalau orang jahat. Gue ini kan kuat. Ya pasti gue hajar lah tu orang jahat," ucap Ardi dengan sombongnya. "Hmmm, terserah lo, dah." Awan memasuki rumah besarnya diikuti oleh Ardi di belakangnya. Kalau dilihat-lihat, memang ada benarnya juga, apa yang dikatakan oleh Ardi. Rumah sebesar itu seharusnya ditempati oleh banyak orang. Bukan hanya segelintir orang meski sudah bisa meramaikan daratan. "Sekeras apapun lo menutupi kesedihan lo, seorang sahabat tetap akan mengetahuinya. Meskipun cuma sedikit, dan untuk waktu yang sebentar," batin Awan. *** Suara gemuruh mulai terdengar semakin jelas. Hembusan angin seolah-olah bernada sama seperti tiupan seruling. Semesta akan menangis. Itulah suatu ramalan hebat dari para peramal dadakan ketika melihat gumpalan mendung hitam telah memenuhi langit. "Semoga sang hujan bisa menghapus segala perasaan sedih dalam diriku. Dan juga diri semua keluargaku," batin Ardi. Suasana malam mulai lebih mencekam di kala air sudah mulai turun membasahi bumi dengan derasnya. Ditambah lagi dengan suara gemelegar dari sambaran petir. Tak ada suara melainkan hanya suara dari air yang jatuh dan petir yang menyambar, serta suara hembusan angin yang begitu kencang. *** Jam 06:00 "Wan, gue mau pulang," ucap Ardi pada Awan yang masih berbaring di kasur. "Iya," jawabnya singkat. "Iya, iya aja lo. Terus, gue pulang naik apaan. Jalan kaki lagi, gitu?" tanya Ardi sedikit emosi. "Gue masih ngantuk, ntar ajalah." "Habis shubuh bukannya melakukan hal yang positif, lo malah tidur," ketus Ardi. "Hmmm, lo pulang aja pakai motor gue, nih kuncinya," ucap Awan sembari melemparkan kunci motornya ke Ardi. Ardi menangkapnya dengan sigap meski lemparan itu tak pernah ia sangka. "Heh, dasar beruang kutub, hibernasi terus." Ardi pulang dengan mengendarai motor mewah milik Awan. Apalagi yang diragukan oleh para kaum hawa ketika Ardi mengendarai motor mewah seperti itu. Keren? Pasti. Ganteng? Sudah dari dulu. Sayangnya, motornya hanya motor pinjaman. *** Berita kematian Lita sudah menyebar di kalangan para tetangga. Banyak dari mereka sedang membicarakan tentang kematian kakak perempuan dari seorang Jonathan Ardilan itu. Berita kematian yang memang tak pernah disangka-sangka dengan cara meninggalnya yang sangat tragis. "Hari ini, ibu masak menu yang berbeda," ucap Ibu Ardi. "Apa itu, Bu?" "Asal jangan tempe lagi, Pak," timpal Heri. "Bukan tempe. Ibu itu sedang masak kedelai yang menyatu dengan lapisan sambal yang membalutnya, ini lihat!" ucap Ibu Ardi sembari menunjukkan sesuatu. "Tetap aja tempe, Bu." "Yang penting kan penyebutannya beda, Pak," jawab Ibu Ardi. Sontak, tawa merekapun menggema diseluruh penjuru ruangan. Senyum Ardi terlihat jelas ketika ia melihat kejadian yang saat ini sedang terjadi di depan matanya "Tawa ini yang ingin kudengar. Tawa sekeluarga yang membuat suasana bahagia. Semesta boleh menghilangkan segala bentuk kebahagiaan. Asalkan kebahagiaan itu akan terlahir kembali," batin Ardi. Mereka bertiga masih belum menyadari kehadiran Ardi. Hingga ibunya pun menoleh kearah dimana Ardi sedang berdiri, terpaku ditempatnya dengan senyum yang masih mengembang. "Eh, Ardi... udah pulang, Di?" sapa ibunya. "Iya Bu, baru saja," jawabnya sembari berjalan kearah mereka bertiga. "Mana Bu, menu barunya? Kedelai yang menyatu dengan lapisan sambal yang membalutnya," sambung Ardi. Ibunya tersenyum malu. Ia tak ingin menjawab pertanyaan anak bungsunya itu. "Alias tempe," ketus Bapak Ardi sembari tertawa. Sebuah keluarga yang saling menjaga perasaan satu sama lain. Perasaan sedih dipendamnya dalam-dalam, demi menguatkan yang lain. Hanya soal waktu, setelah waktu itu berlalu, maka semuanya pun pasti akan berakhir. *** Ardi merasa indra pendengarannya menangkap sebuah suara. Ya, tidak salah lagi. Suara itu datang dari HPnya yang tergeletak di kasur. Ia pun langsung mengambil HPnya sekaligus membukanya. Ada pesan dari seseorang yang cukup ataupun sangat ia kenal. Awan : Di, motor gue hilang, Di. Ardi menggeleng pelan. Jujur, ia malas menjawab pesan dari sahabatnya itu. Tapi, sebagai bentuk menghargai orang lain, ia pun mau tidak mau harus membalasnya. Ardi : Lo masih waras, kan? Awan : Ya, waras lah. Awan : Motor gue hilang nih. Gimana kalau Mama dan Papa tau soal ini? Ardi tersenyum kecil. Terbersit dalam hatinya untuk sedikit mengerjai Awan. Ardi : Wah, mati lo! Bisa-bisa, lo nggak dikasih makan selama 9 bulan. Awan : Kenapa harus 9 bulan? Kayak ibu-ibu hamil aja. Ardi : Protes terus lo! Ya udah, 1 tahun. Awan : Di, jangan gitu dong. Bantuin cari lah! Ardi : Apanya yang dicari. Motor lo kan ada di rumah gue, pinter. Awan : Haaa, lo nyuri motor gue. Ardi : Nyuri pala lo! Lo sendiri yang tadi nyuruh gue bawa motor lo pulang. Awan : Kapan? Ardi : 5 tahun yang lalu. Ardi : Ya tadi pagi, lah. Awan : Ooo... iya ya. Sorry lah, gue lupa. Maklum, baru bangun. Ardi tak membalas lagi pesan dari Awan. Ia mendecak pelan sembari melemparkan HPnya ke kasur. "Pagi-pagi udah bikin kesel aja." *** Bumi selalu berputar. Memaksa detik, menit dan jam juga ikut berputar. Sang mentari telah muncul dari ufuk timur. Menandakan sang hari telah berganti. Kini, embun pagi mulai menjalankan tugasnya untuk membasahi rerumputan dan dedaunan. Membuat goresan air kecil pada kaki setiap makhluk yang menyebranginya. Cuacanya pun sedikit berkabut. Membuat jarak pandang pada dunia luar menjadi sedikit berkurang. Si tampan sedang berdandan. Bersiap untuk menjalani hari pertamanya sebagai siswa baru, bukan lagi calon siswa baru. Hari ini, semuanya serba baru. Seragam baru, sepatu baru, tas baru, buku baru, kaos kaki baru dan bahkan bolpoin baru juga. Hanya satu yang masih lama, dan entah kapan seorang Jonathan Ardilan akan bersedia untuk memperbaruinya. Yaitu hati yang tak pernah mau tertarik dengan para wanita. Entah apa alasannya, yang pasti, bukan berarti ia tidak normal. Mungkin, ia belum menemukan seseorang yang tepat untuk dirinya, ataupun ada alasan lain yang membuatnya begitu. *** Hari Senin. Itu berarti, hari ini akan ada upacara bendera. Para murid dari kelas 10 sampai 12 pun telah berkumpul di halaman. Dan untuk hari ini, petugas upacaranya adalah kakak-kakak OSIS. Ardi menatap tajam ke arah depan. Lebih tepatnya, ke arah seseorang yang bertugas sebagai pemimpin upacara. Tatapannya tak menunjukkan kekaguman ataupun takjub akan seseorang yang ia pandang. Tapi, tatapannya itu seolah-olah dapat dimaknai dengan tatapan ketidak sukaan dengan orang itu. "Heh, dasar pencitraan," batin Ardi. Setelah sekitar satu jam berlalu, akhirnya upacara bendera pun usai. Kini saatnya para murid harus masuk ke kelas masing-masing. "Lo ngapain di kelas ini, Wan?" tanya Nando pada Awan ketika berada di kelas. "Kenapa apanya?" tanya Awan bingung. "Katanya di antara IPA dan IPS lo centang dua-duanya. Kok lo masuknya di IPA sih?" "Iya tu, harusnya, orang seperti lo kan ditempatkan di tempat yang tenang. Nggak bising kayak di kelas ini," tambah Vino. "Emang, tempat yang tenang itu di mana?" tanya Awan. Untuk sejenak, mereka semua terdiam. Menanti jawaban dari Vino. "Di bawah tanah dengan taburan bunga dan sesuatu yang menancap di atas tanah itu," jawab Vino sembari tertawa kencang. Semuanya pun ikut tertawa. Mungkin itu sudah menjadi takdir Awan. Selalu dibuat bahan candaan dan tertawaan. "Begitu ya? Kalau itu keinginan kalian, gue akan turutin," ucap Awan serius. Vino memandang Awan. Ia merasa candaannya barusan terlalu keras. "Wan, gue cuma bercanda, Wan. Jangan gitu lah," ucap Vino memelas. "Gue juga bercanda. Nasi masih enak kali, Bro," jawab Awan sembari tertawa kencang. Semuanya mendecak sebal. Momen dramatis itu mendadak hilang. Hingga salah satu dari mereka, ada yang menjitak kepala Awan karena saking kesalnya. *** Ardi memandang sekeliling. Mencari sesuatu yang terasa agak janggal. Benar saja, tak ada makhluk cantik itu di kelasnya. Yang ada hanya 2 teman dekatnya, yaitu Zara dan Alma. "Nyari apa lo, Di?" tanya Awan. "Gue dari tadi nggak lihat Syila, ke mana dia?" "Cie, ada yang kangen nih," goda Bara. "Zara, Alma! Nih, ada yang nyariin temen lo, si Syila," ucap Awan sedikit berteriak. Ardi mendecak sebal. Padahal, ia cuma penasaran tentang keberadaan Syila. Tapi teman-temannya menganggapnya sebagai sesuatu yang spesial. "Syila kan masuk kelas IPS," jawab Alma sedikit berteriak pula. "Ya... bakalan galau nih, temen kita yang satu ini," goda Awan lagi. "Yang sabar ya, Di," tambah Nando. "Ingat lagunya Afgan? Jodoh pasti bertemu, Di," sambung Vino. Ardi semakin canggung dengan situasi seperti ini. Ia menyesal telah bertanya hal seperti itu. "Beneran nih, virusnya Awan sudah nyebar," ucap Ardi pelan. *** Tidak ada yang spesial bagi para murid baru pada hari pertama kegiatan belajar mengajar selain hanya disuruh perkenalan. Dan di saat itu pula, semua identitas dari diri mereka semua akan terungkap. Mulai dari nama, nama panggilan, umur, alamat, hobi, cita-cita dan sebagainya. Yang penting, bukan nama bapak ataupun ibu. Atau yang lebih parah lagi, tentang status. Berpacaran atau masih jomblo. Bel pulang sekolahpun berbunyi. Ini adalah waktu dari para murid untuk unjuk kebolehan dalam hal kecepatan. Ada yang lari sekencang cheetah, ada juga yang seperti pelari internasional, atau bahkan ada juga yang seperti siput. Dalam hal ini, Ardi dan Awan tentu saja masuk dalam golongan siput. Mereka paling malas kalau disuruh berdesak-desakan. Tapi, entah bagaimana jika berdesak-desakannya dengan gerombolan cewek cantik, mungkin alur ceritanya akan berbeda. "Lo suka kan sama Syila?" tanya Awan tiba-tiba. Ardi menoleh ke arah Awan dengan tatapan bingung. Sahabatnya itu selalu saja membuatnya berada dalam posisi seperti saat ini. "Maksud lo?" "Iya, lo suka kan sama Syila? Kayaknya, Syila juga suka sama lo," jawab Awan. "Heh, selain ibu gue. Gue cuma cinta sama satu orang. Dan orang itu tak akan pernah bisa berada bersamaku lagi. Gue berharap bisa tumbuh besar bersamanya, bisa melindunginya, dan juga bisa bermain dengannya. Gue pernah mimpi, entah mimpi ataupun ingatan masa lalu, gue gak tau. Dalam mimpi itu, dia membelai rambut gue dengan penuh kasih sayang. Dan sekarang, gue gak tau kenapa hati ini terasa seperti ini. Seolah-olah, ada satu ikatan batin antara gue dengan dia yang tak akan pernah bisa hilang," ucap Ardi panjang lebar. Awan menundukkan kepalanya. Ia merasa bersalah karena telah mengingatkan Ardi pada seseorang yang sangat ia sayangi, meski tak pernah ia temui. Seseorang yang berperan sebagai seorang kakak dalam hidupnya, meskipun cuma sebentar. Tapi, ikatan batin mereka terlalu kuat. Bahkan bisa jadi, mengalahkan ikatan batin dari sepasang kekasih yang saling mencintai. *** Kehidupan memang suatu hal yang berat. Apalagi bagi makhluk yang bernama manusia. Rasa sakit dan penderitaan adalah makanan yang wajib dicicipi bagi setiap insan yang bernyawa. Ketika hal itu terjadi, kebanyakan dari mereka hanya mampu menjawabnya dengan linangan air mata. Cuma sedikit yang bisa mempertahankan senyumannya. Dan dari situ pula, terlahir sebuah sejarah yang selamanya tak akan berubah. Hanya menanti penderitaan itu tergerus oleh sang waktu. Itu hanyalah pola pikir manusia lemah yang tak mau berusaha. Seseorang yang kuat, akan menghadapi penderitaan itu dan akhirnya bisa melaluinya. Setelah itu, penderitaan itu dijadikan pengalaman untuk menjadi kehidupan yang lebih baik. Hidup memang berat, tapi ketika seseorang selalu ikhlas dalam menjalani segala yang ada di dalam kehidupan, maka kehidupan itupun akan terasa ringan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD