Ardi terkejut mendengar teriakan dari seseorang. Seseorang itu pula telah menghancurkan mimpi indahnya.
"Apa sih, Bu? Nggak tahu apa, kalau aku lagi mimpi makan makanan yang enak-enak?" omel Ardi.
"Hmmm, kamu gak mau ikut ganti nisan kakakmu?" tanyanya.
Ardi langsung meloncat dari kasurnya. Entah mengapa, ia begitu antusias dalam hal ini.
"Bapak sama kakak udah pulang ya, Bu?" tanya Ardi.
"Sudah," jawab ibunya singkat.
Ardi langsung berjalan keluar kamar dan menuju kamar mandi. Ia harus cepat-cepat mempersiapkan diri, karena sore ini ia dan keluarga akan mengganti nisan di makam kakaknya.
***
Hembusan angin sore mengiringi perjalanan satu keluarga itu ke makam seseorang yang bernama Lita. Awan hitam yang tadi pagi sempat mengepul di langit, kini mendadak menjauh. Bagai hilang dalam peradaban, tak ada sekecil awan hitam pun yang nampak di langit sore saat ini.
Ardi dan keluarga berjalan masuk kedalam area pemakaman. Bukan mereka saja, tapi juga ada beberapa orang yang ikut dalam acara penggantian nisan itu. Sebuah acara penggantian nisan, dari sang pemilik nisan tanpa nama. Seseorang yang telah lama terkubur didalam tanah, dengan tempat yang sangat sempit. Hanya kegelapan, kesendirian dan ketakutan yang mungkin kini ia rasakan.
"Silahkan, Pak Ahmad!" ucap seorang lelaki paruh baya kepada Bapak Ardi.
Tak butuh waktu yang lama, kini, nisan tak bernama itupun telah berganti. Dengan adanya nama di nisan itu, maka sejarah panjang tentang nisan tanpa nama pun telah berakhir.
Mereka kemudian mendoakan seseorang yang kini telah berada dibawah nisan sana. 11 tahun lamanya, tubuh kecilnya terkubur dan terhimpit oleh tanah yang lembab. Mungkin kini, hanya tinggal tulang belulang lah yang tersisa. Dan pastinya juga, kenangan-kenangan indah bersamanya.
"Pak Ahmad sekeluarga, kami mau pamit dulu," ucap seseorang kepada Bapak Ardi.
"Iya Pak. Terima kasih atas bantuan bapak-bapak semua," balas Bapak Ardi.
"Sama-sama, Pak," ucapnya seraya melangkah pergi dengan diikuti oleh yang lain.
Sekeluarga itu menatap nanar ke makam itu. Tak ada yang berbicara sepatah katapun. Hanya hembusan angin yang berbicara kala keempat manusia berdarah sama itu saling berdiam diri. Gundukan tanah di depan mereka itu, bukankah itu rumah yang sebenarnya akan menjadi hak milik semua orang? Lalu, apa yang perlu ditangisi? Apakah dengan menangis, potongan tulang-belulang itu akan kembali ke wujud aslinya dan mempunyai nyawa lagi? Tentu tidak. Malahan, kalau hal itu sampai terjadi, pasti akan membuat dunia menjadi gempar. Tapi, tangisan itu hanyalah sebagai simbol kesedihan. Kesedihan ditinggalkan oleh orang tersayang. Bukan sebagai ritual, dengan harapan bisa menghidupkan lagi orang tersayang mereka.
Ardi memandang wajah bapak dan ibunya, sekaligus kakaknya juga. Ketiga orang yang dipandang itu sedang meneteskan air mata. Wajar saja, ketiga orang itu lebih mengenal Lita. Sedangkan Ardi, hanya tau kalau dia punya seorang kakak perempuan yang bernama Lita. Bahkan ia tak bisa mengingat satupun kenangannya dengan kakak perempuannya itu sewaktu kecil.
"Ayo kita pulang!" ajak Bapak Ardi kepada semuanya.
***
"Semuanya sudah berakhir. Sejarah panjang pencarian Kak Lita telah dipecahkan. Sayangnya, kenapa harus dengan akhir yang menyedihkan? Haruskah aku berteriak marah pada semesta? Atau, haruskah aku memprotes hal ini pada Tuhan? Aku tak akan pernah bisa menceritakan tentang hal baru kepadanya. Bahkan untuk satu kali pun, aku tak akan bisa. Ternyata benar, hidup ini memang tidak adil," batin Ardi.
Cahaya rembulan di luar sana bersinar menerangi semesta di malam hari. Hembusan angin malam bergerak cepat membawa suara pergi dari tempat yang seharusnya terdengar. Lambaian pohon-pohon seakan-akan memberikan kode untuk diri mendekat. Namun kegelapan sudah pasti akan mencegah siapapun untuk mendekat. Ibarat sebuah kehidupan yang selalu ada rintangan untuk menuju kepada kebahagiaan.
Ardi mulai bosan dengan tingkahnya. Sedari tadi ia hanya tiduran di kasur. Malam Minggu yang membosankan, dengan suara gemerisik dari sang angin yang seolah-olah sedang menertawainya. Jarum pendek jam masih setia menunjuk angka 8. Sedangkan jarum panjangnya menunjuk ke angka diantara 2 dan 3. Masih ada banyak waktu bagi Ardi untuk mencari hiburan di luar sana. Di luar hanya gelap, bukan berarti ada sesuatu yang menakutkan di dalam kegelapan itu.
Di dalam kebosanannya, tiba-tiba HP nya berdering, tanda ada panggilan masuk.
"Apa, Wan?" tanyanya tak mau basa-basi.
"Nge gas aja lo."
"Iya, ada apa?" tanya Ardi lagi.
"Ikut gue yuk! Main PS," ajak Awan.
"Nggak ada duit," jawab Ardi jujur.
"Kere lo."
"Cerewet!"
"Udah-udah. Lo lupa, gue siapa? Orang kaya, Bro," ucap Awan menyombongkan diri.
"Ya udah, bayarin! Sekalian sama kopi nya entar," ucap Ardi seraya menutup teleponnya.
Hidup juga butuh hiburan. Tak ada ceritanya manusia selalu menangis sepanjang hidupnya. Pasti, ia pun pernah merasakan apa itu senyuman. Meski cuma sebentar dan berganti dengan tangis lagi. Begitu juga sebaliknya, tak ada manusia yang selalu merasakan kebahagiaan. Ia tak mungkin tersenyum sepanjang hidupnya. Pasti ia pun pernah meneteskan air mata tanda kesedihan.
***
"Sialan nih anak!" umpat Awan sembari membuang teleponnya di kasur.
Awan bersiap-siap untuk berangkat main PS. Pastinya bersama sahabatnya, Ardi. Kebetulan, malam ini ia sedang di rumah sendirian. Mamanya pergi ke rumah saudaranya, lebih tepatnya Bibinya Awan. Dan rencananya akan menginap di sana. Dengan begitu, ia tak memiliki tanggungan untuk menjaga sang mama. Selain itu, ia juga agak sedikit takut kalau harus di rumah sendirian.
Rumah besar dengan penghuni yang sedikit. Mungkin itulah fakta dari rumah Awan. Tapi meskipun begitu, 2 orang saja cukup untuk meramaikan rumah besar itu. Atau bahkan 2 sampai 3 rumah dari rumah besar itu.
"Gini nih, punya rumah gede, tapi sepi. Heh, masih mending rumah kecil, yang penting ramai," gumam Awan sembari menyisir rambutnya didepan cermin.
"Wih, keren banget gue," ucapnya membanggakan diri.
Di luar sana gelap, tapi tak menyurutkan niat Awan untuk tetap pergi keluar rumah. Baginya, kesepian dan kesendirian lebih menakutkan daripada kegelapan.
Ia segera melangkah kearah pintu luar. Rambut kribonya seolah-seolah sedang melakukan tarian dengan irama langkah kakinya. Hingga ketika ia sampai di pintu depan, ia pun membuka pintu. Dan betapa terkejutnya ia. Di ambang pintu rumahnya sedang berdiri sesosok makhluk yang sangat membuat dia terkejut setengah mati.
"Ardi, ngagetin aja lo !" bentak Awan.
Ternyata, sosok manusia tampan bernama Jonathan Ardilan itu telah sampai di rumah Awan. Ia berhasil menembus gelapnya malam yang hanya bercahayakan remang-remang dari sang bulan dan lampu jalanan. Berjalan kaki adalah cara dia untuk sampai di rumah sahabatnya itu. Entahlah, entah gerangan apa yang merasuk ke dalam tubuhnya, hingga ia begitu berniat berjalan kaki di dalam gelapnya malam dengan jarak tempuh yang lumayan jauh.
"Lo jalan kaki?" tanya Awan pada Ardi.
"Ya iyalah."
"Zaman modern gini, masih jalan kaki? Apa kata si kaya?" ejek Awan pada Ardi sembari tertawa kencang.
"Tunggu aja sampai gue beli motor. Nanti kita balapan!" tantang Ardi.
"Oke, siapa takut."
Untuk sejenak, mereka berdua berdiam diri satu sama lain untuk mempertahankan ego masing-masing.
"Lo ngapain ke sini?" tanya Awan membuka pembicaraan.
Ardi tak mau menjawab pertanyaan dari Awan. Malahan, ia mengalihkan pandangannya dan mulai menatap langit malam yang penuh dengan bintang.
"Lah, malah diem. Jawab woy!" ucap Awan.
"Menurut lo, gue kesini mau ngapain?" tanya Ardi balik.
"Ya mana gue tau. Jangan-jangan, mau numpang makan, ya?"
Ardi mendengus sebal. Orang yang kini berada di depannya itu sangat membuatnya kesal.
"Bercanda, Di. Sensi amat lo," ucap Awan.
"Cerewet!"
"Oh ya. Nanti lo nginep di rumah gue, ya. Soalnya, lagi nggak ada orang di rumah. Cuma ada gue aja," jelas Awan.
"Emang, Mama tercinta lo ke mana?" tanya Ardi.
"Mama tu lagi nginep di rumah Bibi gue," jawab Awan.
"Gue izinnya cuma pergi main, Wan, bukan nginep," ucap Ardi.
Awan memandang sesuatu yang ada di saku jaket Ardi.
"Terus, gunanya benda kotak itu buat apa?" tanyanya sembari menunjuk sesuatu di dalam saku jaket Ardi.
"Oh ini, ini buat dilempar ke kepala lo," jawab Ardi asal.
"Sialan lo. Udah, cepat telepon ibu lo atau siapalah, terserah lo. Bilang kalau lo mau nginep di rumah gue!" perintah Awan.
Ardi tersenyum kecil. Pandangannya beralih ke rumah besar yang ada di depannya.
"Rumah sebesar ini, cuma dihuni dua orang?" ucap Ardi terheran-heran.
"Emang kenapa?" tanya Awan balik.
"Konon, rumah yang gede kayak gini tu terkenal akan keangkerannya," ucap Ardi dengan nada yang menyeramkan.
"Heh, mana ada. Buktinya gue sama mama gue ataupun papa gue nggak pernah ngalamin hal mistis, tu," jawab Awan.
"Ya, itu beda ceritanya. Sekarang ini kan, cuma ada lo di rumah. Biasanya, setan tu suka muncul ketika seseorang sedang sendirian," ucap Ardi sedikit berbisik.
Wajah Awan mendadak menunjukkan ketakutan yang luar biasa. Jujur, sebelum Ardi menakut-nakuti dia, diapun sudah merasakan ketakutan ketika berada di rumah sendirian. Kini, sahabatnya itu malah menambah ketakutannya.
"Penakut lo!" ejek Ardi sambil tertawa.
Ardi mengambil HP dari saku jaketnya, dan berjalan beberapa meter menjauhi Awan. Ia berniat untuk menelepon seseorang, entah siapa itu. Yang pasti, percakapan Ardi dengan seseoramg yang sedang diteleponnya berlangsung beberapa menit. Sialnya, Awan tak mendengar dengan jelas percakapan antara keduanya.
"Gimana, lo boleh nginep, kan?" tanya Awan.
"Ya mana gue tahu. Gue kan belum nanya," jawab Ardi.
"Terus, lo tadi nelpon siapa?" tanya Awan bingung.
"Paranormal. Buat ngusir setan-setan di rumah lo," jawab Ardi.
"Gue serius."
"Iya, iya. Gue nanti nginep di rumah lo," jawab Ardi.
"Gitu dong."
"Ngomong-ngomong, nih mau berangkat jam berapa, ya?" tanya Ardi.
Awan terkejut mendengarnya. Ia segera melihat jam tangan yang terpasang di tangan kanannya.
"Udah jam 20.30 lebih. Lo sih, ngajak ngobrol terus," omel Awan.
"Ini kalau gue ladenin malah tambah lama. Cepat ambil motor lo, kita berangkat!"
Dengan cepat, Awan langsung mengambil motornya yang berada di garasi. Tak lupa sebelum berangkat, ia pun mengunci semua pintu dan jendela.
Langit di malam Minggu yang cerah. Dihiasi dengan gugusan bintang-bintang kecil serta bulan yang bersinar di kegelapan malam. Angin malam terdengar bagai suara musik yang nadanya tak beraturan. Hanya bising, tak ada iramanya sama sekali. Sorot cahaya dari lampu jalanan berpadu dengan cahaya bulan di langit yang cerah.
Jalanan begitu sepi. Hanya beberapa kendaraan yang berlalu lalang. Entah kemana para makhluk bumi saat ini, hingga membuat jalanan di malam Minggu terasa agak sunyi.
"Tumben nih, sepi banget," ucap Ardi membuka pembicaraan sekaligus memecah keheningan yang sedari tadi terasa.
"Tahu nih. Pada gak punya pacar, kali," jawab Awan ngawur, sembari terus fokus ke jalanan yang berada di depannya.
"Heh, mungkin sih. Ngomong-ngomong, nih tempatnya masih jauh, nggak?" tanya Ardi.
"Sebentar lagi juga sampai."
Di kala percakapan berakhir, keheninganpun kembali menyeruak dari hati terdalam. Hembusan angin malam sudah mulai menusuk tulang. Bahkan, meski sudah mengenakan jaket tebal.
Tak berselang lama kemudian, akhirnya, sepasang sahabat itupun telah sampai ditempat tujuan. Sebuah tempat rental PS dengan banyaknya motor yang terparkir di depannya.
"Ayo!" Ajak Awan sembari melangkah masuk.
Ardi hanya mengikuti ke mana kaki dari sahabatnya itu melangkah. Jujur, ini adalah pengalaman pertamanya bermain PS 3. Sebelumnya, ia hanya bermain PS 2.
***
"Goolllll," teriak Awan.
"Payah lo, belum apa-apa udah kebobolan," ejek Awan pada Ardi.
"Gue masih dalam masa adaptasi."
"Alasan," timpal Awan.
Merekapun melanjutkan permainan lagi. Di layar kaca sana, terpampang jelas 2 tim yang menjadi pilihan mereka berdua. Ada Real Madrid, yang menjadi pilihan Ardi. Dan juga Manchester United, yang menjadi pilihan Awan sekaligus club kebanggaannya.
Tak terasa, beberapa menitpun telah berlalu. Dan pertandingan antara Real Madrid VS Manchester United itupun telah usai dengan skor akhir 0 - 2.
"Itu kenapa ada telur di layar?" tanya Awan tiba-tiba.
"Telur apaan?" tanya Ardi bingung.
"Ini lho," jawab Awan sembari menunjuk ke arah angka 0.
Ardi mendengus sebal. Tak terima dengan hinaan Awan. Sebenarnya wajar baginya kalau kalah dari Awan. Karena inilah pengalaman pertamanya bermain PS 3.
***
Jam 23:30
Jarum jam terus berdetak, berirama dengan suara-suara binatang malam. Keramaian tempat itu mendadak sirna. Kini, hanya menyisakan beberapa pasang mata yang masih setia menyeruput secangkir kopi mereka masing-masing sembari menekan-nekan stik PS itu.
Tertawa gembira. Itulah kata yang pantas untuk menggambarkan suasana hati seorang Jonathan Ardilan malam ini. Meninggalkan duka untuk sementara waktu demi membuat hati kembali bekerja sebagaimana mestinya. Hingga ia lupa bahwa waktu sudah berjalan begitu cepatnya.
"Kopinya mana, Wan?" tanya Ardi.