Bab 7

2043 Words
Ardi berjalan pelan ke arah Awan dan dan kedua orang yang sudah tua renta itu berada. Emosinya sudah mereda, bahkan sekarang ia merasa bersalah pada sahabatnya itu. "Gimana Kek, Nek?" tanya Awan tetap dalam posisi mendekatkan mulutnya ke telinga kakek tua itu. "Dari wajah gadis ini, saya nggak pernah melihatnya." "Tapi sekitar 10 atau sebelasan tahun yang lalu, pernah ada gadis kecil yang lari ketakutan melewati rumah kami. Dan naasnya, gadis itu tertabrak sebuah mobil yang melintas. Setelah itu saya sudah tidak tau lagi keadaan gadis itu. Yang pasti, ia sudah dibawa ke rumah sakit oleh para warga." Cerita kakek tua itu dengan suara serak khasnya. "Apa kakek tahu, gadis itu dibawa ke rumah sakit mana?" Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari arah belakang. Tak salah lagi itu adalah suara Ardi. Namun bukanlah jawaban yang diterimanya. Jangankan jawaban, menolehpun tidak. "Mereka agak b***k," ucap Awan. Ardi pun tersadar setelah mendengar hal itu. Lalu ia melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan Awan barusan. "Apa kakek atau nenek tahu, gadis itu dibawa ke rumah sakit mana?" tanya Ardi lagi. Kakek tua itu terdiam sejenak, belum menjawab pertanyaan Ardi barusan. Ia memandang wajah Ardi pekat. Mungkin ia sedikit kaget dengan kedatangan Ardi yang tiba-tiba. "Kalau soal itu kami tidak tahu, Nak," jawab sang kakek. Ardi menghela napas panjang. Meski kakek itu tak tahu ke rumah sakit mana kakaknya dibawa, tapi setidaknya harapan itu akan menjadi nyata. "Tapi, seingat saya, gadis mungil itu terluka sangat parah." Sontak pernyataan dari kakek tua itu membuat jantung Ardi berdebar kencang. Terbersit dalam hatinya bahwa kakaknya itu sudah benar-benar meninggalkan dunia ini. Ia benar-benar tak percaya dengan semua itu. "Ya... ya udah Kek, Nek. Terima kasih atas infonya, kami pamit dulu," ucap Ardi dengan perasaan yang berkecambuk. Ardi mengambil foto yang masih dibawa oleh kakek tua itu seraya berpamitan. Ia melangkahkan kakinya terlebih dahulu meninggalkan Awan. Awan pun hanya bisa menatap sahabatnya itu dari belakang, tanpa bisa berkata apa-apa. Hingga pada akhirnya ia pun berpamitan pada kakek dan nenek itu dan menyusul Ardi. "Kita pulang aja, Wan!" pinta Ardi dengan nada yang sedih. "Pulang ? Apa lo nyerah hanya gara-gara ucapan kakek itu?" tanya Awan. Ardi tersenyum tipis sembari menatap Awan lekat. Ia mencoba untuk menyembunyikan kesedihan mendalamnya dari siapapun, termasuk Awan. "Kita pulang dulu," pintanya lagi. "Sejarah telah memberikan jawabannya," lanjut Ardi. Permintaan dari sahabatnya itu membuat Awan tak bisa menolaknya. Ia tau betul perasaan Ardi saat ini. Sebuah perasaan berkecambuk yang tak tau kapan akan berakhir. "Baiklah," ucap Awan singkat. Awan pun melajukan motornya. Melewati indahnya area persawahan di kanan dan kiri jalan pada sore hari. Matahari pun terlihat sangat jelas, keindahannya benar-benar memanjakan mata. Setelah beberapa lama, mereka pun sudah sampai di area tempat tinggal mereka. Tak lupa, Awan menghantarkan Ardi sampai didepan rumahnya sebelum ia pulang ke rumahnya sendiri. *** Setelah menghantarkan Ardi, entah kenapa perasaan Awan menjadi gelisah. Ia merasa kasihan dengan Ardi. Sampai di rumah, ia hanya membaringkan tubuhnya di kasur. Seolah-olah sebagian kesedihan dari Ardi ditanggungnya. Padahal dia tidak pernah tau, siapa itu Lita? Bagaimana ciri-cirinya? Ia pun tak pernah ada kedekatan dengan seseorang yang bernama Lita itu. " Kasihan amat lo Di. Kayaknya nasib lo berbanding terbalik sama gue. Ya Allah, terima kasih telah menciptakan makhluk yang sempurna seperti saya." Walau bagaimanapun juga, Awan tetaplah Awan. Seorang lelaki dengan tingkah gila sekaligus menyebalkan. Yang membuat banyak orang menjadi kesal lewat tingkahnya itu. *** Ardi mencoba menyembunyikan wajah sedihnya dari mata ibunya. Ia berjalan pelan dan membuka pintu rumahnya. "Dari mana kamu, Di?" Sebuah suara mengagetkan dia, Ardi pun menoleh kearah suara tersebut berasal. "Eh ibu, dari luar Bu," jawab Ardi dengan senyum yang dipaksakan. "Iya, ibu tahu. Luar itu luar mana?" tanya ibunya lagi. "Luar..... e... e... e... Luar angkasa, Bu," Jawab Ardi seenaknya. "Ngarang kamu, jawab yang bener!" pinta ibunya. "Lagian ibu, masa ditanyaain terus, Ardi dari mana? Ardi kan udah besar," protes Ardi. "Bagi ibu, kamu itu tetap bayi kecil ibu." "Mana ada bayi yang tingginya saja sudah melampaui ibunya," bantah Ardi. Ibunya mendecak kesal. Nampaknya anaknya itu sudah mendapatkan ilmu dari Awan. Ada aja kata-kata yang bisa digunakannya untuk menyangkal. Ibu Ardi menyerah dan pergi begitu saja meninggalkan Ardi. Ardi kembali berjalan mau menuju kamarnya. Senyumannya berubah lagi menjadi ekspresi penuh dengan kesedihan. Sebelum masuk kamar, sekilas ia melihat sebuah foto yang menempel di dinding itu. Ia kemudian merogoh sakunya dan mengambil foto yang lain. Foto seseorang yang mirip dengan foto berbingkai yang menempel di dinding itu, yang tidak lain dan tidak bukan adalah foto kakak perempuannya. *** Jam 19.30 Ardi berjalan keluar rumah meninggalkan bapak, ibu dan kakaknya yang sedang asyik menonton TV. Entah kemana ia akan pergi malam-malam begini. Ia terus berjalan dengan santai, tanpa ada rasa takut di tengah kegelapan malam. Lumayan lama ia berjalan, ia pun menghentikan langkahnya. Didepan matanya sudah nampak toko percetakan, nampaknya itulah tempat yang ia tuju. Ia berjalan masuk ke dalamnya dan memanggil seorang pegawai di toko tersebut. "Mas, bisa cetak foto nggak?" tanya Ardi basa-basi. "Ya bisa lah Dik," jawabnya. Ia pun segera mengirimkan sebuah foto dari seorang lelaki tampan dengan senyum manis hingga nampak deretan gigi-gigi putihnya yang jelas terpampang di ponselnya ke laptop pegawai itu. Tak lupa, ia pun menyebutkan ukuran dan jumlah foto yang akan dicetak. Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya foto itupun jadi. Ia segera menyodorkan selembar uang 10.000 an ke pegawai tersebut dan mulai melangkah untuk pulang. Cetakan foto itu terlihat sempurna. Wajah tampannya, gigi putihnya, lesung pipinya, semuanya nampak jelas. Dan yang paling penting, siapa orang didalam foto tersebut? maka jawabannya adalah, Jonathan Ardilan. "Ganteng juga gue," gumamnya sembari terus berjalan. Benar saja, kayaknya sedikit dari kegilaan Awan telah menjalar ke diri Ardi. Perasaannya menjadi sulit ditebak. Harusnya ia sedang bersedih karena memikirkan nasib kakaknya, tapi tak tahu mengapa ia masih sempat-sempatnya memuji dirinya sendiri. "Ada saatnya untuk kamu melupakan kesedihanmu, agar nantinya kamu bisa hidup lebih tenang." - Jonathan Ardilan - *** Cahaya yang fajar telah muncul, disusul oleh mentari pagi yang terbit dari ufuk timur. Seperti biasa, Ardi bersiap untuk berangkat ke sekolah. Hari ini adalah MOS hari kedua di sekolahannya. Tentu saja, ia pun harus berangkat pagi-pagi lagi, tak ingin telat seperti kemarin. Berbeda dengan MOS sebelumnya, kali ini tak ada pekerjaan rumah. Jadi dengan begitu, ia bisa bertenang diri. Meski sebenarnya jiwanya sangat gundah karena suatu hal yang menyangkut kakak perempuannya itu. *** "Berangkat dulu, Ma," ucap Awan sembari melangkahkan kakinya keluar rumah. "Iya, hati-hati." Awan langsung melajukan motornya dan seperti hari sebelumnya, ia pun harus menjemput Ardi terlebih dahulu. Sungguh sebuah persahabatan yang tak mengenal harkat dan martabat. Tak lama ia berkendara, sebuah rumah yang sederhana telah nampak di depan matanya, itulah rumah dari seorang Jonathan Ardilan. Awan menghentikan motornya tepat di depan rumah Ardi. "Assalamualaikum, Ardiiii!" teriaknya. Tak butuh waktu lama, seorang pria berwajah tampan keluar dari balik pintu kayu yang sederhana itu. Ia berjalan pelan mendekati Awan yang masih berada di motornya. "Teriak-teriak aja lo, ganggu gue sarapan aja." "Heh, masih untung gue jemput lo," gumam Awan kesal. "Ibu lo mana?" tanya Awan. "Ngapain lo nyari ibu gue?" tanya Ardi balik. "Urusan orang dewasa, anak kecil gak boleh tahu," jawab Awan. "Wah-wah, parah lo. Gue bilangin bapak gue biar lo diiket di pohon bambu," ancam Ardi. "Santai bro, santai. Katanya ibu lo nyuruh gue sarapan di sini kan kemarin, makanya gue nyari ibu lo," jawab Awan jujur. Ardi menghela napas berat, ia sedikit tersentak dengan kejujuran sahabatnya itu. "Bentar, gue panggil ibu gue." Ardi berniat memanggil ibunya yang masih sarapan bersama yang lain. Entah ia sungguh-sungguh ataupun hanya menggoda Awan. Namun, baru selangkah ia berjalan, Awan menghentikan langkah kakinya. "Woy-woy, gue bercanda kale," ucap Awan. "Baguslah, nggak ngurangin jatah makan gue. Tapi lo nggak nyesel kan? Ada rendang lho," goda Ardi. Awan menggeleng lemas. Melihat hal demikian, Ardi tertawa kecil sembari mulai membonceng di belakang Awan. "Tapi bener, ada rendang di rumah lo?" tanya Awan memastikan. "Iya." "Kalau gitu, turun dulu, gue mau sarapan di rumah lo," ucap Awan. Ardi tak menghiraukan perintah Awan, ia membuat ancang-ancang untuk melakukan suatu hal. "IBUUUUU..... AWAN MINTA SARAPAN NIHHH." Sontak teriakan dari Ardi membuat Awan refleks melajukan motornya dengan sangat kencang. Ia sangat kesal dengan kelakuan orang yang kini berada tepat dibelakangnya. Sedangkan orang itu hanya tersenyum seolah-olah ia tak memikirkan sesuatu yang menyedihkan. *** Beberapa lama kemudian, kedua insan itupun sampai di depan gerbang sekolahan mereka. Kali ini tak ada hambatan diperjalanan mereka. Tak ada razia dari para polisi seperti yang kemarin mereka alami. Awan langsung menuntun motornya dan memarkirkannya di tempat biasa. Suasana disekolah masih agak sepi, hanya ada beberapa murid yang telah berada di sekolahan itu. " Oi, tumben pagi-pagi udah berangkat?" Sebuah pertanyaan dari seorang lelaki mengagetkan Ardi dan Awan. Seorang lelaki dengan rambut klimis serta wajah yang lumayan tampan. "Gue kan murid teladan," jawab Awan membanggakan diri. Lelaki itu menampakkan senyum paksanya. Ia sedikit geli dengan pernyataan Awan. Karena faktanya, Awan adalah seorang murid yang sangat sering mendapat hukuman meski baru 2 hari sekolah di sekolahan itu. "Murid teladan, Ndo," sindir Ardi. Ya, seorang lelaki berambut klimis itu bernama Nando. Meski baru 2 hari yang lalu mereka saling kenal, tapi mereka bertiga sudah lumayan dekat. Bukan hanya Nando saja, tapi juga yang lainnya. Dua manusia yang bernama Ardi dan Awan itu sangat berbeda dengan yang lain. Mereka berdua sangat mudah bergaul. Terutama Awan, dengan sifat gilanya itulah ia bisa membuat orang lain nyaman berada di dekatnya. Tapi entah hal itu bisa mujarab atau tidak bagi kaum wanita. "Iya Di, murid teladan. Teladan nakalnya," ejek Nando. Ardi dan Nando pun tertawa bersama, Awan hanya bisa mendecak kesal melihat kelakuan dua temannya itu. MOS di hari kedua pun dimulai. Masih berada ditempat yang sama, yaitu di aula. Lama kelamaan, jalannya acara MOS terasa sangat membosankan. Apalagi bagi kedua manusia yang selalu duduk di bangku paling pojok belakang, siapa lagi kalau bukan Ardi dan Awan. Awan pun mulai menjalankan tugas mulianya. Perlahan ia melipatkan kedua tangannya di atas meja, selanjutnya ia menaruh kepalanya diatas lipatan tangan itu dan mulai memejamkan mata. "Jeh, mulai hibernasi nih anak," gumam Ardi. Entah karena terpengaruh ilmu milik Awan atau apa, Ardi tiba-tiba melakukan hal yang sama seperti Awan. Seolah-olah tak malu dengan sebuah kalimat yang diucapkannya barusan, ia pun ikut hibernasi bersama Awan. Di sisi lain, seorang wanita cantik tengah menatap tajam ke arah samping. Bukan, lebih tepatnya menatap ke arah Ardi dan Awan, dan lebih tepatnya lagi hanya menatap Ardi. Dialah Syila, seorang wanita berparas cantik nan anggun layaknya bidadari yang turun dari surga. *** Tak lama Ardi dan Awan terlelap dalam tidurnya, Awan seperti merasakan seseorang sedang mencubit tangannya. "Apa sih, ganggu gue tidur aja!" bentaknya. Awan mendongak, meninggalkan Ardi yang masih tertidur. Ia tertegun dengan apa yang ia lihat. Seorang pria paruh baya tengah menatap tajam kearahnya. "Eh, Pak Yanto. Selamat pagi Pak," ucap Awan sambil cengar-cengir. Pak Yanto, seorang guru yang sangat ditakuti oleh para murid-murid. Tapi di mata Awan, nampak biasa-biasa saja. "Kamu it...." "Bentar pak! Nih saya bangunin temen saya dulu. Biasa lah pak, nih orang kalau tidur kayak kebo," potong Awan sembari mencoba membangunkan Ardi. Tak butuh waktu lama, Ardi pun terbangun dari tidurnya. Samar-samar dari kedua bola matanya, ia melihat seseorang yang tengah menatapnya tajam. "Pak Yanto! Ada apa Pak? Kok menatapku seperti itu?" tanya Ardi tak berdosa. Nampaknya pemuda yang satu ini malah lebih parah dari pemuda yang satunya. "Kalian berdua, kalian niat seko...." "Aduh, Pak, saya izin ke toilet bentar ya, mules nih," potong Ardi. Tanpa basa-basi lagi, Ardi melangkahkan kakinya menjauhi Pak Yanto. Ia sadar bahwa akan ada hukuman yang menantinya. "Saya juga izin pak, dari tadi kebelet nih," ucap Awan ikut-ikutan sembari melangkahkan kakinya mengejar Ardi. "Bagus-bagus, sekalian dibersihin ya toiletnya!" Keduanya mendadak diam, terbersit dalam hati mereka berdua untuk mengurungkan niat. "Kok tiba-tiba mules saya hilang ya, Pak." "Sama pak. Tiba-tiba saya juga sudah nggak kebelet," ucap Awan ikut-ikutan. Pak Yanto menatap mereka berdua tajam, mencoba menampakkan kemarahannya pada 2 orang yang terlihat tak takut sama sekali dengannya. "Saya nggak mau tahu, cepat kerjakan!" bentak Pak Yanto. Refleks, kedua pemuda itu lari terbirit-b***t akibat bentakan itu. Sementara murid-murid yang lain hanya bisa menahan tawa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD