"Lo sih, Wan."
"Kok gue?" Awan membela diri.
"Ya pokoknya lo yang salah," desak Ardi.
"Hah, udah-udah. Cepat bersihin! nanti tu macan jantan tambah ngamuk, lagi," ucap Awan.
Mau tidak mau, suka tidak suka, mereka pun harus membersihkan toilet sekolahan. Tapi hal itu malah lebih baik daripada berada di dalam aula sembari mendengarkan ceramah yang membosankan.
***
Sore hari pun tiba, Ardi dan Awan pulang dari sekolahan. Ardi tak habis pikir dengan nasibnya, tiap hari selalu saja dihukum. Padahal baru juga beberapa hari ia menjabat sebagai salah satu dari siswa baru di sekolahan itu.
"Ardiiiii....!"
Sebuah teriakan keras terdengar jelas di telinga Ardi ketika ia sedang enak-enaknya terbaring di kasurnya.
"Ada apa, Bu?" jawabnya sembari berteriak.
"Sini!"
Dengan sigap, Ardi langsung melompat dari atas tempat tidurnya untuk memenuhi panggilan sang ibu. Ia berlari menuju arah dimana suara ibunya itu terdengar.
"Ada apa, Bu?"
"Perasaan kemarin foto di figura ini bukan foto ini deh," ucapnya sembari menunjukkan figura yang menempel di dinding.
Di dalam figura itu jelas terlihat seorang lelaki tampan yang sedang tersenyum lebar hingga nampak deretan gigi putihnya.
"Oh itu, mungkin foto yang lama bisa berteleportasi sendiri, Bu," jawab Ardi ngawur.
"Wah hebat ya, foto aja bisa berteleportasi. Nanti ibu juga mau belajar teleportasi, ah."
"He he he bagus Bu itu, nanti kalau mau ke pasar nggak perlu naik angkot lagi, tinggal teleport aja," ucap Ardi tambah ngawur.
"Iya juga ya, bener-bener. Nggak cuma ke pasar, Di. Kalau ibu mau ke luar negeri juga tinggal teleport," ucap sang ibu.
Entah percakapan macam apa yang mereka lakukan. Kegilaan antara ibu dan anak itu benar-benar terlihat jelas. Topik yang dibahas sudah tidak bisa masuk di akal.
Ardi menyudahi candaan itu dan bersiap pergi dari hadapan ibunya, namun lagi-lagi, suara ibunya memberhentikan langkahnya. Entah berapa kali kejadian semacam itu terjadi pada dirinya.
"Ardi."
"Iya bu," jawab Ardi.
"Ke mana foto yang lama?" tanya Ibu Ardi mulai serius.
Ardi menghela napas berat, setidaknya ia sudah mempersiapkan jawaban untuk menjawab pertanyaan ibunya.
"Ada Bu," jawab Ardi singkat.
"Di mana Di?" tanyanya lagi.
"Di suatu tempat yang berada sangat jauh. Sebuah tempat yang tenang dan bisa membawa kedamaian di dalam hati," ucap Ardi dengan puitisnya.
"Ibu serius, Ardi!" ucap ibunya yang mulai kesal.
"Ada Bu, tenang aja," jawab Ardi.
Ardi mulai melangkahkan kakinya lagi, ia tak mau diberi pertanyaan itu dan itu lagi dari ibunya. Namun sang ibu juga tak mau tinggal diam, ia pun tetap bersikeras menanyai hal itu pada anaknya.
"Ada Bu, aku simpen," ucap Ardi.
"Kenapa kamu ambil foto itu dari figura?" tanya ibu Ardi semakin serius.
Ardi menundukkan kepalanya, ia melihat raut wajah ibunya yang mulai bersedih. Ia tau tentang perasaan seorang ibu yang kehilangan anaknya.
"Aku cuma tidak mau melihat ibu menangis," ucap Ardi dramatis.
"Aku tahu foto itu selalu mengingatkan ibu pada Kak Lita, dan foto itu juga lah yang sering membuat ibu menangis."
"Rasa sayang seorang ibu pada anaknya, aku tahu itu."
"Lagipula, kan fotonya telah kuganti dengan foto seorang lelaki gagah nan tampan yang bisa membuat semua orang yang melihatnya merasa senang," ucap Ardi membanggakan dirinya sendiri sembari cengar-cengir tidak jelas.
Kalimat dramatis Ardi diakhiri dengan kalimat pengrusak yang bisa membuat siapa saja yang mendengarnya merasa kesal.
Ibu Ardi tersenyum kepada Ardi. Entah senyum tulus atau senyum apa, ia tak tahu.
"Maaf kalau ibu terlihat sangat menyedihkan," ucap Ibu Ardi.
"Ibu tak pernah tampil menyedihkan. Bagiku, ibu adalah seorang wanita yang kuat. Kalau hanya soal tangis itu, semua orang tua pun pasti akan melakukan hal yang sama jika dalam keadaan seperti itu," ucap Ardi bijak.
Lagi-lagi ibunya tersenyum, Ardi menatap ibunya dengan perasaan yang sedikit tenang. Ia seperti merasakan datangnya sebuah keajaiban.
"Kalau begitu, Ardi ke kamar lagi ya, Bu," ucap Ardi.
Ardi meninggalkan ibunya yang masih terpaku dengan perkataannya barusan. Ia berjalan masuk kembali ke kamarnya.
***
Awan membanting tubuhnya di atas kasur. Ia merasakan capek yang teramat sangat. Bagaimana tidak, ia baru saja dihukum untuk membersihkan toilet sekolah sampai benar-benar bersih.
"Nggak nyangka, tu macan galak amat, ya,"
gumamnya.
Ia memandang langit-langit kamarnya dan mulai memejamkan matanya pelan. Rasa capek seakan menyeruak di sekujur tubuhnya.
Entah dapat hikmah dari mana, ia seolah teringat dengan Ardi. Tanpa pikir panjang, ia ambil ponselnya dan mulai menelepon Ardi.
"Halo Di, lo nggak nyari kakak lo lagi?" tanyanya.
"Nggak, besok aja," jawab Ardi.
"Lo gimana sih, jangan ditunda-tunda begitu lah!" ucap Awan.
"Emang lo mau nemenin?" tanya Ardi mulai serius.
"Ya pasti enggak lah," jawab Awan yakin.
"Makanya gue nelpon lo. Mau ngasih tahu kalau gue mau tidur dan nggak bisa bantu lo," Ucap Awan tanpa beban.
"Heeee..... Dasar otak konslet,"ejek Ardi ke Awan.
"Biarpun otak gue ini konslet, tapi masih ada kabel-kabel yang bisa menghubungkannya kembali. Ya, harus cuma hati-hati dalam menghubungkannya, biar nggak kesetrum," ucap Awan nggak jelas.
"Heh, ya ya terserah lo lah, Wan," kata Ardi.
"Ya harus terserah gue dong, terkadang sesuatu yang kita inginkan harus sesuai deng...."
"Tuuuuttt" Suara telepon, tanda panggilan telah berakhir. Benar saja, Ardi telah mematikan panggilan dari Awan.
***
Ardi dengan cepat membuang ponselnya di kasurnya, ia merasakan ada sesuatu yang menakutkan.
"Untung-untung, udah gue matiin."
"Dasar Awan, otak dia benar-benar cuma setengah, atau bahkan gak ada sama sekali," gumam Ardi kesal.
Ardi menghela napas berat, ia mulai teringat dengan sesuatu yang teramat penting. Bahkan sesuatu yang paling penting didalam hidupnya. Raut wajah dia berubah serius, ia menundukkan kepalanya entah karena apa. Sebelum ia mendongak dan mengucapkan sepatah kata.
"Rumah sakit...."
Ardi tersadar akan suatu hal. Ia melompat dari tempat tidurnya dan bergegas untuk keluar rumah. Tak lupa, ia pun membawa selembar foto gadis kecil yang memang seharusnya ia bawa. Sudah dipastikan dimana ia akan pergi. Ia akan pergi ke rumah sakit, tapi entah rumah sakit mana yang akan ia kunjungi dan rumah sakit mana yang benar-benar menyimpan sejarah tentang kakaknya.
"Aku harus cepat," gumamnya sembari sedikit berlarian.
Dia akan pergi sendirian, tanpa teman. Ia tak mau merepotkan orang lain lebih banyak lagi. Selain itu telepon dari Awan barusan juga menunjukkan bahwa Awan tidak bisa membantunya hari ini. Terlepas dari ucapannya itu bercanda atau memang serius.
Tak butuh waktu lama, ia pun sampai di jalan raya. Ia bergegas mencari kendaraan untuk menuju rumah sakit yang paling dekat dengan tempat terakhir ia mengetahui kabar kakaknya.
"Duuuh mana sih gak ada angkot?" gumam Ardi.
Entah kenapa sore itu benar-benar sepi, tak ada angkot yang berlalu lalang. Hanya ada taxi dan kendaraan-kendaraan lainnya. Namun akhirnya keberuntungan menyertainya. Angkot yang ditunggu-tunggu pun melaju kearahnya. Ia bergegas menyetop angkot itu dan naik.
Beberapa saat kemudian, angkot pun membawanya ke tempat tujuan. Kebetulan rumah sakit besar itu berada persis disamping jalan raya. Ia pun bergegas turun dari angkot sembari membayar ongkosnya.
"Semoga saja," gumamnya.
Ardi menghembuskan napas pelan, kemudian ia berjalan masuk ke rumah sakit tersebut.
"Sus, suster. Saya mau nanya," ucapnya pada suster di rumah sakit tersebut.
"Nanya apa ya, Dik?" Tanya suster itu.
"Mungkin agak aneh sih, 11 tahun yang lalu, apa pernah ada seorang gadis cantik yang kira-kira masih berumur 6 tahunan yang dibawa ke rumah sakit ini karena kecelakaan?" tanya Ardi.
"Saya minta maaf Dik, saya baru 3 tahun kerja di sini. Jadi nggak tahu tentang kejadian sebelum itu," jawab suster itu.
"Oh gitu ya Sus, terima kasih banyak. Kalau gitu saya permisi dulu," pamit Ardi sembari berniat untuk menanyai suster atau dokter yang lain.
Ia mulai melangkah hingga dirinya telah membelakangi suster yang ia tanyai barusan. Namun lagi-lagi, entah ke berapa kali kejadian ini selalu terulang-ulang. Sebuah kejadian di mana langkahnya terhenti akibat suara panggilan dari belakang.
"Tunggu Dik!" cegah suster itu.
Ardi membalikkan tubuhnya yang telah membelakangi suster tersebut.
"Ada apa ya, Sus?" tanya Ardi.
"Saya memang tidak tahu tentang hal yang tadi adik tanyakan. Tapi mungkin adik bisa menanyakannya ke Dokter Ridwan. Dia dokter senior disini," ucap suster tersebut.
"Kalau begitu, tolong tunjukan dimana ruangannya, Sus! ucap Ardi semangat.
Suster itupun memberitahukan tentang letak ruangan Dokter Ridwan. Dokter paling senior yang mungkin tau segalanya. Setidaknya, Ardi berharap bahwa Dokter itu akan memberi informasi hangat tentang keadaan kakaknya.
Ia berjalan sembari clingak-clinguk mencari ruangan yang telah ditunjukkan oleh Suster tadi. Alhasil setelah beberapa saat mencari, akhirnya ia pun menemukannya.
"Permisi," ucapnya.
"Masuk."
Sebuah suara terdengar dari dalam. Ia yakin sekali bahwa itu adalah suara Dokter Ridwan. Ia pun segera membuka pintu yang menjadi penghalang matanya untuk menatap wajah dokter tersebut.
"Silahkan duduk!"
Baru saja ia membuka pintu, ternyata Dokter yang kira-kira berusia 50 -an tahun itu telah mempersilahkannya duduk.
"Ada yang bisa saya bantu?" sambutnya.
"Iya Dok, saya mau nanya, apa bener 11 tahun yang lalu ada seorang gadis berumur 6 tahunan yang dibawa ke rumah sakit ini karena kecelakaan?" tanya Ardi.
"Gadis kecil?" tanyanya sembari tangannya menyentuh dagu tanda ia sedang mengingat suatu hal.
"Iya Dok. Oh ya, ini foto gadis itu, barangkali Dokter pernah melihatnya."
Sang dokter pun langsung mengamati dengan detail dari ujung kaki hingga ujung rambut dari seorang gadis kecil yang bernama Lita.
"Hmm, apa adik tahu, warna pakaian yang dipakai gadis kecil ini ketika menjadi korban kecelakaan?" tanya Sang Dokter.
Ardi mengingat kembali sesuatu yang seharusnya ia selalu ingat.
Flashback
"Ibu selalu ingat gaun merah kecil yang dipakai kakakmu sebelum ia diculik," ucap Ibu Ardi sambil menangis.
Ardi akhirnya mengingatnya. Kata-kata yang pernah diucapkan oleh ibunya tempo hari nyatanya bisa berguna juga.
"Huff, sebenarnya gadis kecil itu adalah kakak perempuan saya. Dia menjadi korban penculikan, tapi untungnya bisa melarikan diri. Sayangnya keberuntungan tidak berpihak padanya. Dia tertabrak mobil saat mencoba melarikan diri. Dan.... dan pakaian terakhir yang dipakainya itu...."
Ardi terdiam sejenak, tak sanggup menahan kesedihannya. Bahkan seorang Jonathan Ardilan pun bisa bersedih, dan bahkan sampai meneteskan air mata.
"Gaun kecil berwarna merah," sambungnya.
Sang Dokter tersentak mendengar ucapan Ardi. Ia juga merasa ikut bersedih ketika melihat pemuda di depannya itu menangis.
"Kamu yang sabar, ya!" ucapnya menenangkan Ardi.
Untuk beberapa saat, keduanya saling diam, tak ada yang mengeluarkan sepatah katapun.
"Saya ingat sesuatu, tapi saya juga kurang yakin. 11 tahun yang lalu, memang ada seorang gadis kecil bergaun merah yang dirawat di rumah sakit ini. Tapi...."
"Tapi apa, Dok?" tanya Ardi dengan perasaan cemas.
"Dia dinyatakan meninggal dunia."
Jantung Ardi berdebar kencang, air matanya pun semakin mengalir deras. Rasanya tak sanggup mendengar pernyataan itu. Tapi ia lebih takut lagi jika keluarganya yang lain mengetahui hal itu. Faktanya, keluarganya yang lain jauh lebih mengenal Lita.
"Tapi saya juga tidak yakin, apa gadis itu kakakmu atau mungkin orang lain," ucap Sang dokter menenangkan.
Ardi tak menggubris ucapan Dokter itu. Kesedihannya benar-benar luar biasa. Rasanya sungguh sakit mendengar pernyataan yang menyakitkan seperti itu.
"Terima kasih Dok atas infonya, saya pamit dulu."
Sang dokter hanya bisa menatap Ardi dari belakang. Sedangkan Ardi nampak lesu dan tak punya semangat lagi. Mungkin benar, sekuat apapun hati seorang laki-laki, ia pasti akan rapuh ketika mendengar orang-orang yang disayanginya dalam kondisi yang tidak ia inginkan. Seperti halnya seorang Jonathan Ardilan yang kehilangan Lita, kakak perempuannya.
"Bahkan seorang lelaki yang kuat pun akan menangis ketika ia mendengar orang-orang yang disayanginya dalam keadaan yang tidak diinginkannya." - Dokter Ridwan -