Bab 9

1911 Words
Ardi keluar dari rumah sakit itu. Perasaannya sudah tidak bisa dikontrol lagi. Menangis? Pasti. Tak peduli dengan tatapan orang disekitarnya. Namun dengan cepat tangisan air matanya ia hapus sehingga hanya menyisakan kesedihan yang mendalam. Sampai dijalanan menuju rumahnya, ia benar-benar bingung. Antara memberi tahu hal itu pada keluarganya atau menyimpannya sendiri. "Dari mana, Di?" Sebuah suara masuk di indra pendengarannya. Ardi menoleh kearah sumber suara itu dan mendapati seorang laki-laki paruh baya yang merupakan tetangganya. Namun secepat mungkin Ardi mengalihkan pandangannya ke bawah karena tak sanggup menjawab pertanyaan yang sebenarnya tergolong sangat mudah. Sang tetangga hanya bisa menatap bingung ketika ia tidak mendapat jawaban dari Ardi. Malahan Ardi terus berjalan melewatinya. "Kenapa dia? Ah mungkin baru putus cinta," gumamnya. *** Ardi sudah berada di ambang pintu rumahnya. Ia mengatur dulu perasaannya. Kesedihan, kecemasan ataupun yang lainnya. Ia mencoba menghapus semua itu agar nantinya tak ada pertanyaan yang bisa membuatnya bingung harus menjawab apa. Ardi mulai membuka pintu seraya mengucap salam. Tak ada yang menjawab salamnya, mungkin ibunya sedang berada di dapur. Ia langsung masuk ke kamarnya dan tiduran di atas kasur. *** "Ke mana Ardi? Jam segini belum pulang," ucap ibu Ardi sambil clingak-clinguk memandangi pintu depan. Ia kembali ke dapur untuk melanjutkan kegiatan memasaknya. Tak lama kemudian, terdengar pintu rumah sedang dibuka oleh seseorang. Ibu Ardi langsung berjalan kearah pintu depan. Ia pikir itu adalah Ardi, namun ternyata bukan, orang itu adalah Pak Ahmad, alias suami dari ibunya Ardi, alias Bapak dari seorang Jonathan Ardilan. "Lah, bapak. Ibu pikir Ardi," gumam Ibu Ardi. "Memangnya Ardi ke mana?" "Entahlah, dari tadi keluar belum juga pulang." "Hmmm, kalau Heri, apa sudah pulang?" tanya Bapak Ardi. "Kayak nggak tau anak kita yang satu itu, pasti dia main dulu tu sama teman-temannya." Ibu Ardi pun kembali ke dapur, sedangkan bapaknya duduk santai di kursi ruang tamu sembari melepas penat. Tak lama kemudian, Ardi keluar dari kamarnya sembari membawa handuk tanda ia akan mandi. "Lho, lha ini Ardi, tadi kata ibu kamu belum pulang." "Dari tadi aku di kamar, Pak," jawab Ardi. "Wah berarti ibu dong yang salah," ucap bapaknya. "Mungkin, aku mau mandi dulu, Pak," ucap Ardi seraya meninggalkan bapaknya. Saat di dapur, Ardi pun mendapat pertanyaan yang sama dari ibunya. Ia pun harus menjawabnya dengan jawaban yang sama pula, sama seperti jawaban yang ia berikan kepada bapaknya. *** Esok hari pun tiba, seperti biasa Awan kembali menjemput Ardi untuk berangkat sekolah. Kali ini bukan seragam sekolah yang mereka pakai, melainkan kaos bebas berwarna merah dengan bawahan celana olahraga dari sekolahan mereka. Entah kenapa sekolahan besar tersebut masih menggunakan cara kuno dalam kegiatan MOS. Ardi dan Awan pun berangkat dengan mengendarai motor. Tak seperti biasanya, sepanjang perjalanan menuju sekolah, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka, lebih tepatnya mulut Ardi. Awan mendadak canggung dengan situasi seperti itu, ia mempercepat laju motornya agar cepat-cepat sampai di sekolahan. Jujur ia tak tahu apa yang telah terjadi dengan sahabatnya itu. Akhirnya, merekapun sampai di sekolahan. Awan memarkir motornya di tempat biasa, lalu ikut berkumpul bersama teman-teman yang lain. "Wah wah, fans Manchester United nih," ucap Nando ketika melihat kaos yang dipakai Awan. "Iya lah, gue fans berat Manchester United, terutama kapten timnya, Lionel Messi." Nando memasang wajah yang tak enak dipandang. Ia merasa ada yang salah dengan perkataan Awan barusan. "Lionel Messi bukannya pemain Barcelona, ya?" tanya Nando. "E... e... e...," ucap Awan bingung. "Oh ya, Ardi mana?" tanya Nando. Awan melihat sekeliling, jujur ia baru menyadari kalau sahabatnya itu sedang tidak bersamanya. Matanya berkeliaran mencari sang pemilik wajah tertampan di sekolahan itu, meski otaknya pun sedikit geser karena terpengaruh oleh dia. Tak lama kemudian, matanya menangkap seseorang yang sedang berdiri di lantai 2 seraya melihat pemandangan dari hamparan kebun yang luas nan hijau di pinggir sekolahan itu. "Lah, ngapain tu orang?" tanya Awan, entah ditujukan kepada siapa pertanyaan tersebut. "Jangan-jangan, mau bunuh diri," lanjutnya. "Husss, ngawur lo. Yuk samperin!" ajak Nando pada Awan. Mereka berdua pun naik ke lantai 2 untuk menemui Ardi. Mereka merasa ada yang aneh dengan Ardi, tak biasa-biasanya dia seperti itu. Woy.... Ardi, ngapain lo?" sapa Awan pada sahabatnya itu. Tak ada jawaban dari Ardi. Ia masih sibuk menikmati semilir angin pagi sembari memandangi indahnya hamparan kebun yang luas. Suasana kota yang nampak seperti pedesaan, itulah suasana yang akan dirasakan oleh orang-orang di sekeliling sekolahan itu. Merasa tak ada jawaban dari seorang Jonathan Ardilan, Awan dan Nando pun mendekati dia. "Lo kenapa sih, Di?" tanya Awan. "Gak apa-apa," jawab Ardi singkat. "Jujur aja, bilang ke gue kalau ada apa-apa. Gue pasti bisa bantu lo. Kalau soal duit, nanti gue beri lo sekoper," ucap Awan ngawur. Ardi hanya diam, entah kenapa sifatnya berubah menjadi sangat dingin, bahkan ketika berada di depan sahabatnya sendiri. Sementara itu, Nando tertawa kecil ketika mendengar kesombongan dari Awan. "Lo sariawan, kah?" tanya Awan. "Nggak," jawab Ardi singkat. "Oh, sakit tenggorokan, ya?" tanya Awan lagi. "Nggak juga," jawab Ardi. "Terus kenapa? Rasanya nggak seru kalau lo bersikap kayak gini," protes Awan. Dalam waktu sejenak, tak ada percakapan lagi antara mereka. Semuanya larut dalam diam. Jujur saja, ada rasa tidak enak yang dirasakan oleh Awan tentang sikap seorang Jonathan Ardilan hari ini. Tak tau mengapa, tapi rasanya aneh saja jika Ardi sedingin itu kepadanya. Ia lebih suka melihat Ardi marah-marah kepadanya daripada melihat Ardi menjadi seorang pendiam. "DIHARAPKAN, SELURUH SISWA BARU UNTUK BERKUMPUL DI HALAMAN." "SEKALI LAGI, DIHARAPKAN SELURUH SISWA BARU UNTUK BERKUMPUL DI HALAMAN." Sebuah suara menggema di seluruh area sekolahan. Awan, Ardi dan Nando pun turun dari lantai 2 untuk menghampiri arah suara tersebut. Mereka mendapati banyak teman-temannya telah berbaris di halaman sekolah. Mungkin tinggal mereka bertiga saja yang belum berbaris. "Wah, orang itu...." "Kenapa Wan?" tanya Nando. "Gak apa-apa," jawab Awan. Awan memandang sinis seseorang yang ia tunjuk tadi. Ya, dialah si Kiko, seorang kakak kelas yang telah ditulis oleh Awan didalam death booknya. Ketiga pemuda itupun mengikuti barisan, tentu saja berada di barisan paling belakang. "Baiklah, materi kali ini adalah penjelajahan. Sebelum itu, kami akan membagi kalian menjadi beberapa kelompok," ucap Kiko. Pembagian kelompok pun berlangsung. Ada sekitar 61 siswa yang harus dibagi menjadi beberapa kelompok. Disepakati akan ada 7 kelompok dengan 8-9 anggota di setiap kelompok. Entah kebetulan atau apa, Ardi berada di satu kelompok dengan Awan, dengan sang ketua kelompok yang bernama Bara, seorang lelaki bertubuh kekar yang pasti disegani atau lebih tepatnya ditakuti oleh yang lain. Namun ada seorang wanita cantik yang berada satu kelompok dengan Ardi dan Awan, dialah Syila, wanita pertama di sekolahan itu yang menjadi sasaran kegenitan seorang Awan. "Di, Syila tu," bisik Awan pada Ardi. Perkataan Awan tak direspon sedikitpun oleh Ardi. Hari ini ia benar-benar sangat aneh. Menjadi manusia yang bersifat benar-benar sangat dingin. Awan mencoba memahami apa yang telah terjadi pada sahabatnya itu. Tidak mungkin seorang Jonathan Ardilan tiba-tiba berubah sifat jika tak ada sesuatu yang bisa mengubahnya. "Apa mungkin, sesuatu yang tidak ia inginkan telah terjadi pada kakak perempuannya," batin Awan. *** Penjelajahan pun dimulai. Setiap kelompok diberikan sebuah peta atau rute perjalanan yang akan mereka lalui. Setelah 6 kelompok sudah berjalan, kini giliran kelompok Ardi yang berjalan. "Ayo berangkat!" ajak Bara pada yang lain. Mereka berdelapan pun mulai melangkahkan kakinya menyusuri jalanan. Bukan jalan raya, tapi sebuah jalan kecil yang terletak di samping sekolahan itu. Disekelilingnya terlihat hamparan kebun luas nan hijau yang sangat menyejukkan mata. "Menurut peta ini, pos pertama berada tidak jauh dari sini. Kira-kira setelah kita melewati kebun-kebun di sisi jalan ini akan ada sebuah gudang. Dan di situlah pos pertamanya," ucap Bara panjang lebar. "Kira-kira apa ya materinya di sana, gue kok jadi merinding. Jangan-jangan disuruh uji nyali masuk gudang itu, hiiii," ucap Zara, seorang wanita berambut sebahu dan berwajah manis. "Tenang aja Ra, kan ada Abang Awan. Abang Awan siap melindungi kamu kapanpun dan di manapun." Rayuan maut dari Awan muncul begitu saja. Entah bagaimana mulutnya bisa se ringan itu dalam hal merayu seorang wanita. Sontak semua yang mendengarnya pun tertawa kecil, kecuali Ardi yang terus menatap jalanan di depannya tanpa ada respon apa-apa dengan perkataan Awan. "Heeeh, emang lo berani sama hantu?" tanya Zara. "Halah, hantu doang." "Ya takut sih," ucap Awan sambil cengar-cengir. "Heee," umpat semuanya kecuali Ardi. "Omong doang bisanya." "Udah-udah, kita lanjutin perjalanan kita," ucap Bara. Ardi masih tidak merespon teman-temannya. Ia sibuk dengan dirinya sendiri, lebih tepatnya sibuk dengan lamunannya sendiri. Namun tanpa ia sadari, ada seseorang yang sesekali meliriknya. Seseorang berparas cantik nan anggun yang bisa jadi menjadi wanita idaman bagi banyak laki-laki yang melihatnya. Akhirnya, mereka pun telah sampai di pos pertama. Ada 5 orang yang merupakan kakak-kakak kelas tengah berdiri menanti kedatangan mereka. 5 orang itu terdiri dari 3 laki-laki dan 2 perempuan. Bara pun membariskan seluruh anggota kelompoknya untuk melakukan laporan dan bersiap menerima tugas. "Lapor, kami dari kelompok 7 telah bersiap melaksanakan tugas." Setelah itu, merekapun diberi sebuah tugas oleh kakak-kakak pembimbing. Untungnya, ekspektasi dari Zara salah. Mereka hanya diberi tugas untuk menjawab sepuluh pertanyaan yang berhubungan dengan kepemimpinan, bukan disuruh uji nyali di dalam gudang tua itu. "Woy Awan, bantu kita dong. Jangan hanya mondar-mandir gak jelas!" omel Bara pada Awan. "Enak aja dibilang gak jelas, gue nih lagi berpikir," sangkal Awal. "Oh, baguslah kalau berpikir tentang jawaban soal ini." "Salah.... Gue bukan berpikir tentang jawaban soal ini," ucap Awan. "Lalu?" tanya Bara bingung. "Gue tu sedang memikirkan sebuah hal yang lebih penting dari soal ini, bahkan jauh lebih penting. Sesuatu yang berhubungan dengan nyawa kita," jawab Awan seram. "Maksud lo apa? Nggak usah main-main deh. Emang mikirin apa sih?" ucap Zara sedikit takut. "Tentang.... tentang makan siang nanti." "Heee, gue pikir apaan. Kan kemarin udah disuruh bawa bekal, ngapain masih lo pikirin?" tanya Zara. Awan menghela napas berat sembari menatap teman-temannya satu persatu dengan tatapan yang aneh. "Itu masalahnya, gue lupa bawa bekal." "Berarti akan ada yang tewas dalam kegiatan ini nantinya," ucap Zara dengan entengnya. "Tega lo," sahut Awan. Zara memasang wajah meledek Awan. Kalau dilihat-lihat, kedua orang itu sangat cocok untuk menjadi sepasang kekasih. "Woy berisik lo pada, kalau nggak mau bantu, bisa diam nggak!" omel Dani, seorang lelaki berwajah sangar. Akhirnya, tak ada lagi percakapan tidak penting dari seorangpun dalam kelompok tersebut. Semuanya sibuk mengerjakan 10 soal yang agak sulit itu. Akhirnya, setelah beberapa lama mengerjakan, 10 soal itupun telah terjawab semua dengan sempurna. Merekapun kembali melakukan perjalanan yang bisa dibilang masih berada diawal perjalanan. Belum ada setengahnya, bahkan mungkin baru seperempatnya. Tapi hari pun masih pagi, panas matahari belum begitu terik sehingga tidak membuat sekujur tubuh mereka merasa cepat lelah. Ardi masih setia dengan ekspresinya. Bukannya tak mau mengubahnya, tapi memang tak bisa. Jujur dengan sikapnya yang seperti itu membuat teman-temannya bingung. Padahal di hari-hari sebelumnya, Ardi adalah seorang lelaki periang dan juga kegilaannya hampir setara dengan Awan. Tapi hari ini, di hari terakhir kegiatan MOS mereka, Ardi berubah seketika. Menjadi seorang lelaki dingin yang jauh lebih dingin dari orang lain. "Ardi kenapa sih?" bisik Bara pada Awan. "Entahlah, lebih baik kita biarkan dia begitu. Aku yakin sedang ada masalah yang mengguncang hatinya," jawab Awan serius. "Emangnya nggak apa-apa?" tanya Bara lagi "Tenang aja, biar gue urus semuanya," jawab Awan. Sang pagi perlahan mulai pudar, nampaknya waktu sudah menjelang siang. Sinar mentari pun sedikit terasa menyengat tubuh. Dan akhirnya, setelah beberapa lama mereka berjalan, mereka pun sampai di pos kedua yang letaknya di lapangan yang luas. "Oh my god."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD