Aku masih mendengarkan mereka berkelahi dari lantai dua. Ada salah satu supir rumah yang keluar dari kamarnya berbisik dan bertanya kepadaku “Ada apa Neng Bella? Neng Olive kok tumben ngamuk-ngamuk dibawah?”. Aku menjawab “Gak tau Pak. Ini saya juga lagi dengerin mereka bahas apa. Pak Korin masuk lagi aja ke kamar. Kalo Kak Olivia tau kita nguping bisa diomelin”. Pak Korin menjawab “Ohh iyaa Neng saya di kamar aja cari aman hehehe”.
Enggak lama suara pertengkaran mereka selesai dengan bantingan keras pintu depan. Aku turun tangga perlahan dan mendengar Kak Olivia menangis sambil terlihat kesal dengan situasi seperti ini. Kak Olivia memeluk boneka beruang yang dibeliin Bang Putra dan berkata “Apa kita bisa bersama lagi sayaang? Apa kamu masih akan menerima aku dengan kondisi seperti ini? Kamu ada di sebelah rumahku. Tapi entah kenapa kita sekarang terasa begitu sangat jauh”.
Meskipun aku mengetahui seluruh permasalahan Kak Olivia dan Bang Putra. Bahkan sampai perselingkuhannya sekalipun. Aku tetep diam dan pura-pura tidak mengerti apapun didepan Kak Olivia. Karena menurutku ini salah satu cara aku menghargai dia sebagai Kakakku. Aku gak boleh ikut campur ataupun sok-sokan menasehati dia. Kak Olivia terlihat mencium boneka beruang besar tersebut berkali-kali sebagai bentuk pelampiasan rindu dan cinta dia ke Bang Putra.
Beberapa hari kemudian Kak Sasha mengajakku untuk ngegym di salah satu ruko dekat rumah “Bell mau ikut kita olahraga gak? Ikut kita yuk olahraga ngegym di daerah lebak bulus”. Aku menjawab “Ngegym? Ngegym itu apa Kak?”. Kak Sasha menjawab “Ngegym itu olahraga di dalem ruangan dengan menggunakan berbagai alat. Seperti treatmill untuk lari, barbel, dan sebagainya. Kamu bisa ngebentuk body kamu jadi bagus disana. Putra dan Gisel juga ikut ngegym mulai besok”.
Aku menjawab “Boleh kalo begitu. Aku mau… mulai besok yaa? Tapi mulainya sore kan?”. Kak Sasha menjawab “Iyaa mulai ngegym dari habis maghrib sampai jam 8-9 malem. Biar badan kamu bagus kaya Olivia”. Aku bertanya “Emangnya Kak Olivia ngegym yaa? Kok aku gak pernah liat?”. Kak Sasha menjawab “Dia selalu ngegym setiap seminggu sekali. Kalo kita harus seminggu 3 kali karena body kita gak terlahir bagus kaya bodynya Olivia”.
Aku akhirnya mengikuti Gym seminggu 3 kali. Sebenernya yang paling berasa dari ngegym itu pikiran lebih fresh dan gak mumet. Entah kenapa setiap olahraga mood selalu membaik dan ngadepin permasalahan di rumah jauh lebih rileks. Disisi lain bodynya Bang Putra pun perlahan mulai kebentuk. Selama 6 bulan ngegym badanku bertambah tinggi dari 160cm jadi 165cm. Dan Bang Putra tingginya juga nambah dari 170cm jadi 175cm. Dan yang pasti Bang Putra bener-bener jadi ganteng banget.
Kak Gisel dan Kak Sasha meskipun mereka gak punya kemampuan sehebat Kak Olivia dalam ngurus rumah. Tapi mereka bisa mengarahkan aku dan Bang Putra ke aktivitas yang tepat. Kak Sasha juga mengarahkan aku untuk ikut beladiri tinju di daerah Radio Dalem. Karena struktur badanku sangat cocok sebagai petarung. Dan Aku bisa menjadi seperti Kak Olivia bisa menjaga orang-orang sekitar. Meskipun Kak Olivia menjaga orang-orang sekitarnya dengan kecerdasan dia dan aku menggunaan fisik.
Waktu berjalan hingga bulan desember tahun 2011. Saat itu aku pulang ke rumah Kak Olivia. Udah 7 bulan aku tinggal di rumah Kak Olivia bersama Risa. Ayah melarangku untuk tinggal di rumah karena Ayah ingin menyelesaikan konfliknya bersama Ibu. Aku sampai di rumah sekitar jam 10 malem karena habis Gym. Kak Olivia langsung menyambutku “Kamu udah pulang Bella sayaang? Udah selesai olahraganya?”.
Aku menaruh tasku di ruang tamu dan senderan di sofa “Udah Kak. Kak Olivia kata Bang Putra dia kangen sama Kak Olivia hehehe”. Kak Olivia mendadak salting dan menjatuhkan beberapa peralatan dapur yang lagi dia pegang “Be…Benarkah? Bang Putra ngomong begitu ke kamu?”. Aku menjawab “Iyaa Kak. Bang Putra sekarang ganteng banget Kak sumpah gak bohong. Dia juga tinggi banget sekarang. Kak Olivia pasti suka banget sama Bang Putra yang sekarang”.
Kak Olivia menjawab “Kak Gisel berarti ngurusin Putra dengan sungguh-sungguh yaa? Kamu juga secara gak langsung diurusin sama mereka berdua”. Aku menjawab “Iyaa begitulah Kak. Kak Sasha kemarin habis jadian sama instruktur Gym. Kayanya agak susah kalo harus ngurusin Bang Putra terus. Jadinya kemungkinan mulai besok cuma Kak Gisel yang ke rumah. Kak Sasha sekali-sekali aja”. Kak Olivia menjawab “Gak apa-apa kan masih ada kamu dan Kak Gisel. Kalian berdua cukup kok nemenin Bang Putra hehehe”.
Aku menjawab “Aku merasa Bang Putra itu butuhnya Kak Olivia. Bukan butuh aku, Kak Sasha, ataupun Kak Gisel. Karena Bang Putra dari kecil kan udah dipegang sama Kak Olivia. Kalo aku masak pun sering dibandinginnya sama Kak Olivia terus”. Kak Olivia menjawab “Iyaa nanti aku akan ngurusin Putra lagi yaa. Aku karena masih ada urusan yang harus diselesaiin aja. Aku sama Putra gak akan pernah bisa jauh Bell. Aku lega seenggaknya Putra masih nginget aku”.
Aku bertanya “Temen Kak Olivia yang namanya Rizky itu udah gak pernah kesini lagi Kak?”. Kak Olivia menjawab “Iyaa urusannya udah selesai aku sama dia. Jadinya dia gak kesini lagi”. Aku menjawab “6 bulan lalu ada cowo namanya Syahrul kesini. Dia dateng kesini waktu Kak Olivia lagi ke Dieng. Dia ngaku-ngaku pacarnya Kak Olivia. Kak Olivia sebenernya ada hubungan apa sama cowo bernama Syahrul itu?”. Kak Olivia menjawab “Gak ada hubungan apa-apa kok. Cuma sahabatan aja aku sama dia”.
Aku menjawab “Dia dateng kesini marah-marah mau ketemu kamu Kak. Untung gak lama Bang Putra keluar nolongin aku. Tapi kalo aku yang sekarang mungkin udah aku tonjokin dia sampe minta ampun. Gak sopan dateng ke rumah orang maksa masuk marah-marah”. Kak Olivia menjawab “Aku minta maaf ya Bell kalo temenku ngebuat kamu gak nyaman. Besok aku coba tegur dia lewat telfon. Sekali lagi aku minta maaf”. Kak Olivia berjalan ke meja dan memberikan aku s**u dan bolu coklat.
Kak Olivia duduk disebelahku dan bertanya “Kamu ada foto Putra yang sekarang kah?”. Aku membuka tas dan mengeluarkan kamera DSLR punya Kak Olivia. Ada disini Kak hehehe. Ada foto Bang Putra yang lagi cuma pake celana pendek aja. Ototnya kemana-mana hehehe”. Kak Olivia ketawa sambil nutup mulutnya dan menjawab “Kamu kecil-kecil nakal yaa Bell. Hehehe iyaudah aku nanti pindahin ke laptop aku”. (Bersambung…)