Hari Pertama Dimadu

1860 Words
"Duh, Kak, maaf banget. Kamu sebagai pembeli, tapi malah bantuin packing segala." "Nggak apa-apa, kok. Lagian saya juga belinya dadakan gini, bingung ingin berbagi apa di hari ini." Rasyid tentu saja senang bisa membantu, berduaan dengan Fiona begini. Fiona tersenyum, sibuk mengambil roti-roti di etalase dan cemilan juga. Fiona juga menjual cemilan di plastik dan toples dengan ukuran kecil. "Yang cake, minta tolong masuin ke mika aja, Kak. Biar nanti aku yang staples." Fiona memberikn sebuah sarung tangan plastik kepada Rasyid. "Nanti aku kasih diskon, karena ini pembelinya malah bantuin penjual." Rasyid tertawa kecil. "Enggak usah. Begini doang, enggak usah kasih diskon. Saya yang salah loh, seharusnya dari tadi saya datang di saat karyawan kamu masih belum pulang. Enggak apa-apa, anggap saja saya karyawan magang sesaat." "Ah, tetap aja aku enggak enak. Aku kasih diskon aja, Kak. Karena kamu udah ngeborong dan mamanya kamu juga langganan di sini." "Jangan gitu dong! Saya ya saya, beda dengan Mama. Saya ini pelanggan baru dan hari ini mendadak juga belinya dan jadi repotin kamu yang lagi sendiri." "Aku enggak bakalan rugi dengan kasih diskon sesekali doang." "Hmmm. Gimana kalau diskonnya diganti sama yang lain aja?" Fiona mengernyit. "Apa itu?" "Temenin saya berbagi ini semua, di depan toko ini aja. Enggak usah ke mana-mana. Sama aja kan? Saya bantuin kamu packing, dan kamu bantuin saya berbagi." "Boleh." Fiona menyetujui hal tersebut. Dia pun juga sebenarnya senang berbagi. Akan tetapi, selalu berbagi ke panti asuhan yang telah menjadi rutinitasnya sejak dulu. Dua jenis makanan, entah itu mini cake, roti atau pun cemilan, dimasukkan ke dalam plastik merek toko kue yang sesuai ukurannya. Ada goodie bag sebenarnya dan harga tambahan, tapi untuk berbagi begini menurut Rasyid tak perlu menggunakan itu. Kecuali semisal untuk acara-acara nantinya, ketika dia ingin mengadakan acara kantor, mungkin. Dia sudah kepikiran memesan kue atau makanan basah kepada Fiona. Barusan Rasyid sempat mencoba ada jenis kue basah juga yang ada sedikit tersisa, dan seenak itu memang buatannya Fiona. Calon istri idaman. Rasyid senyum-senyum sendiri. Khayalannya terlalu jauh, padahal baru bertemu lagi setelah sekian tahun. Kali ketiga bertemu yang disengajanya untuk hari ini—membeli di sini, dia diam-diam sudah berharap lebih saja. Rasyid menggeleng, belum apa-apa sudah berkhayal saja. "Yang kue basahnya, udah kamu hitung?" tanya Rasyid, menoleh pada Fiona yang berada di depan meja kasir saat ini. "Udah, Kak." "Oke. Jangan sampai ada yang ketinggalan dan jangan kasih diskon, ya!" "Iya." Fiona tak memberikan diskon, karena Rasyid terus menolak. Lelaki itu tak mau diberikan diskon sedikit pun. Setelah selesai menghitung atas permintaan Rasyid agar langsung dihitung dan dia membayar, kedua orang itu membawa beberapa plastik berisi kue, roti dan cemilan tersebut ke pinggir jalan. Plastik yang dimasukkan ke dalam dus oleh mereka. "Mau aku fotoin juga nggak, Kak? Butuh dokumentasi?" tanya Fiona sebelum keduanya bergerak memberikan kepada beberapa orang pengendara di jalanan dan orang-orang sekitar. "Enggak perlu, Fi. Ini sekedar berbagi aja." Ini Jum'at ketiga Rasyid berbagi sejak pulang berada di Jakarta lagi. Cukup menyenangkan bagi Fiona berbagi seperti ini, hal pertama kali dilakukannya. Berbeda dengan biasanya ketika berbagi di panti asuhan. Fiona sejenak lupa dengan kesedihannya. Waktu berlalu, tak terasa selesai sudah kedua orang itu membagikan bingkisan tersebut. Ada sekitar 47 plastik, semuanya Rasyid borong termasuk jenis kue basah juga. Memang tak banyak, karena toko sederhana Fiona itu tidak produksi banyak setiap harinya. Kecuali, jika ada pesanan. "Makasih udah bantuin saya," ujar Rasyid setelah membagikan bingkisan terakhir. "Justru aku yang terima kasih sama kamu. Terima kasih udah belanja di aku, terus bantuin bungkus-bungkus juga." Rasyid tersenyum tipis. "Mau langsung pulang? Atau, mau ada acara? Tutup toko lebih cepat, kamu mau ada keperluan?" Fiona mengangguk saja. "Iya, ada perlu. Biar karyawan sesekali bisa istirahat cepat juga, selain hari libur mereka." "Ooh... oke." Rasyid mengusap tengkuknya. "Emm... saya boleh minta nomor HP kamu nggak? Nanti kalau saya mau pesan, kalau ada acara. Sama kayak Mama, saya juga suka kue dan roti bikinan kamu." "Kak Rasyid boleh hubungin nomor waktu waktu itu aja, yang ngabarin kamu waktu itu saat pesan cake buat Mamanya kamu." Fiona tersenyum. Yang bagi Rasyid manis sekali senyum perempuan itu. Sedangkan dirinya hanya bisa tertawa masam di dalam hati. Dia berharapnya nomor ponselnya Fiona, bukan nomornya toko ini yang dia yakini bukan Fiona lah adminnya. Ingin meminta terang-terangan untuk pribadi, takut Fiona risih. Rasyid menduga jika Fiona masih sama seperti dulu, susah didekati. "Mari, Kak. Aku masuk dulu, ya! Sekali lagi, terima kasih untuk hari ini." "Ya, silahkan. Terima kasih kembali, Fiona." Rasyid menatap punggung perempuan itu yang melangkah, hingga memasuki tokonya. Dia nggak nanya balik gitu, ke mana gue setelah ini? Nggak nanya gue kerja di mana? Jam segini bisa berbagi di jalanan? "Kamu masih orang sama seperti dulu ternyata, meski udah bukan remaja belasan tahun tetap susah digapai." Rasyid terkekeh miris. "Kamu suka cowok yang kayak apa sih, Fi?" Rasyid penasaran, tipe lelaki seperti apa yang diinginkan Fiona. Perempuan itu terlihat sekali menjaga jarak dengannya. Saat tak sengaja bertemu waktu jogging minggu lalu, dan barusan yang Rasyid sengaja ingin membeli di toko kue itu. Menuju mobilnya, Rasyid mendapatkan telepon dari mamanya. "Ya, Ma?" "Lagi di mana, Syid? Masih di kantor?" "Aku lagi di luar, Ma. Tapi, ini mau pulang." "Mama nitip beliin kue dong, Syid. Beli di tempat yang Mama bilang itu, yang cake ulang tahunnya Mama kamu beli di sana juga." "Oke-oke. Kebetulan aku lagi di depan toko kue itu, barusan habis beli banyak buat berbagi." Memang jenis kue besar masih ada barusan di toko milik Fiona tersebut. "Oalah, oke. Beli dua, ya? Bentar, Mama kirimin foto kue yang Mama mau. Buat nanti malam, ada temannya papa kamu datang." Menurut mamanya Rasyid, tak perlu beli kue di toko yang mahal dan terkenal. Dia hanya ingin kue dari toko kue sederhana yang rasanya pas di lidahnya, dan beberapa orang yang sudah dia suruh mencoba juga. "Iya, Ma." "Eh, Mama ingat, owner tokonya itu cantik loh, Syid! Kayaknya lebih muda dari kamu deh! Coba kalau kamu ketemu, kali naksir. Sayang, dia enggak medsos kayaknya, jadi Mama nggak bis—eh, wait, Mama punya fotonya. Waktu itu pernah foto bareng." Rasyid tertawa kecil. Tanpa dibilang mamanya pun, dia sudah naksir dari dulunya. Dan sekarang, muncul bersemi kembali rasa tersebut. "Aku udah ketemu waktu itu, Ma. Ternyata adek tingkatku waktu kuliah S-1 dulu yang punya toko itu." "Serius??? Kok enggak kamu pacarin, sih? Cantik banget orangnya, mana adem dengar suaranya juga. Pintar kayaknya juga, suka deh Mama." "Seorang presma di kampusku yang ganteng banget dan banyak kelebihan juga, ditolak sama dia. Apa lagi aku yang kualitasnya di bawah itu?" Usai teleponan dengan mamanya, Rasyid pun kembali memasuki tokonya Fiona. Rasyid kira perempuan itu bersiapa akan pulang, tetapi saat masuk di dapati perempuan itu tengah duduk menangis dengan kepala menunduk. Ada ada dengan Fiona? Rasyid pun melangkah mendekat ke arah perempuan yang duduk di belakang etalase tersebut. Rasyid yang tinggi menjulang, tentu bisa melihat meski perempuan itu tengah duduk. Perempuan itu belum menyadarinya kehadirannya. "Fiona?" Fiona mendongak, dan matanya membola seketika mendapati seseorang yang melihatnya menangis. Fiona buru-buru menyeka air matanya. Perempuan itu tersenyum. "Ada yang ketinggalan, Kak? Atau hitungan aku tadi ada yang salah?" Fiona langsung berdiri. Rasyid menggeleng. Ingin bertanya penyebab Fiona menangis, tetapi takut dikira kepo dengan urusan pribadi orang. "Mama saya barusan telepon, nitip kue katanya." Rasyid menyodorkan ponselnya. "Yang kayak gini, masih ada kah? Mama mau dua katanya kalau ada." "Itu favoritnya Bu Linda." Fiona tersenyum. "Ada. Sebentar aku ambilkan." Fiona menuju etalase di bagian samping dia duduk. Kue favorit mamanya Rasyid masih ada tiga kotak lagi. Yang baru dia bikin hari ini tiga-tiganya. "Itu ada berapa kotak kuenya?" "Ada tiga. Kamu mau ambil tiga-tiganya atau dua aja?" "Tiga-tiganya aja deh! Saya juga belum pernah cobain soalnya." "Selama ini, Bu Linda sering beli, kamu nggak pernah cobain?" tanya Fiona sambil mengeluarkan kotak kue tersebut satu-persatu dari etalase. Rasyid menggeleng. "Saya baru di Jakarta sebulanan lebih dikit." "Ooh. Lulus kuliah S-1 dapat kerjaan di luar kota? Jarang pulang?" "Iya." Rasyid menjawab singkat. Tak menjelaskan jika dia lanjut kuliah di luar negeri dan kerja di sana juga. Tak penting juga sepertinya bagi Fiona jika dia bilang pun. "Jadi berapa semuanya?" "Seratus sembilan puluh lima ribu." "Oke." *** "Maafin aku, Sayang. Aku merasa bersalah banget sama kamu." "Udah nggak kehitung kali kamu minta maaf, Mas." Fiona terkekeh. "Stop ya, enggak usah meminta maaf lagi. Aku paham gimana rasanya di posisi kamu." "Makasih udah ngertiin aku." "Mas, mau berangkat ke hotel sekarang?" Fiona menarik napas, menahan sesak mendengar suara yang sudah pasti miliknya istri kedua dari suaminya itu. Kedua akan menghabiskan malam bersama, dan Fiona tak sanggup membayangkannya. "Kamu tunggu aja di mobil! Saya lagi telepon istri saya dulu." Terdengar suaranya Fahri menyahut ketus. "Aku juga sekarang istrinya kamu loh! Yuk ah, jangan lama-lama ya, Mas?" Tak terdengar sahutan dari Fahri. "Sayang?" "Iya, Mas? Gih sana! Kamu udah ditungguin." "Aku akan hubungin kamu lagi nanti." "Iya." Fiona mengelus perutnya. Andai saja dirinya hamil... Setelah hendak meletakkan ponselnya usai teleponan, Fiona mendapati notifikasi pesan dari mama mertuanya. Mama Mertua Fahri 2 mlm ini sm istri barunya Jangan km ganggu dia dulu ya!! Kamu harus paham posisi suamimu itu, istrinya ga kamu saja skrg. Fiona terkekeh. Segitunya mama mertuanya itu kepadanya? Padahal, dulu beliau begitu baik dan menyayanginya. Suka memujinya dan mereka sering keluar bersama sejak sebelum menikah hingga baru awal-awal menikah. Dua tahun terakhir ini saja mulai berubah sikap mertuanya itu, semakin jauh saja rasanya. Hanya dibaca saja pesan tersebut oleh Fiona, tak berniat membalas. Dia pun meletakkan ponselnya di atas nakas. Fiona sejak sore sudah berada di rumah, tak keluar dari kamarnya. Setelah meletakkan ponselnya, Fiona melangkah menuju lemari. Dia membuka lemari dan meraih dokumen di sela pakaian. Mendengar suara madunya tadi di telepon, perasaan Fiona tiba-tiba tak enak. Dia memang tak pernah bertemu madunya itu, tapi dari suaranya bisa Fiona tebak jika perempuan itu masih muda juga. Mungkin lebih muda darinya? Fiona duduk di pinggir ranjang melihat-lihat lagi dokumen tersebut. Ada sertifikat rumah ini yang sudah dipindah nama atas namanya, surat serah terima—perjanjian bermaterai bahwa rumah ini menjadi hak milik Fiona dan Fahri tak berhak menuntut apa pun jika kemungkinan buruk terjadi. Fiona sudah memikirkan banyak hal ke depannya. Meski masih begitu mencintainya suaminya, dia tetap harus memikirkan hal buruk yang mungkin saja terjadi. "Kenapa harus pakai ini, Sayang? Aku nggak bakalan macam-macam, tetap kamu lah satu-satunya yang aku prioritaskan. Semuanya juga dipegang sama kamu." "Kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan, nggak bisa menebak." "Kita akan tetap selalu bersama. Kamu jangan mikir yang aneh-aneh, ya?" Fiona menghela napas. "Buktinya mau nggak mau kamu harus menuruti permintaan Mama juga, sebelum meminta izin sama aku." "Itu beda, Sayang." "Tanda tangan aja, Mas. Buktiin sama aku nanti, kalau kita akan selalu baik-baik aja." Fahri pun menanda tangani surat tersebut, dan juga Fiona membawanya ke notaris sebelum mereka berangkat ke Bandung waktu itu. Agar ada kekuatan hukum yang jelas, sah. Fiona tinggal menunggu sertifikat baru lagi dari rumah yang belum lama dibelinya dengan uang yang dipindahkan dari rekening Fahri, ditambah dengan tabungannya sendiri. Fiona seperti orang gila harta saja, padahal dia hanya tak ingin diinjak-injak harga dirinya. Mama mertuanya begitu, dan madunya belum bisa ditebak sifatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD