Di sela kesibukannya, Rasyid ada sesekali menyempatkan diri mendatangi tokonya Fiona. Akan tetapi, tak pernah mendapati perempuan itu di sana. Saat weekend pun, dia juga tak mendapati sosok perempuan itu di tempat jogging car free day. Hingga sebulanan, baru minggu lalu dia melihat perempuan itu memasuki mobil orang kepercayaan dari salah satu investornya.
Pacar halal itu, artinya istri?
Rasyid sampai mencari tahu istilah itu untuk memastikan dugaannya, dan jawabannya sesuai. Fiona telah menikah, makanya perempuan itu terlihat menjaga jarak? Waktu dulu saja tak memiliki kekasih, perempuan itu memang begitu juga—menjaga jarak dengan lelaki yang mendekatinya. Apa lagi sekarang, jika benar telah memiliki suami.
Memastikan dugaannya, pada 2 minggu kemudian bertemu lagi dengan Fahri setelah dirinya kembali dari Medan, Rasyid bertanya langsung kepada lelaki itu. Kesibukannya belakangan ini, tak membuat Rasyid melupakan begitu saja hal yang mengusik pikirannya. Ada rasa penasaran yang begitu besar, yang kadang dirinya masih denial—berharap jika Fiona belum menikah.
Kebetulan sekali. Lelaki bernama Fahri tersebut datang lebih awal dari bosnya. Dia langsung dari kantor katanya, beda dengan bosnya yang ada urusan di luar. Rasyid pun memulai obrolan santai dengan lelaki itu.
"Maaf, Mas Fahri ini sudah menikah? Kelihatan masih muda soalnya."
"Ah, bisa aja Pak Rasyid ini. Udah mau 33 tahun begini, muda dari mananya? Sudah, saya sudah menikah sejak 4 tahun lalu."
Empat tahun lalu? Sudah lama juga ternyata.
Rasyid tak mengikuti perkembangan Fiona, karena tak tahu akun media sosial milik perempuan itu. Dia juga minim info tentang perempuan itu karena tak mengenal orang di sekitar perempuan itu. Teman-temannya juga, mungkin sudah lupa juga dengan sosok perempuan itu yang pernah menjadi pusat perhatian pada ospek. Juga Rasyid dan teman-teman seangkatannya sibuk setelah itu. Rasyid pun kala itu tak seharusnya ikut menjadi panitia, sebagai mahasiswa tingkat akhir. Entah kenapa saat itu dia ingin, mumet memikirkan persiapan KKN, magang dan lainnya. Dia mengajukan diri saja iseng, dan juniornya juga tak keberatan.
"Oalah, sudah menikah ternyata." Rasyid terkekeh, hatinya terasa ditusuk-tusuk mendapati kenyataan tersebut. Berarti, benar adanya jika Fiona lah istri dari lelaki itu. Yang dibilang 'pacar halal' dan Fiona kala itu tersenyum begitu akan memasuki mobil. "Kirain masih bujang sama kayak saya."
Fahri tertawa kecil. "Enggak. Udah nemu pujaan hati sejak beberapa tahun lalu, ya udah diajak menikah saja dari pada keduluan yang lain."
"Cantik pastinya istri Pak Fahri ini, ya?"
Fahri mengangguk—mengiyakan ucapan Rasyid. "Kalau bagi saya, paket komplit. Beruntung saya bisa mendapatkan perempuan seperti dia."
"Teman kuliah atau apa?" Rasyid pura-pura tak tahu. Jelas bukan teman kuliah, karena Fiona masih berusia 26 tahun. Sedangkan lelaki di hadapannya ini, sudah 2 tahun.
"Ah, bukan. Waktu itu, saya nolongin dia yang kena musibah, kecelakaan waktu mau berangkat kuliah. Dari situ dekat terus dekat. Orangnya cantik dan adem pembawaannya, ya saya pepet terus. Kami pacaran dan 2 tahun setelahnya menikah."
"Love at the first sight?" Ternyata Fiona menerima lelaki tersebut pada masa kuliahnya. Mungkin berawal dari balas budi? Mengingat Fiona tipe yang susah didekati mau setampan apa pun yang mendekatinya.
"Yap. Lucu kalau diingat-ingat, agak susah juga dapatin dia. Banyak yang suka sama dia soalnya."
"Primadona kampus sepertinya, istrinya Mas Fahri ini."
"Bisa dibilang begitu, makanya saya ketar-ketir juga. Tapi, saya tetap nggak menyerah sampai akhirnya dia mau sama saya. Kami pacaran sejak dia masih kuliah."
"Jodoh itu kadang nggak ketebak, ya?"
"Yap, betul. Pak Rasyid sendiri, gimana? Udah ada calon?"
"Ah, belum."
"Tapi ada banyak yang mau kayaknya sama Pak Rasyid ini. Tinggal pilih aja."
"Enggak juga." Rasyid terkekeh. Dia meraih gelas yang berisi minumannya, lalu meneguknya. "Saya malah dijauhi sama orang yang saya inginkan. Waktu kuliah dulu juga, dia biasa saja sama saya."
"Suka sama seseorang sejak kuliah?"
Rasyid mengangguk saja. Ini baru pertama kali dia blak-blakkan cerita dengan orang yang baru dikenalnya. Seperti buka Rasyid sekali.
"Wah, bisa-bisanya orang seperti Pak Rasyid ini enggak direspon."
"Gimana, ya? Seorang presma zaman itu dan ada anak pejabat yang punya segalanya dan juga keren, ditolak sama dia. Apa lagi saya yang waktu itu kualitasnya di bawah mereka?"
"Bisa aja Pak Rasyid ini merendah. Eh, tapi enggak dicoba lagi di masa sekarang? Siapa tahu dulu dia menolak karena punya alasan tertentu."
Rasyid menggeleng. "Baru ketemu lagi kira-kira 2 bulan lalu, tetap dia sama aja seperti dulu. Tetap menjaga jarak." Rasyid terkekeh miris.
"Pak Rasyid dulu kuliah di mana emangnya? Sebanyak itu perempuan di kampus, kayaknya masih stuck sama satu orang itu aja."
Rasyid tertawa saja. Dulu dia pernah pacaran setahun di awal kuliah dan setelahnya putus, diselingkuhi. Setelahnya, dia tak minat mencari gantinya. Dia sibuk kuliah dan ikut beberapa kegiatan di kampus seperti mapala. Hingga dia melihat Fiona, ada keinginan untuk punya pacar lagi. Dia menginginkan perempuan yang wajahnya adem, dan nada bicaranya yang lembut tapi tidak menyek-menyek itu. Rasyid suka mendengar suaranya Fiona, suka akan ekspresi wajah perempuan itu ketika bersama teman-temannya. Fiona yang tidak suka dengan seseorang, tetapi dia menolak baik-baik. Sifat dan sikapnya perempuan itu, Rasyid tak pernah temukan paket komplit begitu pada perempuan mana pun. Jika sekedar cantik saja, ada banyak bertebaran.
Ada yang terlihat cantik dan lembut begitu juga memang, tapi seperti dibuat-buat. Tak seperti Fiona yang apa adanya.
"Kenapa emangnya? Saya dulu di UJN."
"UJN? Wah sama kayak istri saya dong! Istri saya juga alumni sana."
"Oh, ya?" Rasyid pura-pura terkejut. "Angkatan berapa? Siapa namanya?"
"Lebih muda dari Pak Rasyid, sih. Meski dulu dia dikenal banyak orang, kayaknya Pak Rasyid enggak kenal dia karena beda angkatan. Beda jurusan juga pastinya. Fiona. Nama istrinya saya itu Fiona."
Ada yang patah, tapi tidak ranting. Mendengar lelaki di depannya ini mengatakan secara langsung nama istrinya, semakin nyeri saja rasanya hatinya Rasyid. Padahal, dia sudah berusaha menyiapkan mentalnya untuk mendengar jawaban pasti dari lelaki itu.
Fiona telah menikah. Seseorang yang dia niatkan ingin dikejar dan diceritakan kepada sang mama, ternyata tidak sendiri lagi.
"Pak Rasyid?"
"Ya?" Rasyid mengerjap. "Siapa barusan nama istrinya, Mas?"
"Fiona, Pak."
"Kayaknya saya nggak asing sama nama itu." Rasyid pura-pura tampak sedang berpikir mengingat. "Istrinya Bapak itu jurusan tata boga bukan, kuliahnya dulu?"
"Betul sekali. Pak Rasyid kenal?"
Rasyid tersenyum tipis. "Kenal sepintas doang. Banyak yang omongin dia dulu, jadi saya tahu."
***
08129876xxxx
Mbak, ini Mika
Boleh tlpon sebentar?
Ada yg mau aku bicarain
Fiona pun mengetikkan balasan kepada perempuan itu. Tak lama, ponselnya menampilkan nomor perempuan itu pada layar ponselnya.
“Ya. Mau bicarain apa?”
“Mbak, maaf sebelumnya, aku mau minta tolong, bisa kah Mbak relain Mas Fahri lebih banyak di sini bersama aku? Kan aku sedang hamil, Mbak. Lebih membutuhkan dia dari pada Mbak. Aku sering mual, lemas, sedangkan Mbak kan baik-baik aja.”
Fiona menahan napas sejenak.
“Kenapa kamu bilang ini sama saya? Kenapa nggak bilang langsung sama dia?”
“Mbak katanya nggak mau sering ditinggal sendiri.”
Makanya, ini aku telepon untuk minta pengertiannya Mbak Fiona.”
Mana ada pernah Fiona bilang begitu? Dia pun yakin, Fahri tak akan bilang begitu juga. Ini pasti karangan perempuan itu saja. Fiona mengenal betul bagaimana suaminya itu.
“Saya enggak pernah bilang begitu, ya. Dan Mas Fahri juga, nggak percaya saya jika dia bilang begitu sama kamu. Saya tahu banget bagaimana dia.”
“Aku enggak ada bohong, Mbak. Dia sendiri yang bilang begitu.”
“Hmmm. Kamu bermaksud adu domba saya dengan dia?”
“Nggak ada begitu. Aku hanya ingin meminta pengertian Mbak karena Mas Fahri sendiri yang bilang begitu.”
“Kamu bohong.”
“Terserah Mbak mau percaya atau enggak. Sekarang, aku minta tolong, Mbaknya mengerti dengan kondisi aku yang lagi hamil. Oh ya, lupa, maaf, Mbak kan belum pernah hamil. Jadi, kayaknya enggak paham apa yang dirasakan orang hamil, yang selalu ingin di dekat suaminya.”
Fiona sakit hati mendengarnya.
“Meski saya belum pernah hamil, tapi saya paham gimana kondisi ibu hamil itu. Asal kamu tahu, awal-awal tahu kamu hamil itu justru saya yang meminta Fahri ke sana. Dia tetap ingin bersama saya di sini, tapi saya tetap suruh ke sana menemui kamu. Jadi, kalau apa-apa, kamu protesnya sama Mas Fahri sendiri, bukan sama saya.”
“Kalau begitu, tolong lah Mbak bilangin. Atau, apa aku tinggal di sana aja biar Mas Fahrinya nggak repot ke sana-sini? Aku juga bisa minta bantuannya Mbak kalau Mas Fahri lagi nggak ada di rumah.”
“Ngomong seenaknya aja, kamu pikir kamu siapa? Kamu itu cuma istri yang mau dinikahi karena mamanya Mas Fahri kebelet pengen segera nimang cucu, enggak sabaran menunggu.” Jangan kira Fiona akan diam saja menghadapi orang yang suka bicara seenaknya begitu, merendahkannya secara tak langsung.
“Setidaknya saya bisa kasih keturunan buat Mas Fahri, bukan kayak Mbak yang mandul. Upps.”
“Saya enggak mandul, ya. Jangan sembarangan menuduh kamu!”
“Terus, apa dong namanya?” Mika terkekeh. “Mending mundur aja nggak sih, Mbak? Mama Amara udah kelihatan banget nggak suka kamu. Dan Mas Fahri? Nanti juga lama-lama cinta sama aku. Emm… mau aku kasih tahu sesuatu nggak, Mbak? Katanya, aku lebih enak dari pada Mbak Fiona. Ngerti maksudnya aku, ‘kan? Dia sampai nagih kalau ‘main’ sama aku loh! Minta lagi dan lagi. Bilang gini, “kamu enak banget, Mika!”
Fiona menggeleng. Tak mungkin Fahri seperti itu. Fahri meniduri Mika sebagai kewajiban, dan tuntutan dari mamanya.
“Mungkin aku lebih hot dari pada Mbak Fiona, makanya dia bilang begitu.” Tawa ledekan Mika terdengar kencang. “See? Aku nggak lama langsung hamil. Itu karena kita sering mainnya dan Mas Fahri itu betah lama-lama di dalam aku sangking enaknya aku. Gitu juga nggak sama Mbak Fiona?”