Hamil

1923 Words
Mika hamil. Berita kehamilan dari istri kedua suaminya itu tentu membuat Fiona sedih. Fiona tersenyum getir sembari menyentuh perutnya dari balik baju, bohong kalau dia tidak merasa iri. Baru sebulan menikah, istri kedua dari suaminya langsung hamil. Malam pertama dengan suaminya langsung berhasil? Sedangkan dengannya, sudah 4 tahun menikah, dirinya tidak kunjung hamil. Seminggu yang lalu, Fiona bahkan sempat periksa lagi ke rumah sakit lain untuk memastikan kesehatannya, tetapi tak ada masalah. Fiona hanya bisa pasrah belum dipercaya dititipkan anak pada rahimnya. Tak mungkin dia marah kepada Sang Pencipta, bukan? Fiona percaya, rencanaNya pasti akan lebih indah. Lalu, bagaimana reaksi Fahri saat mengetahui Mika hamil? Menurut pandangan Fiona, suaminya itu terlihat biasa saja. Tak menunjukkan ekspresi senang atau sumringah. Lelaki itu malah tampak berusaha menghibur Fiona yang sedih. Bahkan, bukan Fahri yang memberitahu Fiona bahwa Mika hamil, akan tetapi mertuanya Fiona. Mertuanya yang mengirimkan pesan kepada Fiona, memberitahu bahwa Mika hamil. Mertuanya itu seolah menunjukkan jika Mika saja bisa langsung hamil, tetapi tidak dengan Fiona yang sudah lama menikah. Fiona tentu saja sesak mendengarnya. Namun, Fahri seolah paham dan tak beranjak dari sisinya. Fahri bahkan masih seperti biasanya, lebih ingin banyak menghabiskan waktu bersama Fiona. Meski istri keduanya itu hamil Fahri tak lantas berada di sana. Mika yang sekarang tinggal di sebuah rumah sewa dengan biaya sewa per bulan, letaknya tak jauh dari rumah mertuanya Fiona. Fahri yang hanya sanggup membayar sewa rumah per bulan, bukan tipe rumah yang diberitahu oleh mamanya. Fahri ada uang tambahan dari proyek baru bosnya di luar kantor, itu yang dia pergunakan untuk biaya sewa rumah. Sedangkan, gajinya benar-benar diatur oleh Fiona dan Fahri tak bisa berkutik karena telah berjanji sebelum dia resmi menikahi Mika. "Jangan sedih lagi, Sayang." Fahri tahu Fiona merasa kecil dibandingkan Mika perihal tak kunjung hamil. "Gimana nggak sedih, Mas?" Fiona tak berniat mengadu domba ibu dan anak, akan tetapi kata-kata dari mama mertuanya itu begitu menusuk. "Aku juga pengen hamil. Cuma kalau belum dikasih, mau gimana lagi? Kenapa Mama setega itu?" Fiona hanya tengah meluapkan kekesalannya, sungguh tidak berniat mengadu domba. "Maafin Mama, ya!" Fahri juga sebenarnya marah pada mamanya, tak terima istrinya disudutkan. "Nanti aku aku bicara sama Mama, agar nggak ngomong sembarangan lagi sama kamu." "Nggak usah diomongin lagi. Nanti Mama malah semakin marah sama aku, ngira aku mengadu sama kamu." Fahri mengusap-usap rambut istrinya tersebut. "Kamu istirahat, jangan nangis lagi. Kamu mau minum air putih nggak? Sebentar, aku ambil dulu." Saat Fahri baru saja melangkah keluar, ada telepon masuk dari mama lelaki itu. Telepon ke nomornya Fiona, bukan Fahri. Fiona mengangkat telepon tersebut, tetap berusaha sopan kepada mama mertuanya itu. "Hal— " "Kamu pasti nahan-nahan Fahri biar nggak nemuin Mika, ya??!" semprot mertuanya dari seberang sana. "Enggak ada aku melarang, Ma." Fiona tetap lembut berbicara dengan mama mertuanya itu. "Mas Fahri enggak ada bilang mau ke sana. Dia enggak bilang apa pun sama aku." "Halahh!! Jangan bohong kamu!" "Buat apa gunanya aku bohong?" Tak ada Fiona bernada tinggi menyahut ucapan mama mertuanya, meski hatinya sesak. "Karena kamu iri!! Enggak ingin perhatiannya Fahri lebih banyak kepada Mika, apa lagi Mika sedang mengandung darah dagingnya." Fiona sampai istighfar. Jahat sekali mulut mama mertuanya. Manusiawi sebenarnya punya rasa iri kepada seorang madu yang langsung hamil tak lama setelah menikah, tetapi Fiona sungguh tak ada menghalangi waktunya Fahri untuk mengunjungi madunya tersebut. "Buruan suruh Fahri ke rumahnya dan Mika sekarang juga!! Istri lagi hamil juga, bisa-bisanya dia nggak ke sini karena pengaruh kamu." Fiona mengelus-elus dadaa akan tuduhan yang dilontarkan mama mertuanya. "Aku akan suruh Mas Fahri ke sana segera." "Awas aja kalau dia nggak datang ke sini! Saya akan minta Fahri agar Mika tinggal di sana aja bersama kalian, biar Mika yang sedang hamil ini bisa mendapatkan perhatian dari suaminya sendiri." Fiona menghela napas. "Maaf, Ma. Aku harus tegasin lagi, kalau cuma aku yang berhak di rumah ini dan Mas Fahri sekali pun enggak bisa sembarangan memasukkan orang ke rumah ini tanpa persetujuan aku." Fiona sudah membahas ini dengan matang, sebelum dengan Fahri sebelum lelaki itu menikah lagi. Fahri juga tak punya kendali apa pun, karena dia sendiri yang menyetujui tanpa berpikir panjang. Jadi, Fiona tak akan menyetujui permintaan mama mertuanya itu. Demi mentalnya juga, tak rela berada di bawa atap yang sama dengan madunya itu. Belum begitu mengenal persis madunya yang berusia lebih muda itu, tetapi sekilas menurut penilaian Fiona, perempuan itu tipe orang yang suka mencari perhatian. Terlihat waktu pertemuan pertama mereka di sini kala itu. Bagaimana perempuan itu yang terlihat mengambil hati mertuanya, dan juga mencari perhatian kepada Fahri. Sambungan telepon dimatikan begitu saja oleh mama mertuanya Fiona di seberang sama, bersamaan dengan Fahri yang telah kembali ke kamar dengan membawa gelas dan botol air mineral. "Habis telepon siapa?" tanya Fahri sambil meletakkan gelas di atas meja, lalu menuangkan air putih dari dalam botol." "Mama kamu." "Bilang apa Mama?" Fahri menyerahkan gelas yang telah terisi air putih kepada Fiona. Fiona menggeleng. "Mama cuma tanyain Mas Fahri aja. Mas, kenapa nggak ke sana hari ini? Dia hamil, seharunya kamu ada di sana menyambut kehamilannya. Dia butuh kamu juga. Udah periksa ke rumah sakit belum?" "Weekend ini, aku mau di sini aja sama kamu. Enggak mau ke mana-mana." "Gimana pun, dia juga kan istrinya kamu, Mas. Enggak apa-apa kalau kamu mau ke sana." "Tapi, besok pagi, aku udah janji bakalan nemenin kamu ikut bazar. Dan sore nanti juga, ke toko kue buat persiapan besok." "Enggak apa-apa, aku sendiri aja ke toko kuenya. Kan ada karyawanku di sana juga. Besok juga, ada Anin juga yang bantu." "Aku kan udah janji, Sayang... " "Iya, aku ngerti. Tapi, aku enggak mau nanti Mama sampai berpikiran yang macam-macam sama aku kalau kamu sama aku terus di sini." Fahri mengusap wajahnya kasar. Weekend ini sudah janji meluangkan waktu menemani istrinya berjualan di bazar, tetapi Mika yang baru diketahui hamil itu tak bisa juga diabaikan. Bukan karena Fahri mencintai Mika, tetapi mamanya yang selalu ikut campur persoalan rumah tangganya sungguh membuat Fahri pusing. Mama jika marah, bisa ke mana-mana pembasahannya. *** Urusan kantor, telah diambil alih oleh Rasyid sepenuhnya karena sang papa harus bedrest total. Usaha sang papa yang bergerak di bidang properti dan resort itu, tentu tidak hanya berkembang karena usaha sendiri saja. Harus ada kerja sama dengan berbagai pihak seperti bagian kontruksi, orang-orang yang ahli dam bidang tertentu yang berhubungan dengan itu dan juga investor juga. Rasyid adalah pewaris tunggal yang harus melanjutkan apa yang telah lama dibangun oleh papanya. Rasyid bukan lah anak tunggal, akan tetapi keluarganya memberi amanat penuh kepadanya dibandingkan adik perempuannya. Karena akan menghadapi berbagai macam tantangan tentunya, yang dikhawatirkan adiknya tak cukup mampu. Selain itu, adiknya Rasyid juga lebih tertarik terjun ke dunia politik. Adik perempuannya yang berusia 25 tahun itu, sejak kuliah sudah menjadi aktivis dan suka ikut demontrasi juga. Setelah lulus, adiknya lanjut S-2 di Indonesia saja dan tertarik untuk terjun ke dunia politik. Adiknya Rasyid tersebut telah bergabung dengan satu partai politik. Sebulanan ini, Rasyid begitu sibuk. Dia harus menemui beberapa orang—menjalin komunikasi dengan beberapa orang setelah sebelumnya dia bertemu bersama papanya juga. Sungguh Rasyid tak tega jika papanya masih harus ikut bertemu orang-orang membahas pekerjaan. Papanya sakit gagal jantung, yang sangat mudah lelah. Kakinya pun mulai mengalami pembengkakan. Hari ini, kali ketiga Rasyid bertemu dengan seorang salah satu investor untuk pembangunan resort di Bintan. Rasyid datang bersama seorang manajer kontruksi, beda dengan orang tersebut yang biasanya datang bersama orang kepercayaannya yang bernama Fahri. Mereka akan membahas lanjutan meeting sebelumnya tentang site plan, yang juga Fahri bahas bersama investor lainnya. Satu-satu dulu Fahri temui dan rampungkan prosesnya perlahan. Tentunya proses ini tak sebentar, membutuhkan waktu sebelum mulai pembangunan fisik. Pak Arif, manajer kontruksi yang dipercaya Rasyid, saat ini sedang menjelaskan tentang site plan. "Itu pembagian lahannya seperti apa, Pak Arif?" tanya Pak Pram yang merupakan atasannya Fahri, yang posisinya sebagai investor di proyeknya Rasyid tersebut. "Dengan total luas lahan 2 hektare itu, akan ada empat pembagian nantinya, Pak. Rinciannya, ada bangunan utama—penginapan, area parkiran, tempat bersantai kayak kolam renang yang nantinya di dekat saya kita buat playground anak juga. Yang terakhir, itu bagian resto indoor dan outdoor serta ada panggung kecil semisal untuk acara live music di kala weekend atau high season." Mereka berbicara mengenai rencana pembangunan resort kecil di daerah Sumatera Utara. Rasyid tentu punya kuasa penuh atas proyek yang cukup menjanjikan ini. Selain usaha properti yang terus berjalan meski agak susah penjualannya, tetapi tetap untungnya besar. Rasyid bisa dikatakan old money, sudah kaya dari dulunya. Pak Pram tampak manggut-manggut paham, dan apa yang mereka bahas tersebut dicatat oleh Fahri. Lelaki itu mendapatkan uang sampingan ikut-ikut dengan bosnya tersebut. "Drainase dan akes alat berat gimana? Aman?" Pak Pram kembali mengajukan pertanyaan. Sebagai seorang investor, dia harus memperhitungkan banyak hal. Karena tentunya tak ingin investasi yang hasilnya sia-sia nantinya. "Sudah kamu perhitungkan, Pak. Kami sudah siapkan jalur khusus alat berat, dan sistem drainase mengikuti kontur alami lahan untuk meminimalkan pekerjaan cut and fill.” "Apa ini sesuai dengan estimasi biaya awal?" tanya Pak Pram menatap ke arah Rasyid. Rasyid mengangguk. "Yap. Kami sudah menekan biaya kontruksi dengan semaksimal mungkin, dengan bahan yang tetap berkualitas." Ada sekitar hampir 3 jam mereka membahas tentang site plan tersebut. Hingga Pak Pram pamit pulang duluan dan manajer kontruksi yang tadi datang bersama Rasyid juga. Sedangkan Rasyid masih tetap duduk di sana, menunggu sang mama yang sedang bertemu teman arisannya. Rasyid akan menjemput mamanya setelah ini. Tadi juga dia mengantar mamanya itu ke tempat pertemuan dengan teman-teman arisannya. Sudah tak muda lagi, mamanya Rasyid masih aktif bersosialisasi. Tak hanya Rasyid, Fahri tak beranjak dari sana juga. Dia menunggu Fiona yang sedang bertemu dengan para sepupunya di resto yang berada di seberang jalan sana. Fiona tak membawa mobil tadi, dan Fahri janji akan menjemput. Rasyid dan Fahri, kedua orang itu berbicara santai. "Cuma S-2 aja di luar negeri, S-1 di sini." Fahri tetap saja kagum dengan Rasyid. Masih berusia 29 tahun, tetapi lelaki itu telah memegang usaha properti dan proyek resort yang menurut Fahri sangat luar biasa. Apa yang lelaki itu kenakan sekarang, bermerek semua yang harganya jutaan. "Maaf, Pak Rasyid udah menikah?" Tetap, Fahri memanggilnya lelaki itu dengan sebutan 'Bapak' sebagai rasa hormat kepada rekan bisnis bosnya itu. Yang memegang proyek tersebut, berkuasa penuh di sana. Rasyid menggeleng. "Belum." Ingin sekali rasanya Fahri jodohkan dengan adiknya, walau sang adik telah memiliki kekasih. Akan lebih baik bersama lelaki yang mapan dan tampan begini, masa depan terjamin. "Tapi, pasti udah punya pacar pastinya. Ah, orang seperti Pak Rasyid, pastinya memiliki pasangan yang luar biasa." Rasyid terkekeh. Sayangnya, dia telah bertahun-tahun sendiri. Saat Fahri akan berbicara lagi—ingin tahu banyak tentang Rasyid, ponselnya berbunyi. Ada telepon masuk dari Fiona dan dia segera mengangkatnya. "Hallo, Sayang?" "Mas, aku udah selesai." "Oke. Kamu enggak usah nyebrang, biar aku yang samperin. Putar balik dulu." Fahri pun meraih ranselnya, setelah berbicara dengan Fiona di telepon. "Saya duluan, Pak." "Ya... silahkan." Tinggal lah Rasyid sendirian di dalam sana. Tak lama, dia pun mendapatkan kabar dari mamanya yang mengabari akan selesai sebentar lagi dan meminta Fahri untuk menjemputnya sekarang. Rasyid pun keluar dari resto. Namun, saat akan memasuki mobil, dirinya menangkap sosok yang dikenalnya menghampiri sebuah mobil di depan resto seberang jalan sana. Mobil yang tadi parkir di sebelah mobilnya Rasyid, dan Rasyid tahu siapa pemiliknya karena bukan kali pertama mereka bertemu. Berarti, Fiona yang dibilang oleh Fahri tadi? "Saya lagi nunggu pacar halal saya. Dia lagi di resto seberang sana." Ternginang oleh Rasyid, ucapannya Fahri tadi yang menyebutkan alasan kenapa tak kunjung pulang. "Pacar halal?" Rasyid mengernyit. Mereka pacaran? Sudah tunangan? Atau jangan-jangan... sudah menikah?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD