"Aku minta maaf banget, Mas. Aku pikir kamu udah sisihin sebelumnya, uang buat sewa rumah." Fiona menunjukkan raut wajah bersalah dengan muka memelas sembari meraih kedua tangan suaminya itu. Baru kali ini dia akting di hadapan suaminya, ingat perkara dihampiri oleh mama mertuanya kala itu. Dan posisinya sebagai istri pertama yang sepertinya terancam, meski sang suami mencintainya.
Helaan napas Fahri terdengar. "Semuanya, Dek?" tanyanya pelan.
Fiona mengangguk. "Aku salah ya, Mas? Mas marah sama aku?"
"Enggak ada sama sekali sisanya?"
"Cuma 2 jutaan aja paling, Mas. Karena aku pikr, kamu kan gajian sebentar lagi." Lusa, Fahri gajian. "Tapi, Mas, enggak mungkin juga bisa pakai itu. Akan gimana biaya hidup kita per bulannya? Buat di toko, aku enggak bisa ganggu karena harus beli bahan-bahan untuk muter. Bukan uang yang enggak terpakai."
Fahri menghela napas. "Ya udah, enggak apa-apa. Nanti aku cari solusinya."
"Mas, tapi aku enggak mau maduku itu tinggal di sini bareng aku. Aku enggak sekuat itu."
"Iya... iya, aku paham." Fahri memeluk istrinya itu, mengusap-usap punggungnya. "Aku nggak akan membawa dia ke sini."
"T-tapi... Mama marah banget sama aku kayaknya."
"Kamu enggak usah pikirin itu, ya? Aku yang akan hadapin Mama." Fahri memang sering pasang badan setiap kali mamanya berkata buruk tentang Fiona.
"Andai aja aku hamil... " Napasnya Fiona tercekat. Dia melepaskan diri dari pelukan Fahri sambil menundukm—menatap ke arah perutnya yang rata. "Mas enggak perlu menikah lagi."
"Sayang... "
"Enggak mudah bagi aku untuk ikhlasin suami yang aku cintai bersama orang lain." Fiona menekan-nekan dadanya, mulai terisak. "Sakit banget rasanya, bayangin kamu bersama perempuan lain."
Fahri kembali memeluk istrinya itu. DIa memejamkan mata, tampak gurat emosi di sana. Andai mamanya tidak terus-terusan menekan sampai jatuh sakit, rumah tangganya dengan Fiona tak perlu ada orang ketiga. Dia tak akan bertemu Mika, yang membuatnya khilaf awalnya hingga kecanduan. Mengkhianati sang istri, sebelum adanya pernikahan dengan perempuan itu.
"Aku hanya selalu mencintai kamu, Dek. Sampai kapan, hanya kamu satu-satunya yang ada di hatinya aku. Enggak akan pernah terganti dengan siapa pun." Fahri itu sebenarnya tipe lelaki yang setia, tak mudah jatuh cinta. Tak ada pernah terpikir olehnya sebelum ini, jika akan memiliki dua istri.
Lalu, Fahri menghapus air mata istri dengan jemari tangannya. "Jangan nangis lagi, ya."
Fiona menggeleng. Hidupnya cukup sempurna selama ini. Memiliki suami yang baik, pengertian dan sangat menyayanginya, tak kurang apa pun sebenarnya. Mereka berdua juga tak mempermasalahkan perihal anak. Mama mertuanya Fiona pada awalnya juga baik. Namun, 2 tahun usia pernikahan Fahri dan Fiona, mama mertuanya itu mulai berisik. Jarang menunjukkan muka ramah pada Fiona. Bawel mengingatkan Fiona agar terus berusaha untuk hamil seperti meminta pijit di tempat alternatif dan sejenisnya.
Fiona sakit hati? Tentu saja. Akan tetapi, Fahri selalu di sisinya. Fahri selalu menguatkannya. Fiona merasa semua kan baik-baik saja karena Fahri selalu ada untuknya. Lelaki itu yang
"Aku akan sering bersama kamu di sini. Kamu akan selalu menjadi prioritasnya aku."
Fiona ingin percaya ucapan suaminya itu, tapi mama mertuanya tidak bisa dipercaya. Waktu itu saja menekannya, meminta agar istri keduanya Fahri tinggal di rumah ini juga. Tak cukup anaknya disuruh menikah lagi, tetapi secara tak langsung menyerang mentalnya Fiona.
Dan pada lusa hari, apa yang Fiona pikirkan pun terjadi. Pagi-pagi baru saja Fahri berangkat kerja dan Fiona bersiap berangkat menuju tokonya, mama mertuanya datang. Tidak sendiri. Beliau datang bersama istri keduanya Fahri. Madunya Fiona itu menatap Fiona dari kepala hingga ke ujung kaki. Dia baru tahu jika perempuan itu memiliki mobil sendiri, bukan mobil yang dikendarai Fahri biasanya.
"Ada apa, Ma? Mau masuk dulu?" tanya Fiona sembari menekan remot ke arah mobilnya. Menunda sejenak memasuki mobilnya. Bagaimana pun, Fiona masih berusaha menghargai mertuanya itu dengan masih berkata lembut.
"Saya mau bicara penting sama kamu."
Fiona menarik napas. Dia pun membuka pintu rumahnya kembali, mempersilahkan kedua orang itu masuk.
"Mama mau minum apa?"
"Enggak usah. Nanti saya bisa ambil sendiri."
Fiona lalu beralih pada madunya itu. Fiona juga diam-diam menilai madunya. Tak cantik, akan tetapi bertubuh semok dan kulitnya kuning langsat.
"Kamu mau minum apa?" tanya Fiona pada madunya itu.
"Nanti aja, Mbak."
"Langsung pada intinya aja." Mamanya Fahri berbicara kembali. "Saya enggak mau basa-basi ngomong sama kamu."
"Iya, Ma. Silahkan." Fiona tetap sopan.
"Fahri nggak kasih istri keduanya rumak sewa yang selayaknya, malah cari yang biasa aja yang bulanan. Kamu pasti doktrin anak saya itu, 'kan? Larang dia untuk sewa rumah tahunan yang bagus? Mika harus tinggal di sini, kalau Fahri nggak bisa mendapatkan rumah yang bagus jug untuk dia."
Fiona menggeleng. "Itu keputusan Mas Fahri sendiri. Mungkin Mas Fahri yang sanggupnya sewa rumah yang bulanan biasa aja."
"Kamu bohong!! Pasti kamu yang hasut suamimu itu, 'kan? Fiona, kamu seharusnya paham agama kalau seorang suami itu wajib bersikap adil jika memiliki istri yang lainnya."
"Maaf aku lancang menjawab, Ma. Harusnya Mama juga tahu kalau hamil itu kuasa Tuhan, enggak memaksa anak sendiri untuk menikah lagi karena kondisi istrinya normal tanpa ada kendala medis. Aku dan Mas Fahri sama-sama sehat. Kalau Mama engga menekan Mas Fahri terus-terusan, dia enggak pusing mikirin dua istri sekaligus. Untuk anak, aku yakin jika kami akan sabar menunggu."
"Fiona!!"
"Banyak yang menikah lebih dari 4 tahun belum punya anak, tapi enggak ada orang tuanya ikut campur."
Mukanya Amara memerah emosi mendengar ucapan dari menantu pertamanya itu.
"Kamu enggak seharusnya ngomong kayak begitu sama Mama, Mbak." Mika menyela.
"Diam kamu!!" Fiona memang dikenal lemah lembut, namun bukan berarti tak bisa marah. Namun, dia tak ada membentak mama mertunya itu. Hanya kepada madunya yang tiba-tiba menyala, Fiona tak terima.
"Kamu benar-benar berubah, Fiona." Mama mertuanya geleng-geleng kepala. "Kamu seolah ingin membuat saya dan anak saya berjarak. Gara-gara kamu, Fahri sering menentang saya."
"Aku atau Mama yang berubah?" tanya Fiona pelan. "Bahkan sampai saat ini, aku masih sangat menghargai Mama. Tetap berkata sopan meski Mama udah menekan aku berkali-kali."
Mama mertuanya itu tetap saja menyolot. Dia tak terima Fiona menjawab ucapannya begitu.
"Aku udah mau berangkat ke toko," ujar Fiona tak mau lama-lama berdebat. Energinya terkuras meladeni mama mertuanya tersebut.
"Sana, berangkat aja! Saya masih mau di sini bersama Mika."
Fiona menggeleng, tak ingin meninggalkan kedua orang itu berdua di sini. "Enggak bisa, Ma. Aku bakalan lama di toko."
"Emangnya kenapa? Saya di sini juga di rumah anak saya sendiri, yang dia beli dari hasil keringatnya. Kamu mau ngusir saya dari rumah anaknya saya sendiri?"
"Ma, bukan begi— "
Ucapan Fiona terhenti karena Fahri tiba-tiba muncul. "Ada apa ini? Mama dan Mika ngapain ada di sini pagi-pagi?"
"Mama cuma mau ajak Mika melihat rumahnya kamu, apa itu salah? Kenapa kamu sekarang seperti anak durhaka yang terus menentang Mama, Fahri? Istrinya kamu ini juga, barusan dia ngusir Mama dari rumah anaknya sendiri."
Matanya Fiona membola. "Enggak ada aku ngusir Mama, Mas."
"Tanya sama Mika kalau enggak percaya. Fiona bilang mau berangkat kerja dan enggak ingin mama ada di sini, ketika mama bilang belum mau pulang. Dia itu udah berubah sekarang, Fahri. Seperti bukan Fiona yang mama kenal lagi."
"Mas, kamu percaya sama aku, 'kan?" Fiona memasang raut wajah memelas.
Fahri tersenyum. "Iya. Aku percaya sama kamu."
Jawaban Fahri membuat mamanya meradang.
"Ma, tolong kalau mau ke sini kasih tahu aku dulu. Kalau ada perlu apa-apa, bilang aku. Tolong jangan jangan cari masalah sama Fiona. Dia bukannya enggak mau mama tinggal di sini, biasanya juga nawarin Mama untuk menginap. Tapi, sekarang kan kondisinya berbeda." Fahri melirik Mika yang tampak diam saja. "Tolong jangan buat istriku enggak nyaman di rumahnya sendiri."
Mendengar ucapan Fahri, bukan hanya mamanya yang kesal, akan tetapi Mika juga Terlihat sekali jika lelaki itu mencintai istri pertamanya.
***
Dua minggu kemudian...
"Gimana kalau Mbak Fiona tahu kalau kita udah selingkuh duluan sebelum menikah, ya?"
Rahang Fahri mengeras mendengar ucapan Mika di telepon sana. "Awas kalau kamu berani kasih tahu dia! Saya akan bikin perhitungan sama kamu."
"Takut!" Mika tertawa meledek. "Aku juga pengen lah, hidup enak kayak Mbak Fiona. Pengen pakai pakaian bagus, pengen punya mobil juga dan tempat tinggal yang bagus."
"Kamu enggak pantas!" decih Fahri. "Kamu harusnya bersyukur bisa dinikahi oleh saya. Jangan macam-macam, Mika! Saya nggak segan habisin kamu, kalau sampai Fiona tahu hubungan kita sebelum menikah dan meninggalkan saya."
"Rumah, Mas. Setidaknya kasih aku rumah yang bagus yang nggak jauh berbeda dari rumah kalian sekarang, kalau aku diam."
Fahri terkekeh sinis. "Kamu mau kasih tahu Fiona dengan apa emangnya? Omongan di mulut doang? Fiona enggak bakalan percaya. Dia tahu, saya sangat mencintainya. Nggak akan berkhianat."
"Bukti chat minta jatah? Foto-foto di hotel ada keterangan waktu dan tanggalnya loh!"
"Sialan Mika!! Kamu jangan main-main dengan saya!" Fahri pun mematikan sambungan teleponnya sepihak.
Memasuki ruangan resto kembali, Fahri mendapati bosnya tengah mengobrol dengan seseorang. Fahri memang sedang ada di luar kantor, makan siang dengan bosnya setelah mengunjungi pabrik. Bosnya minta ditemani bertemu rekan bisnis, dan Fahri izin keluar resto sebentar untuk menerima telepon dari Mika karena penting kata perempuan itu.
"Kenalin, ini Fahri, orang kepercayaan saya," ujar bosnya itu memperkenalkan Fahri kepada rekan bisnisnya. Ini di luar urusan pekerjaan kantor kata bosnya tadi, melainkan obrolan santai tentang bisnisnya yang lain.
Fahri mengulurkan tangan kepada lelaki di depannya itu. Seorang lelaki tampan dengan polo shirt hitam yang terlihat elegant, dipadu dengan celana chinos. Lelaki itu terlihat masih muda, mungkin lebih muda darinya.
"Saya Rasyid." Lelaki itu menyambut uluran tangan Fahri.