Sewa Rumah

1740 Words
Rasyid memang hobi olahraga, sepedaan, jogging atau pun nge'gym. Makanya, lelaki itu jarang sakit dengan rajin berolahraga dan juga pola makan yang sehat meski tinggal sendirian di luar negeri. Lelaki yang memiliki tinggi 185 cm juga memiliki postur tubuh bagus bak atletis. Pada usianya yang semakin matang, 29 tahun, pesona lelaki itu begitu kuat terpancar. Pagi ini, Rasyid jogging pada car free day seperti minggu sebelumnya. Selain karena ingin olahraga, dia berharap bisa bertemu dengan Fiona lagi. Meski sikapnya Fiona terkesan menjaga jarak, tetap Rasyid ingin mendekati perempuan hati. Dalam dirinya terus mendorong untuk maju. Rasyid yakin perasaannya untuk perempuan itu masih sama seperti dulu, walau sudah lama tak bertemu. Fiona versi dewasa, malah pesonanya lebih memikat. Setelah jogging sekian kilometer, Rasyid tak mendapati sosok Fiona. Dia pun berhenti sejenak ketika melihat penjual air mineral. Rasyid membeli minuman tersebut dan langsung meneguknya. Lama lagi jika dia kembali ke parkiran mobil untuk mengambil minumannya di tumbler yang tak dibawanya turun dari mobil. Baru saja menoleh ke arah lain setelah meneguk minumannya, matanya Rasyid langsung berbinar begitu melihat sosok yang dicarinya. Fiona juga jogging lagi ternyata. Perempuan itu juga melihat ke arahnya dan membalas senyumannya. Rasyid pun memutuskan untuk menghampiri perempuan itu yang dilihatnya tak sendiri. Rasyid seolah tak bisa melewatkan momen bertemu Fiona dengan berdiam diri saja. Rasyid menyapa perempuan itu. "Kamu jogging setiap minggu di sini?" Rasyid baru dua kali jogging di area sini. "Enggak juga, kadang aja." "Tapi, setiap minggu pasti jogging?" Rasyid menatap lurus hanya pada Fiona saja, seolah hanya mereka berdua di sana. Padahal, ada perempuan lain duduk di sebelah Fiona. Auranya Fiona begitu kuat, tak bisa membuat beralih dari wajah perempuan itu. "Iya. Cuma sesekali sepedaan." "Suka sepedaan juga kamu? Ikut komunitas begitu?" "Enggak." Fiona menyahut singkat. "Sesekali, sepedaan bareng yuk! Saya sejak balik ke sini setelah sekian tahun, belum ada lagi ketemu teman mau ajak olahraga." Anin menatap kedua orang itu bergantian. Fiona yang tampak seperti biasa menanggapi lelaki mana pun. Akan tetapi, lelaki yang dia puji tampan tersebut sepertinya tertarik kepada Fiona. Apa dia tidak tahu jika Fiona telah memiliki suami? Fiona membuka mulutnya akan bersuara, akan tetapi tak jadi karena ponselnya berdering. Ada telepon masuk dari mamanya. Fiona pun langsung mengangkat telepon tersebut. "Ada apa, Ma?" "Enggak ada, Mama cuma pengen telepon aja. Kamu sehat?" "Sehat. Kirain ada apa Mama telepon pagi-pagi." "Tiba-tiba aja Mama ingat kamu. Lagi apa kamu? Mama ganggu?" "Enggak, kok. Ini aku jogging sama Anin, lagi istirahat sebentar sekarang." "Ooh. Fahri sehat? Salam sama suami kamu, ya." Mamanya menyayangi Fahri, Fiona tahu itu.Suaminya itu memang baik dan memiliki nilai plus di mata keluarganya. Di mata Fiona juga sebenarnya, akan tetapi sosok yang melahirkan lelaki itu masih sangat mendominasi sang anak. "Sehat. Iya, Ma, nanti aku salamin." "Ya udah. Mama cuma mau tahu kabar kamu aja, gih sana lanjut jogging-nya." Selesai menyudahi teleponnya, giliran Anin di sebelahnya yang mengangkat telepon. "Fi, sorry, gue kayaknya enggak bisa nganter lo pulang deh! Gue harus ke rumahnya nyokpa sekarang, ada urusan penting," ujar Anin usai menerima telepon. Fiona memang tadi dijemput oleh Anin, karenan Fiona sedang malas mengendarai mobilnya. "Iya, santai aja." Anin pun berdiri dan bergegas pergi dari sana. Tinggal lah Fiona, dengan Rasyid yang masih berdiri di dekatnya. "Mau saya antarkan pulang, Fi? Rumah kau di mana?" "Enggak usah repot-repot, Mas. Aku naik ojek aja." "Enggak ngerepotin, kok. Kalau nunggu ojek, kayaknya bakalan lama. Susah, minggu lalu saya naik ojek dan nunggu 1 jam lebih." Fiona tersenyum tipis. "Enggak apa-apa. Aku tunggu aja." Dan pada akhirnya Rasyid ikut menunggu hingga Fiona mendapatkan ojek. *** "Ngapain ke rumahnya Mama, Mas? Mama nyuruh ke rumah?" tanya Mika saat Fahri menghentikan mobilnya di depan rumah yang dia kenali. "Turun!" titah Fahri dingin. Meski sudah berkali-kali berhubungan badan dengan Mika, tetap saja lelaki sikap dinginnya tak berubah kepada perempuan selain Fiona. Mika menurut saja karena dipikirnya sang mama mertua meminta mampir ke sini sejenak, sebelum pulang ke rumahnya Fahri. Mika mengira jika setelah dari hotel, akan tinggal bersama di rumahnya Fahri bersama istri pertama lelaki itu. Tak masalah baginya, dia akan berusaha merebut perhatian Fahri. Dia akan menguasai rumah tersebut. Meski belum pernah ke sana, tapi dia yakin pasti jauh lebih bagus dari pada rumah orang tuanya. "Ngapain keluarin koper aku juga?" tanya Mika heran melihat Fahri yang membuka bagasi mobil dan mengeluarkan kopernya. "Kamu akan tinggal di sini sementara, sebelum saya mendapatkan kontrakan." "Apa?? Aku enggak tinggal di rumahmu, Mas?" "Emang ada saya pernah bilang jika kamu akan tinggal di rumah yang saya tempati dengan istri saya itu?" Mika cemberut. Memang Fahri tak ada membahas di mana mereka akan tinggal setelah menikah. Dan dia pun tidak bertanya, karena mengira akan tinggal di rumahnya lelaki itu. "Kenapa nggak tinggal di rumahmu aja? Aku pengen kenal dekat sama Mbak Fiona. Ingin menjalin hubungan baik." "Ngelunjak? Syukur saya mau menikahi kamu yang sudah nggak perawan itu." Ngatain enggak perawan? Tapi, elo kecanduan sama tubuh gue! "Hmmm. Baik lah, enggak masalah tinggal sementara di sini juga." Mika sebenarnya ogah tingga satu atap dengan mertua, meski mamanya lelaki itu selama ini baik kepadanya. Pasalnya, dia suka malas dan jarang mengerjakan tugas rumah. Tapi, sepertinya dia harus tahan sejenak, sampai Fahri menemukan rumah baru untuk rumah mereka. "Tapi, kapan-kapan, aku mau ketemu Mbak Fiona ya, Mas? Pengen dekat. Pengen belajar bagaimana menjadi istri idamannya Mas Fahri, karena aku masih muda dan banyak kekurangan rasanya. Aku ingin belajar banyak." Mika tersenyum dibuat semanis mungkin. Fahri mengacuhkan ucapan Mika. Dia pun menarik koper milik perempuan itu menuju ke rumah pintu masuk rumah mamanya. Mika mengikuti dari belakang sambil menggerutu kesal. Dia akan cari cara agar bisa memasuki rumah lelaki itu, lalu meluluhkan hati sedingin es itu. Mika juga ingin lebih mengenal Fiona juga, agar bisa mendepak perempuan itu. Memasuki rumah dan melihat mama mertuanya baru saja keluar dari kamar, Mika langsung mendekat dan menyalami. Dia ingin mengambil hati mertuanya itu, agar lebih sayang padanya dibandingkan istri pertama suaminya itu. Gue harus jadi bestie mertua gue kali, ya? Mas Fahri kan kelihatan sayang banget sama mamanya. Pasti akan nurut, apa yang mamanya bilang. "Nggak apa-apa tinggal di sini dulu ya, Mika?" tanya mama mertuanya lembut. Mika tersenyum, padahal dalam hati rasanya tak ikhlas. "Enggak apa-apa dong, Ma, kan senang bisa dekat sama Mama." Setelahnya Mika di antar ke kamar oleh Fahri di lantai atas. "Nanti saya kabari kalau ke sini," ujar Fahri yang langsung hendak pergi. Ingin segera bertemu istri tercintanya. "Oke, Mas." "Kalau ada apa-apa, bilang saya." Mika mengangguk. Turun dari tangga, Fahri mendapati mamanya yang masih duduk di sofa. Hendak langsung pamit niatnya, akan tetapi mamanya menahan—mengajak Fahri berbicara. "Kamu harus mencari tempat tunggal yang bagus juga untuk Mika," ujar sang mama setelah Fahri duduk. "Semampuku, Ma." Mamanya berdecak. Fiona enak-enakan tinggal di rumah bagus, kamu harus bisa bersikap adil— " "Aku udah mengikuti keinginanannya Mama untuk menikah lagi, kenapa Mama masih aja tekan aku? Bawa-bawa Fiona?" Fahri menarik napas pelan. "Akan aku carikan... semampuku." "Mama heran aja, kok kamu kayaknya mau aja diatur sama Fiona. Balik nama rumah hasil kerja kerasnya kamu atas nama dia, terus biarin dia seenaknya nguasain rumah itu. Jadi suami takut istri kamu?" "Itu udah menjadi haknya Fiona, Ma. Mendapatkan nafkah tempat tinggal dari aku. Sejak menikah, karirku terus naik berkat dukungan dari Fiona juga." "Do'a dari Mama juga jangan kamu lupakan. Kamu pikir, Fiona doang yang do'ain kesuksesan kamu? Mika juga berhak mendapatkan nafkah tempat tinggal dari kamu." Fahri sebenarnya paling malas berdebat dengan mamanya. "Udah lah, Ma, aku capek mau berdebat sama Mama. Minta do'anya aja, dilancarkan rezekiku dan akan aku usahakan buat nyicil rumah baru untuk Mika." Amara, mamanya Fahri itu mendengkus. "Mama udah cari beberapa rumah sewa yang cukup bagus untuk Mika. Mama kirim foto-fotonya ke HP kamu, ada nomor yang bisa dihubungi di sana juga. Nanti kamu hubungin aja. Rata-rata bayar sewa per tahun." Fahri mengangguk saja, tak mau berdebat lagi. Dia pun pamit pulang, tak mau berlama-lama yang akan ke mana-mana pembahasan mamanya itu. Mengenai rumah untuk Mika dengan sewa per tahun, Fahri akan membicarakan dengan Fiona yang mana istrinya itu yang memegang keuangan sekarang. Fiona tak mungkin keberatan membayarkan uang sewa sekali setahun, toh itu uang miliknya juga. Hanya saja Fiona yang atur. Walau berat, Fahri membiarkan Fiona memegang kendali karena rasa bersalah dan tak ingin perempuan itu pergi. Bagaimana pun, Fiona telah berbesar hati mau dimadu. Fahri sungguh hanya mencintai Fiona seorang, tak akan tertarik untuk mencintai Mika. Begitu tiba di rumah, Fahri mendapati Fiona yang tengah berada di dapur. Fahri pun memeluknya dari belakang. Tanpa Fahri tahu, Fiona untuk pertama kalinya merasa aneh dipeluk dari belakang oleh suaminya itu. Padahal, biasanya Fiona merasa senang dipeluk begitu dengan dagu suaminya bersandar pada bahunya. "Enak banget wangi masakan kamu, dari depan udah kecium. Lapar aku." "Jam berapa sekarang, Mas? Kamu mau makan sekarang?" Fiona mengaduk masakannya, tanpa menoleh. "Baru jam setengah lima, nanti deh habis maghrib. Mau kangen-kangen dulu sama kamu." Fiona tersenyum tipis. Dalam benaknya, bayangan kebersamaan suaminya dengan perempuan lain begitu sulit ditepis. Mulut bisa berkata ikhlas, tapi hatinya masih ada ketidakrelaan. Meski suaminya berkali-kali meyakinkan bahwa dirinya seorang yang dicintai. Tapi, walau cinta hanya untuknya, Fahri tetap bersentuhan dengan istri keduanya demi memperoleh keturunan, bukan? "Mas tunggu di depan TV dulu sana. Aku tadi bikin cookies, bentar lagi aku ke sana. Ini selesai sedikit lagi." "Oke... oke." Fahri mengecup pipi istrinya itu dari samping, sebelum beranjak pergi. Beberapa menit kemudian, Fiona telah selesai memasak dan memindahkan cookies yang tadi siang dibuatnya ke dalam toples kecil. Dia membawa botol air minum dan gelas juga dalam sebuah nampan beserta toples juga. "Dia tinggal di mana, Mas?" tanya Fiona tiba-tiba, beberapa saat kemudian setelah keduanya mengobrol-obrol santai. Ingat akan perempuan yang telah dinikahi oleh suaminya itu, juga sang mertua yang pernah menghampirinya sebelum suaminya menikah lagi. "Di rumahnya Mama." "Tinggal di sana terus?" Fahri pikir, sekalian dia membahas jika akan menyewa sebuah rumah dan membutuhkan uang. Sepertinya Fiona bisa diajak berbicara mengenai itu saat ini. "Dek, aku mau sewain rumah yang harus bayar tahunan gitu. Nanti kamu transfer ke aku untuk biaya sewanya, ya?" "Berapa emangnya, Mas?" "Tadi aku lihat-lihat, sekitar 18 juta sampai 20 juta gitu." "Lumayan, ya?" "Iya. Mama cerita, katanya rata-rata sekarang pada sewain rumah tahunan gitu." "Duh, Mas, gimana, ya? Uangnya udah terlanjur aku masukin deposito dan baru bisa diambil 10 tahun lagi. Aku mikir jangka panjang kalau suatu saat nanti ada apa-apa. Sedangkan tabunganku, kemarin dipinjem adekku buat tambahan biaya spesialisnya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD