bc

KAPTEN TENGIL MILIK DOKTER CANTIK

book_age18+
130
FOLLOW
1.2K
READ
love-triangle
HE
fated
friends to lovers
confident
doctor
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
bxg
brilliant
city
office/work place
like
intro-logo
Blurb

Bagaimana rasanya ketika masa lalu yang paling menyakitkan kembali hadir dalam sosok yang hampir serupa?

Bagi Arlita Putri Sanjaya, Arkan adalah luka dalam yang tak kunjung mengering. Dokter spesialis yang dingin itu tidak hanya mengkhianatinya dengan saudara tirinya sendiri, tapi juga meninggalkan trauma yang membuat Arlita bersumpah untuk menutup pintu hatinya rapat-rapat.

Namun, takdir memiliki rencana yang lebih gila.

Muncul Arlan Dananjaya, Kapten TNI yang memiliki wajah identik dengan sang mantan, namun dengan sifat yang bertolak belakang. Arlan itu tengil, berisik, dan sangat keras kepala dalam mengejar Arlita. Di balik seragam lorengnya yang gagah, ia adalah pria yang siap melakukan "serangan gerilya" hanya untuk melihat senyum sang dokter cantik.

"Neng Dokter, pemeriksaan jantungnya nanti saja kalau kita sudah sah. Sekarang, biarkan Kapten ini yang menjagamu dari setiap luka."

Saat Arlita mulai luluh, Arkan kembali hadir dengan obsesi yang gelap. Ia tak rela melihat wanita yang pernah ia sia-siakan kini berada dalam dekapan saudara kembarnya sendiri.

Di antara tugas negara yang mempertaruhkan nyawa dan pengkhianatan saudara sedarah, mampukah Arlan membuktikan bahwa ia bukan sekadar bayangan Arkan? Dan sanggupkah Arlita bertahan saat gairah dan bahaya datang bersamaan?

chap-preview
Free preview
Satu Minggu Menuju Bahagia
Kilau cincin emas putih di jari manis Arlita seolah memantulkan cahaya kebahagiaan yang tak habis-habisnya pagi ini. Satu minggu lagi. Hanya tinggal tujuh hari lagi, statusnya akan berubah menjadi Nyonya Arkan Dananjaya. Arlita menatap pantulan dirinya di cermin koridor Rumah Sakit Sentral Medika. Senyumnya merekah. Kenangan empat tahun lalu saat ia masih menjadi mahasiswi kedokteran di Universitas Indonesia kembali melintas. Masa-masa sulit mengejar gelar dokter terasa jauh lebih ringan karena keberadaan Arkan di sampingnya. Arkan Dananjaya. Pria itu adalah definisi sempurna bagi Arlita. Sosoknya yang gagah, atletis, dengan rahang tegas yang sering kali tertutup ekspresi dingin, justru menjadi magnet yang tak terelakkan. Di rumah sakit ini, Arkan adalah primadona yang sulit digapai. Patah hati berjamaah para perawat dan dokter muda saat mendengar kabar pernikahan mereka bukanlah rahasia lagi. "Dokter Arlita, wajahnya cerah sekali pagi ini," sapa seorang perawat yang melintas. "Ah, Suster bisa saja. Mari, Sus, duluan," jawab Arlita dengan nada riang yang tidak bisa ia sembunyikan. Namun, Arlita tidak menyadari bahwa di lantai yang berbeda, di sebuah ruangan dokter spesialis penyakit dalam yang elegan, ada sepasang mata yang menatapnya dengan penuh kebencian. Siska Anggraeni duduk bersandar di kursi kerjanya yang mahal. Di hadapannya, terdapat sebuah undangan pernikahan mewah dengan ukiran nama Arkan & Arlita. Di tangan kanannya, Siska memegang sebuah foto yang diambil secara sembunyi-sembunyi, foto saat ia dan Arkan sedang berdiskusi menangani seorang pasien tahun lalu. Bagi Siska, itu bukan sekadar diskusi medis. Itu adalah momen intim yang seharusnya menjadi awal dari segalanya. "Arkan itu milikku, Arlita. Dia seharusnya bersamaku, bukan dengan anak manja sepertimu," desis Siska tajam. Siska memandangi undangan berwarna broken white itu dengan napas yang mulai memburu. Pikirannya dipenuhi oleh rasa iri yang sudah berkarat sejak bertahun-tahun lalu. Baginya, Arlita sudah mengambil perhatian Ayahnya, dan kini wanita itu ingin mengambil pria yang ia puja? Sret! Siska menarik kedua sisi undangan itu dengan kasar hingga robek menjadi dua. Tidak puas, ia mencabiknya berkali-kali hingga serpihan kertas emas itu berserakan di lantai seperti sampah. "Kamu pikir kamu bisa melenggang ke altar dengan tenang?" Siska terkekeh, suara tawa yang terdengar dingin dan mengerikan di ruang kerja yang kedap suara itu. Ia merogoh ponselnya, menatap sebuah nomor yang tidak tersimpan namanya. Obsesinya sudah di titik buta. Ia tidak peduli jika harus menghancurkan nama baik keluarga atau kariernya sendiri, asalkan Arlita merasakan penderitaan yang sama dengan apa yang ia rasakan setiap kali melihat Arlita tersenyum. "Satu minggu, Arlita. Kita lihat, apakah Arkan masih akan menatapmu dengan cinta setelah apa yang akan aku lakukan nanti." Siska menginjak robekan nama Arlita di lantai dengan ujung sepatu hak tingginya, menekannya kuat-kuat seolah sedang menghancurkan hidup adik tirinya itu secara nyata. Suasana sunyi mulai menyelimuti koridor rumah sakit saat sif sore berakhir. Arlita melangkah dengan jantung yang berdebar ringan, membawa segelas kopi favorit Arkan menuju ruangan yang terletak di ujung lorong VIP. Ia mengetuk pintu kayu jati itu dua kali. Tak butuh waktu lama, pintu terbuka, menampakkan sosok Arkan yang masih mengenakan scrub hijau khas ruang operasi. Rambutnya sedikit acak-acakan, dan gurat kelelahan terlihat jelas di bawah matanya. Namun, begitu manik matanya menangkap sosok Arlita, binar lelah itu seketika sirna. "Hai," sapa Arlita lembut. Tanpa sepatah kata, Arkan menarik pergelangan tangan Arlita, membawanya masuk ke dalam ruangan, lalu mengunci pintu dengan bunyi klik yang tegas. Dunia di luar seolah berhenti berputar saat Arkan langsung merengkuh pinggang Arlita, menarik tubuh mungil wanita itu hingga merapat sempurna pada tubuh atletisnya. "Aku merindukanmu," bisik Arkan parau. Detik berikutnya, Arkan menunduk, melumat bibir Arlita dengan rasa haus yang telah ia tahan sepanjang hari. Awalnya lembut, penuh dengan kasih sayang yang tulus, namun dengan cepat berubah menjadi liar dan menuntut. Arlita mendesah pelan, mengalungkan lengannya di leher Arkan, membalas setiap lumatan dengan intensitas yang sama. Arkan membawa langkah mereka menuju sofa kulit di sudut ruangan tanpa memutuskan tautan bibir mereka. Dengan gerakan maskulin yang dominan, ia duduk dan menarik Arlita ke dalam pangkuannya. Di atas sofa itu, keduanya tenggelam dalam cumbuan yang memabukkan. Arlita bisa merasakan detak jantung Arkan yang berpacu di balik seragam operasinya, sementara jemari Arkan mulai merambat di punggung Arlita, memberikan sensasi panas yang menjalar ke seluruh tubuh. "Satu minggu lagi, Lita," bisik Arkan di sela ciuman mereka, suaranya terdengar serak dan dalam. "Satu minggu lagi, dan aku tidak perlu mengunci pintu hanya untuk melakukan ini padamu." Arlita menyandarkan keningnya di kening Arkan, mencoba mengatur napas yang tersenggal. "Satu minggu yang terasa seperti selamanya, Arkan." Arkan kembali memagut bibir calon istrinya, seolah ingin menegaskan bahwa wanita ini adalah miliknya seutuhnya, tanpa menyadari bahwa di luar sana, badai obsesi sedang bersiap menghancurkan kebahagiaan yang sedang mereka rajut. Tensi di dalam ruangan itu meningkat drastis seiring dengan detak jantung mereka yang kian berpacu. Arkan tidak lagi mampu menahan gejolak yang membakar dadanya. Ciumannya turun, meninggalkan bibir Arlita untuk menjajahi leher jenjang calon istrinya, memberikan kecupan-kecupan basah yang membuat tubuh Arlita meremang hebat. "Mas..." rintih Arlita, kepalanya mendongak ke belakang, memberikan akses lebih luas bagi Arkan. Dengan gerakan yang penuh gairah namun tetap presisi, jemari Arkan bergerak lincah membuka satu per satu kancing kemeja kerja Arlita. Begitu kain itu tersingkap, Arkan tak menunggu lama untuk menenggelamkan wajahnya di sana. Ia menciumi d**a Arlita dengan lapar, sementara tangannya meremas p******a Arlita yang masih terbungkus bra tipis, memberikan tekanan yang menuntut. Arlita mendesah penuh kenikmatan. Ia merengkuh kepala Arkan, membiarkan jemarinya tenggelam di sela rambut tebal pria itu. Rasa panas menjalar ke seluruh sarafnya saat Arkan menyibak penghalang terakhir dan mulai menghisap payudaranya secara bergantian. Sentuhan lidah dan hisapan kuat Arkan menciptakan sensasi luar biasa yang membuat Arlita merasa seolah dunianya sedang mencair. "Ahhh, Mas Arkan... pelan-pelan," gumam Arlita dengan napas yang terputus-putus. Namun, Arkan seolah tidak mendengar. Ia semakin terbuai dalam keintiman itu, menikmati setiap inci kulit Arlita yang terasa seperti candu baginya. Di bawah temaram lampu ruangan, keduanya benar-benar larut dalam gairah yang meluap, melupakan sejenak status mereka sebagai dokter dan hanya menjadi sepasang kekasih yang saling memuja sebelum janji suci itu benar-benar terikat. Dinding ruangan itu menjadi saksi bisu betapa besarnya cinta dan hasrat yang mereka miliki, sebuah kebahagiaan puncak yang tidak mereka sadari sedang diincar oleh mata-mata penuh kebencian dari luar sana. Gairah di dalam ruangan itu semakin memuncak, mengaburkan logika dan batasan profesional yang selama ini mereka jaga. Arkan, yang biasanya tampak begitu terkontrol dan dingin, kini menjelma menjadi sosok yang sangat liar dan berani di hadapan calon istrinya. Ciuman Arkan turun menjajahi perut rata Arlita, meninggalkan jejak panas yang membakar kulit. Dengan gerakan tak sabar, tangan kokohnya membuka ritsleting rok kerja Arlita dan menanggalkannya hingga terjatuh ke lantai. Begitu pelindung terakhir itu tersingkap, Arkan segera memberikan ciuman-ciuman intens di daerah intim Arlita. Lidah Arkan mulai bermain dengan lincah di sana, memberikan stimulasi yang membuat Arlita membusungkan d**a dan mencengkeram sofa dengan kuat. Desahan kenikmatan yang keluar dari bibir Arlita terdengar begitu seksi, memacu adrenalin Arkan untuk semakin dalam menjelajahi keindahan calon istrinya itu. Arlita merasa seolah berada di ambang ledakan kenikmatan yang luar biasa.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
237.7K
bc

Kali kedua

read
223.1K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
23.7K
bc

TERNODA

read
204.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
196.4K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.5K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
23.9K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook