Paksaan menikah

2558 Words
Waktu berlalu amat cepat. Hari berganti minggu, minggu pun berganti menjadi bulan. Hampir tak terasa, tiga bulan sudah, Tari melewati hidupnya tanpa almarhumah nenek. Tiga bulan tersebut, Tari jalani sendiri. Sudah tiga bulan nenek Tari meninggal. Hari ini, Tari harus bersiap untuk pindah ke rumah Mayang, karena ingin memenuhi janjinya. Mayang meminta Tari untuk tinggal di rumahnya. Bukan tanpa alasan Mayang menyuruh Tari untuk tinggal bersamanya. Mayang ingin Tari bisa melupakan semua kenangan di rumah yang ditinggalinya bersama sang nenek, agar Tari tidak terus-menerus bersedih. Selama beberapa hari, Tari mempersiapkan diri. Membenahi semua keperluannya dan membereskan beberapa barang untuk dibawa pindahan. Ia tahu, meski berat meninggalkan rumah yang menjadi saksi tentang perjuangan hidupnya bersama almarhumah nenek. Tari tak dapat memungkiri jika kehidupannya harus tetap berjalan. Meski ia dan sang nenek telah berbeda alam. Tari akan selalu mendoakan neneknya. Tari sudah bersiap dengan beberapa koper yang telah rapi. Menunggu kehadiran seseorang yang menjemputnya di teras rumah. Sesekali, Tari telisik lagi rumah tersebut. Masih belum rela untuk meninggalkan tempat itu. Namun, apalah daya. Ia sudah berjanji pada Mayang untuk tinggal bersama. Bukankah janji harus ditepati? Beberapa menit setelah berdiam diri, menatap rumahnya, sebuah mobil masuk ke pekarangan. Lalu, turun seorang pria paruh baya dengan langkah tergesa. "Maaf, Non, kalau menunggu lama," ucap pria itu. Supir pribadi keluarga Mayang sudah ditugaskan menjemput Tari. Tari akhirnya bangkit dari tempat ia duduk, kemudian merapikan tas selempang yang dikenakan. Ia menggeleng pelan sebagai bentuk balasan untuk sang sopir, kemudian bersiap menyeret kopernya. Namun, belum sempat menggapai kaitan koper, tangan pria yang bertugas menjadi sopir tersebut mencekal pergerakan Tari. Hingga membuat Tari urung melakukannya. "Sini, Non! Biar saya bantu." Tawar pria paruh baya tersebut, langsung mengambil alih koper milik Tari. Kemudian, setengah membungkuk hormat. "Biar saya saja, Non." Memahami atas tugas yang tengah pria itu emban, Tari menyunggingkan senyum manis. Namun, hatinya berkata sungkan. Merasa tak sopan karena meminta sopir itu membawakan barang-barangnya, sedangkan ia hanya mencangklong tasnya. "Terima kasih, Pak." Pria itu membalas senyum Tari. Merasakan jika gadis di depannya tengah merasa tak enak dengan perlakuannya. Ia pun menggeleng pelan, kemudian menggenggam erat kaitan koper dan mulai mengangkatnya. "Tidak usah berterima kasih, Non. Itu sudah menjadi tugas saya untuk melayani Non Tari. Non Tari tunggu saja di dalam mobil!" Tari masih merasa sungkan dengan sopir tersebut. Mencegah pergerakan pria itu. "Tapi, Pak—" "Sudah, Non tunggu saja di mobil," elak si sopir sembari menggeleng. Perdebatan kecil tersebut menghangat. Pada akhirnya, Tari mengikuti mengangguk lemah. Diiringi dengan helaan napas pasrah. Ia menggenggam erat tali tas selempang yang digunakan, sembari menatap sang sopir. "Baiklah, kalau begitu saya tunggu di dalam mobil, ya, Pak?" ucap Tari. "Maaf kalau jadi ngerepotin Bapak." sambungnya merasa tak enak. Tari berjalan mendahului si sopir yang tengah menggelengkan kepala sembari membenahi koper-koper milik sang majikan. " Siap, Non," jawab sopir itu semangat. Akhirnya ia bebas dari perdebatan yang tak dapat terelakkan dengan gadis bernama Mentari tersebut. Usai merapikan koper-koper Tari dan memastikan tidak ada yang tertinggal, pria paruh baya tersebut segera masuk mobil. Duduk di kursi kemudi, segera menarik gas kecepatan untuk segera pergi. Sepanjang perjalanan, tak ada suara yang memecah keheningan. Hanya terdengar bisingnya mesin-mesin dari kendaraan yang bergesekan dengan aspal. Tari sendiri tak memiliki cukup banyak topik pembicaraan untuk ia cairkan bersama sopir di depan. Lalu, sang sopir juga terlihat tak ingin memecah suara. Terlalu fokus terhadap jalanan yang sedang ramai lancar. Mengingat ia tengah membawa seorang penumpang yang diamanahkan untuk dijemput. Tari sendiri memilih menatap ke arah luar jalanan dari kaca bening. Pemandangan yang sangat menyejukkan mata. Di mana orang berlalu lalang begitu banyaknya. Berganti untuk pulang dan pergi. Membuat suasana hati Tari damai, seolah beban yang ada di sana, jauh pergi. Tari tak mengubah pandangannya, sampai setengah jam kemudian, kendaraan roda empat yang ia kendarai memasukkan sebuah pekarangan. Tari kagum melihatnya. Masih sama dengan sebelumnya. Sang sopir tak membiarkan ia membawa sendiri barang-barangnya. Maka ia akhirnya memutuskan untuk berjalan lebih dahulu menuju pintu utama. Ketimbang harus berdebat lebih panjang dengan sopir pribadi yang Mayang kirimkan untuknya tadi. Sampai di depan pintu rumah Mayang, Tari mengetuknya beberapa kali. Kemudian menyunggingkan senyum tipis, tak sabar untuk bertemu dengan Mayang. "Assalamualaikum," ucap Tari setengah berteriak, merasa tak ada respon sama sekali dari pemilik rumah. Takut jika Mayang tengah keluar atau pergi, dan ia bertamu ke rumah orang tanpa tuan rumah, itu terlihat cukup tak sopan. Pikir Tari. Sampai beberapa saat kemudian, saat Tari hendak mengetuk kembali pintu yang ada di depannya, mendadak pintu terbuka. Sontak, membuat Tari berseri bahagia. Muncul seorang wanita paruh baya tengah mengenakan kasual santainya ala-ala ibu-ibu rumahan, menyambut Tari senang hati. "Wa'alaikumussalam," jawab Mayang. Terkejut dengan siapa yang datang, dan tanpa aba-aba serta izin dari empunya, langsung memeluk Tari. Tak mau kalah, Tari pun membalas pelukan Mayang dengan sangat antusias. Mencari kehangatan dari pelukan yang Mayang berikan. Sangat erat, bahkan seolah jika ia lepas, maka sosok tersebut akan hilang darinya. Mayang mengurai pelukannya. Kemudian, mencubit pipi Tari gemas. Serta, membelai gadis cantik itu dengan lembut. Selanjutnya ia tarik tangan milik Tari untuk segera masuk ke rumah. "Selamat datang di kediaman Tante, Sayang. Ayo masuk, Nak. Semoga kamu betah, ya? Anggap saja rumah sendiri!" ucap Mayang semangat. "Terima kasih, Tante. Tante Mayang sudah mengijinkan Tari tinggal disini. Tari sangat berterima kasih untuk Tante dan keluarga." Tari mengekor di belakang tubuh Mayang yang tengah menarik tangannya. Ia menatap kagum pada interior yang ada di rumah tersebut. Sangat berterima kasih kepada tantenya, sebab sudah mengajaknya tinggal bersama. Meski dalam hati kecil Tari, masih tersimpan rasa berat untuk meninggalkan rumah lamanya yang ia tinggali bersama neneknya dahulu. Mayang menghentikan langkah. Ia menatap Tari dengan lekat. Menelisik wajah cantik gadis tersebut dengan gemas. Ia memicingkan mata, terlihat seperti orang yang ngambek. Kemudian, beberapa detik selanjutnya, Mayang menyunggingkan senyum manisnya. "Mulai sekarang, panggil Tante dengan sebutan Mama," perintah Mayang. "Tapi, Tan–" potong Tari. Terkejut pada kalimat milik Mayang. Sungguh, ia diajak untuk tinggal bersama saja sudah amat senang tanpa kira jumlahnya. Saat ini, Mayang pun memintanya untuk memanggil dengan sebutan mama? Mayang dapat paham dengan apa yang Tari rasakan. Ia kemudian menggeleng brutal dan meyakinkan Tari melalui tatapannya. "Gak ada tapi-tapian!" Sergah Mayang cepat. Tari terlihat gugup, tetapi tak menutup rasa bahagia yang terpancar dari wajahnya. Ia mengangguk ragu. Akan tetapi, setelahnya ia membentuk lengkungan manis pada bibirnya. "Baiklah, M-Mama," ucap Tari terbata. Detik berikutnya, senyum di bibir Tari benar-benar merekah sempurna. Lalu ia mengangguk antusias. "Perintah Ibu Negara siap, laksanakan!" sambungnya diiringi dengan tawa kecil yang menguar dari bibirnya. Mayang pun ikut tersenyum. Tentu sangat senang mendengar Tari cukup antusias terhadap permintaannya. "Ya, sudah. Ayo, Mama antar ke kamarmu!" ajaknya. "Oke, Ma." Tari mengangguk, kemudian membiarkan langkahnya mengikuti Mayang dari belakang. Sesekali ia meliarkan pandangan ke arah lain dan menatap langit-langit rumah tersebut kagum. Sampai ia tak sadar, bahwa keduanya telah sampai di depan sebuah pintu. Lantas, Mayang pun membukanya. "Ini kamar kamu, Nak. Kalau butuh sesuatu, kamu tinggal bilang Bibi," ujar Mayang. Ia mengajak Tari untuk memasuki kamar tersebut. Melihat bagaimana kondisi kamarnya. "Baik, Ma. Terima kasih banyak," ucap Tari senang. Ia bahkan tak berhenti meliarkan pandangan, menyapu bersih seluruh penjuru ruang tersebut. Ruang di mana akan Tari jadikan tempat untuk melepas lelah. Mayang mengangguk mengerti. Ia paham bagaimana seseorang yang baru saja berjumpa terhadap sesuatu, pasti akan digeluti oleh rasa kagum. Maka, Mayang pun hanya tersenyum melihat respon yang Tadi berikan. "Sama-sama, Sayang. Mama keluar dulu, ya? Kamu istirahat." pamitnya. "Siap, Ma." Mayang benar-benar memastikan keadaan Tari akan aman dan menyukai kamar yang telah ia sediakan dari beberapa hari sebelumnya. Melihat bagaimana Tari seperti mengagumi kamar tersebut, Mayang pun jua ikut senang. Lantas ia segera menarik diri untuk pamit pergi. Usai Mayang pergi dan pintu kamarnya tertutup sempurna, Tari setengah membanting tubuhnya ke atas tempat tidur. Kemudian membandingkan tubuhnya telentang. Menatap langit-langit kamarnya yang terlihat amat keren di mata. Bagaimana bisa anak itu sangat beruntung? "Huh, capek juga beres-beres tadi," monolog Tari masih menatap langit-langit kamarnya. Tanpa terasa waktu sudah malam. Waktu berputar sangat cepat. Matahari sudah tenggelam dan hari pun telah menjadi gelap. Jika saja tak ada sinar cahaya, dunia akan dirundung gulita. Mengingat bahwa mengandalkan sinar rembulan juga bintang, tak selalu dapat. Bisa saja mendung menyerang, dan memilih menyembunyikan para bintang juga rembulan agar tak melakukan tugasnya. Tari merasa kerongkongannya kering kehausan. Akhirnya, ia membawa langkahnya turun ke dapur untuk mengambil minum. Langkahnya tertuju pada kulkas yang terletak di dapur, sebelah wastafel cuci piring. Tari menuangkan air dingin dari dalam benda kotak nan besar tersebut. Lalu, menenggaknya hingga tandas tanpa sepatah kata pun. Usai Tari minum, terlihat seseorang berjalan mendekati Tari. Laki-laki bertubuh jangkung, perawakan atletis, dan wajah yang rupawan tanpa aba-aba langsung memeluk Tari dari belakang. "Selamat malam adek resenya Abang," ujar laki-laki itu penuh rasa sayang. Tari yang dipeluk seperti itu, refleks langsung berteriak kencang. "Aaaahhh!" Teriakan Tari yang histeris membuat Mayang langsung berlari ke sumber suara. Mayang berlari dengan tergopoh, langsung menatap Tari dan memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja. Jantung Mayang seketika hendak melompat, mendengar teriakan kencang memekakkan telinganya. Laki-laki itu juga ikutan kaget, karena yang dipeluk ternyata bukanlah adiknya. Entah keberanian dari mana, lelaki itu benar-benar berani memeluk seseorang tak dikenal. Lelaki itu sontak menaikkan bajunya takut. "Lho, kamu siapa? Berani sekali kamu masuk ke rumah ini?!" tanya laki-laki itu penuh selidik. Ia mundur beberapa langkah dan menjauh dari jangkauan Tari. Perasaannya campur aduk, antara malu karena salah memeluk. Juga, bertanya-tanya tentang siapa sebenarnya orang itu. Rigi tak menyadari jika mereka sempat bertemh sebelumnya. "A-Aku—" ucap Tari terbata. Ia gugup dipandang sedekat ini oleh seorang pria. "Ada apa sih, kok ribut-ribut?" Tiba-tiba Mayang datang dan memotong ucapan Tari. Ia memastikan apakah Tari mengalami masalah yang cukup berat. Hingga berteriak seperti tadi. "Ini siapa Ma? Kok ada di rumah kita?" tanya laki-laki itu meminta penjelasan dadi sang mama. Ia menunjuk ke arah Tari menggunakan dagunya. Mayang yang mulai dapat memahami mengapa teriakan Tari tadi, seolah tengah memberi sinyal akan sesuatu. Bersyukur ia dapat datang tepat waktu. Mayang menyunggingkan senyum manis, lantas menepuk pundak anaknya. "Rigi, ini Tari. Mulai hari ini, Tari tinggal bersama kita." "Hah? Tapi, Ma." Mendadak Rigi seperti mendapatkan serangan jantung. "Gak ada tapi-tapi!" putus Mayang. Ia menggeleng brutal dan menghadap ke arah Tari. Lantas menarik tangan gadis itu untuk menjauh dari Rigi. "Tari, ini Rigi anak Mama yang paling gede. Semoga kalian bisa akur, ya? Karena minggu depan, kalian bakalan nikah." Mayang memperkenalkan sang anak seperti memperkenalkan sebuah barang, membuat suasana sedikit kocak. "Apa?" Ujar Tari dan Rigi bersamaan. Mereka sama-sama kaget mendengar pernyataan dari Mayang. "Gak bisa gitu dong, Ma. Rigi udah punya gebetan. Lagian, dia siapa seenaknya dijodohin sama Rigi," protes Rigi. Lelaki itu menggelengkan kepala amat brutal, kemudian menatap sinis ke arah Tari. Bergantian dengan menatap sang ibu. Mendengar kata perjodohan, Tari langsung menggeleng ribut. Bahkan ia tidak pernah memikirkan hal itu terlalu jauh. Menurutnya, permasalahan yang akan ia tanggapi semakin besar jika di jenjang pernikahan. "Ma, Tari gak mau nikah dulu, Ma. Tari mohon," pinta Tari dengan wajah lesunya. Melihat respon Tari, Mayang menjadi tak enak hati. Ia merasa telah memaksa kehendak Tari. Akan tetapi, almarhumah nenek Tari telah memberikan amanah. Bukankah sebuah amanah harus dikerjakan? Dan, Mayang sendiri melakukan ini juga demi kebaikan orang lain. Bukan hanya dari Tari saja, tetapi juga dari semua orang. Mayang menarik napas panjang, sebelum ia embuskan pasrah. Ia sembari menatap langit-langit rumahnya serius, lantas menatap pada si gadis dengan tatapan memohon. "Tari. Nenek kamu sudah menitipkan kamu sama Mama. Jadi, Mama bertanggung jawab untuk menata masa depan kamu. Mama mau kamu nikah sama Rigi. Mama mau kamu menjadi anggota keluarga ini seutuhnya. Menjadi menantu Mama." Putus Mayang cepat. Bahkan tanpa ada keraguan sama sekali dalam nada pengucapan dari Mayang. Wanita itu terlihat tegas dan lembut dalam waktu bersamaan. Tari yang masih kukuh dengan pendapatnya, sedikit merasa kesal. Bukankah ia terlalu muda untuk diajak menemani membaca akad. Kemudian membangun warna cerita rumah tangga. Tari belum sama sekali ada gambaran mengenai masa depannya akan seperti apa. Bahkan Tari tak pernah memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun, dengan seperti itu bukankah seseorang dapat belajar banyak dari sebuah kehidupan? Sama seperti halnya dengan Tari. Ia memilih untuk menambah jenjang pendidikannya, menuju perguruan tinggi. "Tapi, Ma. Tari pasti bisa kok menata masa depan Tari tanpa harus nikah sama Mas Rigi. Kasihan Mas Rigi. Tari tahu kalau di kampus, Mas Rigi sudah memiliki seseorang yang dia cinta. Mas Rigi mungkin gak kenal sama Tari, tapi Tari tahu sedikit banyak tentang Mas Rigi. Kasihan Mas Rigi, Ma," ujar Tari pelan. "Nak, Mama mohon. Kamu masih ingat, 'kan, wasiat terakhir nenek kamu? Apa kamu gak mau menuruti permintaan terakhirnya?" tanya Mayang memohon. Bahkan tatapannya kini berubah menjadi sendu. Yang semula berbinar, kini telah meredup sempurna. Tari terdiam. Lidahnya mendadak kelu untuk mengeluarkan sepatah kata pun. Dia tidak bisa merangkai kalimat untuk menjawab pertanyaan beruntun dari Mayang. Bahkan yang dapat Tari lakukan hanya menatap ke arah Mayang dengan tatapan melas. Sedangkan satu-satunya lelaki yang berdiri tak jauh dari situ, geram. Merasa tak adil atas apa yang Mayang putuskan untuk dirinya. Bahkan Rigi sangat terkejut dengan apa yang mamanya katakan. "Gak bisa gitu dong, Ma. Rigi berhak menentukan pilihan Rigi!" protes Rigi. "Nak, Mama mohon!" Mayang meluruhkan tubuhnya, kemudian berlutut di kaki Rigi. Tanpa peduli bahwa setelannya akan kotor, atau tak pantas seorang ibu memohon kepada anaknya dengan cara seperti itu. Rigi terkejut dengan gerakan spontan ibunya, sontak langsung mengangkat tubuh Mayang. Membawa Mayang untuk kembali berdiri kokoh seperti sebelumnya. Rigi tidak tega melihat Mayang berlutut seperti itu. Rigi tidak bisa melihat Mayang menangis. Apalagi, yang menjadi alasan tangisan sang mama adalah dirinya. Rigi merasa seperti anak durhaka yang tak menurut pada ibunya. Melihat bagaimana tatapan sendu Mayang bertemu dengan tatapan miliknya, itu sudah sangat menyayat hati Rigi. Saat ini, ia tengah dilanda galau seketika. Beberapa saat terjadi hening. Rigi berpikir sejenak dengan keputusan yang akan ia ambil. Netranya beralih, menatap bergantian ke arah Tari dan Mayang. Seperti tengah mencari sesuatu dari sepasang netra bening tersebut. Rigi menarik napas panjang, kemudian mengembuskan pasrah. Diiringi dengan decakan kasar, ia mengalihkan pandangan. Tak lagi menatap mamanya maupun Tari. "Oke, baik. Rigi bakal nikah sama cewek itu," putus Rigi. Rigi benar-benar tidak ada pilihan lain. Dia tidak akan pernah sanggup melihat mamanya seperti ini. Memohon kepadanya dengan amat sangat. Tentu hati anak mana yang akan tega mengabaikan permintaan ibunya sendiri. Meski ia harus berkorban merelakan sang pujaan hati. Mendengar jawaban dari Rigi, Tari hanya bisa membuka mulutnya lebar-lebar. Melihat hal itu, membuat Mayang langsung melihat Tari yang tengah terbengong sendiri. "Tari mau, 'kan, Nak?" tanya Mayang memohon. Sesekali Mayang mengelus pundak Tari, menyalurkan kehangatan di sana. Sembari menatap ke arah Tari dengan tatapan penuh permohonan. Tari hanya bisa mengangguk pasrah. Dia tidak tahu lagi mau jawab apa. Merasa tak enak dengan permintaan Mayang, juga teringat dengan Mayang yang terus mengatakan bahwa itu adalah permintaan sang almarhumah neneknya. Mana mungkin Tari akan menolaknya. Tari sungguh lemah hati sekarang. Mendapat anggukan dari Tari, Mayang tersenyum lega. Ia benar-benar terlihat bahagia saat ini. Tanpa aba-aba, Mayang mendekap Tari seerat mungkin. Tak membiarkan terlepas begitu saja dengan mudahnya. Ia mengelus punggung gadis tersebut yang menurutnya teramat kekar. "Terima kasih, Nak." "Ayo makan malam dulu." Mayang mengurai pelukannya. Lantas menyunggingkan senyum lebar. Kemudian dengan gerakan cepat, menarik tangan Tari dan Rigi untuk segera berkumpul di meja makan. Segera melaksanakan makan tetapi Rigi menolak dengan alasan sedang merasa tak lapar. "Rigi gak laper!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD