BAB 18

1104 Words
Keesokan harinya Elfathan berjalan menuju ruangannya dengan senyuman manis. Setelah menikah kebahagiaan Elfathan berkali-kali lipat lebih bahagia. Apalagi setiap pagi ia disambut dengan senyuman manis dari istrinya. Bukan hanya itu, ada yang melayaninya yang membuat ia semakin bersemangat menjalani hari-harinya yang melelahkan. “Cieee..” tiba-tiba Nizar dan Haikal berteriak yang membuat Elfathan terkejut. “Astagfirullah’haladzim.” Elfathan mengelus dadanya karena terkejut. Baru saja membuka pintu ruangannya ia langsung disambut oleh sahabat laknatnya itu. Seketika moodnya berubah. Wajahnya berubah dingin, senyumannya hilang entah ke mana. “Bisa nggak kalau pagi-pagi jangan mengganggu mood seseorang!?” ujar Elfathan dengan nada sinis “Eitss.. pengantin baru nggak boleh marah-marah!” ujar Haikal “Lebih baik Tuan Elfathan duduk dulu!” Nizar dan Haikal membantu Elfathan untuk duduk di sofa. Mereka tersenyum manis menyambut kedatangannya. “Sabar!” ujar Nizar “Ck, ngapain sih kalian? Nggak ada kerjaan di kantor, ha?” sentak Elfathan “Nggak ada.” “Keluar dari ruangan gue sekarang!” Elfathan muak melihat kedua sahabatnya setiap pagi. Entah mereka tidak memiliki pekerjaan atau memang ingin menumpang sarapan di kantornya. Ingin rasanya Elfathan menendang Nizar dan Haikal sejauh mungkin dari hadapannya. Meskipun sikap Elfathan terlihat tegas namun tidak membuat Nizar dan Haikal tersinggung. Mereka sudah terbiasa dengan sikap sahabatnya itu. Atau lebih tepatnya mereka memang tidak tahu malu. Kedatangannya setiap pagi hanya untuk mengganggu Elfathan. “Gimana tadi malam, El?” tanya Haikal sembari tersenyum menggoda. Elfathan mengernyitkan kening. “Apanya?” “Tadi malam main nggak sama Arsyila? Ceritain dong bagaimana malam kalian.” BRAK “Wow!” “Huhh.. untuk aja nggak kena.” Nizar dan Haikal kompak mengelus d**a karena hampir saja wajah mereka jadi santapan barang yang dilempar Elfathan. “KELUAR DARI RUANGAN GUE SEKARANG!” bentak Elfathan “Sebelum gue…” “Oke. Kita keluar sekarang!” Nizar dan Haikal buru-buru keluar dari ruangan Elfathan sebelum laki-laki itu berubah menjadi Singa. Mereka tidak ingin menjadi sasaran amukan dari Elfathan. Karena sejak tadi mereka telah menguji kesabarannya. “Huhh..” Haikal mengelus dadanya. Rasanya begitu lega setelah keluar dari ruangan Elfathan. Suasana yang tadinya biasa saja berubah tegang setelah marah Elfathan terpancing. Apalagi setelah Elfathan melempar barang ke arahnya. Nizar menyandarkan tubuhnya di dinding dekat pintu ruangan Elfathan. Hampir saja Elfathan menelannya hidup-hidup. “Lo sih!” ujar Nizar pada Haikal “Kok gue?” “Kalau bukan lo siapa lagi, ha? Lo yang mulai duluan.” “Sorry!” Haikal sedikit menyesal, namun menikmati kemarahan Elfathan. Kalau dipikir-pikir Elfathan lucu juga kalau marah. Haikal tiba-tiba tertawa membuat Nizar mengernyitkan keningnya bingung. Tawa Haikal membuat Nizar bertanya-tanya. “Kenapa lo?” “Lucu ya kalau Elfathan marah kayak tadi.” “Hmm.. sepertinya percintaannya dengan Arsyila tadi malam gagal.” “HAHAHA.” seketika tawa Nizar dan Haikal pecah saat itu juga. Mereka kompak menertawakan Elfathan. Nizar dan Haikal membayangkan wajah Elfathan saat gagal menikmati malam panjang bersama istrinya. Mungkin karena itu mood Elfathan tidak baik-baik saja pagi ini. Bahkan saat ini mereka menjadi pusat perhatian para pegawai Elfathan, namun mereka tidak ada yang berani menegur. “Cabut yuk!” “Kita bisa gila ada di kantor ini.” ujar Nizar masih dengan tawanya “Pak Nizar dan Pak Haikal kenapa ketawa kencang seperti itu? Apa yang lucu?” ujar salah satu pegawai Ia mengangkat bahunya tidak tahu. Bahkan ia juga merasa heran dengan sikap Nizar dan Haikal. “Aneh!” ucapnya sembari menggelengkan kepalanya berulang kali. *** “Siang Bu Arsyila!” sapa pegawai Elfathan dengan ramah “Siang!” “Pak Elfathan ada di ruangannya kan?” “Ada, Bu. Kebetulan Pak Elfathan sudah istirahat sejak beberapa menit yang lalu.” Arsyila mengangguk sebagai jawaban. “Terima kasih.” Tanpa menunggu lama Arsyila berjalan menuju lift yang langsung terhubung dengan ruangan suaminya. Ia berjalan dengan senyuman manis di bibirnya. Langkahnya terlihat penuh percaya diri karena semua orang sudah tahu bahwa dirinya istri dari Ceo Perusahaan ini. Ting! Setelah lift terbuka Arsyila langsung keluar. Ia berjalan menuju ruangan suaminya. Sebelum masuk ke dalam Arsyila merapikan penampilannya terlebih dulu. Ia harus tampil cantik dan wangi sebelum bertemu suaminya. “Hmm.. harum!” gumamnya Arsyila mendorong pintu sembari mengucap salam. “Assalamualaikum.” “Waalaikumsalam.” Elfathan langsung berdiri menyambut kedatangan istrinya. Ia tersenyum manis. Moodnya seketika berubah setelah kedatangan Arsyila. Karena semenjak kedatangan kedua sahabatnya sampai sekarang moodnya belum membaik, tapi setelah Arsyila datang semuanya berubah. “Kamu kenapa nggak bilang dulu kalau mau ke sini?” ujar Elfathan “Nggak papa. Biar surprise aja, Kak.” Elfathan meminta Arsyila duduk di pangkuannya. Dengan senang hati Arsyila melakukan hal tersebut. Mulai sekarang ia mencoba untuk tidak malu-malu lagi, karena mereka sudah halal. Sah-sah saja mereka melakukan apapun dan kapanpun. Yang terpenting tidak melakukannya di tempat umum. Arsyila mengalungkan kedua tangannya di leher Elfathan. Keduanya saling menatap sembari melempar senyuman manis. “Kak El sudah makan?” “Belum.” “Kebetulan sekali Arsyila bawain makan siang untuk Kak El.” “Oh, ya?” Arsyila mengangguk sebagai jawaban. Arsyila berdiri. Ia mengambil paper bag yang dibawa saat datang. Ia datang ke kantor suaminya tidak dengan tangan kosong, melainkan membawa sesuatu untuk sang suami tercinta. Setelah pulang dari kampus ia mampir ke restaurant terdekat untuk membeli makanan. Arsyila membuka kotak makanan tersebut, dan seketika harum masakan tercium memenuhi ruangan itu. “Hmm.. harum sekali!” ujar Elfathan “Iya, Kak. Aku bawain nasi goreng seafood kesukaan Kak El.” Elfathan tersenyum. “MasyaAllah.. istri aku bukan hanya cantik, melainkan perhatian juga.” Blush Kedua pipi Arsyila bersemu merah mendengar pujian dari suaminya. Apa ia tidak salah dengar? Tumben sekali Efathan memberi pujian padanya. Sikap dingin dan kaku yang dimiliki Elfathan hilang seketika setelah menikah dengan Arsyila. “Karena Arsyila tahu kalau Kak El belum makan.” “Kamu sudah makan siang?” Arsyila mengangguk sembari tersenyum kecil. “Sudah, Kak. Arsyila makan siang di kantin sebelum pulang.” “Hmm.. baiklah.” “Sekarang Kak El waktunya makan siang.” “Suapin!” ujar Elfathan dengan nada manja Arsyila terkekeh geli mendengarnya. Sejak kapan suaminya jadi manja seperti ini? Namun Arsyila tetap menyukainya. Mereka memilih untuk duduk di sofa agar Arsyila bisa lebih leluasa menyuapi suaminya. Elfathan siang ini makan dengan lahap, apalagi ditemani sang istri tercinta. Belum lagi ia tidak perlu mengeluarkan tenaga untuk menggerakkan tangannya, melainkan disuapi oleh Arsyila. “Enak, Kak?” Elfathan mengangguk. “Sangat lezat. Apalagi yang nyuapin kamu.” Arsyila tersipu malu mendengar jawaban suaminya. "Udah ah, nggak usah banyak gombal, Kak. Lebih baik Kak El fokus makan aja biar cepat habis." Arsyila mengalihkan pembicaraan untuk menutup gombalan suaminya pada hari siang ini. Next
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD